Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Berdoa Sebelum dan Sesudah Pembelajaran: Kesadaran Atau Sekadar Formalitas

Berdoa Sebelum dan Sesudah Pembelajaran: Kesadaran Atau Sekadar Formalitas

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
02 November 2024, 13.25 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
02 Nov 2024, 13.25 WITA · 6 menit baca
6 menit baca
Berdoa Sebelum dan Sesudah Pembelajaran: Kesadaran Atau Sekadar Formalitas
Ilustrasi Gadis kecil yang sedang berdoa, foto by Bing Image Creator

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا

“Aku ridha Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku. Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pemahaman yang baik.”

IKLAN

Kalimat di atas adalah doa yang biasa dibaca sebelum pembelajaran dimulai. Berdoa sebelum pembelajaran dimulai seharusnya menjadi momen sakral dan penuh makna. Namun, banyak peserta didik yang melakukannya hanya sekadar formalitas. Seringkali doa dilakukan dengan terburu-buru tanpa memperhatikan kaidah bacaan, menghayati makna, dan bahkan adab berdoa yang seharusnya diindahkan, seringkali diabaikan. Hal ini menunjukkan bahwa doa hanya dianggap sebagai rutinitas wajib sebelum belajar tanpa memahami secara mendalam terkait esensinya. Selain itu, hal ini mencerminkan bahwa terdapat kelemahan pada proses pembelajaran di Indonesia. Jika dari awal kondisi ruhani peserta didik belum siap, bagaimana mereka bisa benar-benar menerima materi pelajaran yang diberikan? Kita perlu memahami bahwa setiap peserta didik memiliki kondisi hati yang berbeda-beda saat datang ke sekolah. Mereka datang ke sekolah membawa banyak masalah yang berkaitan dengan keluarga, teman, guru, ataupun diri sendiri sehingga memerlukan pendamaian jiwa agar siap menerima materi pembelajaran. Disinilah peran guru sebagai pendidik sangat krusial, yaitu bagaimana membawa kondisi hati peserta didik menuju ketenangan dan kenyamanan melalui berdoa sehingga dapat membangun suasana belajar yang fokus. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”.

Menjaga Harapan
Baca Juga

Menyelamatkan Satu Kehidupan, Menyalakan Sejuta Harapan: Memaknai Pengabdian Kemanusiaan

Doa adalah pintu pembuka sebelum melakukan sesuatu, artinya doa dapat menjadi indikator kesiapan peserta didik sebelum belajar. Doa dapat mengarahkan pikiran dan hati peserta didik pada ketenangan dan keseriusan dalam belajar. Doa sebelum belajar bukan sekadar bacaan yang dilafalkan dengan lisan, melainkan perlu diresapi dalam hati. Dalam doa, terdapat niat dan harapan penuh kepada Allah SWT agar proses menuntut ilmu bernilai ibadah. Lebih lanjut, doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh makna dapat menjadi salah satu langkah awal peserta didik dalam meraih tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa. Jiwa yang tenang dan bersih akan membantu peserta didik dalam memahami dan mengamalkan ilmu.

Pada prinsipnya, tazkiyatun nafs atau penyujian jiwa sangat bermakna bagi kehidupan manusia. Menurut al-Razi dalam Tafsir al-Kabir, tazkiyatun nafs berfungsi sebagai penguatan motivasi seseorang dalam beramal solih. Lebih lanjut, Ibnul Qayyim al-Zaujiyah melakukan tazkiyatun nafs, salah satunya dengan berdoa karena bila seseorang ingin membersihkan jiwanya, maka setidaknya harus bertaubat dengan memohon ampunan kepada Allah SWT dan berdoa untuk diberikan keistiqomahan. Bila kita lihat sejarah, para ulama Islam seperti Imam Asy-Syafii dan Imam al-Ghazali juga menggunakan metode tazkiyatun nafs dalam menuntut ilmu. Dengan demikian, tazkiyatun nafs dengan doa sangatlah berkaitan erat.

IKLAN

Tazkiyatun nafs dapat dilakukan oleh guru dan peserta didik dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan di kelas, diantaranya berdoa sebelum pembelajaran, membaca al-Quran, membaca asmaul husna, bersalawat, riyadhah, dan mujahadah an-nafs. Dampak dari pelaksanaan ini dapat menjadikan peserta didik sebagai manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia di setiap lini kehidupan. Sebaliknya, jiwa dan hati yang penuh dengan kemaksiatan akan berpengaruh terhadap pemahaman dan perilakunya secara negatif. Kondisi yang tidak diharapkan ini bukan sepenuhnya kesalahan peserta didik, melainkan karena kelemahan sistem pembelajaran di kelas. Seringkali saat melihat peserta didik tidak serius ketika berdoa, guru hanya menegur tanpa melihat lebih jauh dampak buruk dibaliknya, yaitu kegagalan peserta didik dalam memahami niat belajar. Lebih lanjut, seringkali didapati guru sedang bermain ponsel, mengobrol, ataupun meninggalkan peserta didik di kelas ketika aktivitas doa berlangsung. Padahal, guru berperan penting dalam menjadikan aktivitas berdoa sebagai sesuatu hal yang khidmat dan bermakna.

Kegiatan sederhana seperti membimbing peserta didik berdoa dengan benar dan penuh kesadaran ini dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi jiwa dan hati peserta didik. Bagaimana tidak? Guru sebagai pengarah pembelajaran di kelas dapat membangun aktivitas doa sebagai sesuatu yang bermakna dan khidmat sehingga dapat membawa peserta didik menuju gerbang tazkiyatun nafs. Terlihat sebagai pekerjaan sederhana tetapi kenyataannya sangat mulia. Seharusnya setiap guru mempraktikkan hal ini dengan melakukan beberapa tahapan, meliputi tahap sebelum, saat, dan setelah pembelajaran.

Ali Amril
Baca Juga

Mengokohkan Seni dan Budaya sebagai Bahasa Kemanusiaan Universal untuk Membangun Solidaritas Dunia

Pertama, sebelum aktivitas doa dimulai, guru dapat memfasilitasi kepada masing-masing peserta didik berupa kertas bacaan doa yang terdiri dari tulisan Arab, terjemahan, dan maknanya. Khusus bagi peserta didik yang belum lancar membaca huruf hijaiyyah, guru dapat menambahkan tulisan latin di dalamnya. Guru dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya membaca doa dengan khidmat dan menjelaskan keutamaan berdoa, salah satunya Allah SWT pasti mendengar doa-doa hambanya sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Ghafir ayat 60, “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”.

Kedua, saat aktivitas doa berlangsung, guru dapat mencontohkan lalu memerintahkan peserta didik untuk mengikuti bacaan. Kemudian guru melakukan evaluasi dengan mengoreksi bacaan peserta didik mulai dari tajwid, adab, dan maknanya secara tegas dengan memberikan reward dan punishment. Hal ini bisa dilakukan di masa orientasi peserta didik sebagai pengenalan lingkungan belajar. Jika dilakukan secara istiqomah, peserta didik dengan sendirinya akan mampu melafalkan sendiri tanpa dicontohkan kembali oleh guru.

Ketiga, setelah aktivitas doa selesai, guru dan peserta didik secara aktif melakukan refleksi atau mujahadah mengenai makna bacaan doa. Dengan pendampingan seperti ini, secara langsung guru sedang menanamkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada peserta didik dan secara tidak langsung guru sedang membangun tazkiyatun nafs dalam diri peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan berada pada kondisi sadar sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan khidmat dan sungguh-sungguh. Inilah yang seharusnya diupayakan oleh guru, yaitu menjadikan doa sebagai alat untuk meraih tazkiyatun nafs, bukan sekadar formalitas.

Oleh: Fadhilah Sukmawati Tanjung, Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Pendidikan Indonesia.

Student Organization Finance Meeting
Baca Juga

Mengapa Transparansi Dana Penting bagi Organisasi Mahasiswa?

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/berdoa-sebelum-dan-sesudah-pembelajaran-kesadaran-atau-sekadar-formalitas/73844/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026, 09.17 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Merawat Payung Enam Warna: Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman Batak

MBG dan Tanggung Jawab Negara: Keselamatan Anak Tidak Bisa Ditawar

Menatap Masa Depan Digital: Ketika Teknologi AI Hadir di Waduk Jatiluhur

Dari Watchdog menjadi Trusted Advisor: Peran Baru Inspektorat Daerah sebagai APIP dalam Mengawal Kebijakan dan Tata Kelola Daerah

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Relawan SIBAT dari Tujuh Desa di Sukabumi Uji Coba WargaSiaga untuk Belajar Kesiapsiagaan Bencana

Beli Elektronik di Bojonegoro Kini Lebih Praktis, Nasabah BRI Tak Perlu Bawa Uang Tunai Berkat QRIS

80 Mahasiswa UNTAG Surabaya dan UPN Veteran Yogyakarta Ikuti Pelatihan Migas di Cepu

Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

Pilihan Editor

  1. 1 Praktik Orang Dalam dalam Rekrutmen Organisasi Mahasiswa: Ancaman terhadap Objektivitas dan Integritas
  2. 2

    Peneliti FMIPA Universitas Negeri Malang Ungkap 4.126 Varian Bakteri Usus Katak Sawah di Kawasan Pertanian

  3. 3

    Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

  4. 4

    Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  5. 5

    Praktik “Orang Dalam”: 4 Langkah Mencegah Ketidakadilan dalam Rekrutmen Organisasi Mahasiswa

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.