Sebatik Barat, JurnalPost.com – Lantunan kalimat talbiyah, "Labaikallahumma labaik..." menggema syahdu di wilayah perbatasan. Sebanyak 263 siswa dari berbagai lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan mengenakan pakaian ihram serba putih. Mereka tengah mengikuti perhelatan akbar Peragaan Manasik Haji Anak Usia Dini se-Kecamatan Sebatik Barat yang digelar pada Selasa, 12 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung meriah ini diikuti oleh gabungan dari PAUD Non-Formal dan Formal yang ada di wilayah Sebatik Barat. Di antaranya adalah kelompok bermain KB Al Wildan, KB Harapan Sejahtera, KB Tapas, KB Pertiwi, KB Tunas Baru, dan KB RA Kartini. Selain itu, hadir pula perwakilan dari satuan PAUD Formal yaitu TK An Nur dan TK Nur Ihsan.
Acara ini semakin khidmat dengan kehadiran perwakilan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sebatik Barat, para kepala sekolah, guru pendamping, serta ratusan orang tua siswa yang antusias menyaksikan putra-putri mereka belajar beribadah. Di balik kemeriahan dan kepolosan tingkah laku anak-anak saat mengelilingi replika Kakbah, peragaan manasik haji ini menyimpan makna filosofis dan edukatif yang sangat dalam bagi perkembangan anak usia dini.
Secara hakikat, manasik haji bagi anak usia dini bukanlah sekadar latihan fisik atau penayangan simulasi belaka, melainkan sebuah metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Berikut adalah beberapa makna esensial dari kegiatan ini: Menanamkan Nilai Tauhid Sejak Dini: Melalui kalimat talbiyah dan doa-doa yang dilafalkan, anak-anak diajak untuk mengenal keesaan Allah SWT. Ini adalah fondasi awal pembentukan akidah yang kuat. Internalisasi Rukun Islam secara Konkret: Anak usia dini berada pada fase perkembangan kognitif pra-operasional, di mana mereka lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat konkret dibanding abstrak.

Dengan mempraktikkan langsung Thawaf, Sa'i, dan Wukuf, konsep rukun Islam kelima menjadi lebih nyata dan membekas dalam ingatan mereka. Melatih Kedisiplinan dan Kesabaran: Menunggu antrean saat simulasi melontar jumrah atau berjalan tertib saat Sa'i melatih anak untuk mengendalikan diri, sabar, dan patuh pada aturan kelompok. Menumbuhkan Rasa Persaudaraan (Ukhuwah):
Berkumpulnya 263 siswa dari berbagai lembaga PAUD yang berbeda mengajarkan anak-anak tentang kesetaraan. Mengenakan pakaian yang sama (ihram) tanpa memandang latar belakang sosial menanamkan nilai bahwa semua manusia sama di hadapan Sang Pencipta. Dukungan penuh juga datang dari orang tua siswa yang memadati area luar lapangan. Kehadiran orang tua tidak hanya sebagai penonton, melainkan sebagai bentuk dukungan moral (parenting support) yang menyempurnakan proses belajar anak.
"Melihat anak memakai baju ihram dan belajar mandiri mengikuti prosesi manasik membuat kami terharu. Ini pengalaman berharga yang akan terus mereka ingat hingga dewasa," ungkap salah seorang wali murid. Dengan suksesnya acara yang digelar pada 12 Mei ini, diharapkan kegiatan manasik haji bersama se-Kecamatan Sebatik Barat dapat menjadi agenda tahunan yang terus konsisten dalam membangun generasi emas yang berkarakter islami di beranda depan NKRI. (DRB)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda