BANYUMAS, JurnalPost.com – Keluarga besar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) kehilangan salah satu sosok yang menjadi saksi sejarah perjuangan dakwah persatuan umat Islam di Indonesia dan dunia. Ibu Tri Susilah binti Karto Suwiryo, pendamping Imaam pertama Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Dr. Syeikh Wali Al Fattah, wafat pada Jumat malam, 29 Mei 2026, pukul 22.22 WIB di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, dalam usia 84 tahun.
Kepergian almarhumah tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi para ikhwan dan akhwat yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, sabar, dan setia mendampingi perjuangan dakwah suaminya sejak masa-masa awal pembinaan umat hingga akhir hayatnya.
Putri bungsu almarhumah, Nur Ainun Siti Aisah (Uun), menuturkan bahwa ibundanya sempat menunjukkan perkembangan kondisi kesehatan yang membaik sebelum akhirnya kembali kritis.
“Pada Selasa malam ibu sempat dibawa pulang ke Pondok Bambu karena menurut dokter kondisi beliau sudah semakin baik. Namun setelah beberapa hari di rumah, kondisi ibu menurun sehingga kami membawanya kembali ke ICU RS Polri. Setelah sempat stabil, Allah subhanahu wa ta’ala akhirnya memanggil ibu pada Jumat malam,” ujar Uun.
Almarhumah sebelumnya menjalani perawatan intensif selama hampir dua pekan di Rumah Sakit Izza Cikampek dan Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
Mengiringi Perjuangan Imaam Sejak Awal
Bagi keluarga besar Jama’ah Muslimin (Hizbullah), nama Tri Susilah tidak dapat dipisahkan dari perjalanan dakwah Imaam Wali Al Fattah. Dalam berbagai fase perjuangan yang penuh tantangan, almarhumah dikenal sebagai pendamping yang setia memberikan dukungan kepada suaminya dalam membina umat dan memperjuangkan persatuan kaum Muslimin.
Kesetiaan itu bahkan seakan tergambar kembali pada saat pemakaman. Setelah dishalatkan di Masjid At-Taqwa Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, jenazah diberangkatkan pukul 06.00 WIB menuju kampung halaman almarhumah di Desa Kamulyan, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Rombongan pengantar jenazah terdiri dari keluarga, pimpinan Jama’ah Muslimin (Hizbullah), staf Maktab Aam, Amir Markaz, serta perwakilan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) pusat Muqarrobin Al Ayubi dan Nurul Priansah.
Turut hadir pula pimpinan Jama’ah Muslimin wilayah Jabodetabek, sanak keluarga dari Banyumas, Kebumen, dan Cilacap, serta relawan UAR Korwil Banyumas Raya dan Korda Kebumen yang membantu seluruh proses pemakaman.
Sabtu 30 Mei 2026 sekitar pukul 13.45 WIB jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Kamulyan. Almarhumah dimakamkan tepat di samping makam suaminya, Imaam Wali Al Fattah, yang telah lebih dahulu wafat pada Jum’at 27 Dzulqa’dah 1396 H/19 November 1976.
Pemandangan tersebut menghadirkan suasana haru bagi para pelayat. Setelah hampir lima puluh tahun berpisah oleh kematian, pasangan yang pernah bersama-sama menjalani perjuangan dakwah itu kini kembali berdampingan dalam satu area pemakaman.
Pelajaran Berharga dari Kematian
Usai pemakaman, Naib Bekasi Abun Sohidun menyampaikan tausiyah kematian yang mengingatkan jamaah tentang kewajiban seorang Muslim terhadap saudaranya yang wafat.
“Atas nama keluarga, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga, sahabat, dan ikhwan serta akhwat. Semoga doa dan keikhlasan kita semua menjadi ketenangan bagi almarhumah di alam sana,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan agar beberapa perkara penting disegerakan pelaksanaannya, termasuk pemakaman jenazah.
“Di antara lima perkara yang diperintahkan untuk disegerakan adalah shalat, berbuka puasa, menguburkan jenazah, menikahkan anak perempuan yang telah mendapatkan jodoh, dan membayar hutang. Yang paling membahagiakan orang yang meninggal dunia adalah ketika proses pemakamannya disegerakan,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman umat Islam saat menghadapi pandemi beberapa tahun lalu memberikan pelajaran bahwa jenazah tidak perlu ditunda terlalu lama untuk dimakamkan.
Ustadz Sohidun juga mengajak para pelayat memaknai kalimat istirja’ yang biasa diucapkan saat mendengar kabar duka. “Ketika kita mengucapkan ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un’, itu bukan hanya untuk orang yang meninggal dunia. Itu adalah ikrar bahwa diri kita juga milik Allah dan suatu saat akan kembali kepada-Nya,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa seorang Muslim memiliki lima kewajiban terhadap saudaranya yang meninggal dunia, yaitu memandikan, mengafani, menshalatkan, menguburkan, dan ta’ziyah kepada keluarga yang ditinggalkan.
UAR dan Keluarga Besar Jama’ah Muslimin Turut Berduka
Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai kalangan. Ketua Umum UAR, H. Endang Sudrajat, menyampaikan duka cita mendalam kepada Al Mujahid, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) UAR Pusat, yang merupakan putra almarhumah.
“Turut berduka cita. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhumah ibunda diampuni segala khilafnya, ditempatkan di tempat yang paling mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta ketabahan,” ujar Endang Sudrajat.
Ucapan serupa juga disampaikan Ketua Divisi Penanggulangan Bencana UAR M. Ayub, Sekretaris M. Tri Habibie, para Ketua Korwil dan Korda, serta anggota UAR dari berbagai daerah di Indonesia.
Imaamul Muslimin yang saat pemakaman sedang berada di Aceh juga menyampaikan turut berbelasungkawa atas wafatnya ibunda Tri Susilah. “Imaamul Muslimin menyampaikan turut berdukacita atas wafatnya ibunda dan menyampaikan salam kepada shohibul musibah. Menurut beliau, almarhumah yang meninggal di hari baik insya Allah husnul khotimah,” ujar Agus Sudarmaji, Amir Maktab Aam yang hadir kepemakaman mewakili Imaam Yakhsyallah Mansur.
Kepergian Ibu Tri Susilah menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjuangan besar selalu ada sosok-sosok yang bekerja dalam kesederhanaan dan ketulusan. Almarhumah mungkin tidak banyak tampil di hadapan publik, namun kesetiaannya mendampingi perjuangan dakwah selama puluhan tahun telah meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang oleh keluarga, jamaah, dan generasi penerus perjuangan umat.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Aamiin. [AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda