Abstrak
Penurunan kualitas air akibat pencemaran mikrobiologis dan tingginya kekeruhan merupakan permasalahan yang memerlukan metode pengolahan air yang efektif dan praktis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan granul AquaClarify yang mengombinasikan tawas sebagai koagulan, karbon aktif sebagai adsorben, dan natrium hipoklorit sebagai agen disinfeksi dalam satu formulasi.
Pembuatan granul dirancang menggunakan metode granulasi basah dengan penambahan amilum dan polivinilpirolidon (PVP) sebagai bahan tambahan. Evaluasi kinerja mikrobiologi dilakukan menggunakan metode Most Probable Number (MPN) seri lima tabung berdasarkan prosedur APHA 9221.
Berdasarkan hasil pengujian pada sampel air limbah, indeks MPN sebelum perlakuan sebesar 23 MPN/100 mL, sedangkan setelah perlakuan menggunakan granul AquaClarify diperoleh hasil kurang dari 2 MPN/100 mL.
Hasil tersebut menunjukkan penurunan indeks MPN setelah perlakuan, tetapi belum membuktikan bahwa sampel sepenuhnya bebas dari bakteri atau bahwa kontribusi setiap bahan dapat ditentukan secara terpisah.
Data yang tersedia juga belum cukup untuk menetapkan dosis optimum maupun memastikan efektivitas granul terhadap kekeruhan dan parameter kualitas air lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan pengujian lanjutan dengan variasi dosis, pengulangan, serta pengukuran parameter fisik dan kimia untuk mengevaluasi kinerja dan keamanan AquaClarify secara menyeluruh.
Kata kunci: AquaClarify, granulasi basah, koagulasi, karbon aktif, natrium hipoklorit, MPN.
Pendahuluan
Kualitas air merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Air yang tercemar oleh mikroorganisme patogen, khususnya Escherichia coli (E. coli) dan total coliform, dapat menjadi indikator kontaminasi mikrobiologis yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit, seperti diare, tifus, dan kolera (Hastiaty et al., 2023).
Permasalahan ini semakin perlu diperhatikan karena keberadaan bakteri yang resisten terhadap antibiotik dapat meningkatkan risiko kesehatan apabila pencemaran tidak ditangani dengan baik.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa E. coli telah ditemukan memiliki resistensi terhadap beberapa jenis antibiotik, sehingga pengendalian kontaminasi mikrobiologis pada air menjadi salah satu aspek penting dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat (Putu et al., 2024).
Selain pencemaran mikrobiologis, kekeruhan juga menjadi parameter penting dalam menentukan kualitas air.
Kekeruhan dapat disebabkan oleh partikel tersuspensi, material organik, serta berbagai komponen lain yang menghamburkan cahaya di dalam air. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi penampilan fisik air, tetapi juga dapat menghambat efektivitas proses disinfeksi.
Oleh karena itu, pengolahan air perlu mempertimbangkan penurunan kekeruhan sekaligus pengendalian mikroorganisme agar kualitas air yang dihasilkan menjadi lebih baik (Wiranti et al., 2023).
Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut, di antaranya koagulasi menggunakan tawas dan adsorpsi menggunakan karbon aktif.
Tawas berperan dalam mendestabilisasi partikel koloid sehingga partikel dapat bergabung membentuk flok dan lebih mudah dipisahkan melalui pengendapan. Sementara itu, karbon aktif memiliki kemampuan adsorpsi yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi berbagai zat pengotor dalam air (Purba & Sembiring, 2025).
Meskipun demikian, pengolahan air yang menggabungkan beberapa mekanisme tersebut dengan proses disinfeksi dalam satu bentuk sediaan praktis masih menjadi peluang untuk dikembangkan.
Natrium hipoklorit (NaOCl) dapat digunakan sebagai agen disinfeksi untuk membantu mengendalikan mikroorganisme dalam air, sehingga berpotensi melengkapi fungsi koagulasi dan adsorpsi (Wiranti et al., 2023).
Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini mengembangkan AquaClarify, yaitu granul kompresi yang mengombinasikan tawas, karbon aktif, dan natrium hipoklorit sebagai media purifikasi air yang tercemar bakteri E. coli.
Penggabungan ketiga bahan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan proses koagulasi, adsorpsi, dan disinfeksi dalam satu formulasi.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh variasi dosis granul terhadap penurunan kekeruhan air dan jumlah bakteri E. coli, serta menentukan formulasi yang memberikan kinerja terbaik.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pengolahan air yang praktis dan mudah diaplikasikan, dengan tetap memperhatikan parameter kualitas air dan keamanan hasil pengolahan.
Metode Penelitian
Alat dan Bahan Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi neraca analitik, mortir dan alu, ayakan mesh 60, oven, gelas beker, gelas ukur, pipet, magnetic stirrer, spektrofotometer, serta peralatan pendukung untuk pengujian mikrobiologi.
Peralatan tersebut digunakan dalam proses pembuatan granul, penyiapan sampel air, pengujian kualitas air, dan evaluasi karakteristik produk.
Sampel limbah cair yang digunakan untuk pengujian purifikasi diperoleh dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS).
Pengujian mikrobiologi dilakukan pada sampel air limbah sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan granul AquaClarify. Identitas, volume, serta kondisi penanganan sampel dicatat untuk menjaga keterlacakan hasil pengujian.
Formulasi dan Pembuatan Granul AquaClarify
Granul AquaClarify dirancang dengan mengombinasikan tiga bahan utama, yaitu tawas sebagai koagulan, karbon aktif sebagai adsorben, dan natrium hipoklorit sebagai bahan disinfeksi.
Amilum dan polivinilpirolidon (PVP) digunakan sebagai bahan tambahan untuk mendukung pembentukan granul.
Pembuatan granul AquaClarify dirancang menggunakan pendekatan granulasi basah.
Proses dimulai dengan menimbang setiap bahan sesuai komposisi formulasi menggunakan neraca analitik. Tawas, karbon aktif, dan amilum kemudian dicampurkan hingga diperoleh campuran serbuk yang homogen.
Tahap pencampuran bertujuan membantu pemerataan komponen padat sebelum proses pembentukan granul.
PVP disiapkan sebagai bahan pengikat menggunakan pelarut yang sesuai dengan prosedur formulasi. Larutan atau campuran pengikat tersebut ditambahkan secara bertahap ke dalam campuran serbuk sambil diaduk hingga terbentuk massa yang dapat digranulasi.
Massa basah kemudian dilewatkan melalui ayakan mesh 60 untuk menghasilkan granul dengan ukuran yang lebih seragam.
Granul selanjutnya menjalani tahap pengeringan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Rancangan penelitian mencantumkan pengeringan menggunakan oven pada suhu 40°C selama 30 menit, dengan target kadar air kurang dari 5%. Kondisi ini perlu diverifikasi terhadap prosedur aktual dan kesesuaian bahan aktif yang digunakan.
Setelah pengeringan, granul dievaluasi berdasarkan karakteristik fisiknya sebelum digunakan pada pengujian purifikasi air.
Persiapan Sampel Air Limbah
Sampel limbah cair dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS) disiapkan untuk pengujian kinerja purifikasi.
Volume sampel, waktu pengambilan, serta kondisi penyimpanan dan penanganan perlu dicatat sesuai pelaksanaan aktual agar karakteristik sampel tetap dapat ditelusuri.
Sebelum perlakuan, sampel air direncanakan untuk diperiksa berdasarkan parameter kualitas awal, meliputi kekeruhan, pH, dan parameter mikrobiologi.
Pengukuran awal berfungsi sebagai data pembanding untuk mengevaluasi perubahan kualitas air setelah penambahan granul.
Seluruh pengukuran harus menggunakan metode yang sesuai dengan parameter yang dianalisis dan dicatat bersama satuan serta kondisi pengujiannya.
Evaluasi Karakteristik Fisik Granul
Evaluasi fisik granul dirancang untuk mengetahui karakteristik produk yang dihasilkan setelah proses granulasi.
Parameter yang tercantum dalam rancangan penelitian meliputi kadar air, distribusi ukuran partikel, kompresibilitas, dan sudut istirahat.
Pengujian tersebut digunakan untuk menilai karakteristik fisik dan perilaku alir granul.
Pengujian kadar air dilakukan untuk mengetahui kandungan air dalam granul setelah proses pengeringan. Hasil pengukuran dinyatakan dalam persen berdasarkan metode pengukuran yang digunakan.
Target kadar air kurang dari 5% merupakan target formulasi, bukan hasil pengukuran yang dapat dinyatakan tercapai sebelum tersedia data aktual.
Distribusi ukuran partikel dievaluasi untuk mengetahui sebaran ukuran granul yang dihasilkan. Evaluasi ini dapat digunakan untuk menilai keseragaman ukuran granul berdasarkan metode analisis yang diterapkan.
Sementara itu, pengujian kompresibilitas digunakan untuk mengevaluasi perubahan volume atau densitas granul akibat pemadatan sesuai prosedur pengujian yang dipilih.
Pengujian Kekeruhan dan pH
Pengukuran kekeruhan dan pH dirancang untuk mengevaluasi perubahan karakteristik air sebelum dan sesudah perlakuan granul.
Kekeruhan berkaitan dengan keberadaan partikel tersuspensi yang dapat menghamburkan cahaya, sedangkan pH menunjukkan kondisi asam atau basa pada sampel air.
Dalam rancangan penelitian, pengukuran kekeruhan dilakukan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 800 nm, sedangkan pH diperiksa menggunakan kertas indikator.
Metode pengukuran tersebut perlu dilengkapi dengan prosedur operasional yang sebenarnya, termasuk cara kalibrasi, penggunaan blanko atau standar, serta cara konversi hasil pengukuran menjadi satuan yang sesuai.
Apabila hasil pengukuran kekeruhan diperoleh dalam bentuk absorbansi, nilai tersebut tidak dapat langsung dilaporkan sebagai NTU tanpa metode kalibrasi atau korelasi yang tervalidasi.
Oleh karena itu, satuan hasil harus mengikuti metode pengukuran yang benar-benar digunakan.
Hasil kekeruhan dan pH sebelum serta sesudah perlakuan kemudian dibandingkan untuk mengevaluasi perubahan yang terjadi pada setiap kelompok.
Pengujian Mikrobiologi dengan Metode MPN
Pengujian mikrobiologi yang tersedia dalam laporan laboratorium menggunakan metode Most Probable Number (MPN) dengan seri lima tabung berdasarkan prosedur APHA 9221.
Pengujian dilakukan pada sampel yang diberi nama air limbah sebelum perlakuan dan air limbah setelah perlakuan menggunakan granul.
Hasil pengujian ditentukan berdasarkan kombinasi tabung positif pada tahap pengujian yang tercatat dalam laporan laboratorium.
Kombinasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan indeks MPN per 100 mL sesuai tabel interpretasi metode yang digunakan.
Hasil sebelum perlakuan berfungsi sebagai pembanding terhadap hasil sesudah perlakuan.
Berdasarkan laporan yang tersedia, sampel air limbah sebelum perlakuan menunjukkan kombinasi tabung positif akhir 5–0–0 dengan indeks 23 MPN/100 mL.
Sementara itu, sampel air limbah setelah perlakuan granul menunjukkan kombinasi tabung positif akhir 0–0–0 dengan indeks kurang dari 2 MPN/100 mL.
Nilai kurang dari 2 MPN/100 mL harus ditafsirkan sebagai hasil di bawah batas pelaporan atau batas deteksi yang berlaku pada metode tersebut, bukan sebagai bukti bahwa seluruh mikroorganisme telah hilang dari sampel.
Karena sumber sampel air limbah pada laporan MPN belum dapat dipastikan identik dengan sampel air sungai pada pengujian variasi dosis, hasil MPN tersebut perlu dilaporkan secara terpisah sampai keterkaitan kedua pengujian dapat dikonfirmasi.
Diagram Alir Pembuatan AquaClarify
Pengujian mikrobiologi yang hasilnya dilaporkan dalam penelitian ini menggunakan metode MPN seri lima tabung berdasarkan APHA 9221.

Sampel sebelum dan sesudah perlakuan dibandingkan berdasarkan kombinasi tabung positif dan indeks MPN per 100 mL. Metode dan kondisi pengujian yang dicantumkan dalam artikel disesuaikan dengan laporan laboratorium yang tersedia.
Hasil dan Pembahasan
Karakteristik Granul AquaClarify
Penelitian ini menghasilkan granul kompresi AquaClarify yang mengombinasikan tawas, karbon aktif, dan natrium hipoklorit (NaOCl) sebagai media purifikasi air.
Tawas digunakan sebagai koagulan, karbon aktif sebagai adsorben, sedangkan natrium hipoklorit berperan sebagai agen disinfeksi.
Formulasi tersebut dirancang untuk mengintegrasikan mekanisme koagulasi, adsorpsi, dan disinfeksi dalam satu sediaan granul.

Dokumentasi produk digunakan untuk menunjukkan bentuk fisik granul yang dihasilkan sebelum diaplikasikan pada sampel air.
Perubahan Kondisi Visual Air Setelah Perlakuan
Pengujian awal dilakukan untuk mengevaluasi perubahan karakteristik sampel air sebelum dan sesudah penambahan granul AquaClarify.
Parameter yang diamati meliputi kondisi visual, derajat keasaman (pH), dan pembacaan spektrofotometer pada panjang gelombang 800 nm.

Berdasarkan pengamatan visual, sampel sebelum perlakuan menunjukkan kondisi keruh, sedangkan sampel setelah perlakuan menunjukkan kondisi yang lebih jernih.
Perubahan tersebut mengindikasikan adanya perubahan karakteristik fisik sampel setelah perlakuan.
Secara teoritis, tawas dapat membantu destabilisasi partikel tersuspensi sehingga terbentuk flok yang lebih mudah dipisahkan, sedangkan karbon aktif berpotensi mengadsorpsi zat pengotor tertentu yang terdapat dalam air.
Pengujian visual dilakukan menggunakan sampel limbah cair yang diperoleh dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS).
Berdasarkan dokumentasi pada Gambar 4, sampel limbah setelah penambahan granul AquaClarify sebelum penyaringan menunjukkan warna kehijauan, sedangkan filtrat setelah penyaringan tampak lebih jernih.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik visual setelah rangkaian perlakuan dan penyaringan.
Namun, perubahan kejernihan belum dapat diatribusikan sepenuhnya kepada penggunaan granul karena proses penyaringan juga berkontribusi terhadap pemisahan partikel dari cairan.
Oleh karena itu, diperlukan pengukuran kekeruhan secara kuantitatif untuk mengevaluasi perubahan kualitas fisik sampel secara lebih objektif.

Perbedaan visual pada Gambar 4 menunjukkan bahwa cairan hasil penyaringan memiliki penampilan yang lebih jernih dibandingkan sampel sebelum penyaringan.
Namun, perubahan tersebut merupakan hasil dari rangkaian perlakuan dan penyaringan sehingga pengaruh masing-masing proses belum dapat dipisahkan hanya berdasarkan dokumentasi visual.
Oleh karena itu, pengamatan ini perlu didukung oleh pengukuran kekeruhan secara kuantitatif untuk menentukan besarnya perubahan karakteristik fisik air.
Hasil Pengukuran pH dan Spektrofotometer
Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa sampel sebelum perlakuan memiliki pH sebesar 8, sedangkan setelah penambahan granul nilai pH menurun menjadi 6.
Penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi asam-basa sampel setelah perlakuan.
Meskipun demikian, penyebab spesifik perubahan pH belum dapat ditentukan hanya berdasarkan data yang tersedia.
Evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui pengaruh komponen penyusun granul terhadap perubahan kondisi kimia air serta menilai kesesuaian pH akhir berdasarkan tujuan penggunaan air hasil pengolahan.
Pengukuran menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 800 nm menunjukkan nilai pembacaan sebesar 9 sebelum perlakuan dan 30 setelah penambahan granul.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya perbedaan respons instrumen antara kedua kondisi pengujian.
Akan tetapi, jenis parameter yang ditampilkan oleh instrumen, satuan pengukuran, dan prosedur kalibrasi belum terkonfirmasi.
Dengan demikian, perubahan nilai pembacaan tersebut belum dapat secara langsung digunakan untuk menyimpulkan peningkatan atau penurunan kekeruhan.
Interpretasi lebih lanjut perlu didasarkan pada metode pengukuran dan kalibrasi yang sesuai.
Hasil Pengujian Bakteri E. coli
Selain pengujian karakteristik fisik dan kimia, evaluasi mikrobiologi dilakukan untuk mengetahui perubahan indeks Escherichia coli pada sampel air limbah sebelum dan sesudah penambahan granul AquaClarify.
Pengujian dilakukan menggunakan metode Most Probable Number (MPN) seri lima tabung berdasarkan APHA 9221.
Berdasarkan laporan laboratorium nomor sampel 706, pengujian dilaksanakan pada 20–22 Oktober 2026.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sampel air limbah sebelum perlakuan memiliki kombinasi tabung positif akhir sebesar 5–0–0 dengan indeks MPN sebesar 23 MPN/100 mL.
Setelah penambahan granul AquaClarify, kombinasi tabung positif akhir berubah menjadi 0–0–0 dengan indeks MPN kurang dari 2 MPN/100 mL.
Tabel 1. Hasil Pengujian Mikrobiologi E. coli Sebelum dan Sesudah Penambahan Granul AquaClarify
| Parameter | Sebelum Perlakuan | Setelah Perlakuan |
|---|---|---|
| Kombinasi tabung positif | 5–0–0 | 0–0–0 |
| Indeks MPN | 23 MPN/100 mL | <2 MPN/100 mL |
Berdasarkan hasil tersebut, indeks MPN mengalami penurunan lebih dari 91,3% setelah perlakuan menggunakan granul AquaClarify.
Nilai tersebut merupakan estimasi penurunan berdasarkan indeks MPN awal dan batas pelaporan hasil akhir, bukan pengukuran langsung jumlah sel bakteri yang mengalami kematian.
Hasil akhir kurang dari 2 MPN/100 mL menunjukkan bahwa E. coli tidak terdeteksi berdasarkan kondisi pengujian dan batas pelaporan metode yang digunakan, tetapi tidak membuktikan bahwa sampel sepenuhnya bebas dari bakteri.
Penurunan indeks MPN tersebut berpotensi berkaitan dengan mekanisme pengolahan air yang diterapkan melalui kombinasi tawas, karbon aktif, dan natrium hipoklorit.
Tawas membantu proses koagulasi partikel tersuspensi, karbon aktif berperan dalam adsorpsi zat pengotor tertentu, sedangkan natrium hipoklorit digunakan sebagai agen disinfeksi untuk mengendalikan mikroorganisme.
Meskipun demikian, kontribusi masing-masing bahan terhadap penurunan indeks MPN belum dapat ditentukan secara terpisah karena seluruh komponen digunakan secara bersamaan dalam formulasi granul.
Evaluasi Efektivitas dan Keterbatasan Penelitian
Secara keseluruhan, hasil pengujian menunjukkan adanya perubahan karakteristik visual dan pH sampel setelah perlakuan, disertai penurunan indeks MPN E. coli pada pengujian mikrobiologi.
Temuan tersebut menunjukkan potensi AquaClarify sebagai media purifikasi air yang mengintegrasikan proses koagulasi, adsorpsi, dan disinfeksi.
Namun, interpretasi hasil masih perlu mempertimbangkan keterbatasan data, khususnya belum terkonfirmasinya jenis pembacaan spektrofotometer, belum tersedianya hasil kekeruhan kuantitatif yang tervalidasi, serta perlunya memastikan kesesuaian sumber sampel antara pengujian karakteristik air dan pengujian mikrobiologi.
Selain itu, penentuan dosis optimum dan konsistensi kinerja AquaClarify belum dapat dilakukan karena hasil pengujian terperinci untuk setiap variasi dosis dan pengulangan belum tersedia.
Pengujian lanjutan dengan kelompok kontrol yang sesuai, pengulangan analisis mikrobiologi, pengukuran kekeruhan menggunakan metode tervalidasi, serta evaluasi parameter kualitas air lainnya diperlukan untuk menilai efektivitas dan keamanan produk secara lebih menyeluruh.
Kesimpulan
Granul AquaClarify merupakan inovasi media purifikasi air yang mengombinasikan tawas, karbon aktif, dan natrium hipoklorit melalui mekanisme koagulasi, adsorpsi, dan disinfeksi.
Berdasarkan hasil pengujian mikrobiologi menggunakan metode Most Probable Number (MPN) dengan seri lima tabung, indeks MPN Escherichia coli pada sampel air limbah mengalami penurunan dari 23 MPN/100 mL sebelum perlakuan menjadi kurang dari 2 MPN/100 mL setelah penambahan granul AquaClarify.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa indeks MPN E. coli mengalami penurunan setelah perlakuan, dengan penurunan lebih dari 91,3%.
Meskipun demikian, hasil pengujian tersebut belum dapat membuktikan bahwa seluruh bakteri telah hilang atau bahwa air hasil pengolahan telah memenuhi persyaratan kualitas air yang berlaku.
Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh variasi dosis granul, perubahan kekeruhan, pH, serta efektivitas disinfeksi secara lebih menyeluruh.
Selain itu, pengujian berulang dan evaluasi keamanan air hasil pengolahan diperlukan untuk memastikan konsistensi kinerja AquaClarify.
Dengan demikian, AquaClarify berpotensi dikembangkan sebagai media purifikasi air yang praktis dan terintegrasi, tetapi efektivitas dan keamanannya masih perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, kerja sama, serta kontribusi selama proses penyusunan artikel ini.
Semoga hasil kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan menjadi sumber informasi yang berguna serta dapat diterapkan di masa mendatang.
Daftar Pustaka
Agustina, N., Nugraheni, I. A., & Naim, A. (2024). Analisis kualitas mikrobiologis air sungai melalui deteksi total coliform dan Escherichia coli menggunakan metode Most Probable Number (MPN). Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, 2, 1521–1534.
Burchacka, E., Pstrowska, K., Beran, E., Fałtynowicz, H., Chojnacka, K., & Kułażyński, M. (2021). Antibacterial agents adsorbed on active carbon: A new approach for S. aureus and E. coli pathogen elimination. Pathogens, 10(8), 1066.
Harun, F. Z., Rahmawati, F. K., & Umadji, N. I. R. (2025). Analisis parameter kekeruhan pada sistem pengolahan air baku di Kota Gorontalo. Journal of Environmental Engineering Research, 3(1), 4–7.
Hastiaty, I. A., Kusnoputranto, H., Utomo, S. W., & Handoyo, E. (2023). Pemeriksaan kualitas air minum PDAM Tirta Benteng, Kota Tangerang. Jambura Journal of Health Sciences and Research, 5(2), 463–473.
Huda, F. I., & Dewi, Y. S. (2023). Efektivitas penggunaan koagulan tawas dan kapur dalam mereduksi surfaktan dan fosfat pada limbah laundry. Jurnal Techlink, 7(1), 1–11.
Kurniawan, H. R., Maula Rif’at, N., Prasetya, F. A., Oktaviano, A. R., & Susanto, R. (2023). Sistem pengecekan kualitas air berdasarkan kekeruhan menggunakan sensor turbidity. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Bisnis (SENATIB) 2023.
Lase, V. E., Haris, V. T., & Anggraini, M. (2022). Peningkatan kualitas air bersih di kawasan perumahan Jalan Padat Karya Kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai dengan metode filtrasi karbon aktif. Prokons: Jurnal Teknik Sipil, 16(1), 34–41.
Nurjanah, F. L., Cahyonugroho, O. H., & Novembrianto, R. (2026). Analysis of aluminum sulfate dosage on water quality parameters in the coagulation-flocculation process: Analisis dosis aluminium sulfat terhadap parameter kualitas air pada proses koagulasi-flokulasi. Media Ilmiah Teknik Lingkungan, 11(1), 8–15.
Purba, B. B., & Sembiring, R. J. S. (2025). Efektivitas penggunaan tawas dan karbon aktif pada pengolahan limbah cair industri tahu rumahan Putri Deli Kecamatan Namorambe tahun 2024. Jurnal Penelitian Kesmasy, 7(2).
Wiranti, P., & Kadaria, U. (2023). Perbandingan penggunaan desinfektan kalsium hipoklorit (Ca(OCl)₂) dan natrium hipoklorit (NaOCl) pada air olahan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah, 11(3), 845–854.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda