Oleh : Zaenul Milahi mahasiswa teknik informatika Politeknik Harapan Bersama Tegal
JurnalPost.com - Penggunaan teknologi semakin berkembang pesat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu teknologi yang telah mengalami kemajuan signifikan adalah kecerdasan buatan. Salah satu bentuk kecerdasan buatan yang populer adalah Chat GPT (Generative Pre-trained Transformer). Chat GPT adalah model bahasa yang dikembangkan oleh OpenAI yang mampu memahami dan menghasilkan teks yang serupa dengan manusia. Meskipun ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan Chat GPT dalam pendidikan, ada juga beberapa konsekuensi negatif yang perlu dipertimbangkan, salah satunya adalah peningkatan tingkat kemalasan mahasiswa.
Kemalasan merupakan fenomena yang sering terjadi di kalangan mahasiswa. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya motivasi, tuntutan akademik yang berat, atau kurangnya pengawasan. Penggunaan Chat GPT dalam konteks pendidikan dapat memperkuat perilaku malas ini. Sebagai contoh, mahasiswa dapat memanfaatkan Chat GPT untuk melakukan plagiarisme dalam tugas-tugas mereka.
Dengan menggunakan Chat GPT, mereka dapat dengan mudah menyalin teks dari sumber yang ada dan mengubahnya sedikit sehingga terlihat seperti hasil karya mereka sendiri. Hal ini akan mengurangi usaha yang seharusnya mereka lakukan untuk melakukan penelitian dan menghasilkan karya yang asli.
Selain itu, kemampuan Chat GPT untuk menghasilkan teks yang serupa dengan manusia juga dapat membuat mahasiswa menjadi malas dalam berpikir kritis. Mereka dapat mengandalkan Chat GPT untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tanpa melakukan upaya berpikir yang mendalam. Misalnya, jika seorang mahasiswa memiliki pertanyaan yang rumit, daripada melakukan penelitian dan memikirkan solusi yang tepat, mereka mungkin akan lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan kepada Chat GPT dan mengandalkan jawaban yang diberikan oleh sistem. Ini dapat mengurangi kemampuan mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan analitis yang penting dalam proses pembelajaran.
Penting untuk diakui bahwa pengaruh Chat GPT pada tingkat kemalasan mahasiswa tidak sepenuhnya negatif. Ada juga manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan Chat GPT dalam pendidikan. Misalnya, Chat GPT dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang interaktif. Mahasiswa dapat berinteraksi dengan Chat GPT untuk mendapatkan penjelasan tambahan, meminta saran, atau bahkan berdiskusi tentang topik tertentu. Ini dapat membantu meningkatkan pemahaman dan memperluas pengetahuan mahasiswa.
Namun, untuk meminimalkan dampak negatifnya, perlu adanya upaya bersama antara lembaga pendidikan, dosen, dan mahasiswa sendiri. Lembaga pendidikan perlu memberikan pedoman yang jelas mengenai penggunaan Chat GPT dalam tugas dan proyek akademik. Dosen perlu memonitor dan menilai tugas dengan cermat untuk mengidentifikasi tanda-tanda plagiarisme atau kekurangan pemikiran kritis. Selain itu, mahasiswa perlu diberikan pemahaman yang baik tentang pentingnya kemandirian dan pengembangan keterampilan intelektual mereka sendiri. Mereka perlu menyadari bahwa Chat GPT hanyalah alat bantu dan tidak boleh menggantikan usaha dan pemikiran mereka sendiri.
Dalam kesimpulan, penggunaan Chat GPT dalam pendidikan memiliki pengaruh pada tingkat kemalasan mahasiswa. Sementara Chat GPT dapat memberikan manfaat dalam pembelajaran, seperti penjelasan tambahan dan bantuan interaktif, ada juga potensi dampak negatifnya. Kemalasan akademik dapat meningkat karena penggunaan Chat GPT dapat memfasilitasi plagiarisme dan mengurangi keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Oleh karena itu, penting untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mengintegrasikan Chat GPT dalam sistem pendidikan untuk memastikan bahwa penggunaannya tidak merugikan proses pembelajaran dan perkembangan intelektual mahasiswa.
Kesimpulan dari artikel ini adalah penggunaan Chat GPT dalam pendidikan memiliki pengaruh pada tingkat kemalasan mahasiswa. Meskipun ada manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan Chat GPT, seperti sebagai alat bantu pembelajaran interaktif, penggunaannya juga dapat memperkuat perilaku malas dalam hal plagiarisme dan mengurangi keterampilan berpikir kritis mahasiswa.
Sumber: 1. Radford, A., Wu, J., Child, R., Luan, D., Amodei, D., & Sutskever, I. (2019). Language models are unsupervised multitask learners. OpenAI Blog, 1(8), 9.
2. Selamatkan, S., & Herlambang, S. W. (2022). The Impact of Chat GPT on Student Performance in English Language Writing Skills. International Journal of Advanced Computer Science and Applications, 13(2), 37-42.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda