Penulis: Septiono Bangun Sugiharto
JurnalPost.com - Siklus yang nyaris rutin terkait DBD (demam berdarah dengue) di negara kita saat musim penghujan yaitu meningkatnya kasus DBD, diikuti kepanikan publik, lalu respons yang cenderung reaktif dan jangka pendek. Fenomena ini bukan sekadar persoalan kesehatan musiman, melainkan cerminan masih perlunya membangun partisipasi publik dan atau pemberdayaan masyarakat yang kuat dan berkelanjutan dalam pengendalian penyakit berbasis lingkungan.
Selama ini, pendekatan terhadap DBD masih didominasi oleh cara pandang yang sempit, yaitu menempatkan nyamuk Aedes aegypti sebagai musuh utama yang harus diberantas. Tidak salah, tetapi juga tidak cukup. Perspektif ini mengabaikan adanya potensi bahwa keberadaan nyamuk hanyalah konsekuensi dari kondisi lingkungan yang mendukung dengan masih banyak ditemukannya genangan air di sampah anorganik yang banyak di sekitar lingkungan masyarakat, genangan air di ban bekas, botol bekas, dan sebagainya di semak-semak, perilaku manusia yang kerap mengabaikan kebersihan lingkungan, dan tata kelola kesehatan di masyarakat yang belum optimal. Dengan kata lain, DBD bukan sekadar persoalan biologis dan siklus hidup nyamuk Aedes Aegypty, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan masih banyak hal lainnya. Menurut Balqis, dkk. (2023), pengelolaan sampah yang tidak baik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan perkembangbiakan vector penyebab DBD (Demam berdarah dengue).
Menurut Rizqa (2026), Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sampai dengan 14 April 2026, terdapat 30.465 kasus demam dengue di Indonesia dengan Incidence Rate (IR) sebanyak 10,6 per 100.000 penduduk. Pada periode yang sama tercatat 79 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,3 persen.
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban DBD yang tinggi di kawasan Asia Tenggara. Lonjakan kasus yang terjadi dari tahun ke tahun bukan hanya dipengaruhi oleh faktor iklim tropis, tetapi juga oleh meningkatnya mobilitas penduduk, kepadatan hunian, serta buruknya pengelolaan lingkungan. Kombinasi faktor ini menciptakan habitat ideal bagi berkembangnya vektor penyakit. Namun, yang lebih problematik adalah stagnasi pendekatan pengendalian yang masih bertumpu pada intervensi teknis semata.
Program seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, pembentukan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), hingga Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) sebenarnya telah dirancang dengan kerangka pemberdayaan masyarakat yang partisipatif. Tetapi dalam praktik implementasinya, program-program ini kerap kehilangan ruh partisipatifnya, masih banyak masyarakat yang menganggap remeh temeh dan mencibir program-program tersebut.
Masyarakat lebih sering diposisikan sebagai objek pelaksana program, bukan subjek yang memiliki kesadaran dan kendali atas lingkungannya sendiri. Edukasi yang dilakukan cenderung bersifat satu arah, meski sudah ada upaya yang mengarah pada mengubah perilaku secara berkelanjutan. Partisipasi masyarakat yang terbentuk kerap masih bersifat semu, aktif saat ada intervensi dan kasus naik, tetapi menjadi pasif kembali ketika pengawasan mengendur dan kasus turun atau bahkan dalam periode waktu tertentu tidak terdapat kasus di suatu wilayah. Menurut Nasution, dkk (2023), Tujuannya pemberdayaan masyarakat adalah untuk memberdayakan masyarakat hingga mereka mampu mengekspresikan kebutuhan mereka, mengungkapkan keprihatinan mereka, mengatur strategi untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan mengatur kegiatan politik, sosial dan budaya untuk mencapainya.
Kondisi ini diperparah oleh preferensi masyarakat terhadap solusi instan. Fogging, misalnya, masih dianggap sebagai cara paling efektif untuk mengatasi DBD. Padahal, pendekatan ini hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyentuh fase jentik sebagai sumber utama masalah. Bahkan, penggunaan senyawa insektisida yang berulang berpotensi menimbulkan resistensi vektor. Ketergantungan masyarakat pada fogging perlu dilakukan upaya komunikasi risiko dan literasi kesehatan masyarakat yang berkesinambungan, dan tetap melibatkan masyarakat pada pemahaman pentingnya melakukan PSN sebagai upaya preventif peningkatan kasus DBD.
Masalah mendasar ini perlu diterjemahkan dan diimplementasikan melalui transformasi pengetahuan dengan memperbanyak praktik di masyarakat. Banyak individu memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan ini menegaskan bahwa strategi edukasi perlu menyasar dan harus dapat menyentuh serta membangun nurani yang berkorelasi dengan dimensi psikologis, sosial, dan dekat dengan budaya masyarakat setempat.
Di sisi lain, terdapat pelajaran berharga dari berbagai inovasi lokal yang justru lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku. Salah satu contoh yang pernah diusulkan penulis pada sebuah kelompok masyarakat adalah penggunaan kalung penanda rumah yang ditemukan positif jentik. Hal ini didasari pada kerap terlalu banyak program-program di negara kita yang menempelkan stiker pada kaca depan ruang tamu warga, atau di tembok-tembok depan rumah, yang dapat mengurangi estetika dan dapat membuat kaca penuh stiker dan tembok menjadi kotor. Pendekatan ini sederhana, tetapi memiliki kekuatan sosial yang besar, seperti menciptakan tekanan sosial, membangun rasa tanggung jawab kolektif, serta memicu kompetisi sehat antarwarga untuk menjaga lingkungannya tetap bersih.
Namun tentu bukan tanpa kekurangan, dengan konsep ini dapat memicu konflik dengan sikap tidak menerima warga dengan ditandai kalung penanda rumah terdapat jentik nyamuk. Namun sebenarnya kondisi ini dapat dicarikan solusi dengan musyawarah dan kesepakatan warga. Sehingga, jika didapati rumah positif jentik nyamuk, maka tujuannya adalah mendorong semua penghuni rumah agar melakukan giat PSN lebih ditingkatkan kembali. Kemudian ketika dilakukan Pemantauan Jentik Berkala (PJB), oleh kader dan petugas kesehatan tidak ditemui jentik-jentik nyamuk, kalung penanda rumah rumah positif jentik tersebut akan ditarik lagi oleh kader.
Contoh inovasi tulisan dalam kalung penanda rumah positif jentik nyamuk.
Pendekatan seperti tersebut diatas bekerja karena menyasar aspek yang sering diabaikan dalam program kesehatan yakni norma sosial. Perubahan perilaku tidak selalu lahir dari pengetahuan, tetapi sering kali dipicu oleh dorongan sosial, inovasi dari masyarakat, pengaruh budaya, dan psikologis. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai kebersamaan, strategi berbasis komunitas memiliki potensi yang jauh lebih besar dibanding pendekatan bersifat top-down.
Sayangnya, inovasi berbasis komunitas seperti ini sering kali tidak terintegrasi dalam kebijakan yang lebih luas. Perlu kiranya kita juga menghargai pendekatan solusi kontekstual yang lahir dari masyarakat untuk semakin melengkapi pendekatan teknokratis yang bersifat top-down. Keberhasilan pengendalian DBD tidak dapat dipungkiri dapat bergantung pada kemampuan menggabungkan pendekatan ilmiah dengan kearifan lokal.
Selain itu, ada dimensi lain yang kerap terabaikan, yaitu aspek gender. Dalam praktiknya, perempuan sering menjadi aktor utama dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah tangga, termasuk dalam upaya pencegahan DBD. Namun, peran ini jarang diakomodasi secara strategis dalam kebijakan. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat belum sepenuhnya inklusif dan sensitif terhadap realitas sosial.
Ke depan, pendekatan pengendalian DBD harus mengalami pergeseran paradigma. Dari yang semula berorientasi pada respons jangka pendek menjadi strategi preventif berbasis sistem. Artinya, intervensi tidak hanya difokuskan pada pemberantasan nyamuk, tetapi juga pada pembangunan kesadaran kolektif, penguatan kapasitas masyarakat, dan penciptaan lingkungan yang mendukung perilaku sehat.
Pemerintah tidak bisa lagi menjadi aktor tunggal dalam upaya ini. Peran masyarakat perlu terus diperkuat bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi sebagai pengambil keputusan di tingkat lokal. Kader kesehatan, tokoh masyarakat, forum kesehatan desa/kelurahan, dan institusi pendidikan perlu diberdayakan sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani antara kebijakan dan praktik di lapangan.
Lebih dari itu, pengendalian DBD harus dipandang sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan. Masalah ini tidak bisa dipisahkan dari isu sanitasi, tata ruang, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial. Tanpa pendekatan lintas sektor yang terintegrasi, upaya yang dilakukan akan selalu bersifat parsial dan tidak berkelanjutan.
Pada akhirnya, DBD bukan sekadar penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Ia adalah cermin dari bagaimana kita mengelola lingkungan, membangun kesadaran publik, dan mendefinisikan peran masyarakat dalam kesehatan. Selama partisipasi publik masih bersifat simbolik, maka setiap musim hujan akan terus menghadirkan cerita yang sama tentang peningkatan kasus DBD, respons darurat, dan paradigma meminta fogging yang berulang. Sudah saatnya kita berhenti melihat DBD sebagai masalah teknis semata. Yang kita hadapi sesungguhnya adalah krisis partisipasi publik. Dan tanpa perbaikan di titik ini, upaya pengendalian apa pun hanya akan menjadi rutinitas yang berulang tanpa pernah benar-benar menyelesaikan masalah.
Septiono Bangun Sugiharto. Berasal dari Purbalingga. Tinggal di Desa Babakan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Saat ini bekerja sebagai pendidik pada salah satu PTN di Kota Purwokerto. Pernah menjadi tenaga Promotor Kesehatan salah satu Puskesmas di Purbalingga. Tergabung dalam IPAB (Ikatan Penulis Aktif Banyumas Raya). Korespondensi dapat dilakukan via email [email protected].
Referensi: Balqis, Naziratul; Elmiyati; dan Salami. 2023. HUBUNGAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN KEJADIAN DBD (DEMAM BERDARAH DENGUE) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEULINGKE. Jurnal Sains Riset Volume | 13, Nomor 2, September 2023. Nasution, Aldi Syahputra; Azzahra Ramadhana Nasution; Dwika Ardelya Pratiwi; Novi Andaresta; Salshabila Azzahra Sirait; Tiara Pakar Ningrum; Yendika Mailina Sari br Ginting; Nisrina. 2023. Upaya Peningkatan Perilaku Pencegahan DBD Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat. Alahyan Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin (ECOS-PRENEURS), Volume: 1 Nomor: 2 (Nopember: 2023) hal: 79-86. Diakses 4 Mei 2026 dari https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awr1TY6URPhpeQIAI8_LQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzcEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1779087765/RO=10/RU=https%3a%2f%2fjurnal.alahyansukabumi.com%2findex.php%2fecos-preneurs%2farticle%2fdownload%2f58%2f57/RK=2/RS=brkkfMgPm88bpGa_ZWHEyiMKarM- Rizqa, Annastasya. 2026. Waspada! Indonesia Urutan Kedua Kasus Kematian akibat Demam Dengue di Dunia. Diakses 4 Mei 2026 dari https://www.inews.id/news/nasional/waspada-indonesia-urutan-kedua-kasus-kematian-akibat-demam-dengue-di-dunia
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda