رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا
“Aku ridha Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku. Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pemahaman yang baik.”
Kalimat di atas adalah doa yang biasa dibaca sebelum pembelajaran dimulai. Berdoa sebelum pembelajaran dimulai seharusnya menjadi momen sakral dan penuh makna. Namun, banyak peserta didik yang melakukannya hanya sekadar formalitas. Seringkali doa dilakukan dengan terburu-buru tanpa memperhatikan kaidah bacaan, menghayati makna, dan bahkan adab berdoa yang seharusnya diindahkan, seringkali diabaikan. Hal ini menunjukkan bahwa doa hanya dianggap sebagai rutinitas wajib sebelum belajar tanpa memahami secara mendalam terkait esensinya. Selain itu, hal ini mencerminkan bahwa terdapat kelemahan pada proses pembelajaran di Indonesia. Jika dari awal kondisi ruhani peserta didik belum siap, bagaimana mereka bisa benar-benar menerima materi pelajaran yang diberikan? Kita perlu memahami bahwa setiap peserta didik memiliki kondisi hati yang berbeda-beda saat datang ke sekolah. Mereka datang ke sekolah membawa banyak masalah yang berkaitan dengan keluarga, teman, guru, ataupun diri sendiri sehingga memerlukan pendamaian jiwa agar siap menerima materi pembelajaran. Disinilah peran guru sebagai pendidik sangat krusial, yaitu bagaimana membawa kondisi hati peserta didik menuju ketenangan dan kenyamanan melalui berdoa sehingga dapat membangun suasana belajar yang fokus. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”.
Doa adalah pintu pembuka sebelum melakukan sesuatu, artinya doa dapat menjadi indikator kesiapan peserta didik sebelum belajar. Doa dapat mengarahkan pikiran dan hati peserta didik pada ketenangan dan keseriusan dalam belajar. Doa sebelum belajar bukan sekadar bacaan yang dilafalkan dengan lisan, melainkan perlu diresapi dalam hati. Dalam doa, terdapat niat dan harapan penuh kepada Allah SWT agar proses menuntut ilmu bernilai ibadah. Lebih lanjut, doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh makna dapat menjadi salah satu langkah awal peserta didik dalam meraih tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa. Jiwa yang tenang dan bersih akan membantu peserta didik dalam memahami dan mengamalkan ilmu.
Pada prinsipnya, tazkiyatun nafs atau penyujian jiwa sangat bermakna bagi kehidupan manusia. Menurut al-Razi dalam Tafsir al-Kabir, tazkiyatun nafs berfungsi sebagai penguatan motivasi seseorang dalam beramal solih. Lebih lanjut, Ibnul Qayyim al-Zaujiyah melakukan tazkiyatun nafs, salah satunya dengan berdoa karena bila seseorang ingin membersihkan jiwanya, maka setidaknya harus bertaubat dengan memohon ampunan kepada Allah SWT dan berdoa untuk diberikan keistiqomahan. Bila kita lihat sejarah, para ulama Islam seperti Imam Asy-Syafii dan Imam al-Ghazali juga menggunakan metode tazkiyatun nafs dalam menuntut ilmu. Dengan demikian, tazkiyatun nafs dengan doa sangatlah berkaitan erat.
Tazkiyatun nafs dapat dilakukan oleh guru dan peserta didik dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan di kelas, diantaranya berdoa sebelum pembelajaran, membaca al-Quran, membaca asmaul husna, bersalawat, riyadhah, dan mujahadah an-nafs. Dampak dari pelaksanaan ini dapat menjadikan peserta didik sebagai manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia di setiap lini kehidupan. Sebaliknya, jiwa dan hati yang penuh dengan kemaksiatan akan berpengaruh terhadap pemahaman dan perilakunya secara negatif. Kondisi yang tidak diharapkan ini bukan sepenuhnya kesalahan peserta didik, melainkan karena kelemahan sistem pembelajaran di kelas. Seringkali saat melihat peserta didik tidak serius ketika berdoa, guru hanya menegur tanpa melihat lebih jauh dampak buruk dibaliknya, yaitu kegagalan peserta didik dalam memahami niat belajar. Lebih lanjut, seringkali didapati guru sedang bermain ponsel, mengobrol, ataupun meninggalkan peserta didik di kelas ketika aktivitas doa berlangsung. Padahal, guru berperan penting dalam menjadikan aktivitas berdoa sebagai sesuatu hal yang khidmat dan bermakna.
Kegiatan sederhana seperti membimbing peserta didik berdoa dengan benar dan penuh kesadaran ini dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi jiwa dan hati peserta didik. Bagaimana tidak? Guru sebagai pengarah pembelajaran di kelas dapat membangun aktivitas doa sebagai sesuatu yang bermakna dan khidmat sehingga dapat membawa peserta didik menuju gerbang tazkiyatun nafs. Terlihat sebagai pekerjaan sederhana tetapi kenyataannya sangat mulia. Seharusnya setiap guru mempraktikkan hal ini dengan melakukan beberapa tahapan, meliputi tahap sebelum, saat, dan setelah pembelajaran.
Pertama, sebelum aktivitas doa dimulai, guru dapat memfasilitasi kepada masing-masing peserta didik berupa kertas bacaan doa yang terdiri dari tulisan Arab, terjemahan, dan maknanya. Khusus bagi peserta didik yang belum lancar membaca huruf hijaiyyah, guru dapat menambahkan tulisan latin di dalamnya. Guru dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya membaca doa dengan khidmat dan menjelaskan keutamaan berdoa, salah satunya Allah SWT pasti mendengar doa-doa hambanya sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Ghafir ayat 60, “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”.
Kedua, saat aktivitas doa berlangsung, guru dapat mencontohkan lalu memerintahkan peserta didik untuk mengikuti bacaan. Kemudian guru melakukan evaluasi dengan mengoreksi bacaan peserta didik mulai dari tajwid, adab, dan maknanya secara tegas dengan memberikan reward dan punishment. Hal ini bisa dilakukan di masa orientasi peserta didik sebagai pengenalan lingkungan belajar. Jika dilakukan secara istiqomah, peserta didik dengan sendirinya akan mampu melafalkan sendiri tanpa dicontohkan kembali oleh guru.
Ketiga, setelah aktivitas doa selesai, guru dan peserta didik secara aktif melakukan refleksi atau mujahadah mengenai makna bacaan doa. Dengan pendampingan seperti ini, secara langsung guru sedang menanamkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada peserta didik dan secara tidak langsung guru sedang membangun tazkiyatun nafs dalam diri peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan berada pada kondisi sadar sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan khidmat dan sungguh-sungguh. Inilah yang seharusnya diupayakan oleh guru, yaitu menjadikan doa sebagai alat untuk meraih tazkiyatun nafs, bukan sekadar formalitas.
Oleh: Fadhilah Sukmawati Tanjung, Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Pendidikan Indonesia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda