Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Maju dengan Kesadaran Sejarah

Maju dengan Kesadaran Sejarah

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
07 Agustus 2023, 14.16 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Maju dengan Kesadaran Sejarah

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

JurnalPost.com - Saat membuka Pesta Kebudayaan ke-45 Bali bebarapa waktu lalu, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan agar anak-anak muda Indonesia tidak melupakan kesenian dan budaya Nusantara. Dia mengingatkan anak muda tidak melupakan budaya sendiri walaupun menggandrungi musik K-Pop hingga musik rok. Megawati mengaku geram saat ada orang yang tidak menghargai hasil kebudayaan Indonesia. Dia kembali menegaskan agar anak bangsa mencintai kebudayaan Indonesia.

IKLAN

Keresahan Megawati ini sebetulnya tidak hanya mengena anak-anak muda yang memang lebih tergiur dengan budaya pop alih-alih tradisi. Ketergantungan kepada budaya pop demi popularitas dan elektabilitas juga menjangkiti partai politik di Tanah Air. Beberapa bulan lalu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memasukkan media sosial dan kegiatan yang terinspirasi K-Pop dalam kampanyenya dengan memberikan tiket gratis (give away) buat tur Blackpink's BORN PINK. PSI di akun Twitter-nya mengumumkan akan memberikan tiket gratis buat penampilan BlackPink pada 4 Maret. Para pemenang dipilih secara acak dari mereka yang mengikuti akun Twitter PSI.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Banyak yang percaya bahwa minat atas budaya pop tak bisa dicegah. Ia adalah tren dan keniscayaan kontemporer. Memangkas unsur-unsur K-Pop, Hollywood atau juga Bollywood sama saja dengan melawan arus zaman. Pendapat ini sah-sah saja dan bisa dipahami. Hanya saja yang perlu dipahami bahwa perubahan bukan sekadar takdir yang berlalu ibarat air yang mengalir. Sejarah peradaban sejatinya adalah rekayasa perubahan. Kita bisa membaca kemajuan Tiongkok. Kemajuan negara Tirai Bambu ini tak terlepas dari adanya kesadaran sejarah. Presiden Xi Jinping menggarisbawahi perlunya menguatkan kepercayaan rakyat Tiongkok terhadap sejarah dan budaya sendiri. Di sebuah simposium tentang warisan budaya dan pembangunan pada 2 Juni lalu, Xi menekankan bahwa peradaban Tiongkok memiliki sejarah yang panjang dan berkelanjutan, komprehensif dan mendalam. Pemahaman tentang sejarah itu sangat penting sehingga efektif mempromosikan transformasi kreatif dan pengembangan budaya tradisional Tiongkok.

Jauh sebelum pidato Xi Jinping, birokratisasi sudah bergerak masif melakukan transformasi kultural demi kemajuan tanpa mengabaikan akar sejarah. Identifikasi dan kepercayaan diri masyarakat Tiongkok terhadap budaya mereka telah menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Budaya tradisional berkembang melalui inovasi. Pelbagai program dan produk TV yang bertalian dengan budaya tradisional menarik pengikut dan peminat secara luar biasa. Salah satunya adalah Program TV Budaya National Treasure yang diproduksi oleh China Central Television. National Treasure ini diluncurkan pada tahun 2017 dan menceritakan kisah dan sejarah di balik peninggalan budaya Tiongkok dari museum-museum utama nasional seperti Palace Museum di dalam Kota Terlarang (Forbidden City) di Beijing.

IKLAN

Produk budaya kreatif yang diproduksi dan dijual oleh museum juga melonjak. Angka penjualan produk-produk ini secara regular selalu membukukan rekor baru. Misalnya, dalam beberapa tahun terakhir, penemuan arkeologis penting dari situs reruntuhan Sanxingdui di Guanghan, provinsi Sichuan di Cina Barat Daya, telah mendorong desain dan penjualan produk oleh museum. Menurut pihak museum, penjualan produk budaya kreatifnya mencapai 20 juta Yuan (US$2,8 juta) tahun lalu dan 15 juta Yuan (US$2,1 juta) pada kuartal pertama tahun ini. Anak-anak muda Tiongkok sekarang menunjukkan minat yang tinggi bukan saja pada produk-produk dengan selera modern tapi juga dengan elemen budaya tradisional. Di bawah tren yang dikenal sebagai Guochao, yang berarti “gelombang asli,” produk-produk modis yang memadukan komponen tradisional-modern kian menarik banyak peminat.

Bila menoleh ke belakang, kita akan mendapati bahwa pencapaian besar Tiongkok sejak reformasi negara itu pada akhir 1970-an terkait erat dengan budaya tradisional Tiongkok. Sejumlah pengamat asing menganggap bahwa Konfusianisme dan modernisasi bertentangan, tetapi itu tidak benar. Pertumbuhan ekonomi Jepang yang cepat dan empat “Macan Asia"— Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan—sejak tahun 1950-an menunjukkan bahwa Konfusianisme dan modernisasi tidak bertentangan. Etika kegiatan ekonomi Tiongkok kontemporer seperti kerja keras, ekonomi, kejujuran dan kemauan untuk belajar adalah tipikal budaya Konfusianisme. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang cepat dalam beberapa dekade terakhir harus dikaitkan tidak hanya dengan kerja keras dan kreativitas rakyat Tiongkok tetapi juga dengan budaya tradisional Tiongkok.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Meskipun modernitas sebagai serangkaian nilai dibentuk di Barat dari Renaissance hingga Zaman Pencerahan, ini tidak berarti bahwa modernitas hanya milik Barat. Faktanya, Barat juga telah menyerap dan memasukkan banyak nilai dan teknologi dari peradaban dan budaya lain, semisal peradaban dan budaya Tiongkok. Misalnya, empat penemuan hebat dari Tiongkok—kompas, percetakan, pembuatan kertas, dan bubuk senjata—memberikan dasar yang kuat untuk modernisasi.

Modernisasi Tiongkok sangat berbeda dari negara-negara lain, karena modernisasi Tiongkok didasarkan pada alam dan tradisinya sendiri, bukan model Barat. Artinya, pluralisme modernisasi harus dihargai. Peradaban yang berbeda tidak hanya memiliki pemahaman yang berbeda tentang makna modernisasi, tetapi juga cara yang berbeda untuk mengejar modernisasi. Hanya ketika modernisasi suatu negara sesuai dengan peradaban, budaya, dan kondisi nasionalnya sendiri, di sanalah kisah sukses bermulai dan memuai.

Penekanan Tiongkok untuk mengejar jalannya sendiri menuju modernisasi berarti bahwa ia tidak akan memaksakan model modernisasi kepada negara-negara lain, seperti yang dilakukan beberapa negara Barat. Sebaliknya, Tiongkok menganjurkan dialog dan saling belajar di antara peradaban untuk bersama-sama memajukan modernisasi dunia dengan mencari perkembangan bersama di sepanjang jalur yang berbeda.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/maju-dengan-kesadaran-sejarah/56998/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 04.28 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Mengenal Dasar Hukum Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, dari Warisan Adat hingga Tantangan Penerapannya

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan
  2. 2

    Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. 3

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  4. 4

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  5. 5

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.