JurnalPost.com — Bagi sebagian orang, kebakaran hutan mungkin hanya terlihat sebagai deretan angka statistik di layar televisi: luas lahan yang terbakar, grafik kenaikan titik panas atau hotspot, hingga kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Namun, di balik pekatnya asap yang membubung, terdapat tragedi sunyi yang jauh lebih dalam. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan manusia, ribuan satwa kehilangan satu-satunya tempat yang selama ini mereka kenal sebagai rumah: hutan.
Sepanjang 2026, kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Indonesia. Data Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 202.000 hektare hutan dan lahan terbakar di Indonesia, dengan Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang terdampak.
Di Kalimantan Barat, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 38.310 hektare. Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya termasuk wilayah yang mengalami dampak cukup besar. Sementara itu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur juga menghadapi ancaman serupa, ditandai dengan munculnya titik panas di berbagai kawasan.
Akar Masalah: Kombinasi Faktor Alam dan Aktivitas Manusia
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Peristiwa ini kerap muncul akibat kombinasi kondisi cuaca, karakteristik lahan, serta aktivitas manusia.
Musim kemarau panjang membuat vegetasi menjadi kering dan lebih mudah terbakar. Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika terjadi fenomena cuaca yang menyebabkan curah hujan menurun dalam waktu cukup lama.
Di sisi lain, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kebakaran. Api yang awalnya digunakan pada area terbatas berpotensi meluas ketika bertemu vegetasi kering dan tiupan angin.
Lahan gambut menjadi persoalan tersendiri. Ketika gambut kehilangan kelembapan akibat drainase maupun perubahan tutupan lahan, api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah. Kebakaran jenis ini sulit dipadamkan karena bara dapat bertahan lama dan kembali muncul di permukaan.
Aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan, perkebunan, pertanian, pertambangan, maupun wilayah konsesi juga menambah tekanan terhadap daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
Dampak Karhutla Menjangkau Berbagai Sektor
Dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada hilangnya tutupan vegetasi. Kabut asap yang dihasilkan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek.
Dari sisi kesehatan, paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Salah satu gangguan yang sering dikaitkan dengan paparan asap adalah infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Dalam sektor transportasi, kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu perjalanan udara maupun darat. Kondisi udara yang memburuk juga dapat memengaruhi kegiatan pendidikan. Sekolah di wilayah terdampak terkadang harus menyesuaikan jam belajar atau menerapkan pembelajaran dari rumah ketika kualitas udara dinilai tidak aman.
Dampak ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Aktivitas perdagangan, transportasi, perkebunan, hingga pekerjaan harian masyarakat dapat terganggu apabila kabut asap berlangsung dalam waktu panjang.
Namun, di tengah besarnya perhatian terhadap dampak yang dialami manusia, terdapat kelompok korban lain yang sering kali tidak terlihat: satwa liar.
Tragedi Sunyi bagi Satwa Endemik Kalimantan
Hutan hujan Kalimantan merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Berbagai jenis mamalia, burung, reptil, serangga, dan tumbuhan hidup di dalam ekosistem tersebut.
Ketika kebakaran terjadi, api tidak hanya membakar pohon. Kebakaran sekaligus menghancurkan sumber makanan, tempat berlindung, lokasi berkembang biak, dan jalur pergerakan satwa.
Orangutan menjadi salah satu satwa yang paling sering mendapat perhatian ketika kebakaran melanda hutan Kalimantan. Selain itu, terdapat pula trenggiling, berbagai jenis primata, reptil, burung, dan satwa kecil lain yang menghadapi ancaman kehilangan habitat.
Satwa yang mampu bergerak cepat mungkin dapat menjauh dari titik api. Namun, mereka belum tentu menemukan habitat baru yang aman. Fragmentasi hutan akibat perkebunan, jalan, pertambangan, dan permukiman membuat ruang hidup satwa semakin terbatas.
Sementara itu, satwa yang bergerak lambat atau terjebak di kawasan yang dikelilingi api memiliki peluang lebih kecil untuk menyelamatkan diri.
Persoalan tidak selesai ketika api berhasil dipadamkan. Hutan yang terbakar membutuhkan waktu panjang untuk pulih. Pohon-pohon penghasil buah dapat mati, semak yang menjadi sumber makanan menghilang, sementara tempat berlindung satwa rusak.
Kondisi itu mendorong sebagian satwa keluar dari habitat alaminya.
Ketika Satwa Masuk ke Permukiman
Kehilangan habitat dapat meningkatkan kemungkinan pertemuan antara manusia dan satwa liar. Dalam kondisi lapar, stres, atau terluka, satwa dapat bergerak menuju kebun maupun permukiman untuk mencari makanan.
Situasi tersebut berpotensi menimbulkan konflik baru.
Satwa yang sebenarnya sedang kehilangan habitat dapat dianggap sebagai ancaman oleh masyarakat. Pada kondisi tertentu, tim konservasi harus melakukan penyelamatan dan evakuasi terhadap satwa yang ditemukan dalam keadaan lemah, mengalami dehidrasi, kekurangan makanan, atau terluka.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan luas lahan yang terbakar. Setiap hektare hutan yang hilang dapat berarti berkurangnya ruang hidup bagi berbagai spesies yang bergantung sepenuhnya pada ekosistem tersebut.
Upaya Penanganan dan Pelajaran dari Masa Lalu
Pemerintah bersama berbagai lembaga terus melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat maupun udara dengan melibatkan BNPB, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, serta relawan.
Pada wilayah dengan kebakaran luas, water bombing menggunakan helikopter menjadi salah satu metode yang digunakan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.
Operasi Modifikasi Cuaca juga dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak.
Selain pemadaman, pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan menjadi bagian penting dalam pencegahan. Program berbasis masyarakat seperti Desa Peduli Api juga dikembangkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat lokal.
Meski demikian, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa pendekatan yang hanya berfokus pada pemadaman tidak cukup.
Kalimantan memiliki sejarah panjang kebakaran hutan. Kebakaran besar pada periode 1997–1998 menjadi salah satu peristiwa yang menunjukkan betapa luasnya dampak kebakaran terhadap ekosistem, masyarakat, serta populasi satwa liar.
Peristiwa-peristiwa tersebut seharusnya menjadi pelajaran bahwa pencegahan perlu ditempatkan sebagai bagian utama dalam strategi penanganan karhutla.
Menjaga Hutan Berarti Menjaga Ruang Hidup
Hutan Kalimantan bukan sekadar kumpulan pohon maupun sumber komoditas ekonomi. Di dalamnya terdapat ekosistem kompleks yang menjadi tempat hidup berbagai spesies, termasuk satwa yang tidak ditemukan secara alami di banyak wilayah lain.
Karena itu, perlindungan hutan membutuhkan lebih dari sekadar respons ketika api telah muncul.
Pengelolaan gambut yang baik, pengawasan kawasan rawan kebakaran, penegakan hukum, restorasi hutan, pengendalian pembukaan lahan, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang.
Pada akhirnya, menjaga hutan berarti menjaga ruang hidup bersama.
Ketika satu kawasan hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada sarang yang musnah, sumber makanan yang lenyap, jalur migrasi yang terputus, dan kehidupan satwa yang harus mencari tempat baru untuk bertahan.
Jika kebakaran terus berulang tanpa perubahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan, generasi mendatang mungkin tidak lagi dapat menyaksikan sebagian kekayaan hayati Kalimantan di habitat alaminya.
Mereka hanya akan mengenalnya melalui foto, dokumentasi, dan cerita tentang hutan yang pernah menjadi rumah bagi kehidupan liar yang luar biasa.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda