KOTA BATU, JurnalPost.com— September 2026 menjadi bulan yang cukup padat bagi atlet menembak muda Kota Batu, M. Azzam Kenzie Al Fawwaz. Dalam rentang waktu relatif singkat, ia mengikuti tiga kejuaraan di tiga lokasi berbeda dan menutup rangkaian tersebut dengan dua medali perak.
Hasil terbaru diraih Azzam pada kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Timur Surabaya Rising Champion yang berlangsung di Lapangan HSC Kodam V/Brawijaya, Surabaya, 26–27 September 2026.
Dalam ajang tersebut, Azzam meraih medali perak pada kelas Multi Range 41 meter putra.
Prestasi itu menjadi medali perak kedua yang diperolehnya dalam waktu berdekatan. Sepekan sebelumnya, pada 20–21 September 2026, siswa kelas XII B MAN 1 Kota Malang tersebut juga naik podium dalam kejuaraan menembak tingkat nasional Pangkorpasgat TNI AU 2026.
Bertanding di Lapangan Tembak Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Azzam meraih perak pada kelas Multi Range 41 meter junior putra.
Namun, rangkaian kompetisi Azzam sepanjang September tidak selalu berakhir dengan podium.
Sebelumnya, ia mengikuti kejuaraan tingkat nasional Piala Panglima TNI 2026 di Lapangan Tembak Divisi Infanteri 1 Kostrad, Cilodong. Pada kelas Multi Range 41 meter junior putra, Azzam membukukan skor 350 dan menempati peringkat kelima.
Hasil tersebut tidak menghentikan langkahnya. Dari Cilodong, Azzam kembali mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya di Malang sebelum kemudian turun lagi di Surabaya.
Dua pertandingan setelah Piala Panglima TNI itu sama-sama berakhir dengan medali perak.

Tiga Kompetisi dalam Waktu Berdekatan
Mengikuti tiga pertandingan dalam rentang sekitar 10 hari menjadi tantangan tersendiri bagi seorang atlet muda.
Selain harus menjaga kondisi fisik, perpindahan arena dari Cilodong, Malang hingga Surabaya membuat setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi teknik dan konsistensi.
Azzam saat ini berada di bawah pembinaan Poltekad Shooting Club (PSC) Batu yang diketuai Kapten Cpl. Dr. Bambang Ragil W., S.Sos., M.M.
Dalam proses latihannya, Azzam juga mendapatkan pendampingan langsung dari ayahnya, Peltu Ir. Heri Setiawan, S.T., M.Tr.T., anggota TNI AD yang berdinas di Politeknik Angkatan Darat (Poltekad).
Di lapangan latihan, hubungan ayah dan anak berubah menjadi hubungan pelatih dan atlet. Evaluasi mengenai teknik menembak, pengaturan konsentrasi hingga kesiapan menghadapi pertandingan menjadi bagian dari latihan yang dijalaninya.
Saat ini, Azzam juga mengikuti Puslat PORPROV Kota Batu.
Berbagai kompetisi yang diikutinya tidak hanya menjadi kesempatan mengejar medali, tetapi juga menambah jam terbang dan mengukur kemampuan ketika berhadapan dengan petembak dari berbagai daerah.
PORPROV menjadi salah satu sasaran terdekat Azzam. Dalam jangka panjang, ia memiliki keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan hingga memperoleh kesempatan memperkuat Jawa Timur di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Selain Menembak, Azzam Aktif Menulis
Aktivitas Azzam tidak hanya berlangsung di lapangan tembak. Di tengah kesibukannya sebagai atlet dan pelajar, ia juga memiliki ketertarikan terhadap dunia menulis.
Baru-baru ini, Azzam mengikuti Lomba Menulis Artikel Keagamaan Antikorupsi yang diselenggarakan Kementerian Agama Kota Malang.
Karyanya masuk dalam 15 tulisan tingkat Madrasah Aliyah yang terpilih dari 19 naskah untuk diterbitkan dalam buku antologi artikel keagamaan antikorupsi.
Dalam versi yang dipublikasikan Kementerian Agama Kota Malang, karya Azzam tercatat berjudul “Ironi Ranking: Jujur Bodoh, Curang Juara”.
Pihak Kementerian Agama menjelaskan bahwa sejumlah judul naskah dapat mengalami penyesuaian dalam proses penyuntingan tanpa mengubah substansi maupun kepemilikan karya.
Menariknya, pengalaman Azzam sebagai atlet turut mewarnai gagasan yang dituangkan dalam tulisannya.
Ia menggambarkan bagaimana aktivitas sebagai pelajar berjalan berdampingan dengan rutinitas latihan menembak. Olahraga tersebut juga digunakannya sebagai analogi mengenai kemampuan mengendalikan diri.
Di arena pertandingan, seorang petembak tidak dapat mengendalikan cara lawan membidik ataupun perubahan kondisi angin. Hal yang dapat dikendalikan adalah fokus, pengaturan napas, serta gerakan tangannya sendiri.
Pengalaman itu membuat Azzam melihat bahwa proses memiliki arti yang tidak kalah penting dibandingkan hasil akhir.
Dalam tulisannya, ia mengangkat gagasan bahwa kalah dalam angka tidak selalu berarti kalah dalam nilai.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan pengalamannya dalam menembak. Sebelum kembali rutin naik podium, Azzam pernah melewati periode sekitar satu tahun tanpa meraih medali.
Masa tersebut menjadi bagian dari proses yang membuatnya belajar mengenai kesabaran dan konsistensi, bukan sekadar bagaimana mengenai sasaran.
September 2026 kemudian menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kompetisinya.
Dimulai dari peringkat kelima dengan skor 350 di Cilodong, Azzam melanjutkan kompetisi dengan meraih dua medali perak secara beruntun di Malang dan Surabaya.
Perjalanan atlet muda Kota Batu itu masih panjang. Selain mempersiapkan diri menuju PORPROV, Azzam terus mengejar peningkatan performa dengan harapan suatu saat dapat membawa nama Jawa Timur di tingkat yang lebih tinggi.
Sementara ketika tidak berada di depan sasaran tembak, ia memiliki ruang lain untuk menuangkan pengalaman dan pemikirannya: melalui tulisan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda