Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Paradoks Memori GEN Z: Viral Vs Interview

Paradoks Memori GEN Z: Viral Vs Interview

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
24 Desember 2025, 17.58 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Paradoks
Kenapa Mudah Hafal Lagu "Alamak" Rizky Febian Tapi Blank Saat Interview? Fenomena Tip-of-the-Tongue yang Bikin Gen Z Lupa Kata Saat Nervous "Ceritakan sedikit tentang diri Anda." Cukup dengan lima kata sederhana, tapi buat kebanyakan Gen Z  itu seperti trigger yang langsung mengaktifkan mode panik. Jantung langsung berdebar kencang, otak mendadak blank. Padahal malam sebelumnya sudah prepare jawaban dengan matang dan sudah latihan berkali-kali. Tapi, begitu duduk di depan HRD *deg semua jawaban menguap begitu saja. Terlebih di saat yang sama hal yang paling ironi, di otakmu terputar lagu "Alamak" dari Rizky Febian dan Adrian Khalif. Padahal kamu hanya sesekali mendengarnya saat scrolling tiktok saat rebahan. Tapi, lagu itu terus nge-loop terus dalam pikiran, bahkan pada saat interview. Bagaimana pikiran kita bisa begitu "bias"? Ternyata bukan karena kamu "bodoh" atau "terlalu gugup". Hal ini adalah Tip-of-the-Tongue (TOT), fenomena psikolinguistik yang sangat nyata. Apa Itu TOT Phenomenon? Pernahkah kamu mengalami suatu momen seperti mau bilang sesuatu tapi _stuck_ di ujung lidah? Tahu maksudnya, paham konteksnya, tapi lupa kata-katanya? "Emm... Itu lho... yang ituan... eh, apa ya namanya...". Ya! Inilah yang disebut Tip-of-the-Tongue (TOT), fenomena ketika kita tahu bahwa ada suatu informasi yang kita tahu, tapi kita tidak bisa mengaksesnya dalam bentuk verbal. Secara ilmiah, fenomena TOT terjadi karena ada disconnect antara dua sistem memori:
  1. Semantic Memory (Memori Makna): Berfungsi menyimpan konsep dan pengetahuan. Saat TOT, bagian ini masih aktif makanya kamu tahu apa yang mau kamu katakan.
  2. Phonological Memory (Memori Bunyi): Berfungsi menyimpan bentuk kata. Saat TOT, bagian ini mengalami gangguan makanya kata-kata yang kita tahu seolah-olah menghilang.
Dapat kita Bayangkan otak itu seperti perpustakaan. Kamu tahu buku yang dicari ada di rak tertentu (semantic memory), tapi sistem katalognya error sehingga tidak bisa menemukan buku itu (phonological memory). Kenapa TOT Sering Banget Muncul Saat Interview?
  1. Stress Memblokir Akses Memori: ketika nervous, amygdala (area otak yang merespons emosi dan bahaya) menjadi sangat aktif. Ketika ini terjadi, otak beralih ke mode survival, fight atau leave. Otak memprioritaskan tugas-tugas kelangsungan hidup sambil mengalokasikan lebih sedikit sumber daya untuk fungsi "non-esensial" seperti akses bahasa dan konstruksi kalimat. Apa hasilnya?  Jalur menuju phonological memory terhambat, dan mengakibatkan TOT.
  2. Working Memory Overload: Saat interview, otak kamu harus mendengarkan pertanyaan, memikirkan jawabaa, mengatur bahasa tubuh, mengontrol nervous, dan memantau ekspresi pewawancara semuanya sekaligus! Working memory kamu overload. Ketika overload, otak kesulitan mengambil informasi dari long-term memory. Hasilnya, boom! terjadi TOT bahkan blank total.
  3. High-Stakes Situation: interview termasuk ke dalam lingkungan berisiko tinggi di mana setiap pernyataan mungkin menentukan apakah Anda diterima atau tidak. Menurut penelitian, kinerja kognitif menurun secara signifikan saat berada di bawah tekanan. Semakin Anda berpikir, "Ini sangat penting, saya tidak boleh salah," semakin besar kemungkinan otak Anda akan mengalami TOT. Ini disebut choking under pressure.
Lalu Kenapa Lagu "Alamak" Gampang Banget Dihafalin? GEN Z Lagu "Alamak" viral sejak awal 2025 di platform media sosial. Liriknya yang catchy dengan campuran bahasa Indonesia dan Inggris seharusnya sulit diingat. Tapi kenyataannya? Sekali atau dua kali dengerin, liriknya langsung nempel. Kenapa?
  1. Repetisi Masif: kamu mendengarnya berkali-kali tanpa sadar di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, bahkan di mall. Setiap kali mendengar, otak kamu memperkuat jalur memori untuk lagu tersebut. Berbeda dengan jawaban interview yang hanya di-rehearse beberapa kali.
  2. Ritma dan Melodi: Cheat Code Otak, manusia punya kecenderungan alami mengingat pola dan ritme. Lirik lagu "Alamak" memiliki struktur ritmis repetitif dan melodi catchy. Kombinasi ini membuat informasi verbal lebih mudah masuk ke long-term memory lewat phonological loop, semacam "tape recorder" di otak. Sedangkan jawaban interview? Tidak punya ritme, tidak punya melodi.
  3. Low-Pressure dan Emotional Connection: saat mendengarkan lagu, kamu dalam kondisi relaxed. Tidak ada yang menilai, tidak ada konsekuensi, bahkan tidak ada tekanan mental. Lagu itu dapat membangkitkan emosi, senang, relate, atau terhibur. Emosi itu "lem" terkuat untuk memori. Sebaliknya, jawaban interview itu netral dan membosankan, tanpa emotional charge.
  4. Multisensory Experience: di TikTok, kamu tidak hanya mendengar, tapi lamu juga melihat videonya, mungkin ikut nge-vibe atau joget. Semakin banyak indera terlibat, semakin kuat memori yang terbentuk. Jawaban interview? Cuma baca atau dengerin sendiri (Single sensory).
Solusi Praktis: Mengatasi TOT Saat Interview Sebelum interview, cobalah untuk:
  1. Latihan bicara keras, jangan cuma baca dalam hati. Bicara keras dapat mengaktifkan motor memory yang lebih kuat.
  2. Pahami dan Hafal poin utama, bukan script lengkap - Kalau satu kata lupa, semua bisa berantakan. Hafal bullet points saja, biarkan otak improvisasi.
  3. Latihan repetisi - Seperti lagu yang didengar berulang kali, latihan jawaban interview kamu ulang berkali-kali minimal 5-7 kali.
Kemudian pada saat interview:
  1. Kalau kena TOT, don't panic! - Tarik napas, tersenyum, bilang: "Maaf, izin saya pikir sebentar ya." HRD paham pause itu normal.
  2. Ganti kata dengan sinonim - Kalau lupa kata spesifik, langsung ganti dengan deskripsi lain yang bermakna sama.
  3. Slow down your speech - Saat nervous, orang cenderung bicara cepat. Pelan-pelan saja kasih jeda, hal ini memberi waktu otak untuk process.
Terakhir, untuk jangka panjangnya kamu bisa melakukan praktik komunikasi formal, mengikuti public speaking club, MC, atau diskusi formal. Coba juga untuk ikut sebanyak mungkin mock interview. Makin sering terekspos, makin berkurang nervous-nya. Penutup: Otak Kita Punya Preferensi dan itu Wajar Otak dirancang untuk lebih mudah mengingat informasi yang repetitif, emosional, multisensory, dan low-pressure. Sebaliknya, otak struggle dengan informasi yang one-time, netral, single sensory, dan high-pressure. TOT yang kamu alami saat interview bukan tanda kamu "tidak mampu". Ini hanya tanda bahwa otak sedang mengalami cognitive overload di bawah tekanan. Pesan untuk Gen Z: kamu tidak sendirian, ribuan Gen Z lain merasakan hal yang sama. Tapi ingat kamu aslinya bisa kerja, kamu cuma perlu lebih banyak latihan. Kalau kamu bisa hafal lirik "Alamak" cuma dengan sekali dengerin, itu bukti otak kamu powerful. Sekarang tinggal belajar mengaplikasikan kemampuan itu untuk situasi interview: bikin repetisi, kasih emotional connection, reduce pressure dengan reframing, dan practice komunikasi formal lebih sering. Paling terpenting: Be kind to yourself. TOT itu normal, dan blank mind itu manusiawi. Setiap kali gagal interview, itu bukan akhir itu adalah data point untuk otak kamu terus belajar. Good luck untuk interview berikutnya! You've got this! Penulis : Rizky Amalia Putri (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/paradoks-memori-gen-z-viral-vs-interview/89453/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.08 WITA

  • #Gen Z
  • #UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Pilihan Editor

  1. 1 UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik
  2. 2

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  3. 3

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  4. 4

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  5. 5

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.