Oleh Magfirah Isnayah
JurnalPost.com - Perkembangan teknologi informasi dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Dahulu, proses belajar mengajar hanya mungkin terjadi di ruang kelas fisik, dengan guru sebagai pusat informasi dan buku sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, gambaran itu berubah drastis. Ruang kelas tidak lagi terbatas pada empat dinding, ia meluas menjadi ruang daring yang dapat diakses dari mana saja.
Platform seperti Google Classroom, Zoom, Canva, hingga Padlet memungkinkan guru dan siswa berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Transformasi digital ini sejatinya membuka peluang besar untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Namun, di sisi lain, perubahan ini juga menghadirkan tantangan baru, terutama bagi guru yang belum siap memanfaatkan teknologi secara optimal.
Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pustekkom menunjukkan bahwa hanya 40 persen guru non-TIK yang siap menghadapi pembelajaran berbasis teknologi. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih bertumpu pada metode tradisional dan belum memaksimalkan potensi pembelajaran digital.
Kesenjangan ini memperlihatkan betapa pentingnya penguasaan Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK), sebuah kerangka kerja yang mengintegrasikan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran. Konsep TPACK memberi panduan praktis bagi guru, bukan hanya untuk menggunakan teknologi, tetapi memahami kapan, mengapa, dan bagaimana teknologi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Memahami TPACK: Fondasi Keterampilan Mengajar Digital TPACK terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, pengetahuan konten (content knowledge), yang berkaitan dengan penguasaan guru terhadap materi yang diajarkan. Kedua, pengetahuan pedagogi (pedagogical knowledge), yaitu kemampuan memilih strategi mengajar yang sesuai dengan karakter siswa. Ketiga, pengetahuan teknologi (technological knowledge), yakni kemampuan memahami dan menggunakan perangkat digital dalam pembelajaran.
Ketiga komponen ini perlu menyatu agar proses belajar mengajar menjadi efektif dan kontekstual. Mishra dan Koehler (2006) menegaskan bahwa guru yang menguasai TPACK mampu merancang pembelajaran yang lebih kaya, inovatif, dan relevan bagi siswa. Hal yang sama juga ditemukan oleh Nurina (2019) yaitu guru yang menguasai TPACK mampu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, sehingga siswa lebih termotivasi.
Penerapan TPACK bukan sekadar memakai aplikasi digital, tetapi memadukan teknologi secara bermakna dengan tujuan pembelajaran. Dengan cara ini, siswa tidak hanya membaca teori, tetapi juga melihat contoh konkret dalam konteks kehidupan sehari-hari. Bahkan bagi guru di daerah kepulauan atau wilayah 3T, keterbatasan fasilitas tidak menjadi alasan untuk tidak menerapkan TPACK.
Penggunaan teknologi sederhana seperti WhatsApp untuk komunikasi, Google Form untuk penilaian, atau PowerPoint interaktif untuk presentasi sudah merupakan langkah awal yang penting. TPACK mengajarkan bahwa yang terpenting bukan kecanggihan teknologinya, tetapi bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran sesuai konteks sekolah dan kebutuhan siswa.
Relevansi TPACK dalam Menumbuhkan Keterampilan Abad 21 Tuntutan dunia pendidikan abad 21 mendorong siswa untuk menguasai keterampilan 4C yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication. Di sinilah konsep TPACK memiliki peran strategis. Guru yang memahami TPACK dapat merancang pembelajaran yang mendorong keterampilan tersebut tumbuh secara alami.
Sebagai contoh, guru dapat mengajak siswa bekerja dalam kelompok untuk meneliti fenomena sosial di lingkungannya, menyusun laporan, lalu mempresentasikannya melalui Canva atau Google Slides. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, berkreasi secara digital, dan mengkomunikasikan ide mereka.
Penelitian Handini (2025) menunjukkan bahwa guru yang menguasai TPACK lebih percaya diri dalam mengambil keputusan pedagogis berbasis teknologi. Mereka juga lebih mampu menciptakan pembelajaran inklusif yang mengakomodasi kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.
Selain itu, TPACK sejalan dengan visi Kurikulum Merdeka yang menempatkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran. Dengan bantuan teknologi, siswa dapat mengeksplorasi materi dari berbagai sumber, bukan hanya dari penjelasan guru semata. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri.
Tantangan Implementasi TPACK di Lapangan Implementasi TPACK di lapangan tidak selalu mudah. Banyak guru menghadapi hambatan mulai dari kurangnya pelatihan, keterbatasan perangkat, hingga rendahnya literasi digital. Rasa takut salah, canggung menggunakan alat baru, atau minimnya dukungan sekolah seringkali menjadi alasan guru enggan mencoba hal baru.
Padahal, UNESCO (2024) menegaskan bahwa kompetensi digital guru dapat berkembang secara bertahap melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi sesama guru. Komunitas belajar guru, baik online maupun offline, dapat menjadi ruang untuk berbagi praktik baik dan saling menguatkan.
Laporan EdTechHub oleh Flam et al. (2025) juga menekankan bahwa integrasi teknologi tidak harus identik dengan perangkat canggih. Yang jauh lebih penting adalah kesadaran pedagogis: bagaimana teknologi membantu memperdalam pemahaman siswa, bukan sekadar mempercantik tampilan slide presentasi atau memenuhi tuntutan digitalisasi. Ketika guru menggunakan kecerdasan buatan seperti ChatGPT, guru harus memastikan bahwa siswa tetap aktif berpikir, menganalisis, dan mengembangkan kreativitas mereka sendiri.
Penerapan TPACK merupakan langkah penting untuk menutup kesenjangan digital dan memastikan pendidikan di Indonesia tetap relevan dengan perkembangan zaman. Guru tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi perlu memiliki kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan membuka diri terhadap perubahan.
Teknologi hanyalah sarana, inti pendidikan tetap terletak pada hubungan manusiawi antara guru dan siswa. Dengan memanfaatkan TPACK secara tepat, guru Indonesia dapat membantu membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, kolaboratif, kritis, dan beretika digital dalam menghadapi tantangan abad 21.

Oleh: Magfirah Isnayah Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang dan Guru Sosiologi SMAN 2 Kuta Selatan
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda