Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kampung Wisata Jangan Jadi Etalase Kemiskinan, Warga Jogja Harus Pegang Kendali

Kampung Wisata Jangan Jadi Etalase Kemiskinan, Warga Jogja Harus Pegang Kendali

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
09 Juni 2026, 17.15 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Kampung Wisata

YOGYAKARTA, JurnalPost.com – Pengembangan kampung wisata di Kota Yogyakarta dinilai perlu dikawal agar tidak sekadar menjadi etalase pariwisata. Program tersebut diharapkan benar-benar memberi manfaat bagi warga, bukan hanya mempercantik wajah kota demi menarik wisatawan.

Koordinator Kajian Gerakan Pemuda Melawan Korupsi (GPMK), Umar Ma'ruf, mengingatkan bahwa kampung wisata tidak boleh menjadikan masyarakat sebagai objek tontonan. Menurutnya, warga harus menjadi pihak utama yang mengendalikan arah pengembangan kawasan wisata berbasis komunitas.

IKLAN

"Jangan sampai kampung wisata hanya menjadikan masyarakat sebagai dekorasi pariwisata. Budaya, tradisi, dan kehidupan warga dijual sebagai atraksi, tetapi masyarakatnya sendiri tidak memiliki kendali atas arah pengembangannya," kata Umar di Yogyakarta.

Solar Cell
Baca Juga

Digitalisasi Hidroponik Berbasis Solar Cell: Solusi Efisiensi Biaya Produksi Dan Peningkatan Pendapatan Usahatani

Umar menilai, tren wisata saat ini memang bergeser dari sekadar mengunjungi destinasi menuju pencarian pengalaman autentik kehidupan masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan tren tersebut juga membawa risiko ketika kehidupan sehari-hari warga dijadikan komoditas wisata.

Menurutnya, pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak selalu sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Kunjungan wisatawan bisa meningkat, investasi berdatangan, dan kawasan menjadi semakin ramai, tetapi warga sekitar belum tentu menikmati manfaat ekonomi secara adil.

IKLAN

"Yang dijual adalah kehidupan masyarakat. Maka masyarakat harus menjadi pihak pertama yang memperoleh manfaat. Jangan sampai warga hanya mendapat kemacetan, kenaikan harga tanah, dan keramaian, sementara keuntungan besar dinikmati pihak lain," ujarnya.

Karena itu, Umar menegaskan bahwa konsep Community-Based Tourism atau CBT tidak boleh berhenti sebagai jargon dalam dokumen perencanaan. Warga, kata dia, harus ditempatkan sebagai pemilik, pengelola, sekaligus pengambil keputusan utama dalam pengembangan kampung wisata.

KBRI Sofia
Baca Juga

KBRI Sofia Undang Diaspora Indonesia, Rayakan HUT ke-81 RI, WNI Bulgaria Berkumpul di Sofia

Ia juga mengkritik model pembangunan yang kerap mengatasnamakan kolaborasi, tetapi dalam praktiknya hanya melibatkan warga sebagai pelengkap administrasi. Menurut Umar, partisipasi publik yang sejati bukan sekadar mendengar pendapat masyarakat, melainkan memberikan kewenangan kepada warga untuk ikut menentukan arah kebijakan.

"Kolaborasi tanpa kekuasaan hanya formalitas. Partisipasi tanpa kewenangan hanya simbolik. Jika warga tidak memiliki posisi menentukan dalam pengelolaan kampung wisata, maka mereka sesungguhnya hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri," katanya.

Umar menambahkan, keberhasilan kampung wisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan atau peningkatan pendapatan daerah. Ukuran terpenting adalah apakah masyarakat lokal semakin berdaya, semakin sejahtera, dan tetap menjadi pemilik atas ruang sosial serta kebudayaannya.

"Jogja memiliki sejarah panjang sebagai kota budaya dan kota rakyat. Jangan sampai atas nama pariwisata, warga justru kehilangan hak untuk menentukan masa depan kampungnya sendiri. Kampung wisata harus menjadi alat pembebasan ekonomi masyarakat, bukan instrumen yang membuat rakyat tersingkir secara perlahan dari ruang hidupnya," pungkasnya.

Menaker Yassierli asasasasa
Baca Juga

Menaker Yassierli: Pekerja Kompeten Jadi Kunci Industrialisasi Indonesia

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kampung-wisata-jangan-jadi-etalase-kemiskinan-warga-jogja-harus-pegang-kendali/94238/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.35 WITA

  • #Press Release

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Pilihan Editor

  1. 1 Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan
  2. 2

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  4. 4

    UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. 5

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.