Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
JurnalPost.com - Dalam setiap keluarga, pasti ada satu sosok istimewa yang menjadi perekat yang menyatukan seluruh anggota keluarga. Mereka adalah orang yang selalu mengingat setiap ulang tahun, dengan penuh semangat merencanakan liburan keluarga yang tak terlupakan, dan selalu hadir di sisi anggota keluarga yang sedang sakit. Dedikasi mereka untuk menjaga keharmonisan dan mempererat ikatan keluarga begitu besar, hingga ada istilah khusus untuk menggambarkan peran penting ini: kin keeper atau penjaga kekerabatan.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh para peneliti pada tahun 1985, yang menggambarkan seorang penjaga kekerabatan sebagai "komunikator keluarga", yaitu individu yang berperan penting dalam menjaga komunikasi dan hubungan antar anggota keluarga tetap erat. Seiring berjalannya waktu, definisi ini semakin meluas dan mencakup berbagai macam tugas yang bertujuan untuk menjaga keluarga tetap terhubung. Mulai dari mengingat momen-momen penting seperti kelulusan, merencanakan acara bermain yang menyenangkan untuk anak-anak, hingga menyiapkan bekal makan siang yang sehat dan menentukan hidangan lezat untuk acara kumpul keluarga.
Sekilas, tugas-tugas ini mungkin terlihat sepele. Namun, jika diakumulasikan, bebannya akan semakin bertambah dan menuntut upaya mental, emosional, dan fisik yang tidak sedikit. Sayangnya, seringkali penjaga kekerabatan memikul sebagian besar, bahkan seluruh tanggung jawab ini sendirian. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa pengakuan, dan seringkali tanpa batas waktu yang jelas.
Mari kita sejenak merenung dan melihat ke dalam dinamika keluarga kita. Pernahkah Anda memperhatikan adanya sosok yang tanpa kenal lelah mengurus segala hal di rumah, dari hal-hal kecil hingga besar? Sosok yang memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi, dari perayaan ulang tahun hingga jadwal bermain anak, dari menyiapkan bekal makan siang hingga memasak hidangan istimewa untuk acara keluarga. Jika Anda pernah menyaksikannya, siapakah sosok tersebut di keluarga Anda? Siapa yang tanpa pamrih melakukan semua pekerjaan yang tampaknya sepele, tak terlihat, dan tak berkesudahan ini? Besar kemungkinan, sosok itu adalah ibu Anda. Setidaknya, itulah yang ditunjukkan oleh berbagai penelitian.
Meskipun definisi "kin keeping" atau penjaga kekerabatan telah berkembang seiring waktu, satu hal yang tetap konstan adalah adanya bias gender yang melekat pada peran ini. Mayoritas penjaga kekerabatan adalah perempuan, mencapai angka 91% menurut sebuah survei. Angka yang cukup mencengangkan, namun tidaklah mengherankan mengingat adanya kesenjangan yang besar antara bagaimana pria dan wanita mengalokasikan waktu mereka.
Terlepas dari apakah seorang wanita adalah ibu rumah tangga atau seorang profesional yang bekerja, berapapun penghasilannya, berapapun usianya, atau apapun latar belakang budayanya, wanita di seluruh dunia masih memikul beban terbesar dalam hal pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Bahkan ketika pasangan berupaya untuk membagi tanggung jawab secara adil, jenis pekerjaan yang dilakukan seringkali masih terbagi berdasarkan gender.
Misalnya, ketika anak ingin pergi piknik atau bermain, siapa yang biasanya bertanggung jawab untuk menemani dan memastikan mereka bersenang-senang? Biasanya ayah. Namun, ketika menyangkut tugas-tugas seperti membersihkan lemari atau menyiapkan makan siang, tugas tersebut seringkali jatuh ke pundak ibu. Meskipun ini hanya skenario hipotetis, penelitian telah membuktikan bahwa pembagian tugas rumah tangga masih sangat dipengaruhi oleh stereotip gender.
Selain tugas-tugas rumah tangga yang terlihat jelas, ada pula beban kerja yang tersembunyi, yang seringkali luput dari perhatian. Mari kita ambil contoh liburan keluarga. Persiapannya saja sudah melibatkan banyak hal: menentukan tujuan, memilih tanggal, memesan tiket, dan mengepak barang-barang. Semua ini bisa dibagi rata antar anggota keluarga.
Namun, bagaimana dengan tugas-tugas tak terlihat yang jauh lebih kompleks? Menyusun rencana perjalanan yang detail, memastikan semua orang siap tepat waktu, memastikan semua kebutuhan terpenuhi, dari makanan hingga pakaian yang sesuai. Siapa yang biasanya mengambil alih semua ini? Seringkali, ibulah yang menjadi koordinator utama.
"Kehilangan kaus kaki? Tanya Ibu." "Tidak bisa menemukan paspor? Tanya Ibu." "Di mana Ayah lagi?" Sekali lagi, Ibu yang menjadi pusat informasi. Sementara itu, Ayah mungkin hanya bersantai dan menyuruh semua orang untuk "santai". Kata ajaib "santai" yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menenangkan siapa pun. Masalahnya bukan pada kata itu sendiri, melainkan pada ketidakpedulian terhadap kerja keras yang dilakukan di balik layar. Beban kognitif dan emosional, serta usaha mental yang tak terlihat di balik setiap tugas kecil, seringkali diabaikan begitu saja.
Tentu saja, menjadi penjaga kekerabatan bisa menjadi sebuah berkah. Bagi mereka yang memilih peran ini dengan kesadaran dan kemauan sendiri, bisa jadi sangat memuaskan. Namun, jika penjaga kekerabatan itu sendiri merasa terkuras, peran ini bisa berubah menjadi beban yang berat, menyita waktu, dan menguras emosi, bahkan bisa berujung pada kelelahan fisik dan mental.
Fenomena ini telah mendorong banyak penjaga kekerabatan untuk mulai menyuarakan pengalaman mereka. Istilah "kin keeper", yang dulunya hanya dikenal di kalangan akademis, kini menjadi perbincangan sehari-hari. Podcast membahasnya, dan tagar terkait di TikTok viral dengan jutaan penonton. Ini menunjukkan betapa banyak perempuan yang merasa terhubung dengan pengalaman ini. Mereka tidak hanya berjuang untuk keluarga mereka, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.
Lalu, bagaimana cara mengatasi beban ini? Kami tidak akan memberikan saran ala TikTok. Para peneliti menyarankan dua langkah penting: mengembangkan rasa welas asih pada diri sendiri dan menetapkan batasan yang jelas. Keduanya merupakan konsep yang mudah dipahami. Dan jika Anda adalah anggota keluarga dari seorang penjaga kekerabatan, tunjukkan rasa terima kasih Anda, hargai kerja keras mereka, dan bantu meringankan beban yang tak terlihat. Ingatlah, peran sebagai penjaga kekerabatan memang mempererat hubungan keluarga, tetapi juga menuntut pengorbanan emosional dan fisik yang besar. Sudah saatnya kita mulai memberikan perhatian dan dukungan kepada para penjaga kekerabatan di sekitar kita.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda