Bantul, JurnalPost.com – Sampah menjadi salah satu persoalan penting yang dihadapi Padukuhan Kradenan, Kalurahan Imogiri, Kabupaten Bantul. Jumlah sampah rumah tangga yang terus bertambah tidak diimbangi dengan ketersediaan tempat penampungan maupun tenaga pengelola. Kondisi ini mendorong perlunya langkah pengelolaan sampah yang lebih efektif, tidak hanya demi menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga untuk memanfaatkan potensi ekonomis dari sampah yang dikelola dengan tepat.
Kepala Padukuhan Kradenan, Agus Mulyono, menyampaikan bahwa sebenarnya sampah dapat memberikan manfaat jika ditangani dengan baik. “Sampah-sampah ini punya nilai ekonomis. Hanya saja, di lapangan kami masih terkendala minimnya tempat penampungan dan terbatasnya SDM pengelola,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 2026 mendatang, sudah direncanakan pengalokasian dana untuk pembelian alat penghancur sampah sebagai upaya memperkuat pengelolaan di tingkat padukuhan.
Selama ini, pemuda-pemudi Padukuhan Kradenan telah menjalankan program Bank Sampah sebagai langkah awal dalam mengelola sampah anorganik, khususnya plastik. Namun, hambatan masih muncul dalam pengelolaan sampah organik, terutama sisa makanan rumah tangga. Berangkat dari permasalahan tersebut, mahasiswa KKN-PPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta XLVII Kelompok 65 menginisiasi program kerja bertajuk “Sosialisasi Optimalisasi Pengelolaan Sampah” dengan menghadirkan pembicara dari Kalurahan Potorono, Bapak Tardi Al Fatih, S.HI., M.EK., selaku Ketua BUMDes Potorono sekaligus Ketua Forum BUMDes Kabupaten Bantul. Beliau juga dikenal sebagai penulis 14 buku khususnya mengenai pengelolaan sampah dengan buku yang berjudul Kelola Sampah Jadi Berkah.
Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada Selasa (18/08/2025) di Posyandu Kradenan, serta dihadiri oleh 26 orang peserta, termasuk ketua RT 01–08 dan tujuh perwakilan pemuda-pemudi dari wilayah Kradenan dan Kanoman. Acara diawali dengan sambutan Kepala Padukuhan Kradenan, kemudian dilanjutkan ke sesi inti yang dibawakan langsung oleh Bapak Tardi.
Materi sosialisasi mencakup berbagai teknik pengelolaan sampah organik, seperti pembuatan sabun dari minyak jelantah, pemanfaatan ember tumpuk, hingga penerapan tabung losida. Selain itu, juga disampaikan kembali pentingnya bank sampah untuk pengelolaan sampah anorganik. Agar lebih aplikatif, Bapak Tardi menayangkan video tentang program zero waste yang telah berhasil diterapkan di Potorono serta memperlihatkan contoh fisik tabung losida kepada peserta.
Antusiasme peserta terlihat dari perhatian penuh mereka selama pemaparan materi. Pada sesi tanya jawab, sejumlah Ketua RT aktif melontarkan pertanyaan seputar penggunaan tabung losida dan ember tumpuk. Hal ini menunjukkan adanya keseriusan warga untuk memahami cara penerapan di lingkungan masing-masing.
Lebih dari sekadar kegiatan sosialisasi, program ini dapat menjadi momentum awal bagi warga Kradenan-Kanoman untuk lebih sadar dan terlibat dalam pengelolaan sampah. Harapannya warga-warga, terkhusus pemuda-pemudi dapat menerapkan dan mengembangkan pengetahuan yang diperoleh, baik dalam lingkup rumah tangga maupun kegiatan masyarakat di masa mendatang.
Kelancaran kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan penuh Kepala Padukuhan Kradenan yang memfasilitasi kebutuhan teknis, tetapi juga membantu melalui penyediaan anggaran. Tim KKN PPM UMBY Kelompok 65 berharap inisiatif ini bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk menerapkan pola pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda