Penulis: Dian Hutami Rahmawati
JurnalPost.com - Komunikasi yang efektif dan empatik menjadi kunci utama dalam keberhasilan pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di tingkat dasar seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Dalam setiap interaksi antara kader Posyandu, bidan, dan masyarakat, kemampuan berkomunikasi dengan pendekatan terapeutik tidak hanya membantu penyampaian informasi kesehatan dengan lebih jelas, tetapi juga membangun kepercayaan serta kedekatan emosional dengan warga.
Komunikasi terapeutik yang menekankan pada empati, rasa hormat, dan kepekaan terhadap kondisi psikologis lawan bicara berperan penting dalam mendukung perubahan perilaku kesehatan di masyarakat. Ketika bidan dan kader Posyandu mampu berkomunikasi secara hangat dan efektif, masyarakat akan lebih terbuka untuk berkonsultasi, menerima saran medis, serta termotivasi menjalankan pola hidup sehat.
Berangkat dari pentingnya peran komunikasi dalam pelayanan kesehatan berbasis masyarakat inilah, dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Komunikasi Efektif dan Komunikasi Terapeutik Bidan dan Kader Posyandu”. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dengan mengundang sejumlah praktisi dan ahli.
Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke 3 yakni Good Health and Well-Being. Penerapan komunikasi terapeutik meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer, mendorong perilaku hidup sehat, menguatkan kedekatan bidan–pasien, serta membantu deteksi dini masalah kesehatan ibu dan anak. Ini berkontribusi langsung pada peningkatan kesehatan ibu dan anak, salah satu indikator utama SDG 3.
Selain itu kegiatan ini juga berkontribusi dalam SDG 4 yakni Quality Education. Pelatihan ini merupakan bagian dari pendidikan berkelanjutan (lifelong learning) bagi bidan dan kader Posyandu. Peningkatan kompetensi mereka dalam aspek komunikasi memperkaya praktik profesional dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat. Disisi lain kegiatan ini juga mendukung SDG 10 yakni Reduced Inequalities. Posyandu merupakan layanan kesehatan yang menjangkau masyarakat di tingkat akar rumput. Penguatan kemampuan kader melalui pelatihan membantu mengurangi kesenjangan akses informasi dan layanan kesehatan bagi kelompok rentan, termasuk ibu dan balita di wilayah pinggiran dan juga SDG 17 yakni Partnerships for the Goals. Pelaksanaan pelatihan oleh perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan komunitas lokal menunjukkan bentuk kemitraan multi-stakeholder untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi ini memperkuat ekosistem layanan kesehatan di masyarakat secara berkelanjutan.
Kegiatan pelatihan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan komunikasi terapeutik dan komunikasi efektif bagi para kader Posyandu. Melalui pendekatan yang interaktif, para peserta diajak memahami bagaimana pesan-pesan kesehatan dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana, empatik, dan mampu menumbuhkan rasa percaya masyarakat.
Materi pelatihan mencakup teknik dasar komunikasi terapeutik seperti active listening (mendengarkan secara aktif), empathy expression (menunjukkan empati dalam percakapan), serta cara memberikan respon yang mendukung perubahan perilaku tanpa menghakimi. Selain itu, dosen Ilmu Komunikasi juga membekali peserta dengan keterampilan komunikasi publik, termasuk bagaimana berbicara di depan warga dengan percaya diri dan menyampaikan pesan kesehatan secara persuasif.
Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Dian Hutami Rahmawati, S.I.Kom., M.Med.Kom., menjelaskan bahwa komunikasi terapeutik menjadi pondasi penting dalam membangun hubungan antara tenaga kesehatan dan masyarakat.
“Kader Posyandu bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pendengar dan pendamping bagi masyarakat. Dengan memahami komunikasi terapeutik, mereka bisa menghadirkan suasana yang menenangkan, membuat masyarakat merasa didengar, dan akhirnya lebih terbuka terhadap pesan-pesan kesehatan,” ujar Dian Hutami.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri kader dalam berinteraksi dengan masyarakat, terutama saat menghadapi situasi yang membutuhkan kepekaan emosional, seperti saat memberikan edukasi gizi, imunisasi, atau pelayanan ibu dan anak.
“Kami ingin kader Posyandu tidak hanya memahami apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya dengan hati. Karena komunikasi yang baik bisa menjadi terapi tersendiri bagi masyarakat,” tambahnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda