Ditulis Oleh: Atef Fahrudin
JurnalPost.com - Bagi sebagian orang, memancing bukan sekadar kegiatan menangkap ikan. Ada yang menjadikannya hobi, cara melepas penat, bahkan kesempatan berkumpul bersama teman. Persoalannya, rencana memancing kadang tidak berhenti pada urusan memilih joran, umpan, atau lokasi. Ada satu tahap yang tidak kalah menentukan: menyampaikannya kepada istri.
Di sinilah komunikasi menjadi penting. Pergi memancing mungkin terdengar sederhana bagi suami, tetapi bagi istri, keputusan tersebut bisa berkaitan dengan pembagian waktu, pekerjaan rumah, agenda keluarga, pengasuhan anak, bahkan rencana yang sebelumnya sudah disepakati. Karena itu, komunikasi sebaiknya tidak dimulai dengan kalimat, “Aku besok mancing, ya,” seolah keputusan sudah dibuat sepihak.
Sebuah penelitian Lavner, Karney, dan Bradbury yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family mengamati komunikasi pasangan pengantin baru dalam empat kali pengukuran dengan jarak sekitar sembilan bulan. Salah satu temuannya menunjukkan bahwa pasangan yang lebih puas dengan hubungan mereka cenderung memperlihatkan komunikasi yang lebih positif, lebih sedikit komunikasi negatif, dan komunikasi yang lebih efektif.
Artinya, cara menyampaikan keinginan juga penting. Langkah pertama sebelum pergi memancing adalah memilih waktu berbicara yang tepat. Jangan membicarakan rencana ketika istri sedang terburu-buru, kelelahan, atau menyelesaikan banyak pekerjaan. Sampaikan ketika keduanya memiliki ruang untuk berbicara dan mendengarkan.
Kedua, jelaskan rencana dengan terbuka. Katakan kapan akan pergi, bersama siapa, ke mana, dan kira-kira kapan pulang. Kalimat, “Sabtu aku mau mancing sama teman-teman, berangkat jam lima pagi dan kemungkinan pulang sebelum magrib,” tentu lebih mudah dipertimbangkan daripada sekadar, “Besok aku mancing, ya.” Kejelasan membuat pasangan memahami konsekuensi waktu dari kegiatan tersebut.
Ketiga, tanyakan juga agenda istri dan keluarga. Bisa jadi pada hari yang sama ada kebutuhan rumah tangga, acara keluarga, anak yang perlu ditemani, atau justru istri mempunyai rencana sendiri. Misalnya, bila suami pergi sejak pagi, siapa yang akan mengantar anak, berbelanja kebutuhan rumah, atau menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dilakukan bersama? Membicarakan hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa memancing tidak dijadikan alasan untuk melepaskan tanggung jawab.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian Johnson dan kolega mengenai komunikasi dan kepuasan pasangan. Dalam tiga studi longitudinal, salah satu temuan yang paling konsisten adalah bahwa ketika komunikasi negatif pasangan lebih rendah daripada biasanya, pada saat yang sama kepuasan hubungan mereka juga cenderung lebih tinggi.
Keempat, bersedia bernegosiasi. Jika Sabtu tidak memungkinkan, mungkin Minggu bisa. Jika memancing seharian dianggap terlalu lama, durasinya dapat dipersingkat. Jangan menjadikan persetujuan istri sebagai pertandingan yang harus dimenangkan. Tujuannya bukan membuat pasangan “kalah argumen”, tetapi mencari pilihan yang dapat diterima bersama.
Pentingnya kemampuan berkomunikasi juga didukung oleh Penelitian Javadivala dan kolega. Penelitian tersebut menelaah program pendidikan hubungan dan pernikahan, termasuk pelatihan keterampilan komunikasi, dan menemukan manfaat terhadap komunikasi serta kepuasan pasangan.
Terakhir, jangan melupakan prinsip timbal balik. Jika suami membutuhkan waktu untuk memancing, istri pun selayaknya memiliki kesempatan menikmati kegiatan yang disukainya. Dukungan terhadap hobi jangan berjalan satu arah. Memberikan ruang kepada pasangan menunjukkan bahwa waktu pribadi bukan hak salah satu pihak saja.
Pada akhirnya, bisa pergi memancing bukan soal menemukan “kalimat sakti” agar istri memberikan izin. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berkomunikasi secara terbuka, jelas, dan saling menghargai. Sebab ikan boleh saja lepas dari kail, tetapi jangan sampai komunikasi dengan pasangan ikut lepas hanya karena ingin pergi memancing.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda