Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Galeri Ponsel Menggeser Memori Manusia

Galeri Ponsel Menggeser Memori Manusia

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
25 Juli 2026, 20.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Galeri Ponsel
Oleh: Bella Cecillia Putri Ahadiat Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia JurnalPost.com - Pernahkah Anda membuka galeri ponsel untuk mencari sebuah foto, tetapi tanpa sadar justru menghabiskan waktu cukup lama menelusuri berbagai potongan masa lalu? Ada foto konser yang nyaris terlupakan, tangkapan layar percakapan dengan seseorang yang kini tinggal kenangan, hingga gambar langit sore yang bahkan tidak lagi kita ingat alasan pengambilannya. Galeri ponsel kini bukan sekadar tempat menyimpan foto dan video. Ia telah menjelma menjadi semacam arsip kehidupan digital. Perayaan ulang tahun, perjalanan, makanan, pemandangan, hingga wajah orang-orang terdekat tersimpan di dalamnya. Tidak jarang, kita justru lebih mudah menemukan kembali suatu kenangan melalui layar ponsel daripada melalui ingatan sendiri. Teknologi dan Beban Ingatan Fenomena tersebut mungkin dianggap wajar karena teknologi memang dirancang untuk memudahkan kehidupan manusia. Namun, kondisi ini melahirkan pertanyaan penting: apakah kita masih benar-benar mengingat sebuah pengalaman atau hanya mengetahui bahwa pengalaman itu tersimpan di dalam galeri? Dalam psikologi, terdapat istilah cognitive offloading. Istilah ini menggambarkan kecenderungan manusia memindahkan sebagian beban berpikir atau mengingat kepada media eksternal. Catatan, kalender digital, mesin pencari, dan galeri ponsel menjadi contoh bagaimana manusia mengandalkan perangkat di luar dirinya untuk menyimpan informasi. Ketika merasa seluruh peristiwa telah direkam dengan aman, seseorang mungkin tidak lagi berusaha mengingat detail pengalaman tersebut. Ia tidak perlu menghafal suasana, ekspresi, atau rangkaian kejadian karena semuanya dianggap dapat dilihat kembali kapan saja. Pada titik inilah ponsel tidak hanya membantu menyimpan kenangan, tetapi perlahan mengambil alih sebagian fungsi ingatan manusia. Hadir di Konser, tetapi Sibuk Merekam Fenomena ini mudah ditemukan dalam sebuah pertunjukan musik. Banyak penonton menyaksikan musisi favorit melalui layar ponsel yang mereka gunakan untuk merekam. Tubuh mereka memang berada di lokasi konser, tetapi perhatian terbagi antara menikmati pertunjukan dan memastikan kamera tetap stabil. Mereka sibuk memilih sudut terbaik, mengatur fokus, serta menghasilkan rekaman yang layak diunggah ke media sosial. Pengalaman pun seolah belum lengkap apabila tidak berhasil disimpan dalam bentuk foto atau video. Padahal, semakin banyak momen yang direkam belum tentu membuat seseorang semakin mengingat pengalaman tersebut. Penelitian Linda A. Henkel mengenai photo-taking impairment effect menunjukkan bahwa tindakan memotret dalam kondisi tertentu dapat membuat seseorang mengingat lebih sedikit detail objek yang dilihatnya. Ketika perhatian lebih banyak diarahkan pada proses dokumentasi, seseorang berisiko kehilangan kesempatan untuk terlibat secara penuh dalam pengalaman yang sedang berlangsung. Dokumentasi akhirnya tidak lagi menjadi pelengkap pengalaman. Ia perlahan menggantikan pengalaman itu sendiri. Kita merasa telah “memiliki” sebuah momen hanya karena berhasil merekam dan menyimpannya. Ketika Representasi Menggantikan Pengalaman Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan psikologi, tetapi juga dapat dilihat melalui sudut pandang filsafat. Filsuf Prancis Henri Bergson membedakan ingatan yang hidup dengan rekaman masa lalu yang bersifat mekanis. Bagi Bergson, ingatan bukan sekadar kumpulan data, melainkan pengalaman yang terus berhubungan dengan kesadaran manusia pada masa kini. Ingatan dapat berubah, memperoleh makna baru, dan membentuk cara seseorang memahami dirinya. Sementara itu, foto hanya menangkap satu bagian kecil dari peristiwa pada waktu