JurnalPost.com - Bulan Ramadan membuat seluruh umat islam hendaknya melaksanakan kewajiban berpuasa. Hal ini karena puasa juga tertuang dalam rukun islam, hendaknya seluruh umat islam sudah mengetahui kewajiban itu. Meski begitu, Islam adalah agama rahmatan lil’alamiin, Islam mempermudah umatnya dalam melaksanakan kewajibannya. Sebut saja tentang kewajiban sholat.
Seyogyanya sholat dilaksanakan dengan berdiri, namun Islam meringankan umatnya yang tidak mampu berdiri dapat melaksanakannya dengan duduk atau jika tidak mampu duduk maka berbaring. Keringanan ini juga diberikan kepada umat islam ketika melaksanakan puasa. Meski begitu masih banyak umat islam yang lalai akan kewajiban ini, bahkan yang kerap menyedihkan adalah saat mereka terang-terangan menunjukan kekeliruannya.
#Puasa Puasa adalah salah satu kegiatan umat islam dalam menahan hawa nafsu, seperti makan, minum dan nafsu-nafsu lainnya. Puasa mengajarkan umat islam untuk hendaknya bersabar dalam setiap ujian yang datang, termasuk didalamnya adalah ujian untuk tidak makan dan minum. Namun saat ini, masih banyak godaan-godaan yang seringkali mengajak kita untuk membatalkan puasa. Kamu pasti pernah tergoda, kan? Wong saya saja pernah, kok. Apa yang harus kita lakukan agar tidak tergoda? Menurut saya yang tahu jawabannya adalah diri sendiri.
#Mokel Dilumrahkan Mokel merupakan istilah gaul yang seringkali digunakan oleh banyak orang untuk menggambarkan kegiatan seseorang berupa berbuka puasa sebelum waktunya. Misalnya seseorang yang makan atau minum saat siang, padahal awalnya bilang puasa, kemudian dia makan atau minum dengan sengaja, maka orang tersebut berarti mokel.
Fenomena mokel bukan sesuatu yang asing lagi diera saat ini, fenomena ini bahkan cenderung dilumrahkan. Kata orang tua zaman dulu, kalau orang tidak puasa saat bulan Ramadan itu malunya bukan main namun saat ini aib itu malah diumbar bahkan dianggap lumrah oleh sekitar. Suatu ketika saya tengah perjalanan dari Kampus ke Rumah. Sesampainya di Rumah tiba-tiba saya dikirim foto selfie kawan sedang makan, padahal sahurnya dengan saya dan jelas-jelas awalnya dia puasa. Tidak kuat, katanya.
Saya tetap positif thinking, ya tidak mau suudzon atau berprasangka buruk. Kali aja dia sedang datang bulan, karena perempuan tapi anehnya, dia sendiri yang mengatakan kalau memang mokel. Hal ini membuat saya geleng-geleng kepala. Sungguh, benar bahwa era saat ini membuat semua serba dilumrahkan. Terlepas dari itu saya tidak mau mengadili apapun, hanya saja seharusnya fenomena ini tidak terjadi, tapi yah bagaimana lagi, sudah zamannya mokel dilumrahkan.
#Mokel Menjadi Tindakan yang Dibanggakan Celakanya, tindakan mokel bukan hanya dilumrahkan tetapi juga seringkali dibanggakan oleh sebagian orang. Fenomena bangga mokel ini seringkali ditunjukan melalui media sosial. Misalnya adalah dengan memfoto makanan atau minuman yang tengah dinikmatinya, padahal sedang tidak ada halangan apapun untuk melaksanakan puasa. Meski begitu, lagi-lagi saya tidak mau berburuk sangka, saya konfirmasi kepada yang bersangkutan dengan mereplay story whatsAppnya, untuk sekadar bergurau, ya, meski ujung-ujungnya saya tahu kalau dia benar-benar mokel.
Fenomena ini menunjukan bahwa, diera saat ini mokel dianggap hebat, dianggap lucu bahkan seringkali karena dibanggakan, menjadikan tindakan yang salah itu terjadi berulang-ulang. Lantas jika sudah seperti itu, siapa yang harus disalahkan? Menurutmu lebih baik mokel diam-diam atau mokel yang dibangga-banggakan, ditunjukan dan dilumrahkan padahal tidak dalam keadaan sakit atau halangan lainnya. Tulisan ini juga termasuk upaya dalam menampar diri saya sendiri. Semoga kita semua menjadi lebih baik lagi ya, kawan.
Oleh: Sugiati
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda