JurnalPost.com - Pembelajar baik pelajar ataupun mahasiswa seringkali merasa kisruh hati saat masa ujian datang, apakah ujian tengah semester atau ujian akhir semester. Yang terbayang tentang masa ujian adalah kesibukan mengulang lagi bahan ajar, bahan kuliah, mengerjakan contoh-contoh latihan, dan sering juga mengerjakan soal-soal ujian dari angkatan sebelumnya. Tidak ada kata lain ujian adalah masa sibuk dan derita mental, titik! Maka sering terucap “kenapa harus ada ujian yang tidak menyenangkan itu?”
Nah para pembelajar coba kita lihat ujian sebagai suatu perjalanan pembelajaran atau perkuliahan. Apa yang tampak dan dilalui pembelajar tidak lain dua aktivitas, yaitu kuliah dan ujian. Bagaimana kalau kita lihat pembelajaran dari sisi pengajar. Jangan heran ya, pembelajaran dan proses pembelajaran akan tampak seperti seperti gunung es. Dua aktivitas yang dilakoni pembelajar itu seperti tampakan gunung es di atas permukaan laut, sedangkan di dalam lautnya ada aktivitas-aktivitas lainnya yang dilakukan pengajar atau dosen. Apa saja aktivitas para pengajar yang tidak tampak di permukaan itu? Aktivitas pengajar dan dosen yang tidak kelihatan itu mencakup persiapan dan pelaksanaan pembelajaran mulai dari menetapkan tujuan dan target hasil pembelajaran sampai mempersiapkan secara detil bahan pembelajaran dan ujian. Proses pembelajaran keseluruhan seringkali mengacu pada Model ADDIE. Model ini merupakan akronim lima proses yaitu:
1. A (Analisis); 2. D (Disain); 3. D (Develop): 4. I (Implementasi), dan 5. E (Evaluasi).
Model ADDIE ini pada tahun 1975 sejatinya dirancang oleh Florida State University untuk pelatihan militer, namun sampai sekarang dianggap masih jitu digunakan untuk merancang pembelajaran.
Kembali ke gambaran pembelajaran sebagai gunung es, maka tampilannya seperti gambar Model ADDIE di bawah ini.
- Apa yang dijalankan pembelajar berupa kuliah dan ujian, itu tidak lain dua aktivitas dari Model ADDIE, yaitu: Implementasi yang merupakan aktivitas pembelajaran baik perkuliahan, diskusi, presentasi, kajian bab-bab bahan ajar yang telah ditentukan pengajar atau dosen.
- Evaluasi yang merupakan tahapan mengecek dan menguji apakah pembelajar menguasai setiap aktivitas dalam implementasi. Apakah penguasaan materi pembelajaran sudah dikuasai pembelajar yang bila lulus uji maka pembelajar seperti burung yang sudah bisa terbang sendiri mendalami ilmu yang lebih tinggi lagi atau bahkan menjadi bekal untuk bekerja.
Jika pembelajar melakukan aktivitas perkuliahan (Implementasi) dan ujian (Evaluasi), lalu apa yang dilakukan para pengajar dan dosen? Nah para pengajar dan dosen pada dasanya melakukan tiga aktivitas yang seperti gunung es di dalam laut tidak terlihat para pembelajar, yaitu:
- Analisis yang menetapkan tujuan pembelajaran dengan memetakan posisi ilmu dan pengetahuan awal pembelajar dan posisi akhir pembelajar setelah pembelajaran selesai. Seperti tujuan mempersiapkan anak burung untuk nantinya bisa terbang tinggi.
- Disain yang menjabarkan bagaimana tujuan pembelajaran tersebut ditata menjadi beberapa tahapan. Ini yang dikenal dengan “Silabus” dimana pembelajaran dirancang misalnya dalam 14 tahap, 14 perkuliahan, menentukan pengecekan penguasaan materi pembelajaran seperti quiz, tugas, ujian.
- Develop yang mengisi lebih detil setiap tahapan disain, misalnya bab mana yang dibahas, kasus apa yang digunakan, quiz apa yang relevan, ujian seperti apa yang akan diberikan.
Itulah tiga tahap ADD yang dilakukan pengajar dan dosen dalam mempersiapkan satu pembelajaran sehingga pada tahap akhir dengan evaluasi dipastikan setiap pembelajar menguasai materi pembelajaran secara sistematis, bertahap dan ibarat burung sudah bertahap membentuk rangka dan otot untuk akhirnya dapat terbang sendiri.

Nah para pembelajar sekarang bisa memahami ya kalau ujian itu adalah proses pembelajaran yang sudah dipersiapkan secara matang oleh pengajar atau dosen secara sistematis menggunakan Model ADDIE. Oleh karena itu kita sekarang bisa memahami ya:
1. Belajar itu merupakan proses pembelajaran yang dilakukan bertahap. Memahami dan menguasai materi pelajaran dilakukan bertahap dari bab satu ke bab dua dan seterusnya sehingga materinya dapat diserap, difahami dengan seksama. Nah ini artinya numpuk-numpuk bahan ajar dan belajarnya dilakukan sekaligus dan seketika seperti SKS (Sistem Kebut Semalam) sangat tidak tepat dilakukan.
2. Belajar secara bertahap itu memungkinkan pembelajar untuk meyakinkan diri apakah materi sebelumnya sudah dikuasai sebelum beranjak ke pembelajaran materi selanjutnya. Bila ada bahan ajar yang tidak difahami bisa segera ditanyakan, didiskusikan sehingga jelas dan lega saat meneruskan bahan ajar selanjutnya.
3. Ketika memahami tahapan-tahapan Model ADDIE secara telaten maka evaluasi apakah itu quiz atau ujian biasa saja sebagai proses pembelajaran bukan seperti hantu yang tiba-tiba muncul.
Demikian ya proses pembelajaran yang sistematis dan teratur sesuai Model ADDIE sehingga “kenapa harus ada ujian?” kita ubah jadi “kapan nih ujian dah ga shabar ingin unjuk gigi nguasai materi kuliah?”
Penulis: Dani Ramdani Anggota Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda