- Politik Sebagai Acuan Penyelenggaraan pendidikan
- Moralisme Religius, dalam pendekatan ini Negara memberikan arah kepada pendidikannya agar memelihara nilai-nilai moral religius yang dianut oleh negara. Dalam sejarah pendidikan hal ini dikenal pada zaman scholastic.
- Masa Aufklarung, munculnya intelektualoisme mendorong Negara mengarahkan pendidikannya kepada pengembangan kemampuan berpikir yang merupakan dasar dari kemajuan. Intelektualisme merupakan tujuan utama dalam pendidikan yang diarahkan oleh negara.
- Perkembangan Nasionalisme, dengan lahirnya Negara-negara bangsa pada abad 19, terutama sesudah revolusi Prancis, maka pendidikan nasional merupakan tugas utama dari negara. Pendidikan warga negara dilaksanakan di sekolah-sekolah dan mencapai puncaknya dalam pendidikan totaliter seperti yang diselenggarakan oleh Nazisme, totaliterisme, Fasisme, dan Komunisme.
- Lahirnya Demokrasi, hal ini dikenal terutama dalam falsafah pendidikan yang dikembangkan di Amerika Serikat oleh filsuf John Dewey, yang mengatakan bahwa apabila kiuta berbicara mengenai demokratis maka kita memasuki wilayah pendidikan. Pendidikan merupakan sarana bagi tumbuh dan berkembangnya sikap demokrasi. Oleh sebab itu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraan Negara yang demokratis.
- Pendidikan sebagai Pengembangan Sumber Daya manusia, pendekatan dari sudut ekonomi ini menunjukkan betapa pentingnya factor manusia dalam pengembangan ekonomi. Kehidupan ekonomi menjadi sangat penting dalam kehidupan bernegara. Oleh sebab itu Negara wajib mengembangkan kemampuan sumber daya manusianya sebagai asset untuk perkembangan ekonominya. Pendekatan ekonomis dan kebutuhan tenaga kerja menjadi sangat menonjol dalam pandangan ini. Pendekatan ini menjadi sangat popular di negara-negara berkembang setelah perang dunia kedua.
- Pendekatan-pendekatan diatas mempunyai banyak kelemahan terutama dalam kelanjutan kehidupan suatu masyarakat. Krisis ekonomi, krisis sosial yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendekatan diatas mempunyai kelemahan-kelemahan. Salah satu pendekatan baru adalah pendekatan kapital sosial merupakan suatu kekuatan yang menjamin adanya integrasi dalam suatu masyarakat atau Negara dan juga merupakan kekuatan ekonomi atau sumber daya manusia dalam suatu masyarakat. Pendekatan kapital sosial menonjol dalam era globalisasi karena kecenderungan pupusnya rasa persatuan dan menurunnya rasa nasionalisme akibat sikap eksklusivisme kelompok, komersialisasi dan kehidupan santai dalam era globalisasi.
- perumusan kebijakan
- proses legitimasi
- proses penyampaian pada khalayak
- proses pengkomunikasian
- proses pelaksanaan, dan
- proses evaluasi
- Pendidikan Sebagai Wahana Pembangunan Politik
- Perbedaan dalam perilaku politik disebabkan oleh perbedaan dalam mutu pendidikan dasar yang mereka terima sebelum mereka memasuki kehidupan politik, generasi Dr. Sutomo hingga Soekarno mendapatkan pendidikan dasar yang sangat kuat yang mampu melahirkan kemampuan dan semangat intelektual yang tinggi dan sebagai bekal yang lengkap dan memadai sebagai landasan kehidupan politik dikemudian hari. Kondisi demikian tidak terjadi paska tahun 1945 dimana terjadi kemerosotan mutu pendidikan kita secara cepat sehingga tidak mampu menghasilkan seseorang yang tangguh dan profesional bukan sekedar figure semata.
- Perbedaan disebabkan karena politik sebelum kemerdekaan dihuni oleh “the educated minority”, yaitu kelompok anggota masyarakat minoritas yang mengenyam pendidikan cukup tinggi, sedangkan paska kemerdekaan dunia politik dikuasai oleh golongan masyarakat yang relative kurang terdidik tetapi mampu menggalang dukungan dari masyarakat.
- Perbedaan dalam Zeitgeist, perbedaan dalam semangat zaman antara zaman sebelum kemerdekaan dengan era paska kemerdekaan. Semangat zaman periode 1908-1945 sangat berbeda dengan zaman yang hidup dalam masyarakat kita dalam periode setelah kemerdekaan.
- Pendidikan berlangsung pada lingkup formal, non-formal dan informal
- Pendidikan melatarbelakangi atau sebagai basic bagi seseorang dalam kehidupan politik
- Kondisi politik yang kondusif dapat diciptakan oleh pelaku-pelaku politik yang professional dan bertanggungjawab.
- Nilai-nilai masih dianggap hanya sebagai pelajaran semata, siswa belum menghayati secara benar bahwa nilai-nilai itu merupakan sebuah aktivitas yang melekat dalam dirinya bukan sekedar materi yang bisa dipelajari dan setelah itu dilupakan.
- Dukungan masyarakat disekitar anak didik tinggal yang belum maksimal bahkan rendah, penanaman nilai bagi anak dilingkungan pasar atau terminal tentu lebih sulit dibandingkan dengan penanaman nilai bagi anak-anak di pedesaan yang belum terlalu tersentuh perubahan.
- Guru kurang menguasai pola penanaman nilai yang tepat, banyak guru-guru kita yang belum dapat menempatkan perbedaan individual dalam diri anak didiknya sebagai sebuah sarana untuk pembelajaran. Guru masih saja menyamaratakan segala yang diberikan kepada siswanya, memang untuk mengetahui karakter dan sifat anak masing-masing banyak kendalanya tetapi secara garis besar pasti guru mengetahui karena ia bertemu setiap hari dengan siswanya.
- Derasnya arus informasi lewat televisi yang secara nyata memberi efek yang kurang baik bagi anak, anak lebih cepat meresapi apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar sehingga walaupun segala seuatu ditelevisi adalah fiktif mereka akan menerimanya sebagai kenyataan. Kondisi itu mengakibatkan pola tingkah laku anak juga menjadi sedemikian susah dikendalikan dan itu membentuk pola kehidupannya.
- Globalisasi informasi lewat internet, sudah tidak ada lagi jarak antara negara didunia karena lewat internet semua mungkin. Saat ini anak usia sekolah dasar sudah memanfaatkan internet tetapi apa yang mereka lakukan tidak dapat dikontrol, hal itu berkaitan dengan budaya masyarakat yang ada dimana informasi baik dan buruk dari seluruh dunia dapat diketahui saat itu juga.
- Orang tua sudah tidak mampu memberi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anaknya, orangtua sudah sibuk untuk mencari uang bagi kehidupan keluarga sehingga mereka kadang sudah kehilangan identitas yang dicontoh bagi anak-anaknya. Guru yang terbaik adalah teladan masih berlaku hingga kini dan itu bukan merupakan slogan kosong belaka. Anak yang selalu melihat teladan orangtua yang baik ia akan tergerak untuk mengikuti pola itu dan itu merupakan keuntungan tersendiri apabila kita dapat mengelolanya.
- Lemahnya kontrol orangtua, karena kesibukan orangtua maka pergaulan anak tidak atau kurang terkontrol. Harus disadari bahwa lingkungan merupakan factor dominant yang membentuk perilaku anak, seperti contoh diatas bahwa anak yang hidup dilingkungan terminal mereka akan terbiasa dengan perilaku kasar dan suka eriak-teriak jorok misalnya, ini berlainan dengan anak yang tinggal di pedesaan meraka masih menjunjung tinggi gotong royong, saling menghargai dan sopan meskipun tidak seluruhnya seperti ini. Kontrol orangtua bukan sekedar penjaga yang secara otoriter mengawasi anak-anaknya tetapi lebih dari itu ia harus mampu memberi argumentasi yang tepat tentang segala sesuatu dalam lingkungan sekitarnya.
- Lemahnya kontrol sosial, kehidupan sosial masyarakat kita saat ini adalah masyarakat persaingan sehingga sikut-menyikut merupakan hal yang lazim dijumpai. Kontrol sosial yang terjadi juga sangat lemah karena intervensi dan pola perubahan sosial yang begitu cepat sehingga kontrol yang diharapkan tidak atau kurang mampu berperan dengan baik. Perangkat hukum yang menjadi penjamin keadilan hingga kini masih sebatas perangkat yang belum dapat dilaksanakan dengan baik sehingga terjadi berbagai ketimpangan sosial sebagai dampak ketidak-adilan di masyarakat, bangsa dan Negara.
- Pengetahuan yang luas (to be learned)
- Kecerdikan (smartness)
- Akal sehat (common sense)
- Tilikan (insight), mengenal inti hal yang diketahui
- Sikap hati-hati (prudence, diskrete)
- Pemahaman terhadap norma-norma kebenaran
- Kemampuan mencernakan (to digest) pengalaman hidup.
- Demokrasi dan Desentralisasi
- Demokrasi dan Partisipasi
- Demokrasi dan Pemberdayaan,empowerment
- Demokrasi dan Good Governance
- Menyusun kurikulum yang mampu secara komprehensif memberikan manfaat bagi anak didik dalam kehidupan di masyarakat dan politik nantinya.
- Menciptakan pola hubungan yang baik antara pendidikan dan politik tetapi dalam koridor pendidikan bukan sekedar politisasi pendidikan.
- Membentuk guru yang memiliki kemampuan profesional dan berkarakter kebangsaan sehingga dapat sebagai figure yang baik bagi anak didik.
- Penanaman nilai-nilai yang baik sejak dini sehingga kepribadian anak dapat terbentuk secara nyata, tidak ada segala sesuatu yang bersifat instant mampu memberikan hasil yang baik sehingga segala sesuatu harus dipersiapkan sejak dini.
- Paradigma fungsional, yang melihat kemiskinan dan keterbelakangan dikarenakan masyarakat tidak memiliki cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern.
- Paradigma sosialisasi, yang melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah: mengembangkan kompetensi individu, kompetensi yang lebih tinggi untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kemampuan warga masyarakat secara keseluruhan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda