JurnalPost.com - Di dalam suatu negara, figur seorang pemimpin yang kompeten sangat dibutuhkan. Salah satu fungsi dari pemimpin adalah menjadi figur dan perwakilan untuk kelompoknya, dalam hal ini rakyatnya. Pemimpin tidak akan jauh dari kata kekuasaan. Hulser berpendapat bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses kepemimpinan, terjadi pembagian kekuasaan yang tidak sama antara pemimpin dengan para anggotanya. Pemimpin memiliki pengaruh terhadap anggotanya agar mereka dapat melaksanakan tugas yang diberikan. Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki nilai, keterampilan, dan gaya kepemimpinan yang baik agar para anggotanya dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Analisis ini akan membahas gaya kepemimpinan Joko Widodo. Joko Widodo adalah presiden Indonesia ke-7 yang menjabat dari tahun 2014 hingga 2024, atau dua periode. Joko Widodo terkenal dengan gaya kepemimpinannya sejak menjadi walikota Solo, gubernur DKI Jakarta, hingga presiden, yaitu dekat dengan rakyat dan sering mengunjungi tempat tertentu atau biasa disebut blusukan. Banyak masyarakat menilai bahwa gaya kepemimpinan Joko Widodo sangat merakyat dan sederhana. Joko Widodo memiliki ciri khas kepemimpinan yang menarik hati dan simpati masyarakat, salah satunya adalah berbincang-bincang langsung dengan rakyatnya. Gaya ini memungkinkan Jokowi untuk melihat langsung kondisi di lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, dan menampung aspirasi mereka secara langsung. Pendekatan ini bukan hanya menunjukkan kepeduliannya pada rakyat kecil tetapi juga menciptakan kesan bahwa ia adalah pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyatnya.
Pada masa kepemimpinan Jokowi, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah mencapai puncaknya. Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), pada 2016, 80% masyarakat Indonesia mempercayai pemerintahnya, sedangkan pada 2006 hanya 28%. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa Jokowi berhasil mendapatkan umpan balik positif dari masyarakat. Gaya kepemimpinan Jokowi adalah gaya kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan dalam suatu komunitas dan merumuskan visi untuk menentukan arah perubahan. Jokowi telah mampu mengidentifikasi secara ideal perubahan yang diharapkan dan mengorganisir dengan baik setiap individu atau lembaga pemerintah yang akan membantunya mencapai visinya.
Gaya kepemimpinan transformasional ini dapat dilihat melalui usahanya saat menjabat sebagai Wali Kota Surakarta. Kota Solo diakui sebagai praktik pemerintahan yang baik dan membuatnya mendapatkan reputasi yang baik di dalam dan di luar Indonesia. Keberhasilan Jokowi di Solo menjadi bukti kemampuannya mengubah kota-kota lain di Indonesia. Kepemimpinan yang efektif merupakan kepemimpinan yang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain dalam suatu kelompok atau organisasi untuk mengikuti dan melakukan arahan yang diberikan agar mencapai tujuan bersama.
Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang sangat lekat dengan Presiden Joko Widodo. Kepemimpinan ini bekerja dengan cara pemimpin memberikan rangsangan serta inspirasi kepada pengikut untuk mencapai hasil yang luar biasa. Pada gaya kepemimpinan ini, pemimpin sangat memperhatikan kebutuhan, kepedulian, bahkan perkembangan pengikut individu, mengubah kesadaran pengikut akan masalah dengan cara menggiring pengikut untuk melihat masalah lama dengan cara baru. Gaya ini berbeda dengan gaya kepemimpinan transaksional yang digunakan oleh presiden RI sebelumnya. Kepemimpinan transaksional menggunakan penghargaan kontigensi untuk memotivasi bawahan, dan pemimpin hanya melaksanakan tindakan korektif ketika bawahan gagal mencapai tujuan.
Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Model ini di anggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Sebaliknya,Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggung jawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.
Berdasarkan penerapan gaya kepemimpinan yang telah diterapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam karier politiknya, terdapat beberapa kinerja atau karya nyata yang berhasil direalisasikan. Pembangunan infrastruktur menjadi program prioritas utama Jokowi di masa kepemimpinannya yang pertama. Pembangunan ini dilakukan secara merata hingga ke dae-rah terluar Indonesia untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam sektor ini dibandingkan negara-negara lain. Program prioritas tersebut dibarengi dengan program bantuan sosial seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Program Keluarga Harapan (PKH). Sejak awal masa jabatannya, Joko Widodo juga mengupayakan reforma agraria dengan percepatan penerbitan sertifikat hak atas tanah untuk mengurangi terjadinya sengketa lahan karena ketiadaan sertifikat. Di masa jabatannya yang kedua, Joko Widodo mengalihkan fokus pada pembangunan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia agar dapat bersaing dengan negara lain.
Gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo menonjol dengan karakteristik unik yang membedakannya dari pendahulunya dan memberikan dampak signifikan pada perkem-bangan Indonesia. Fokus utama kepemimpinannya terletak pada pembangunan infrastruktur. Ia menyadari bahwa infrastruktur yang kuat adalah fondasi penting untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Proyek-proyek besar seperti pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan, dan transportasi massal menjadi prioritas utamanya. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan konektivitas antar daerah, mengurangi biaya logistik, dan mendorong pemerataan ekonomi. Hasilnya, banyak wilayah yang sebelumnya terisolasi kini merasakan manfaat dari peningkatan aksesibilitas dan integrasi ekonomi nasional.
Reformasi birokrasi adalah prioritas lain yang ditekankan oleh Jokowi. Ia mendorong efisiensi dan transparansi dalam pelayanan publik melalui penerapan teknologi informasi dan digitalisasi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengurangi korupsi, mempercepat proses pelayanan, dan meningkatkan akuntabilitas pemerintah. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, upaya reformasi birokrasi ini menunjukkan komitmen Jokowi untuk menciptakan pemerintahan yang lebih responsif dan bertanggung jawab. Dalam menghadapi krisis, seperti pandemi COVID-19, Jokowi menunjukkan kepemimpinan yang adaptif dan responsif. Pemerintahannya mengambil langkah-langkah cepat dan tegas untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi dari pandemi. Program vaksinasi massal dan berbagai stimulus ekonomi adalah contoh dari respon cepat yang diambil untuk melindungi masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi.
Teori contingency adalah teori yang dapat diartikan sebagai menempatkan pemimpin pada pola kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang ada. Alasan mengapa teori ini relevan digunakan oleh Presiden Joko Widodo adalah karena ditinjau dari beberapa tindakann-ya, seperti blusukan sebagai wujud penerapan "relationship motivation" yang fokus pada membangun relasi dengan pengikut-pengikutnya. Namun, Jokowi juga memperhatikan "task motivation" yang fokus pada tugas dan hasil yang dicapainya. Hal ini dibuktikan dengan berbagai sikap yang diambil Jokowi dalam mengemban tanggungjawab kenegaraan, seperti memperhatikan berbagai aspek yang perlu didahulukan, termasuk pembangunan infra-struktur yang melampaui prestasi lima presiden sebelumnya.
Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan Jokowi yang inklusif, pragmatis, dan fokus pada pembangunan infrastruktur serta reformasi birokrasi telah membawa perubahan signifikan di Indonesia. Namun, tantangan besar seperti kesenjangan sosial ekonomi dan korupsi masih membutuhkan perhatian serius. Jokowi telah menunjukkan komitmen kuat untuk membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik, tetapi keberlanjutan dari berbagai inisiatif ini akan sangat bergantung pada kerjasama semua pihak dan penerus kebijakan yang konsisten. Gaya kepemimpinan Jokowi mengajarkan bahwa pemimpin yang dekat dengan rakyat, fokus pada hasil nyata, dan terbuka untuk kolaborasi dapat membawa perubahan positif dan signifikan bagi bangsa.
Penulis: Ilmi Shobachiyah Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda