Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Mengenal Tradisi Mappalili, Ritual Sakral Awal Musim Tanam Masyarakat Bugis

Mengenal Tradisi Mappalili, Ritual Sakral Awal Musim Tanam Masyarakat Bugis

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
15 Oktober 2025, 19.54 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Tradisi Mappalili
Tradisi Mappalili di Sulawesi Selatan adalah ritual sakral masyarakat Bugis yang menandai dimulainya musim tanam, sarat makna syukur dan kebersamaan, sumber foto pariwisataindonesia id
JurnalPost.com - Di berbagai daerah di Sulawesi Selatan, terutama di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar, masih lestari sebuah tradisi turun-temurun bernama Mappalili. Upacara ini menandai dimulainya musim tanam padi, sekaligus menjadi bentuk rasa syukur dan doa bersama agar hasil panen berlimpah serta dijauhkan dari hama dan bencana. Kata Mappalili sendiri berasal dari bahasa Bugis yang berarti “membersihkan atau menyiapkan lahan sawah sebelum ditanami”. Namun, makna sejatinya lebih dalam: sebuah simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Akar Sejarah dan Nilai Filosofis Tradisi Mappalili

Tradisi Mappalili telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan Bugis kuno. Dulu, upacara ini bahkan menjadi agenda resmi kerajaan, dipimpin oleh Arung atau pemimpin adat setempat. Prosesi tersebut menandai pelepasan air irigasi pertama ke sawah—simbol kehidupan baru bagi padi yang akan tumbuh. Secara filosofis, masyarakat Bugis meyakini bahwa tanah bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga titipan ilahi yang harus dijaga dengan hati bersih. Oleh karena itu, setiap musim tanam baru harus diawali dengan penyucian diri, doa, dan kerja bersama.

Tahapan Prosesi Mappalili

Rangkaian tradisi Mappalili umumnya terdiri dari beberapa tahapan penting yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat:
  1. Musyawarah Penentuan Musim Tanam Tokoh masyarakat dan petani mengadakan musyawarah untuk menentukan waktu yang tepat memulai musim tanam, berdasarkan perhitungan cuaca, kondisi air, dan tradisi adat.
  2. Doa Bersama dan Pembacaan Ayat Suci Pemuka agama memimpin doa bersama dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, memohon keberkahan dan keselamatan selama proses tanam hingga panen.
  3. Pengambilan Air Suci dan Penyucian Sawah Air dari sumber alami yang dianggap suci diambil untuk dipercikkan ke sawah. Tindakan ini melambangkan pembersihan tanah dari segala hal buruk dan permohonan kesuburan.
  4. Turun ke Sawah (Turun Mappalili) Puncak prosesi ditandai dengan turun ke sawah oleh tokoh adat bersama para petani. Mereka menggunakan alat pertanian tradisional seperti bajak dan cangkul, disertai simbol-simbol adat seperti bendera dan persembahan.
  5. Makan Bersama dan Hiburan Rakyat Setelah ritual selesai, masyarakat menikmati makan bersama sebagai bentuk kebersamaan. Kesenian tradisional seperti pakkarena, gendrang bulo, dan mappadendang turut memeriahkan acara.

Makna Sosial dan Spiritualitas di Balik Mappalili

Tradisi Mappalili bukan hanya ritual keagamaan atau adat, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ia memperkuat kebersamaan antarwarga, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Secara spiritual, Mappalili adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat kesuburan tanah. Ia menjadi pengingat bahwa hasil panen bukan semata karena kerja manusia, tetapi juga karena restu alam dan doa yang tulus.

Mappalili di Era Modern

Meski zaman terus berkembang dan teknologi pertanian semakin maju, tradisi Mappalili tetap dipertahankan di berbagai daerah seperti Barru, Bone, Soppeng, hingga Gowa. Pemerintah daerah turut berperan aktif melestarikan upacara ini sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Indonesia. Kini, kegiatan Mappalili sering dihadiri pejabat daerah, tokoh masyarakat, akademisi, hingga generasi muda. Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat sinergi antara tradisi dan inovasi pertanian modern.

Daerah yang Masih Melaksanakan Tradisi Mappalili

Tradisi Mappalili tidak hanya dilakukan di satu wilayah, melainkan menyebar di berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat Bugis dan Makassar. Beberapa daerah yang hingga kini masih aktif melaksanakan upacara Mappalili antara lain:
  1. Kabupaten Barru Di Barru, Mappalili menjadi agenda rutin setiap tahun dan dilaksanakan secara meriah. Pemerintah daerah bersama masyarakat tani biasanya menggelar Turun Sawah dan Musyawarah Mappalili di tingkat kecamatan. Prosesi ini melibatkan tokoh adat, ulama, serta pejabat daerah seperti bupati dan wakil bupati.
  2. Mappalili  Pangkep Mappalili Arajang adalah upacara adat Bugis yang menandai dimulainya musim tanam padi di Pangkep, Sulawesi Selatan. Upacara ini dipimpin oleh Bissu dan meliputi ritual seperti "Membangunkan Arajang" (pusaka), membersihkannya, lalu mengaraknya berkeliling desa. Masyarakat meyakini bahwa upacara ini penting untuk memohon berkah, keselamatan, dan keberhasilan panen dari Sang Pencipta.
  3. Kabupaten Soppeng Di Soppeng, Mappalili dilakukan dengan sangat sakral dan berakar kuat pada tradisi kerajaan Bugis. Upacara dipimpin oleh tokoh adat setempat dengan berbagai perlengkapan ritual seperti bannang (benang putih), balle-balle (bendera kecil), dan air suci dari sumber mata air.
  4. Kabupaten Bone Sebagai salah satu pusat kebudayaan Bugis, Bone juga dikenal melestarikan Mappalili secara besar-besaran. Upacara sering dipusatkan di area sawah kerajaan atau lahan adat yang memiliki nilai sejarah tinggi.
  5. Kabupaten Gowa dan Takalar Di wilayah Makassar dan Gowa, Mappalili dikenal dengan nama dan bentuk yang sedikit berbeda, namun makna dan tujuannya sama yaitu memohon berkah sebelum turun ke sawah.
  6. Kabupaten Wajo dan Pinrang Masyarakat di dua daerah ini masih menjaga semangat Mappalili sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan rasa kebersamaan antarpetani.
Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam pelaksanaannya, mulai dari waktu, pakaian adat, hingga jenis doa dan alat simbolik yang digunakan.

Kalender Mappalili di Sulawesi Selatan

Waktu pelaksanaan Mappalili biasanya disesuaikan dengan awal musim tanam padi, yang bergantung pada kondisi iklim dan daerah irigasi. Secara umum, masyarakat Bugis melaksanakan tradisi ini sekali dalam setahun, sebelum petani mulai mengolah lahan sawah. Berikut gambaran umum kalender Mappalili di berbagai daerah:
  • Oktober – Desember: Periode paling umum untuk pelaksanaan Mappalili di wilayah pesisir dan tengah Sulawesi Selatan seperti Barru, Bone, dan Wajo. Bulan-bulan ini menandai datangnya musim hujan yang cocok untuk menanam padi.
  • Januari – Februari: Di beberapa daerah yang memiliki sistem irigasi tadah hujan atau lahan dataran tinggi seperti Soppeng dan Enrekang, Mappalili bisa bergeser ke awal tahun.
  • Mei – Juni (Musim Tanam Kedua): Beberapa petani yang memiliki dua kali musim tanam juga melaksanakan Mappalili dalam skala lebih kecil sebagai bentuk simbolik sebelum penanaman kedua.
Penentuan tanggal Mappalili biasanya melalui musyawarah adat dan pertimbangan tanda-tanda alam. Tokoh adat akan menyesuaikan waktu berdasarkan kondisi cuaca, curah hujan, dan kesiapan saluran air. Dalam tradisi Bugis, langkah ini dikenal sebagai bentuk mappalili musyawarah sebuah keputusan bersama yang menjamin keselarasan antara manusia dan alam.

Penutup: Menyemai Doa dan Nilai Kehidupan di Sawah

Lebih dari sekadar ritual adat, Mappalili adalah cerminan filosofi hidup masyarakat Bugis—selaras dengan alam, berlandaskan doa, dan dijalankan dengan kebersamaan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap relevan dan mengajarkan nilai luhur tentang kerja keras, kebersyukuran, dan penghormatan terhadap bumi tempat berpijak.
“Tanié mapakatau, namoé tanaé mapakewata.” “Manusia yang memuliakan tanah, akan dimuliakan oleh bumi.”

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengenal-tradisi-mappalili-ritual-sakral-awal-musim-tanam-masyarakat-bugis/86922/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.24 WITA

  • #Budaya Takbenda
  • #Mappalili
  • #Tradisi Mappalili

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Pilihan Editor

  1. 1 Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya
  2. 2

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. 5

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.