PayLater Solusi atau Perangkap?
Belanja sekarang, bayar nanti. Kedengarannya praktis, kan? Tapi kenyataannya, fitur ini bisa menjadi jebakan yang berbahaya.“Barang lucu, harga diskon, tinggal klik langsung checkout. Tapi akhir bulan? Tagihan datang, dan tiba-tiba stres.”Saya pernah mengalami sendiri. Dan ternyata, banyak teman saya juga begitu. Selalu tampil stylish, ganti HP tiap tahun, ngopi tiap sore padahal andalannya PayLater. Bahkan, kadang lebih dari satu aplikasi. Ujung-ujungnya? Gaji bulanan langsung habis buat bayar cicilan barang yang kadang bahkan udah nggak kepakai.
Tekanan Media Sosial Bikin Lupa Prioritas
Flexing di media sosial itu nyata karena aku ngerasain juga. Kita seperti dipaksa untuk selalu tampil keren dan update. Padahal kondisi keuangan kita belum tentu mendukung. Banyak yang akhirnya memaksakan diri demi tampil “kekinian”, bukan karena butuh.“Menurut survei Katadata Insight Center (2022), hampir 70% anak muda yang pakai PayLater justru menggunakannya buat gaya hidup, bukan kebutuhan mendesak.” (Sumber: Katadata Insight Center – Laporan E-commerce 2022)Salah? Nggak juga. Tapi kalau dipakai tanpa kontrol, bisa bahaya. Kalau kita lebih takut kelihatan ‘nggak gaya’ daripada takut utang, itu tandanya kita udah mulai masuk zona merah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda