Oleh: Felicia Anindya
JurnalPost.com - Hilangnya lima jurnalis saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa pekerjaan jurnalistik tidak selalu berlangsung di balik meja redaksi yang aman. Ada kalanya jurnalis harus mendatangi lokasi dengan medan sulit, cuaca yang tidak menentu, hingga kawasan yang memiliki risiko bencana.
Lima jurnalis tersebut berada dalam satu speedboat bersama tiga orang lainnya ketika melakukan perjalanan menuju kawasan Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Rombongan berangkat dari kawasan Carita pada Senin, 7 September 2026, untuk melakukan peliputan aktivitas gunung api tersebut.
Setelah perjalanan berlangsung, komunikasi dengan rombongan terputus. Hingga pencarian memasuki hari kesembilan, belum ada kepastian mengenai keberadaan delapan orang maupun speedboat yang mereka gunakan.
Peristiwa ini mendapat perhatian luas karena perjalanan tersebut bukan perjalanan pribadi. Para jurnalis berada di lapangan untuk menjalankan salah satu tugas utama media, yakni menghadirkan informasi langsung dari lokasi peristiwa kepada masyarakat.
Dalam situasi bencana seperti erupsi gunung berapi, keberadaan jurnalis di lapangan memang penting. Laporan langsung, foto, maupun rekaman video dapat membantu masyarakat memahami situasi yang sedang berlangsung.
Namun, peristiwa ini sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa jauh seorang jurnalis perlu mendekati sumber bahaya demi mendapatkan informasi?
Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kebutuhan memperoleh berita akhirnya bersinggungan langsung dengan keselamatan manusia.
Anak Krakatau Bukan Lokasi Peliputan Biasa
Gunung Anak Krakatau jelas bukan wilayah peliputan biasa. Kawasan tersebut memiliki karakter geografis dan risiko vulkanik yang menuntut kewaspadaan tinggi.
Aktivitas gunung bahkan menjadi salah satu pertimbangan dalam operasi pencarian. Tim pencarian dan pertolongan harus memperhitungkan keselamatan personelnya saat melakukan penyisiran di sekitar kawasan Anak Krakatau.
Pada hari kedelapan operasi pencarian, tim melakukan penyisiran hingga sekitar 500 meter dari kawasan gunung. Namun, pencarian tersebut belum membuahkan hasil. Speedboat maupun delapan orang dalam rombongan belum ditemukan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa peliputan di wilayah bencana membutuhkan persiapan yang jauh lebih serius dibandingkan liputan sehari-hari.
Jurnalis bukan hanya dituntut mampu menggali informasi, mengambil gambar, dan melaporkan perkembangan di lapangan. Mereka juga perlu memahami medan, perubahan kondisi lingkungan, jalur evakuasi, hingga ancaman yang mungkin muncul sewaktu-waktu.
Di sinilah tanggung jawab perusahaan media menjadi penting.
Keselamatan seharusnya tidak ditempatkan semata-mata sebagai tanggung jawab pribadi reporter, fotografer, atau kamerawan. Perusahaan media yang mengirim pekerjanya ke kawasan berisiko juga perlu memastikan adanya perlindungan, peralatan, komunikasi, dan prosedur keselamatan yang memadai.
Harus ada sistem kerja yang mampu mencegah pencarian berita berubah menjadi pencarian korban.
Tekanan Menjadi yang Pertama
Dalam industri media yang bergerak semakin cepat, tekanan untuk menjadi yang pertama menyampaikan informasi sulit dihindari.
Berita terbaru diharapkan segera terbit. Foto dan video dari lokasi kejadian juga memiliki nilai tinggi, terutama ketika masyarakat mengikuti perkembangan suatu peristiwa secara real time melalui portal berita maupun media sosial.
Situasi tersebut dapat mendorong jurnalis untuk berada semakin dekat dengan pusat kejadian agar memperoleh gambar yang lebih eksklusif atau informasi yang belum dimiliki media lain.
Namun, satu pertanyaan patut direnungkan: apakah gambar yang sedikit lebih dekat atau video yang lebih dramatis sepadan dengan risiko keselamatan yang harus ditanggung oleh orang di balik kamera?
Pertanyaan tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk menyalahkan jurnalis yang sedang menjalankan tugas.
Sebaliknya, persoalan ini perlu dilihat sebagai bagian dari sistem kerja media secara keseluruhan. Keputusan peliputan di wilayah berisiko seharusnya tidak hanya ditentukan oleh keberanian individu di lapangan.
Ada editor, koordinator liputan, manajemen perusahaan, hingga prosedur keselamatan yang semestinya menjadi bagian dari pengambilan keputusan.
Keselamatan Harus Menjadi Budaya Redaksi
Kerja jurnalistik tidak dimulai ketika seorang reporter tiba di lokasi dan tidak selesai ketika berita dikirim ke redaksi.
Ada perjalanan menuju lokasi, koordinasi dengan narasumber dan pihak berwenang, komunikasi dengan kantor, pemantauan perubahan cuaca atau kondisi bencana, hingga keputusan mengenai kapan peliputan harus dihentikan.
Setiap keputusan tersebut dapat berpengaruh terhadap keselamatan jurnalis.
Karena itu, prosedur keselamatan tidak seharusnya sekadar menjadi dokumen yang dibaca sebelum keberangkatan. Keselamatan perlu menjadi bagian dari budaya kerja redaksi.
Perusahaan media perlu memiliki mekanisme asesmen risiko sebelum mengirim jurnalis ke wilayah bencana atau kawasan berbahaya. Peralatan keselamatan yang sesuai dengan medan juga harus disediakan.
Jika peliputan dilakukan di laut, misalnya, kesiapan kapal, alat komunikasi, pelampung, sistem navigasi, informasi cuaca, serta jalur komunikasi darurat menjadi bagian yang tidak dapat dianggap sepele.
Selain itu, redaksi perlu mengetahui posisi dan rencana perjalanan tim secara berkala sehingga langkah cepat dapat dilakukan ketika komunikasi tiba-tiba terputus.
Pencarian yang Tidak Mudah
Hingga Rabu, 16 September 2026, operasi pencarian dilaporkan telah memasuki hari kesembilan dengan wilayah pencarian dibagi menjadi delapan sektor.
Area penyisiran mencakup sekitar 3.439 mil laut persegi dengan keterlibatan puluhan kapal dalam pencarian di sejumlah titik yang telah ditentukan.
Wilayah pencarian sebelumnya juga diperluas dengan mempertimbangkan kemungkinan pergerakan objek akibat arus laut.
Beberapa benda sempat ditemukan selama operasi berlangsung. Namun, setelah diperiksa, benda-benda tersebut dilaporkan bukan berasal dari speedboat rombongan yang dicari.
Luasnya operasi pencarian memperlihatkan betapa kompleks situasi yang dihadapi tim di lapangan.
Selain harus melakukan pencarian di wilayah laut yang sangat luas, petugas juga perlu mempertimbangkan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Pada saat yang sama, berbagai informasi yang beredar di masyarakat dan media sosial harus terus diverifikasi. Informasi mengenai dugaan keberadaan kapal, misalnya, belum tentu dapat langsung dianggap benar tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam keadaan seperti ini, kecepatan penyampaian informasi memang diperlukan. Namun, akurasi tetap tidak boleh dikorbankan.
Prinsip itu sesungguhnya juga menjadi salah satu fondasi dalam kerja jurnalistik.
Publik Juga Perlu Memahami Risiko di Balik Berita
Peristiwa hilangnya lima jurnalis ini dapat menjadi momentum untuk kembali melihat posisi pekerja media dalam ekosistem informasi saat ini.
Masyarakat membutuhkan informasi dari lokasi kejadian. Foto dari lapangan, rekaman video, serta laporan langsung sering kali membuat sebuah peristiwa lebih mudah dipahami.
Namun, kebutuhan terhadap informasi tersebut tidak seharusnya menjadikan keselamatan jurnalis sebagai harga yang dianggap wajar.
Publik pun memiliki peran dalam membentuk budaya pemberitaan.
Foto paling dekat, rekaman paling dramatis, atau video dari pusat kejadian memang sering mendapatkan perhatian lebih besar di media sosial. Namun, proses di balik terciptanya gambar tersebut hampir tidak pernah terlihat oleh penonton.
Di balik kamera ada reporter, fotografer, atau kamerawan yang harus mendatangi lokasi dan menghadapi risiko secara langsung.
Karena itu, penghargaan terhadap karya jurnalistik seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran mengenai pentingnya keselamatan orang yang menghasilkannya.
Berita Penting, Nyawa Lebih Penting
Hilangnya lima jurnalis di perairan Anak Krakatau tidak seharusnya berhenti sebagai sebuah peristiwa yang kemudian dilupakan setelah operasi pencarian berakhir.
Kasus ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan media, organisasi profesi, maupun pihak terkait mengenai posisi keselamatan dalam kerja jurnalistik.
Standar keselamatan tidak boleh bergantung hanya pada keberanian, intuisi, atau pengalaman individu jurnalis di lapangan.
Dibutuhkan sistem yang memastikan setiap keputusan peliputan mempertimbangkan tingkat risiko secara serius. Asesmen bahaya, perlengkapan keselamatan, jalur komunikasi darurat, koordinasi dengan otoritas setempat, hingga batas aman peliputan perlu menjadi kebutuhan dasar ketika jurnalis ditugaskan ke wilayah rawan bencana.
Jurnalis yang terlindungi justru memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan pekerjaannya secara profesional dan berkelanjutan.
Selama operasi pencarian masih berjalan, harapan terhadap keselamatan seluruh anggota rombongan tentu tetap ada. Tim pencarian terus bekerja di tengah wilayah penyisiran yang luas serta kondisi lingkungan yang tidak mudah.
Di balik seluruh perkembangan tersebut, ada satu hal yang tidak semestinya terlupakan: manusia yang berada di balik setiap berita.
Lima jurnalis itu bukan sekadar nama yang muncul dalam pemberitaan. Mereka adalah pekerja media yang turun ke lapangan untuk menjalankan tugas memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.
Jurnalisme memang membutuhkan keberanian untuk mendatangi tempat-tempat yang sulit dan menceritakan peristiwa yang tidak dapat disaksikan langsung oleh publik. Namun, keberanian tersebut harus berjalan bersama kehati-hatian, kesiapan, dan perhitungan risiko.
Sebab berita boleh menjadi sesuatu yang penting untuk diperjuangkan, tetapi nyawa manusia tidak seharusnya pernah menjadi biaya produksinya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda