Oleh: Roro Lintang Aningtyas
JurnalPost.com – Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang sering merasakan kelelahan fisik maupun mental. Rutinitas padat dan berbagai tuntutan pekerjaan, akademik, tekanan sosial, serta dinamika hubungan dengan orang sekitar sering kali berkumpul menjadi satu beban besar. Di tengah situasi itu, muncul kebutuhan untuk mengambil jeda, menenangkan diri, dan memulihkan emosi agar diri tidak semakin tertekan. Dari kebutuhan inilah, banyak orang mulai mencari cara untuk menenangkan diri dan memulihkan perasaan serta emosi mereka agar lebih baik. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental, berbagai bentuk perawatan diri mulai dikenal dan diterapkan. Salah satu istilah yang paling sering digunakan untuk menggambarkan proses pemulihan diri adalah healing.
Awalnya, healing dipahami sebagai proses pemulihan batin melalui refleksi diri, pengenalan emosi, dan upaya memahami akar permasalahan. Healing adalah perjalanan ke dalam diri, bukan sekadar aktivitas luar. Namun, popularitas healing meningkat ketika media sosial dipenuhi unggahan bertema “self-care” dan “healing day”. Banyak anak muda membagikan foto liburan, nongkrong di kafe estetik, atau sekadar berjalan-jalan di tempat wisata yang sedang viral. Unggahan ini membuat banyak orang meyakini bahwa healing identik dengan aktivitas visual yang indah, menyenangkan, dan layak dibagikan.
Fenomena ini memunculkan pergeseran makna. Healing yang awalnya berfungsi sebagai proses pemulihan diri kini dipahami sebagai aktivitas pelarian sementara. Banyak anak muda menganggap healing bisa dilakukan dengan pergi ke tempat estetik, membeli sesuatu, atau melarikan diri dari rutinitas yang melelahkan. Pada titik ini, healing mulai bergerak ke arah yang salah, karena yang dilakukan bukan lagi proses pemulihan diri, tetapi sekadar aktivitas pelarian yang tampak menyenangkan.
Makna yang mengalami pergeseran ini semakin terlihat ketika tekanan dan tuntutan hidup modern menciptakan kebutuhan solusi instan untuk meredakan stres. Banyak orang mencari perawatan penyembuhan singkat tanpa perlu memahami penyebab dan akibat dari apa yang mereka rasakan. Akibatnya, banyak anak muda harus selalu baik-baik saja di depan orang lain. Mereka tidak mau memikirkan hal-hal yang membuat mereka tertekan, mereka hanya mau melakukan hal-hal yang mampu menghilangkan rasa stres. Jadi, healing bukan lagi ruang untuk jujur terhadap diri sendiri, melainkan lebih ke arah pengalihan perasaan.
Media sosial memperkuat persepsi keliru tentang healing. Para influencer terkenal menampilkan healing melalui aktivitas mewah seperti berlibur ke luar negeri, menyewa hotel bintang 5, dan makan di restoran berkelas. Dari situlah tercipta standar baru bahwa healing harus mewah agar terlihat lebih valid. Padahal, healing seharusnya menjadi ruang bagi individu untuk jujur pada dirinya sendiri, mengendalikan emosi, dan ruang untuk sembuh secara perlahan.
Healing sebagai Tren Visual dan Konsumtif
Beberapa tahun terakhir, healing menjadi tren seiring dengan berkembangnya budaya visual di media sosial. Generasi muda, sering melakukan healing dengan aktivitas estetik. Hal tersebut bisa dilihat melalui unggahan foto potret duduk manis dengan secangkir minuman coklat di sudut kafe estetik, dengan caption “healing day”. Padahal, proses healing sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan bukti visual yang bagus dan menarik.
Tren ini memberi kesan bahwa healing memerlukan biaya tinggi. Banyak anak muda berpikir bahwa untuk healing, mereka harus pergi ke tempat tertentu, membeli sesuatu, atau bahkan menghabiskan waktu di tempat yang memiliki desain ruangan yang instagrammable. Standar ini bisa menciptakan tekanan tersendiri. Padahal, kualitas healing ditentukan oleh seberapa dalam proses seseorang memahami dan memulihkan dirinya sendiri.
Halijah (2023), menyatakan tren healing di Instagram banyak ditampilkan melalui aktivitas rekreatif, yang menyenangkan dan estetik, bukan proses pemulihan diri. Putri & Hidayah (2024), menambahkan bahwa self-healing, kini telah berubah menjadi pola konsumtif di kalangan Gen Z, yang sering dipahami sebagai kewajiban, alat untuk mendapat pengakuan, dan bentuk eksistensi di media sosial.
Selain menjadi aktivitas konsumtif, healing juga menjadi ajang pembuktian diri. Banyak anak muda bersaing menunjukkan kehidupan yang seimbang, padahal yang ditampilkan hanyalah pajangan, faktanya batin mereka masih penuh dengan tekanan. Ketika healing berubah menjadi performa untuk media sosial, proses pemulihan diri justru dinilai orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa healing dipahami sebagai aktivitas visual dan konsumtif.
Healing sebagai Pelarian dari Tekanan Hidup
Generasi muda menghadapi tuntutan akademik, persaingan, tuntutan kerja, serta standar sosial yang membuat mereka lelah secara emosional. Tidak ada ruang aman untuk mengekspresikan kelelahan, sehingga mereka mencari jalan pintas untuk menenangkan diri. Dalam kondisi ini, healing muncul sebagai solusi instan yang berakhir sebagai pelarian. Healing dilakukan bukan untuk menghadapi masalah, tetapi untuk menjauhi sejenak. Mereka merasa benar ketika mengabaikan tanggung jawab dengan alasan “butuh healing”.
Xania Vidyputri et al., (2023), menemukan bahwa mahasiswa yang mengalami burnout lebih sering menggunakan self-distraction untuk mengalihkan perhatian dari tekanan akademik. Hal tersebut memang memberikan rasa nyaman, tetapi tidak menyelesaikan permasalahan.
Komara & Irawaty (2024), menyatakan bahwa mahasiswa sering dipengaruhi oleh pola pikir negatif tentang kemampuan dirinya sendiri sehingga mereka cenderung mengabaikan sumber stres dan memilih emotion-focused coping yang bersifat pelarian untuk meredakan tekanan. Strategi semacam itu memang memberi kenyamanan yang instan, tetapi tidak membantu seseorang untuk belajar mengelola tekanan emosional dengan cara yang sehat.
Dampak Media Sosial terhadap Kesalahpahaman Healing
Media sosial memperkuat pemahaman yang keliru mengenai healing. Influencer seringkali menampilkan aktivitas healing dengan visual yang mewah dan penuh estetika. Akibatnya, healing menjadi sesuatu yang harus ditampilkan, bukan dijalani.
Standar visual yang muncul dari media sosial membuat banyak anak muda merasa healing yang mereka lakukan “kurang valid” jika tidak dilakukan melalui cara serupa. Media sosial juga memunculkan fenomena perbandingan sosial, membuat healing menjadi ajang mengejar kepuasan sosial, bukan pemulihan individu. Visualisasi healing yang berlebihan membuat makna proses pemulihan diri semakin memudar. Healing bukan lagi proses refleksi mendalam, tetapi menjadi tren gaya hidup.
Minimnya Manajemen Emosi pada Generasi Muda
Pergeseran makna healing yang salah arah ini juga dipengaruhi oleh minimnya kemampuan generasi muda memahami dan mengelola emosi. Faiza et al., (2024), menyatakan praktik self-care membantu mengendalikan emosi, memahami diri, serta mengurangi pikiran negatif. Generasi muda yang tidak belajar manajemen emosi sering menggunakan aktivitas healing sebagai jalan pintas untuk mendapatkan ketenangan sementara.
Faktor Budaya dan Lingkungan Sosial dalam Memperkuat Fenomena Healing Yang Salah Arah
Budaya dan lingkungan sosial memperkuat fenomena ini. Banyak orang yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terbiasa dengan ucapan seperti “tahan dulu”, “jangan banyak mengeluh”, “harus kuat, jalanin aja semampunya” sehingga mengekspresikan emosi negatif dianggap salah. Sulaiman Zuhdi & Lubabin, (2022), menyatakan masyarakat Indonesia berada pada budaya kolektif yang mendorong individu untuk menekan pengekspresian negatif demi menjaga keharmonisan sosial. Healing menjadi alasan yang diterima secara sosial untuk mengambil jeda, namun tidak memberi ruang pemulihan diri yang sesungguhnya.
Dampak Jangka Panjang dari Healing yang Salah Arah
Penyimpangan makna healing menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi generasi muda apabila terus dibiarkan. Mereka akan terbiasa mengalihkan diri dari masalah sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk membangun ketahanan emosional dalam menghadapi kenyataan. Purnama et al., (2023), menyatakan menghindari masalah hanya memberikan rasa lega sementara, tidak menyelesaikan masalah, dan berpotensi memperburuk kondisi emosional seseorang.
Healing Sehat vs Pelarian Emosional
Healing sehat mencakup upaya memahami emosi, melakukan refleksi, dan pemulihan diri. Sementara itu, pelarian emosional lebih berfokus pada upaya menghindari perasaan tidak nyaman dan mencari ketenangan semata melalui aktivitas yang menyenangkan. Healing sehat bisa dilakukan melalui aktivitas berjalan pagi, membaca, menulis jurnal, atau menjauh dari ponsel, karena proses penyembuhan sejatinya bersifat personal tanpa campur tangan orang lain.
Kapan Seseorang Memerlukan Bantuan Profesional
Terkadang, healing mandiri tidak cukup untuk mengatasi diri sendiri. Trauma, cemas, burnout berat, bahkan depresi memerlukan bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian dalam mengutamakan kesehatan mental.
Fenomena healing yang salah arah ini menunjukkan adanya pergeseran makna yang cukup signifikan bagi generasi muda dalam hal memahami proses pemulihan diri. Healing tidak lagi digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri, batin, dan penyembuhan. Melainkan berubah menjadi aktivitas yang visual, konsumtif, dan jalan pelarian.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya proses pemahaman kembali mengenai konsep healing agar tidak semakin disalahartikan. Healing seharusnya menjadi proses yang jujur, tenang, dan mendalam, bukan sesuatu yang harus ditampilkan atau diikuti hanya karena sekadar tren. Dengan pemahaman yang tepat, healing dapat kembali dimaknai sebagai proses pemulihan diri yang bermakna dan membantu seseorang mendapatkan ruang aman untuk mengenal dirinya.
Referensi Faiza, N., Putri, E., Putri, T. A., Salsabila, A. F., Intan, T., Hadi, M., Nur, Z., Fernanda, Y. E., Cahyani, A. N., & Khoerunnisa, T. (2024). Pentingnya Self-Care terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa FIPP UNNES. Jurnal Analis, 3(1), 152–163. https://jurnalilmiah.org/journal/index.php/analis/article/view/707
Halijah, N. (2023). Tren Healing di Instagram: Penyembuhan Kekinian di Kalangan Mahasiswa. Emik Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Sosial, 6(2), 234–252. https://ejournals.umma.ac.id/index.php/emik/article/view/2091
Komara, N. S., & Irawaty, E. (2024). Penggunaan strategi coping stress pada mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara. Tarumanagara Medical Journal, 6(2), 299–305. https://journal.untar.ac.id/index.php/tmj/article/view/33358
Purnama, N. L. A., Widayanti, M. R., Yuliati, I., & Kurniawaty, Y. (2023). Pengaruh Mekanisme Coping Terhadap Stres Remaja. Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung, 16(1), 10–20. https://juriskes.com/index.php/jrk/article/view/2448
Putri, A. A., & Hidayah, S. (2024). Self Healing Generasi Z: Bentuk Baru Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswi FISIP ULM. Huma: Jurnal Sosiologi, 3(3), 245–254. https://ppis.ulm.ac.id/index.php/JH/article/view/230
Sulaiman Zuhdi, M., & Lubabin, N. (2022). Konsepsi Emosi Marah Dalam Perspektif Budaya di Indonesia: Sebuah Pendekatan Indigenous Psychology. Jurnal Psikologi, 18(1), 51–62. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/psikologi/article/view/14680
Xania Vidyputri, Y., Zefanya, N., & Ratrin Hestyanti, Y. (2023). Gambaran Strartegi Coping Pada Mahasiswa Yang Mengalami Academic Burnout Di Masa Pandemi. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan Seni, 7(1), 10–18. https://journal.untar.ac.id/index.php/jmishumsen/article/view/20480
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda