Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Wisata
  3. Fakta Bogor sebagai Kota Hujan

Fakta Bogor sebagai Kota Hujan

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
21 Oktober 2022, 19.33 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Fakta Bogor
JurnalPost.com - Kota Bogor dikenal sebagai kota dengan wilayah yang memilih beragam pilihan tempat wisata. Sejak zaman Belanda hingga saat ini, Bogor menjadi kota yang penting karena menjadi penghubung dengan Batavia atau Jakarta. Terdapat banyak destinasi menarik di kota ini. Sebagai kota penyangga Jakarta, perkembangan Kota Bogor terus signifikan. Berikut ini sedikitnya 7 fakta menarik dari Kota Bogor yang wajib diketahui:

Asal-usul nama Kota Bogor

Kota Bogor dihubungkan dengan makna pohon enau (aren). Dalam bahasan Sunda, enau diartikan sebagai pohon kawung. Dengan demikian, Bogor memiliki makna pohon aren yang sudah mati. Pada zaman Belanda terjadi insiden seorang gubernur jenderal telah membakar hutan yang mana didalamnya terdapat salah satunya pohon kawung. Hal tersebut yang menjadikan dasar penamaan Bogor dan diartikan sebagai pohon enau yang terbakar. Sedangkan berdasarkan bahasa Belanda, Bogor berasal dari kata “Buitenzorg” nama resmi dari penjajah pada masa kolonial Belanda. Pendapat lain mengatakan Bogor berasal dari kata “Bahai” yang artinya sapi. Eksistensi sapi ini melekat pada sebuah patung sapi yang berada di dalam Kebun Raya Bogor. Dalam bahasa Arab, kata Bogor berasal dari kata “Baghar” yang kemudian oleh masyarakat Sunda dan Jawa penyebutan “Ba” berubah menjadi “Bo” sehingga menjadi disebut Bogor.

Kota Hujan

Bogor merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang terkenal dengan sebutan kota hujan. Sejak berdiri tahun 1482 di zaman Belanda, Bogor sudah dikenal sebagai Buitenzorg yang berarti tanpa kecemasan atau aman dan tentram. Curah hujan yang tinggi menyebabkan Bogor disebut sebagai kota hujan. Secara ilmiah, curah hujan yang tinggi di Bogor disebabkan karena lokasi kota ini yang berada diantara 3 (tiga) gunung besar, yakni Gunung Salak, Gunung Pangrango, dan Gunung Gede. Akibat dikelilingi oleh toga gunung besar menyebabkan proses pembentukan awan menjadi lebih mudah terjadi, sehingga curah hujan di Kota Bogor lebih tinggi dibandingkan kota disekitarnya. Fenomena meskipun saat musim kemarau berlangsung, Bogor tetap memiliki curah hujan yang tinggi. Curah hujannya mencapai rata-rata 3.500 hingga 4.000 mm/tahun. Selain karena gunung, wilayah hutan yang lebih luas di Kota Bogor menyebabkan pembentukan awan dalam proses hidrologi lebih cepat. Oleh sebab itu, apabila mengunjungi kota ini haru sedia payung sebelum hujan.

Julukan Kota Angkot

Mencari angkot di kota ini sangatlah mudah, di setiap penjuru kotanya terdapat banyak sekali angkutan kota. Hal tersebut yang menyebabkan Bogor disebut kota sejuta angkot. Berdasarkan data Organda 2012, di Kota Bogor terdapat sekitar 3.412 angkot yang beroperasi dengan 23 trayek. Angkot di kota ini memiliki warna yang seragam sehingga menimbulkan kesan angkutan massal yang mudah ditemui dan merajalela. Namun jumlah angkot akan terus berkurang seiring penerapan program pemerintah mengenai bus kota.

Pusat Penelitian

Terdapat banyak sekali lembaga dan balai penelitian yang berdiri di Kota Bogor semenjak zaman sebelum kemerdekaan. Hal ini menjadikan Bogor sebagai kota pusat pendidikan dan penelitian pertanian di Indonesia. Terdapat salah satunya Institut Pertanian Bogor yang menjadi salah satu lembaga dengan berfokus dalam bidang pertanian. Selain itu terdapat Kebun Raya Bogor (KRB) yang menjadi tempat pelestarian konservasi ex situ. Penelitian di KRB disediakan untuk mahasiswa dan peneliti yang akan mengadakan penelitian dengan objek tumbuhan atau manajemen. KRB menjadi fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota Bogor untuk memfasilitasi pelanggan dalam memperoleh data yang akurat.

Istana Kepribadian di Bogor

Istana Bogor sejak tahun 1950 ditetapkan sebagai tempat tinggal presiden. Dulunya merupakan tempat yang digunakan sebagai peristirahatan pada zaman Belanda. Konon dikabarkan bahwa banyak tamu negara yang pernah menginap di istana ini. Presiden Soekarno lebih suka bekerja di Istana Bogor dibandingkan di Istana Merdeka Jakarta Pusat. Hal serupa diikuti oleh Presiden Jokowi yang mengatakan Istana Bogor lebih kondusif untuk diajak bekerja karena udaranya yang lebih sejuk, asri, dan hijau. Sehingga ketika bekerja menimbulkan relaksasi dan ketenangan tersendiri.

Dikenal juga sebagai Kota Petir

Selain sebagai kota hujan, Bogor memiliki curah hujan tinggi yang diikuti dengan petir yang menggelegar. Data BMKG menyatakan bahwa jumlah petir di Bogor termasuk tinggi di Indonesia. Pada tahun 2016 terdapat 700 ribu sambaran petir. Kepadatan petirnya mencapai 24 kali per kilometer persegi per tahun. Hal ini terjadi karena Bogor terletak di dataran tinggi yang mana sering terbentuk awan cumulonimbus. Bahkan oleh Guinness Book of Record memberikan gelar kota petir secara resmi pada Kota Bogor.

Kebun Raya Bogor tertua di Asia

Kebun Raya Bogor sudah tersohor bahkan sejak zaman Belanda. Menurut LIPI, Kebun Raya Bogor termasuk dalam kategori kebun raya tertua se-Asia Tenggara dengan usia mencapai dua abad. Sejak tahun 2018 silam, Kebun Raya Bogor masuk dalam daftar Sementara Warisan Dunia atau Tentative List Unesco World Heritage Site. Hal itu terjadi lantaran terdapat ribuan tanaman yang tertanam di Kebun Raya Bogor. Situs Pusat Konservasi Kebun Raya LIPI mencatat terdapat kekayaan flora sebanyak 213 famili, 1.202 genus, 3.156 spesies, dan 12.141 spesimen tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Hal ini menjadikan KRB sebagai jantung dan nafas Kota Bogor. Selain sebagai destinasi wisata, KRB terus berkembang sebagai benteng konservasi plasma nutfah yang menampung banyak keanekaragaman hayati sehingga menjadi tempat wisata edukasi yang menarik. Penulis: Erma Kusuma Wardani

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/fakta-bogor-sebagai-kota-hujan/38361/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 01.14 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Sanggar Tari HIMFLOR Kenalkan Budaya Flores Lewat Tari Nong Mari Nong di GAPURA Fest Undiksha 2026

Pesona Jalan Tunjungan di Malam Hari, Ikon Wisata Surabaya yang Selalu Ramai Pengunjung

Di Tengah Tren Childfree, Tim JAGA KRAMA PKM-RSH Undiksha Ungkap Kesiapan Pengasuhan Anak Generasi Z Bali

Pulau Lusi Sidoarjo Dikembangkan Jadi Wisata Edukatif Berbasis Pengalaman

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan
  2. 2

    Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

  3. 3

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.