Oleh: M. Dzaki Al Munawwar
Program Studi Ilmu Pangan, IPB University
JurnalPost.com – Pertumbuhan populasi di dunia terus meningkat. Norrman (2023) menyatakan bahwa pada tahun 2023 terdapat 8 miliar manusia di muka bumi ini dan akan terus bertambah hingga 9 miliar di tahun 2050. Sayangnya pertumbuhan populasi dunia ini tidak berbanding lurus dengan ketersediaan pangan yang mumpuni. Padahal pangan yang berperan sebagai sumber energi, zat pembangun, zat pengatur, dan fungsi lainnya untuk tubuh manusia merupakan hal fundamental yang harus tercukupi setiap harinya (Kim and Oh 2022). Zat gizi terbagi menjadi dua yakni gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar disebut makronutrisi dan zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit adalah mikronutrisi. Perbedaan jumlah kebutuhan zat gizi ini tidak menjadikan salah satu di antara keduanya menjadi tidak penting. Semua zat gizi memiliki peran dan kebutuhannya masing-masing untuk mendapatkan metabolisme tubuh yang baik. Apabila konsumsi zat gizi tidak seimbang baik itu berlebihan maupun kekurangan maka, akan mengakibatkan ketidaksetimbangan metabolisme dan berujung kepada risiko penyakit tertentu (Savarino et al. 2021).
Protein merupakan salah satu makronutrisi yang dibutuhkan oleh manusia untuk tumbuh dan berkembang. Fungsi sebagai pembangun sel, jaringan, enzim, hormon, dan segala kebutuhan tubuh menjadikan protein senyawa yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak (Watford and Wu 2018). Sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia belum dapat mencukupi kebutuhan konsumsi protein hariannya. Sebanyak 36,1% masyarakat Indonesia masih mengonsumsi protein di bawah kebutuhan hariannya (Nursani et al. 2023; Watford and Wu 2018). Kurangnya protein harian pada masyarakat Indonesia terutama untuk anak-anak yang masih dalam fase bertumbuh dan berkembang akan menimbulkan kekhawatiran karena kurangnya protein dapat menyebabkan penghambatan tumbuh kembang pada anak-anak (LaPelusa and Khausik 2022).
Berkebalikan dengan konsumsi protein yang tergolong rendah, konsumsi minyak masyarakat Indonesia tergolong tinggi. Konsumsi minyak goreng Indonesia pada tahun 2021 hingga 2022 mencapai angka 15.250 ton, angka yang tinggi ini menjadikan konsumsi minyak goreng Indonesia merupakan yang tertinggi pada tahun tersebut (Mucti et al. 2023). Ketidakseimbangan konsumsi antara protein dan minyak ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu untuk memenuhi kebutuhan makronutrisinya dengan baik setiap harinya.
Pola konsumsi yang tinggi lemak akan tetapi kurang protein ini tentunya menimbulkan kekhawatiran baru. Risiko jantung koroner, penyempitan pembuluh darah, dan obesitas pada masyarakat Indonesia akan meningkat (Gjermeni et al. 2021). Pada tahun 2019 terdapat 1,5% juta masyarakat Indonesia mengalami penyakit jantung koroner dan pada tahun 2018 sebanyak 21,8% masyarakat Indonesia yang mengalami obesitas yang dapat berujung kepada timbulnya berbagai penyakit degenaratif lainnya (Erdania et al. 2022; Nabila et al. 2024). Salah satu faktor yang dapat menyebabkan risiko penyakit tersebut adalah karena adanya oksidasi pada minyak goreng yang digunakan secara terus menerus dalam proses penggorengan. Oksidasi minyak dapat terjadi salah satunya karena adanya perlakuan suhu tinggi dalam waktu panjang yang mengakibatkan putusnya ikatan pada rantai asam lemak bahan pangan. Oksidasi asam lemak pada bahan pangan dapat mengakibatkan terbentuknya asam lemak bebas, peroksida, aldehid, dan senyawa berbahaya lainnya bagi tubuh manusia (Mucti et al. 2023).
Minyak serangga merupakan minyak yang diekstrak dari serangga di mana hampir semua serangga dapat diekstrak untuk diambil minyaknya. Minyak serangga merupakan produk yang memiliki potensi besar untuk menjadi minyak goreng alternatif dalam mencukupi kebutuhan makronutrisi di zaman padatnya populasi manusia sekarang. Potensi besar minyak serangga ini dikarenakan kandungan lemak yang ada merupakan minyak baik ditambah lagi kandungan proteinnya pun tergolong tinggi (Mariod 2013). Kandungan yang ada pada minyak serangga ini dapat memenuhi kebutuhan makronutrisi manusia bukan hanya lemak tetapi juga kebutuhan protein manusia. Menurut Queiroz et al. (2023) kandungan protein pada minyak serangga sangatlah beragam contohnya adalah larva lalat yang memiliki kandungan protein sebesar 41 hingga 68%. Mariod (2013) juga menunjukkan bahwa kandungan protein pada melon bug dan sorghum bug sebesar 27% dan 28%.
Selain kandungan proteinnya yang tinggi, kandungan vitamin E pada minyak serangga juga sangat tinggi. Menurut Mariod (2013) kandungan vitamin E pada minyak melon bug dan sorghum bug adalah 0,3 dan 34 mg/100g. Kandungan vitamin E yang cukup tinggi pada minyak serangga menjadikan minyak serangga memiliki umur simpan yang lebih panjang dibandingkan dengan minyak goreng lainnya seperti kedelai, kelapa, dan bahan lainnya karena vitamin E dapat berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menahan oksidasi enzimatis yang terjadi selama proses penyimpanan (Rangkuti et al. 2018). Selain itu, kandungan lemak jenuh pada minyak serangga yang cenderung rendah sehingga kadar koleterol jahat pada tubuh dapat terjaga. Adapun kandungan lemak tak jenuh seperti monounsaturated fatty acid (MUFA) dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada minyak serangga yang tergolong tinggi, dapat mencegah terjadinya penumpukan plak dan kakunya sel pembuluh darah karena lemak tak jenuh yang ada pada minyak serangga dapat membuat fluiditas dari sel manusia terjaga (Huang et al. 2024). Selain itu, alpha-linolenat (omega-3) dan asam linoleat (omega-6) pada minyak serangga ternilai tinggi yang membuat minyak serangga juga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi lemak esensial harian bagi manusia (Jayanegara et al. 2020; Cruz et al. 2024; Benzertiha et al. 2019).
Kelebihan lain yang dimiliki oleh minyak serangga adalah emisi karbon yang dihasilkan selama proses pengembang biakan dan pemanenan lebih rendah daripada hewan ternak lainnya. Emisi karbon yang rendah menjadikan minyak serangga memiliki nilai tambah lainnya yakni ramah lingkungan (Kim and Oh 2022). Isu ramah lingkungan sudah menjadi topik hangat karena terjadinya perubahan iklim yang ekstrim dan mencairnya es pada kutub utara dan selatan akibat terjadinya pemanasan global atau global warming. Isu lingkungan ini juga semakin diperhatikan akibat terus bertumbuhnya peradaban manusia salah satunya adalah populasi sehingga penggunaan minyak serangga sebagai pemenuh makronutrisi menjadi potensi yang besar bagi keberlanjutan hidup manusia di bumi ini (Norrman 2023).
Dari pemaparan kelebihan minyak serangga, tantangan Indonesia, dan tantangan pertumbuhan populasi dunia tersebut ide dan gagasan baru dapat dikembangkan yakni pemanfaatan minyak serangga sebagai minyak konsumsi bagi masyarakat Indonesia. Pengusungan ide ini didasari dari tingginya kandungan protein dan baiknya kandungan lemak pada minyak serangga (Shah et al. 2022). Pada minyak serangga, kebutuhan protein dan minyak esensial manusia dapat dipenuhi dengan hanya satu bahan pangan. Akan tetapi, tentunya ada beberapa kendala yang masih dihadapi dalam pengembangan minyak serangga di Indonesia seperti pemanfaatan serangga sebagai pangan masih dianggap menjijikan dan kurang diminati oleh masyarakat Indonesia (Watford and Wu 2018).
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa minyak serangga merupakan produk dengan potensi yang besar sebagai sumber protein, lemak, dan vitamin yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak konsumsi alternatif guna tergantinya minyak goreng sawit, kelapa, kedelai, dan bahan lainnya. Kebaikan minyak serangga ini tentunya baik jika digunakan oleh masyarakat luas sehingga penyuluhan potensi minyak serangga sebagai minyak konsumsi alternatif, terutama untuk masyarakat Indonesia, harus ditingkatkan dan diperluas.
REFERENSI
Benzertiha A, Kieronczyk B, Rawski M, Kolodziejski P, Bryszak M, and Jozefiak D. 2019. Insect oil as an alternative to palm oil and poultry fat in broiler chicken nutrition. Animals. 9(116): 1-18.
Cruz VA, Vicentini-Polette CM, Magalhaes DR, and de Oliveira AL. 2024. Extraction, characterization, and use of edible insect oil – A review. Food Chemistry. 463(141199).
Erdania, Faizal M. Anggraini RM. 2022. Faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno provinsi Bangka Belitung. Jurnal Keperawatan. 12(1): 17-25.
Gjermeni E, Kirstein AS, Kolbig F, Kirchhof M, Bundalian L, Katzmann JL, Laufs U, Bluher M, Garten A, and Duc DL. 2021. Obesity–An update on the basic pathophysiology and review of recent therapeutic advances. biomolecules. 11(10). 1-28.
Huang G, Zhang Y, Liu F, Xiao J, and Huang D. 2024. Regulation mechanism as nutritious and functional oil: An intergrative review. Journal of Food Composition and Analysis. in press.
Jayanegara A, Gustanti R, Ridwan R, and Widyastuti Y. 2020. Fatty acid profiles of some insect oils and their effects on in vitro bovine rumen fermentation and methanogenesis. Italian Journal of Animal Science. 19(1): 1310-1317.
Kim D and Oh I. The characteristic of insect oil for a potential component of oleogel and its application as a solid fat replacer in cookies. gels. 8(355): 1-14.
LaPelusa A and Kaushik R. 2022. Physiology, Proteins. StatPearls Publishing LLC.
Mariod AA. 2013. Insect oil and protein: Biochemistry, food and other uses: Review. Agricultural Sciences. 4(9B): 76-80.
Mucti S, Purwasih R, dan Destiana ID. 2023. Analisis perilaku penggunaan dan mutu minyak goreng yang dipakai oleh pedagang gorengan di pasar Pujasera Subang. Edufortech. 8(1): 1-10.
Nabila SR, Sunarsih E, Novrikasari, dan Rahmiwati A. 2024. Perilaku pola makan dan aktivitas fisik terhadap masalah obesitas: Systematic review. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia. 7(3): 498-505.
Norrman KE. 2023. World population growth: A once and future global concern. world. 4: 684-697.
Nursani, Amaliah R, Indriani, Ramadani D, Lestari RH, Amaliah DD, Parawansyah A, Juanda, Tahyul, Wangsa MA. 2023. PKM Pentingnya konsumsi protein hewani bagi anak usia dini di SD Inpres 12/79 Lonrae Kec. Tanete Riattang Timur Kab. Bone. Jurnal Pengabdian Mandiri. 2(7): 1667-1672
Queiroz LS, Silva NFN, Jessen F, Mohammadifar MA, Stephani R, de Carvalho AF, Perrone IT, and Casanova F. 2023. Edible insect as an alternative protein source: a review on the chemistry and functionalities of proteins under different processing methods. Heliyon. 9(e14831): 1-15.
Rangkuti IUP, Julianti E, and Elisabeth J. 2018. The tocol content of crude palm oil based on the level ripeness and their relationship to the quality and their stability. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 122. 012081.
Savarino G, Corsello A, and Corsello G. 2021. Macronutrient balance and micronutrient amounts through growth and development. Journal of Pediatrics. 47(109): 1-14.
Shah AA, Totakul P, Matra M, Cherdthong A, Hanboonsong Y, and Wanapat M. 2022. Nutritional composition of various insects and potential uses as alternative protein sources in animal diets. Animal Bioscience. 35(2): 317-221.
Tian P, Hu H, Zhang X, Chen M, and Wang X. 2023. Effect of temperature and moisture levels on vitamin A in total mixed ration silage. fermentation. 9(7): 614.
Watford M and Wu G. 2018. Protein. Advances in Nutrition. 9(5): 651-653.