Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
JurnalPost.com - Saat membuka Pesta Kebudayaan ke-45 Bali bebarapa waktu lalu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan agar anak-anak muda Indonesia tidak melupakan kesenian dan budaya Nusantara. Dia mengingatkan anak muda tidak melupakan budaya sendiri walaupun menggandrungi musik K-Pop hingga musik rok. Megawati mengaku geram saat ada orang yang tidak menghargai hasil kebudayaan Indonesia. Dia kembali menegaskan agar anak bangsa mencintai kebudayaan Indonesia.
Keresahan Megawati ini sebetulnya tidak hanya mengena anak-anak muda yang memang lebih tergiur dengan budaya pop alih-alih tradisi. Ketergantungan kepada budaya pop demi popularitas dan elektabilitas juga menjangkiti partai politik di Tanah Air. Beberapa bulan lalu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memasukkan media sosial dan kegiatan yang terinspirasi K-Pop dalam kampanyenya dengan memberikan tiket gratis (give away) buat tur Blackpink's BORN PINK. PSI di akun Twitter-nya mengumumkan akan memberikan tiket gratis buat penampilan BlackPink pada 4 Maret. Para pemenang dipilih secara acak dari mereka yang mengikuti akun Twitter PSI.
Banyak yang percaya bahwa minat atas budaya pop tak bisa dicegah. Ia adalah tren dan keniscayaan kontemporer. Memangkas unsur-unsur K-Pop, Hollywood atau juga Bollywood sama saja dengan melawan arus zaman. Pendapat ini sah-sah saja dan bisa dipahami. Hanya saja yang perlu dipahami bahwa perubahan bukan sekadar takdir yang berlalu ibarat air yang mengalir. Sejarah peradaban sejatinya adalah rekayasa perubahan. Kita bisa membaca kemajuan Tiongkok. Kemajuan negara Tirai Bambu ini tak terlepas dari adanya kesadaran sejarah. Presiden Xi Jinping menggarisbawahi perlunya menguatkan kepercayaan rakyat Tiongkok terhadap sejarah dan budaya sendiri. Di sebuah simposium tentang warisan budaya dan pembangunan pada 2 Juni lalu, Xi menekankan bahwa peradaban Tiongkok memiliki sejarah yang panjang dan berkelanjutan, komprehensif dan mendalam. Pemahaman tentang sejarah itu sangat penting sehingga efektif mempromosikan transformasi kreatif dan pengembangan budaya tradisional Tiongkok.
Jauh sebelum pidato Xi Jinping, birokratisasi sudah bergerak masif melakukan transformasi kultural demi kemajuan tanpa mengabaikan akar sejarah. Identifikasi dan kepercayaan diri masyarakat Tiongkok terhadap budaya mereka telah menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Budaya tradisional berkembang melalui inovasi. Pelbagai program dan produk TV yang bertalian dengan budaya tradisional menarik pengikut dan peminat secara luar biasa. Salah satunya adalah Program TV Budaya National Treasure yang diproduksi oleh China Central Television. National Treasure ini diluncurkan pada tahun 2017 dan menceritakan kisah dan sejarah di balik peninggalan budaya Tiongkok dari museum-museum utama nasional seperti Palace Museum di dalam Kota Terlarang (Forbidden City) di Beijing.
Produk budaya kreatif yang diproduksi dan dijual oleh museum juga melonjak. Angka penjualan produk-produk ini secara regular selalu membukukan rekor baru. Misalnya, dalam beberapa tahun terakhir, penemuan arkeologis penting dari situs reruntuhan Sanxingdui di Guanghan, provinsi Sichuan di Cina Barat Daya, telah mendorong desain dan penjualan produk oleh museum. Menurut pihak museum, penjualan produk budaya kreatifnya mencapai 20 juta Yuan (US$2,8 juta) tahun lalu dan 15 juta Yuan (US$2,1 juta) pada kuartal pertama tahun ini. Anak-anak muda Tiongkok sekarang menunjukkan minat yang tinggi bukan saja pada produk-produk dengan selera modern tapi juga dengan elemen budaya tradisional. Di bawah tren yang dikenal sebagai Guochao, yang berarti “gelombang asli,” produk-produk modis yang memadukan komponen tradisional-modern kian menarik banyak peminat.
Bila menoleh ke belakang, kita akan mendapati bahwa pencapaian besar Tiongkok sejak reformasi negara itu pada akhir 1970-an terkait erat dengan budaya tradisional Tiongkok. Sejumlah pengamat asing menganggap bahwa Konfusianisme dan modernisasi bertentangan, tetapi itu tidak benar. Pertumbuhan ekonomi Jepang yang cepat dan empat “Macan Asia"— Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan—sejak tahun 1950-an menunjukkan bahwa Konfusianisme dan modernisasi tidak bertentangan. Etika kegiatan ekonomi Tiongkok kontemporer seperti kerja keras, ekonomi, kejujuran dan kemauan untuk belajar adalah tipikal budaya Konfusianisme. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang cepat dalam beberapa dekade terakhir harus dikaitkan tidak hanya dengan kerja keras dan kreativitas rakyat Tiongkok tetapi juga dengan budaya tradisional Tiongkok.
Meskipun modernitas sebagai serangkaian nilai dibentuk di Barat dari Renaissance hingga Zaman Pencerahan, ini tidak berarti bahwa modernitas hanya milik Barat. Faktanya, Barat juga telah menyerap dan memasukkan banyak nilai dan teknologi dari peradaban dan budaya lain, semisal peradaban dan budaya Tiongkok. Misalnya, empat penemuan hebat dari Tiongkok—kompas, percetakan, pembuatan kertas, dan bubuk senjata—memberikan dasar yang kuat untuk modernisasi.
Modernisasi Tiongkok sangat berbeda dari negara-negara lain, karena modernisasi Tiongkok didasarkan pada alam dan tradisinya sendiri, bukan model Barat. Artinya, pluralisme modernisasi harus dihargai. Peradaban yang berbeda tidak hanya memiliki pemahaman yang berbeda tentang makna modernisasi, tetapi juga cara yang berbeda untuk mengejar modernisasi. Hanya ketika modernisasi suatu negara sesuai dengan peradaban, budaya, dan kondisi nasionalnya sendiri, di sanalah kisah sukses bermulai dan memuai.
Penekanan Tiongkok untuk mengejar jalannya sendiri menuju modernisasi berarti bahwa ia tidak akan memaksakan model modernisasi kepada negara-negara lain, seperti yang dilakukan beberapa negara Barat. Sebaliknya, Tiongkok menganjurkan dialog dan saling belajar di antara peradaban untuk bersama-sama memajukan modernisasi dunia dengan mencari perkembangan bersama di sepanjang jalur yang berbeda.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda