Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. IIER dan PSPK Gelar Reformer Talk & Workshop, Wujudkan Ruang Digital Aman bagi Anak Indonesia

IIER dan PSPK Gelar Reformer Talk & Workshop, Wujudkan Ruang Digital Aman bagi Anak Indonesia

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
24 September 2025, 20.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Reformer Talk
Jakarta, JurnalPost.com - Dalam atmosfer yang penuh antusiasme, Indonesian Institute for Education Reform (IIER) bersama Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk mengawal keamanan anak di ruang digital. Rangkaian ini meliputi Reformer Talk #2 dan Reformer Workshop #2, yang menjadi panggung dialog mendalam tentang tantangan dan solusi menciptakan ruang digital yang aman dan kondusif bagi anak-anak Indonesia. Reformer Talk #2: Di Balik Layar Gawai: Bagaimana Kita Menjaga Anak-anak Kita dari Risiko Dunia Digital? (Sabtu, 14 Juni 2025). Acara ini diselenggarakan secara daring, berhasil menarik 477 pendaftar serta para pemangku kepentingan terkait isu keamanan anak di ruang digital. Talk show ini menghadirkan pembicara kunci seperti Mediodecci Lustarini, S.K.M., S.H., M.C.MS. (Sekretaris Direktorat Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi) yang menjelaskan tentang Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS, yang bertujuan melindungi anak di ruang digital melalui akuntabilitas penyelenggara sistem elektronik. Pandu Ario Bismo (PSPK) menyoroti tingginya penggunaan internet oleh anak-anak dan dampak negatif kecanduan digital, serta mendorong upaya sistemik dari berbagai pihak untuk menciptakan ruang digital yang aman. Aretha Ever Ulitua Samosir (Psikolog Anak dan Remaja Bee Genius) menyambut baik PP TUNAS dan menggarisbawahi kerentanan anak yang bisa diperparah oleh gadget. Sementara itu, Claudya Tio Elleossa (Perwakilan Orang Tua, eks-Guru Pendidikan Kewarganegaraan) menekankan pentingnya menghadirkan alternatif kegiatan positif bagi anak dan prinsip "koneksi sebelum koreksi" dalam mendampingi anak. Reformer Workshop #2: Di Balik Layar Gawai: Bagaimana Mewujudkan Ekosistem Pendidikan yang Efektif dan Aman? (Minggu, 3 Agustus 2025). Sebagai kelanjutan dari Reformer Talk #2, Reformer Workshop #2 dirancang untuk mengidentifikasi akar masalah, faktor penghambat, faktor pendukung, pemangku kepentingan, serta merumuskan rekomendasi konkret. Dihadiri oleh 60 peserta dari kalangan praktisi, akademisi, komunitas, dan mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada pengembangan kebijakan pendidikan, diskusi berlangsung dengan energi yang membangkitkan refleksi dan inspirasi. Workshop ini difasilitasi oleh 10 alumni Indonesia Mengajar. Para Keynote Speaker memberikan pandangan mendalam mereka. Fathiyya Nur Rahmani (Peneliti Pendidikan PSPK) menekankan pentingnya menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak dan menyoroti "wabah global penyakit mental" pada remaja akibat penggunaan masif ponsel pintar. Sheilla Njoto (Associate Director Nation Insights) memberikan pencerahan mengenai bagaimana era digital telah menghapus "penjaga gerbang" informasi dan risiko dari "budaya dopamin", menekankan bahwa sistem pendidikan yang efektif dan aman adalah yang mempertahankan agensi manusia. Sementara itu, Asep Zulhijar (Child Protection Officer, UNICEF) memaparkan hasil studi UNICEF Indonesia tahun 2023 yang menunjukkan tingginya akses internet pada anak-anak dan berbagai risiko daring yang mereka hadapi. Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi testimoni autentik dari 8 pembicara anak dan 1 pendamping yang berasal dari latar belakang berbeda-beda:
  1. Adina Rifaya Tsabita dari Sekolah Murid Merdeka
  2. Maya Fadhilatussalma dari SMA Negeri 111 Jakarta
  3. Shasta Nafysha dari SMA Negeri 111 Jakarta
  4. Chesta Queezell Rayesha dari SMA Negeri 111 Jakarta
  5. Ainnur Rustin Kurnia Wirahman dari SMA Negeri 111 Jakarta
  6. Talita Almira Salsabila dari Taman School, siswi SMA Negeri Unggulan M. H. Thamrin
  7. Ali Akbar Bayunulloh dari Yayasan Teman Saling Berbagi
  8. Nada Safa Azzahra dari Yayasan Teman Saling Berbagi
  9. Delalania Septiani, pendamping dari Yayasan Teman Saling Berbagi
Mereka membicarakan bagaimana teknologi sudah menolong namun juga menghambat pertumbuhan mereka sebagai individu, terkhusus di bidang pembelajaran. Salah satu hal yang menarik, para pembicara anak mengaku jika mereka bisa memutar balik waktu, mereka berharap dapat menunda akses keterpaparan mereka terhadap teknologi digital agar tidak terdampak adiksi dan pengaruh negatif lainnya sejak dini. Diskusi kemudian berlanjut ke sesi Diskusi Terarah (Workshop), di mana peserta dibagi ke dalam 7 kelompok sesuai dengan kategori risiko yang diidentifikasi dalam kajian akademik PP TUNAS. Mereka secara aktif mengidentifikasi masalah, menganalisis pemangku kepentingan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam mewujudkan ekosistem pendidikan digital yang aman. Melalui sesi Rotasi Kelompok Dinamis, setiap kelompok berotasi untuk memberikan saran dan mencari solusi yang paling mungkin diterapkan berdasarkan pengalaman peserta. Kegiatan diakhiri dengan Pengembangan Rekomendasi, di mana semua ide dikumpulkan, disintesis, dan disusun menjadi rekomendasi konkret yang dinilai kelayakannya. Sesi presentasi dinilai oleh Ibu Itje Chodidjah (Dewan Pakar PSPK) dan Bapak Santoso (Direktur Article 33 Indonesia), memberikan gambaran bagaimana gagasan kebijakan pendidikan perlu disampaikan secara efektif. Rangkaian kegiatan ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan dari berbagai mitra, termasuk Paragon Corp sebagai penyedia venue dan goodie bags, Indonesia Mengajar sebagai penyedia fasilitator, serta Guru Belajar Foundation, Taman School, dan Yayasan Teman Saling Berbagi yang menyediakan pembicara anak dan pendamping sebagai testimoni autentik. IIER dan PSPK berkomitmen untuk terus mendorong dialog dan kolaborasi demi terwujudnya ekosistem pendidikan yang inovatif, inklusif, dan berdampak jangka panjang bagi kesejahteraan nasional.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/iier-dan-pspk-gelar-reformer-talk-workshop-wujudkan-ruang-digital-aman-bagi-anak-indonesia/86076/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.15 WITA

  • #Anak Indonesia
  • #Dunia Digital
  • #Ruang Digital

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?
  2. 2

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  5. 5

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.