Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ironis! Beras Mahal di Bumi Agraria, Petani Tak Juga Sejahtera

Ironis! Beras Mahal di Bumi Agraria, Petani Tak Juga Sejahtera

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
12 Oktober 2024, 12.46 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
gabah dan beras
JurnalPost.com - Harga beras terus meroket belakangan ini, bahkan diramal bakal terus melonjak beberapa waktu ke depan. Bank dunia mengungkapkan bahwa harga beras di Indonesia 20% lebih mahal daripada harga beras di pasar global. Bahkan saat ini harga beras dalam negeri konsisten tertinggi di kawasan ASEAN (kompas.com) Kondisi ini merupakan suatu hal yang sangat tragis melihat sebutan negeri ini sebagai negeri zamrud khatulistiwa. Pepatah jawa menyatakan gemah ripah loh jinawi. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Itulah negeri permai bernama indonesia. Sebuah negeri harta karun dari asia tenggara. Namun, sayang seribu sayang rakyat ini, terkhusus para petaninya belum bisa merasakan nikmatnya harta karun di negeri sendiri meskipun sudah di zaman yang dipenuhi oleh kecanggihan teknologi modern. Ini menggambarkan bahwa permasalahan yang ada di negeri ini terjadi karena permasalahan yang sistematis. Yaitu yang terlahir dari sistem kapitalis demokrasi sekuler yang telah dipaksakan diterapkan dalam kehidupan ini. Sistem ini menjadikan penguasa hanya sebagai regulator dan fasilitator belaka bukan sebagai pengurus atas urusan rakyatnya. Begitu pula demokrasi dengan konsep kebebasan kepemilikan, menjadikan berbagai sektor strategis bisa dikuasai oleh para pemilik modal. Seperti halnya sektor pangan disini. Maka darinya segala kebutuhan rakyat bisa dikuasai dan dipermainkan oleh para pemilik modal (kapital) untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Maka wajarlah jika harga pupuk, obat hama dan segala kebutuhan pertanian akan semakin mahal. Selain itu rakyat, dipaksa untuk mengurusi urusannya secara mandiri, baik dari permodelan, ilmu-ilmu pengembangan pertanian sampai pada pendistribusian hasil panennya. Hal ini bisa dilihat bagaimana banyak dari para petani yang tergantung dengan para cukong. Sebab para cukonglah yang akan memberikan modal dengan syarat yang mudah tanpa harus ribet sebagaimana peminjaman di bank meskipun dengan bunga yang sangat tinggi. Hanya saja petani harus menjual hasil pertaniannya kepada para cukong yang harganya ditentukan oleh para cukong sendiri. Dalam arti tidak ada tawar-menawar di dalamnya. Dari sini maka para petani hanya pasrah dengan harga yang ditentukan oleh para cukong sebab mereka sudah terikat permodalan. Di sisi lain memang nampak memudahkan para petani untuk menjual hasil pertaniannya tanpa harus bersusah payah untuk menjual ke pasar ataupun ke konsumen. Karena memang tidak ada pihak lain yang bisa membantu dalam pendistribusian nya. Namun akan lain ceritanya lagi jika terjadi gagal panen atau harga jual yang tiba-tiba anjlok sudah tentu petani tidak memperoleh untung namun tetap harus membayar utang modal dan bunganya disetiap bulannya. Demikian pula para konsumen atau rakyat khususnya yang juga berteriak atas mahalnya harga beras. Sebab penghasilan mereka tidak ada peningkatan namun kebutuhan pokok terus menghimpitnya. Ini disebabkan lagi-lagi karena penguasa yang lepas tangan, seperti mekanisme pendistribusian dan pemasaran yang rumit. Sebab beras dari petani bisa sampai konsumen harus melewati 5 sampai 6 perantara, seperti penadah, penggiling, pedagang grosir, pasar induk dan pengecer baru kemudian sampai ke konsumen. Yang tentunya setiap perantara harus ada tambahan biaya. Inilah kesengsaraan hidup rakyat dan juga para petani akibat mindset kapitalisme sekuler yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan hidup. Sedangkan halal- haram dan keadilan tidak ada di dalamnya. Penguasa yang lepas tangan hanya menampakkan eksploitasi petani oleh para pemilik modal.

Solusi Sistematis

Permasalahan yang lahir dari sebuah sistem rusak maka solusi yang seharusnya ialah mengambil sistem yang shohih. Bukan solusi teknis belaka, seperti impor beras dan bansos. Sebab, hal ini hanya akan menambah kesengsaraan bagi para petani belaka. Islam dengan sistem kehidupan yang lahir dari Sang Pencipta alam menjadikan penguasa sebagai ra'in, yaitu pengurus dan penjamin kesejahteraan rakyat dan petani. Selain itu negara harus berkuasa penuh atas pengelolaan komoditas strategis, seperti kebutuhan pokok beras. Politik Islam menjadikan negara wajib memenuhi kebutuhan pokok individu per individu, dengan pengelolaan pangan secara mandiri. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Sehingga negara akan mengelola kebutuhan pokok secara mandiri, yang akan menjadikan harga kebutuhan pokok bisa terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Islam dalam hal ini akan sangat memperhatikan terkait masalah pertanahan dan ketersediaan infrastruktur. Dalam sistem ekonomi Islam, tanah tidak dibiarkan menganggur. Sehingga jika ada tanah yang mati kemudian dihidupkan oleh seseorang maka ia menjadi miliknya. Di sisi lain jika ada seseorang yang memiliki tanah yang tidak diurus selama 3 tahun berturut-turut maka tanah itu bisa dimiliki oleh pihak lain yang mampu menggarapnya. Sehingga dengan demikian akan terjadi ekstensifikasi lahan pertanian yang akan memudahkan seseorang untuk mendapatkan lahan pertanian. Hal ini juga akan meningkatkan produksi pangan, seperti dalam halnya beras. Adapun upaya untuk meningkatkan hasil produksi beras lainya ialah melalui intensifikasi. Negara menyerahkan kepada masyarakat untuk mengadopsi teknologi dari manapun. Yang mampu memberikan hasil produksi yang lebih baik dari sebelumnya. Negara juga akan melakukan peningkatan keahlian para petani agar semakin ahli dalam pertaniannya. Lebih dari itu negara akan mengembangkan bibit unggul untuk para petani, penyediaan pupuk serta pembangunan sistem pengairan yang sesuai kebutuhan pertanian, terkhusus di musim kemarau. Selanjutnya negara akan membangun infrastruktur yang mendukung pertanian seperti menyediakan jalan, transportasi, serta pasar yang sehat dan layak. Hal ini secara otomatis akan memudahkan para petani untuk mendistribusikan hasil pertaniannya kepada ada para konsumen. Negara tidak akan menyerahkan seluruh pengurusan pertanian kepada swasta. Sehingga, dengan ini akan mampu mewujudkan ketahanan pangan serta kesejahteraan para petani dan seluruh rakyatnya. Wallahu'alam. Oleh: Anindya Vierdiana

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ironis-beras-mahal-di-bumi-agraria-petani-tak-juga-sejahtera/73065/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.24 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan
  2. 2

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  3. 3

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  4. 4

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. 5

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.