Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Privasi Anak Bertabrakan dengan Rasa Ingin Tahu Publik

Ketika Privasi Anak Bertabrakan dengan Rasa Ingin Tahu Publik

Penulis:
  • Afrasi Meitriningsih Edon,
  • NIM: 1152400240

Afiliasi: Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Editor: Shella Paramitha
12 Oktober 2026, 17.02 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Protecting Childhood in the Spotlight
Ilustrasi pentingnya menjaga privasi anak di tengah sorotan publik dan perkembangan media sosial. (Ilustrasi: AI/JurnalPost.com)

JurnalPost.com - Media sosial telah mengubah cara masyarakat mengikuti kehidupan figur publik. Jika dahulu informasi mengenai selebritas lebih banyak diperoleh melalui televisi atau pemberitaan media, kini kehidupan sehari-hari mereka dapat disaksikan langsung melalui unggahan di berbagai platform digital. Mulai dari aktivitas pekerjaan, hubungan pribadi, hingga kehidupan keluarga, semuanya dapat dengan mudah menarik perhatian masyarakat.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan mengenai batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik. Tidak semua hal yang terlihat di media sosial seharusnya menjadi sesuatu yang bebas disebarluaskan, terutama ketika menyangkut kehidupan anak-anak.

IKLAN

Persoalan ini menjadi perhatian dalam perbincangan mengenai Alyssa Daguise dan Al Ghazali. Dalam peristiwa yang ramai dibahas di media sosial, wajah anak mereka disebut tidak sengaja terlihat dalam sebuah video keluarga. Potongan video yang memperlihatkan wajah sang anak kemudian ikut beredar dan menarik perhatian pengguna media sosial.

Padahal, keduanya selama ini memilih untuk tidak memperlihatkan wajah anak mereka kepada publik. Setelah video tersebut menyebar, Alyssa dan Al disebut meminta masyarakat agar tidak kembali membagikan foto maupun video yang memperlihatkan wajah anak mereka.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan penting: apakah anak yang lahir dari orang tua terkenal juga harus kehilangan hak atas kehidupan pribadinya?

Popularitas Orang Tua Bukan Alasan Mengabaikan Privasi Anak

Menjadi figur publik tentu memiliki konsekuensi berupa perhatian masyarakat yang lebih besar. Kehidupan seorang selebritas sering kali menjadi bahan pembicaraan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bersifat pribadi.

Namun, popularitas orang tua tidak seharusnya membuat anak mereka otomatis menjadi bagian dari konsumsi publik.

Anak tetap memiliki hak atas privasi, termasuk hak untuk tidak ditampilkan atau dikenalkan kepada masyarakat luas sebelum mampu memahami konsekuensinya. Terlebih lagi, anak belum memiliki kemampuan penuh untuk menentukan bagaimana identitas dan kehidupan pribadinya ingin ditampilkan di ruang digital.

Ketika orang tua memilih untuk tidak memperlihatkan wajah anak, keputusan tersebut merupakan bentuk perlindungan yang seharusnya dihormati.

Sayangnya, sebagian pengguna media sosial masih menganggap kehidupan keluarga selebritas sebagai sesuatu yang bebas diketahui. Ketika muncul foto atau video yang sebelumnya tidak pernah diperlihatkan, rasa penasaran justru mendorong sebagian orang untuk mencari, menyimpan, dan menyebarkannya kembali.

Menurut saya, di sinilah batas antara rasa ingin tahu dan penghormatan terhadap privasi mulai dilanggar.

Menjadi penggemar bukan berarti seseorang memiliki hak untuk mengetahui seluruh kehidupan pribadi idolanya. Kita dapat menikmati karya, mengikuti aktivitas, dan memberikan dukungan tanpa harus ikut mencampuri hal-hal yang memang ingin mereka jaga dari perhatian publik.

Ketika Rasa Penasaran Berubah Menjadi Penyebaran Informasi Pribadi

Rasa penasaran terhadap kehidupan figur publik sebenarnya merupakan hal yang wajar. Media sosial bahkan membangun kedekatan antara selebritas dan pengikutnya melalui unggahan yang terasa personal.

Namun, kedekatan tersebut terkadang menimbulkan anggapan bahwa pengikut berhak mengetahui lebih banyak hal mengenai kehidupan seseorang.

Ketika suatu foto atau video tersebar, sebagian pengguna mungkin merasa tidak ada masalah untuk membagikannya kembali karena konten tersebut sudah lebih dahulu muncul di internet.

Padahal, ada perbedaan besar antara mengetahui sebuah informasi dan memiliki hak untuk menyebarkannya.

Sesuatu yang dapat dilihat secara terbuka belum tentu pantas untuk dibagikan ulang, terlebih jika konten tersebut memperlihatkan identitas anak yang memang sengaja dilindungi oleh keluarganya.

Dalam konteks komunikasi digital, pengguna media sosial tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pihak yang dapat memperluas penyebarannya.

Satu unggahan yang awalnya hanya dilihat oleh sejumlah orang dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan pengguna ketika terus dibagikan. Setiap tindakan membagikan ulang ikut memperbesar jangkauan informasi tersebut.

Karena itu, pengguna media sosial sebenarnya memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dampak dari konten yang mereka sebarkan.

Tidak semua informasi yang sedang ramai dibicarakan harus ikut disebarluaskan. Ada kalanya keputusan untuk tidak membagikan sesuatu justru menjadi bentuk kepedulian terhadap orang lain.

IKLAN

Jejak Digital Tidak Mudah Dihapus

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sifat media sosial yang memungkinkan informasi tersimpan dan tersebar dalam waktu lama.

Ketika sebuah video telah diunggah ke internet, pemilik konten tidak selalu dapat mengendalikan penyebarannya. Orang lain mungkin telah menyimpan video tersebut, mengambil tangkapan layar, atau mengunggahnya kembali melalui akun berbeda.

Bahkan ketika unggahan awal sudah dihapus, salinan konten masih berpotensi ditemukan di berbagai platform.

Inilah yang membuat persoalan privasi anak menjadi semakin penting. Informasi yang beredar ketika seorang anak masih kecil dapat membentuk jejak digital yang mungkin tetap ada hingga dirinya tumbuh dewasa.

Anak yang wajahnya disebarluaskan belum tentu memahami bahwa identitasnya telah menjadi perhatian banyak orang. Ia juga belum memiliki kesempatan untuk menentukan apakah ingin dikenal publik atau menjalani kehidupan yang lebih pribadi.

Oleh sebab itu, perlindungan terhadap identitas anak seharusnya tidak hanya bergantung pada keputusan orang tua.

Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga agar informasi yang bersifat pribadi tidak terus menyebar tanpa alasan yang jelas.

Etika Bermedia Sosial Dimulai dari Diri Sendiri

Peristiwa yang melibatkan kehidupan keluarga figur publik seharusnya menjadi pengingat bahwa kebebasan menggunakan media sosial tetap perlu disertai tanggung jawab.

Kemampuan untuk mengakses, menyimpan, dan membagikan informasi bukan berarti setiap pengguna bebas melakukannya tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Sebelum membagikan sebuah foto atau video, terutama yang melibatkan anak-anak, kita perlu mempertanyakan apakah konten tersebut memang layak disebarluaskan.

Apakah orang yang bersangkutan menginginkan informasi tersebut diketahui publik? Apakah tindakan membagikannya dapat mengganggu kehidupan pribadinya? Dan apakah informasi itu benar-benar memiliki kepentingan bagi masyarakat?

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu membangun kebiasaan bermedia sosial yang lebih bertanggung jawab.

Menurut saya, menghormati privasi bukan berarti masyarakat harus berhenti mengikuti kehidupan figur publik. Kita tetap dapat menikmati konten yang memang sengaja mereka bagikan, memberikan komentar, ataupun mengikuti perkembangan aktivitas mereka.

Namun, ketika menyangkut sesuatu yang secara sadar dijaga dari perhatian publik, kita perlu mengetahui batasnya.

Apalagi jika informasi tersebut berkaitan dengan anak yang belum mampu memberikan persetujuan atas penyebaran identitasnya.

Perlindungan privasi anak bukan hanya persoalan keluarga selebritas. Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak pada umumnya. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan terhadap informasi pribadinya, terlepas dari siapa orang tuanya dan seberapa besar perhatian masyarakat terhadap keluarganya.

Kasus yang ramai dibicarakan mengenai Alyssa Daguise dan Al Ghazali memperlihatkan bagaimana media sosial dapat membuat batas antara kehidupan pribadi dan ruang publik semakin kabur.

Di satu sisi, masyarakat memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan figur publik. Namun, di sisi lain, terdapat hak pribadi yang tetap harus dihormati.

Bagi saya, menjadi pengguna media sosial yang bijak bukan sekadar mampu mengikuti informasi terbaru atau mengetahui apa yang sedang viral. Lebih dari itu, kebijaksanaan juga terlihat dari kemampuan menentukan informasi mana yang pantas dibagikan dan mana yang seharusnya dibiarkan tetap menjadi urusan pribadi.

Pada akhirnya, ketenaran orang tua tidak menghapus hak privasi anak. Rasa penasaran masyarakat boleh saja muncul, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan batas kehidupan pribadi seseorang.

Sebab, tidak semua yang bisa kita lihat harus kita sebarkan, dan tidak semua yang ingin kita ketahui memang menjadi hak kita untuk mengetahuinya.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-privasi-anak-bertabrakan-dengan-rasa-ingin-tahu-publik/98122/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.59 WITA

  • #al ghazali
  • #alyssa daguise
  • #etika digital
  • #figur publik
  • #jejak digital
  • #media sosial
  • #privasi anak
  • #selebritas

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.