tertentu. Pemikiran Jean Baudrillard mengenai simulacra juga relevan untuk membaca kebiasaan digital masyarakat modern. Baudrillard menjelaskan bagaimana representasi dapat perlahan menggantikan realitas yang diwakilinya. Dalam kehidupan saat ini, seseorang mungkin datang ke sebuah tempat bukan semata-mata untuk merasakan suasananya. Ia juga memikirkan bagaimana pengalaman tersebut akan direkam, diunggah, dan ditampilkan kepada orang lain. Konser tidak lagi hanya menjadi pengalaman menikmati musik. Perjalanan tidak semata-mata menjadi kesempatan mengenal tempat baru. Makanan pun terkadang tidak langsung disantap sebelum tampil menarik di depan kamera. Pada akhirnya, yang bertahan lebih lama bukanlah pengalaman secara langsung, melainkan representasi digitalnya. Setiap Momen Dianggap Berpotensi Menjadi Konten Media sosial semakin memperkuat kebiasaan tersebut. Berbagai platform membentuk pola pikir bahwa setiap peristiwa memiliki potensi untuk dijadikan konten. Kita tidak hanya menjalani sebuah pengalaman, tetapi juga memikirkan bagaimana pengalaman itu akan terlihat di mata orang lain. Foto dan video kemudian menjadi alat untuk membangun identitas, menunjukkan gaya hidup, atau memperoleh pengakuan sosial. Kamera yang awalnya digunakan untuk mengabadikan pengalaman perlahan berubah menjadi perantara antara manusia dan realitas. Alih-alih melihat pemandangan secara langsung, kita melihatnya melalui layar. Alih-alih merasakan suasana konser secara utuh, kita sibuk memperhatikan kualitas rekaman. Alih-alih terlibat dalam percakapan, perhatian kita berpindah kepada kebutuhan membuat dokumentasi. Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, foto memang memberikan ilusi bahwa waktu dapat dihentikan. Ada rasa aman ketika mengetahui sebuah kenangan telah tersimpan. Namun, ribuan foto dan video yang memenuhi ruang penyimpanan belum tentu benar-benar dibuka kembali. Banyak di antaranya hanya menumpuk sebagai data digital tanpa pernah kembali dihayati. Menjaga Kemampuan untuk Merasakan Memotret tentu bukan sebuah kesalahan. Dokumentasi tetap memiliki nilai emosional, sosial, dan historis. Foto dapat membantu seseorang mengingat orang terdekat, merekam perkembangan kehidupan, serta menyimpan peristiwa yang bernilai penting. Masalah muncul ketika aktivitas merekam membuat kita kehilangan keterlibatan dengan pengalaman yang sedang berlangsung. Karena itu, sebelum mengangkat kamera, kita mungkin perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang menyimpan kenangan atau justru melewatkan pengalaman yang ingin dikenang? Manusia tidak dibentuk oleh banyaknya foto yang tersimpan di dalam perangkat. Manusia dibentuk oleh pengalaman yang benar-benar dijalani, dirasakan, serta dimaknai secara utuh. Mungkin yang perlu kita jaga bukan hanya kapasitas penyimpanan ponsel, melainkan juga kapasitas diri untuk hadir dan merasakan. Sebab, apabila seluruh kenangan terus-menerus dititipkan kepada perangkat digital, galeri ponsel kita mungkin tetap penuh dan utuh. Namun, kemampuan kita untuk mengingat serta menghayati kehidupan justru berisiko semakin kosong. Referensi:
  1. Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press.
  2. Bergson, H. (1896). Matter and Memory. Allen & Unwin.
  3. Henkel, L. A. (2014). “Point-and-Shoot Memories: The Influence of Taking Photos on Memory for a Museum Tour.” Psychological Science, 25(2), 396–402.
  4. Risko, E. F., & Gilbert, S. J. (2016). “Cognitive Offloading.” Trends in Cognitive Sciences, 20(9), 676–688.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/galeri-ponsel-menggeser-memori-manusia/96116/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.59 WITA

  • #Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan
  2. 2

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    Inovasi Teh Kulit Jeruk: Pemanfaatan Limbah Pangan Fungsional untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

  5. 5

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.