JurnalPost.com - Memasuki dunia profesional untuk pertama kalinya sering kali membuat kita menyadari bahwa memahami bahasa tidak selalu berarti memahami komunikasi. Selama di bangku pendidikan, kita terbiasa dengan bahasa yang relatif familiar dalam keseharian. Namun, begitu masuk dunia kerja, kita menemukan istilah dan cara berkomunikasi yang sebelumnya jarang, bahkan tidak pernah kita temui.
Hal ini terasa bagi mahasiswa yang menjalani magang sebagai bagian dari proses mengenal dunia profesional. Perubahan dari kampus ke kantor menuntut kita beradaptasi tidak hanya dengan pekerjaan baru, tetapi juga dengan budaya komunikasi yang baru. Salah satu contohnya adalah penggunaan istilah korporat (atau jargon) yang terdengar wajar bagi pekerja berpengalaman, tetapi membingungkan bagi pendatang baru.
Menariknya, kebingungan itu tidak selalu muncul karena kita tidak memahami bahasanya. Kita mungkin berbicara dalam bahasa yang sama dan bahkan tahu arti suatu kata secara harfiah. Akan tetapi, ketika kata tersebut digunakan dalam konteks pekerjaan, maknanya tidak lagi sesederhana itu. Pada titik inilah istilah korporat dapat menjadi hambatan komunikasi (communication barrier), bukan karena bahasanya berbeda, melainkan karena konteks di baliknya belum tentu dipahami semua orang. Sebuah studi terhadap lebih dari 1.800 partisipan menemukan bahwa pesan yang sarat istilah korporat membuat orang lebih sulit memproses informasi, merasa kurang percaya diri, dan lebih enggan meminta bantuan. Peserta yang lebih muda pun cenderung lebih segan meminta penjelasan (Bullock & Bisbey, 2025).
Ambil contoh follow-up. Secara sederhana, istilah ini berarti menindaklanjuti sesuatu. Di lingkungan kerja, istilah ini sering muncul dalam bentuk singkat, yaitu “FU”, terutama dalam pesan teks. Bagi pekerja berpengalaman, tidak ada yang aneh dengan singkatan itu. Namun, bagi kita yang baru pertama kali melihatnya, muncul pertanyaan sederhana: “FU itu apa?” Bahkan setelah tahu bahwa FU adalah follow-up, pertanyaan lain masih mungkin muncul: apa yang harus ditindaklanjuti dan kepada siapa?
Hal serupa terjadi pada WIP atau Work in Progress. Istilah ini dipakai untuk menyatakan bahwa suatu pekerjaan masih dalam proses, misalnya ketika atasan menanyakan perkembangan tugas dan dijawab “masih WIP”. Dari sini muncul istilah lain seperti working file, yaitu berkas yang masih aktif dikerjakan. Berkas ini biasanya diminta ketika pekerjaan belum selesai agar perkembangannya tetap bisa dilihat. Bagi pekerja berpengalaman, semua ini terdengar biasa saja. Bagi pendatang baru, semuanya terasa seperti kosakata asing yang harus dipelajari.
Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa kebingungan dalam komunikasi bukan soal tidak paham bahasa, melainkan soal tidak berbagi konteks yang sama. Survei LinkedIn dan Duolingo menunjukkan bahwa sekitar 60 persen profesional Gen Z di India merasa jargon di tempat kerja membingungkan, dan pihak Duolingo menilai pemakaian jargon yang terus-menerus dapat membuat pendatang baru merasa terisolasi (Agarwal, 2023). Artinya, memasuki dunia profesional juga berarti memasuki lingkungan dengan kebiasaan komunikasinya sendiri. Kita tidak hanya dituntut memahami pekerjaan yang diberikan, tetapi juga cara orang-orang di dalamnya berkomunikasi.
Lalu, apakah penggunaan istilah-istilah ini menjadi sebuah masalah? Sebenarnya, tidak selalu. Istilah seperti follow-up atau WIP justru membuat komunikasi lebih singkat dan praktis bagi orang yang sudah memahami maksudnya. Penelitian dari Universitas Bocconi menunjukkan bahwa jargon dapat membantu pekerja belajar lebih cepat dan bekerja lebih baik karena maknanya eksplisit dan dipahami bersama. Di sisi lain, jargon yang sama bisa menjadi hambatan bagi orang luar dan pendatang baru (Reagans et al., 2026). Masalah muncul ketika pemahaman tersebut dianggap sudah dimiliki semua orang, termasuk mereka yang baru pertama kali masuk ke dunia kerja.
Karena itu, solusinya bukan menghapus istilah korporat, melainkan membuatnya lebih mudah dipahami. Pekerja berpengalaman bisa menjelaskan secara singkat istilah yang dipakai kepada pendatang baru, sementara pendatang baru tidak perlu merasa takut untuk bertanya.
Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata penggunaan istilah korporat, melainkan perbedaan pemahaman antara mereka yang sudah akrab dengan dunia kerja dan mereka yang baru memasukinya. Sebuah istilah bisa terasa sederhana bagi satu orang, tetapi membingungkan bagi orang lain karena keduanya tidak memiliki pengalaman dan konteks yang sama. Pada akhirnya, berbicara dalam bahasa yang sama belum tentu berarti memiliki pemahaman yang sama
Daftar Pustaka
Agarwal, M. (2023, June 13). 'Keep me in the loop', 'take offline' are some of the most confusing workplace terms: LinkedIn-Duolingo. Business Today. https://www.businesstoday.in/amp/latest/corporate/story/keep-me-in-the-loop-take-offline-are-some-of-the-most-confusing-workplace-terms-linkedin-duolingo-385365-2023-06-13
Bullock, O. M., & Bisbey, T. (2025, August 25). Jargon in the Workplace Reduces Processing Fluency, Self-Efficacy, and Information Seeking and Sharing. International Journal of Business Communication, 1-19. https://doi.org/10.1177/23294884251364525
Reagans, R. E., Burt, R. S., & Liu, D. D. (2026, April 2). Jargonization, Language Development, and Team Performance. Sociological Science, 13, 314-331. https://doi.org/10.15195/v13.a14
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda