JurnalPost.com - Pada saat pertama kali dibuat, kawasan Blok M merupakan kawasan perumahan elit yang dibuat oleh Belanda untuk mengatasi kepadatan penduduk di sekitar Gambir. Kemudian, nama Blok M ini berdasarkan pembagian blok-blok di daerah sekitar. Seiring berjalannya waktu, Blok M ini menjadi pusat perdagangan di Jakarta Selatan dengan mulai bermunculannya pasar dan mall seperti Pasar Melawai dan Blok M mall. Pada 1980-an, Blok M ini menjadi pusat hiburan di Jakarta, Banyak cafe-cafe bermunculan dan adanya terminal Blok M yang memudahkan masyarakat untuk menjangkaunya. Namun, pada 2011–2019 kawasan Blok M ini mulai meredup. Banyak tenant tenant yang tutup dan mulai berkurangnya pengunjung-pengunjung. Semenjak berdirinya MRT dan dibuatnya kawasan TOD di Blok M ini mulai kembali ramai.
Semenjak dibuatnya MRT, banyak dibuatnya kawasan TOD yang mengintegrasikan transportasi umum ke kawasan kawasan penting salah satunya Blok M yang mengintegrasikan kawasan hiburan, pusat perbelanjaan dengan Transportasi publik. Sebelum selesainya pembangunan MRT kawasan Blok M mulai sepi pengunjung, banyak tenant tenant tutup, dan tidak adanya daya tarik lagi. Setelah dibuatnya TOD yang mengintegrasikan dengan MRT, kawasan Blok M menjadi ramai kembali. Puncaknya adalah saat dibuatnya kawasan Integrasi CSW (Cakra Selaras Wahana) yang mengkoneksikan Koridor 13 Transjakarta dengan MRT dan Koridor 1 Transjakarta.
Hal ini sangat penting karena dengan adanya integrasi ini berhasil membuat masyarakat mudah berpindah transportasi. Adanya MRT yang menghubungkan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan membuat masyarakat mudah untuk mengakses Blok M ini. Ditambah dengan MRT yang mempunyai akses keluar stasiun yang langsung terintegrasi dengan kawasan Blok M dan Taman Martha Tiahahu sehingga masyarakat lebih mudah untuk mengakses kawasan tersebut. Koridor 13 Transjakarta juga tidak kalah berdampak untuk ramainya blok M ini. Dengan mengkoneksikan tangerang dan Jakarta, Koridor ini sangatlah ramai. Tak jarang menemukan penumpang rute ini ingin menuju Blok M untuk jalan-jalan. Adanya CSW juga memudahkan penumpang untuk pindah moda transportasi dari Transjakarta ke MRT sehingga penumpang dapat menuju Blok M dengan mudah. Bukan hanya itu saja, Kawasan Integrasi Dukuh Atas juga memiliki peran yang signifikan untuk menjangkau Blok M ini. Masyarakat dari Bekasi, Depok, dan Bogor pun berbondong-bondong untuk pergi ke Blok M ini. Sering sekali dijumpai penumpang yang keluar dari KRL atau LRT Jabodebek berpindah moda ke MRT untuk pergi ke Blok M.
Bukan hanya transportasi umum, adanya Taman Martha Tiahahu menjadi salah satu aspek kawasan ini semakin ramai. Dengan adanya taman ini, masyarakat bisa bermain ke kawasan yang gratis. adanya fasilitas perpustakaan gratis juga membuat masyarakat berbondong bondong untuk mengunjungi taman tersebut. Ditambah dengan kurangnya ruang publik di berbagai daerah sekitar seperti di Bekasi, Depok, dan Tangerang membuat taman ini sebagai destinasi utama untuk jalan-jalan bersama keluarga atau teman.
Blok M memiliki sejarah panjang, berawal hanya sebuah kawasan perumahan elit sekarang menjadi tempat rekreasi orang-orang dari berbagai daerah. Walaupun kawasan ini sempat redup, tetapi berhasil kembali ke masa kejayaannya kembali. Dengan adanya kawasan TOD membuat kawasan ini kembali ramai karena mudahnya masyarakat untuk menjangkau kawasan tersebut. Adanya Taman Martha Tiahahu juga berperan dalam mengembalikan kawasan Blok M ini ke masa kejayaannya. Integrasi transportasi umum merupakan hal yang penting. Dengan adanya hal ini, masyarakat lebih mudah untuk menjangkau tempat tempat tertentu termasuk tempat-tempat rekreasi seperti Blok M.
Profil Penulis: Imam Maulid Mahasiswa Universitas Airlangga
Komentar 1
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda