Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja Tak Bertemu: Jebakan Ganda Sarjana Baru

Ketika Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja Tak Bertemu: Jebakan Ganda Sarjana Baru

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
29 September 2026, 09.18 WITA • Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Jebakan Ganda Sarjana
Ilustrasi sarjana baru melihat informasi lowongan kerja di tengah ketatnya persaingan pasar tenaga kerja. Ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu tantangan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi saat memasuki dunia kerja. Foto: Ilustrasi AI/JurnalPost

Oleh: Annisa Nur Hasanah HAR dan Nur Eka Sashi

JurnalPost.com - Setiap tahun, ribuan mahasiswa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi maupun sekolah vokasi dengan membawa harapan besar. Ijazah yang diperoleh setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan diharapkan menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja dan memperoleh pekerjaan yang layak.

IKLAN

Namun, realitas pasar tenaga kerja tidak selalu berjalan sesuai harapan. Di tengah bertambahnya jumlah lulusan, dunia usaha dan industri justru masih menghadapi kesulitan dalam menemukan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara penawaran tenaga kerja dan permintaan pasar. Di satu sisi, jumlah tenaga kerja terdidik terus bertambah. Di sisi lain, kebutuhan industri berkembang dengan spesifikasi keterampilan yang semakin berubah.

Akibatnya, pengangguran terdidik masih menjadi persoalan, sementara perusahaan pada saat yang sama terus mencari talenta dengan kompetensi yang dianggap relevan.

Dalam perspektif ekonomi tenaga kerja, kondisi ini menunjukkan adanya persoalan struktural dalam proses penyelarasan antara pendidikan, keterampilan angkatan kerja, dan kebutuhan industri.

Pengangguran Terdidik di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi meningkat dari 5,25 persen pada 2024 menjadi 5,39 persen pada 2025.

Kenaikan tersebut terjadi ketika perekonomian tetap tumbuh dan lapangan pekerjaan juga bertambah. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran terdidik tidak bisa hanya dilihat dari jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Masalahnya juga terletak pada ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja yang tersedia dan kebutuhan pasar.

Dengan kata lain, persoalan bukan semata-mata karena lulusan kurang siap bekerja. Struktur industri formal juga belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang yang cukup untuk menyerap pertumbuhan jumlah tenaga kerja terdidik.

Ketidaksesuaian antara penawaran tenaga kerja dan permintaan pasar pada akhirnya menciptakan pengangguran struktural. Karena itu, diperlukan upaya penyesuaian keterampilan melalui pelatihan, pengembangan kurikulum, serta program magang yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan dunia kerja.

Perkembangan lapangan kerja formal juga belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan tenaga kerja. Porsi pekerja formal perempuan tercatat meningkat dari 45,81 persen menjadi 45,88 persen pada periode 2024–2025. Sementara itu, pekerja formal laki-laki meningkat dari 36,32 persen menjadi 36,66 persen.

Meski mengalami peningkatan, sebagian besar penduduk bekerja di Indonesia masih berada di sektor informal, seperti wirausaha mandiri, pekerja lepas, maupun berbagai pekerjaan yang tidak selalu disertai kepastian kerja, jaminan sosial, dan perlindungan hukum yang memadai.

Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja sebagai pengemudi transportasi daring, pedagang, maupun pekerja lepas setelah gagal memperoleh pekerjaan di sektor formal.

Pekerjaan tersebut tentu tetap memiliki nilai ekonomi. Namun, bagi sebagian lulusan, pilihan itu muncul bukan semata karena preferensi pribadi, melainkan karena akses menuju pekerjaan formal yang sesuai dengan pendidikan dan keterampilan mereka semakin terbatas.

Jebakan Ganda: Gelombang PHK dan Kurikulum yang Tertinggal

Sarjana baru kerap dianggap gagal bersaing ketika belum berhasil memperoleh pekerjaan. Pandangan tersebut seolah menempatkan persoalan pengangguran sebagai persoalan kualitas individu semata.

Padahal, terdapat sedikitnya dua tekanan struktural yang terjadi secara bersamaan dan sebagian besar berada di luar kendali lulusan.

Tekanan pertama datang dari gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja yang terkena PHK sepanjang 2025 mencapai 105.658 orang. Angka tersebut bertambah 27.693 orang dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 77.965 orang.

Ketika perusahaan mengurangi tenaga kerja, sarjana baru tidak hanya menghadapi jumlah lowongan yang semakin terbatas. Mereka juga harus bersaing dengan pekerja yang telah memiliki pengalaman kerja dan kembali masuk ke pasar tenaga kerja setelah terkena PHK.

IKLAN

Situasi tersebut membuat posisi lulusan baru semakin sulit. Perusahaan memiliki lebih banyak pilihan kandidat, sedangkan pencari kerja pemula belum memiliki pengalaman yang sama dengan pekerja yang sebelumnya telah bertahun-tahun berada di dunia industri.

Tekanan kedua berasal dari ketidaksesuaian antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri.

Perubahan teknologi dan model bisnis berlangsung sangat cepat. Perusahaan kini membutuhkan kemampuan yang semakin spesifik, mulai dari penguasaan berbagai perangkat digital, kemampuan analisis data, komunikasi profesional, pemecahan masalah, hingga pemahaman terhadap alur kerja industri.

Sementara itu, sebagian program pendidikan masih membutuhkan waktu panjang untuk menyesuaikan kurikulumnya terhadap perubahan tersebut.

Akibatnya muncul sebuah paradoks. Perusahaan mengatakan kesulitan mendapatkan kandidat yang sesuai kebutuhan, sementara banyak lulusan perguruan tinggi belum memperoleh pekerjaan karena keterampilan yang mereka miliki dianggap belum sepenuhnya sesuai dengan tuntutan pasar.

Persoalan tersebut tidak seharusnya disederhanakan menjadi anggapan bahwa mahasiswa malas mengembangkan kemampuan.

Ada persoalan yang lebih mendasar, seperti kurikulum yang lambat beradaptasi, terbatasnya program magang yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri, serta belum optimalnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam merancang proses pembelajaran.

Ketika dua tekanan tersebut bertemu, sarjana baru menghadapi apa yang dapat disebut sebagai jebakan ganda.

Pintu masuk menuju sektor formal menyempit akibat PHK dan tekanan pada sejumlah sektor industri. Pada saat yang sama, keterampilan yang diperoleh selama pendidikan belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh lapangan kerja yang masih tersedia.

Menutup Jurang, Bukan Menyalahkan Lulusan

Pengangguran terdidik merupakan persoalan sistemik. Karena itu, penyelesaiannya tidak dapat dibebankan hanya kepada lulusan.

Setidaknya ada tiga pihak yang harus bergerak secara bersamaan.

Pertama, perguruan tinggi perlu memperkuat penyelarasan kurikulum dengan perkembangan dunia kerja. Praktisi industri perlu lebih banyak dilibatkan dalam penyusunan materi pembelajaran sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mengetahui kompetensi yang benar-benar digunakan di lapangan.

Program magang juga perlu diarahkan menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi, bukan sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan akademik.

Kedua, pemerintah perlu memperluas program reskilling dan upskilling, baik bagi lulusan baru maupun pekerja yang terdampak PHK.

Program pelatihan harus diarahkan pada keterampilan yang memiliki permintaan nyata di pasar tenaga kerja. Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu menjaga pertumbuhan sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar agar peningkatan kualitas sumber daya manusia berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan pekerjaan.

Ketiga, dunia usaha perlu memberikan ruang belajar yang lebih besar bagi lulusan baru.

Perusahaan tidak dapat terus-menerus mengharapkan seluruh kandidat datang dalam kondisi sepenuhnya “siap pakai”. Lulusan baru membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman, mengikuti pelatihan di tempat kerja, serta memahami proses kerja secara langsung.

Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan industri menjadi semakin penting karena perubahan pasar tenaga kerja berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Tanpa upaya bersama dari ketiga pihak tersebut, kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja akan terus melebar.

Pada akhirnya, ijazah seharusnya bukan sekadar tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan. Pendidikan perlu menjadi jembatan yang benar-benar menghubungkan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan kerja.

Jika jembatan itu tidak diperkuat, semakin banyak sarjana akan membawa ijazah ke pasar tenaga kerja, tetapi tetap kesulitan menukarnya dengan pekerjaan yang layak.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-penawaran-dan-permintaan-tenaga-kerja-tak-bertemu-jebakan-ganda-sarjana-baru/97888/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 14.10 WITA

  • #Tenaga Kerja
  • #dunia industri
  • #ekonomi tenaga kerja
  • #kurikulum pendidikan
  • #pasar kerja
  • #pemutusan hubungan kerja
  • #pengangguran terdidik
  • #sarjana baru

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

KADER MOLERA, Dosen FKM UMI Latih Kader Desa Marayoka Cegah Hipertensi pada Akseptor KB Hormonal

HMI Cabang Pamekasan Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim Lewat Program BAKTI CITA

Asap Tebal Tak Surutkan Semangat, Tim 15 Ekspedisi Patriot UI Bekali UMKM Pala Werianggi-Werabur Keterampilan Branding dan Fotografi Produk

Dosen UMI Berdayakan Guru Pesantren Mizanul Ulum melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dari Cangkang Telur Itik

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.