JurnalPost.com - Batusangkar merupakan ibukota Kabupaten Tanah Datar yang terletak di Provinsi Sumatera Barat. Daerah ini berjarak sekitar 100 km dari Kota Padang dan dapat ditempuh dengan tiga jam berkendara. Uniknya Batusangkar terletak pada tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Lima Kaum, Kecamatan Tanjung Emas, dan Kecamatan Sungai Tarab. Sedangkan pusat pemerintahan berada di Kecamatan Tanjung Emas atau tepatnya di Nagari Pagaruyung.
Batusangkar memiliki keindahan alam yang memukau. Salah satu daya tarik alamnya adalah Danau Singkarak, yang terletak sekitar 15 kilometer dari kota. Danau ini adalah danau terbesar kedua di Sumatera Barat dan menawarkan pemandangan yang mempesona serta berbagai kegiatan seperti perahu dayung dan memancing. Wisatawan juga dapat menikmati panorama pegunungan yang hijau dan udara segar yang menyegarkan.
Sesuai dengan julukannya sebagai Kota Budaya, Batusangkar menjadi ikon wisata budaya di Sumatera Barat serta memiliki banyak budaya dan sejarah adat Minangkabau. Beberapa alasan mengapa Batusangkar disebut sebagai Kota Budaya diantaranya :
1. Peninggalan Istana Basa Pagaruyung Istana Pagaruyung merupakan salah satu istana kerajaan yang masih dapat kita lihat dan kunjungi Istana Pagaruyung menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang berlokasi di Jalan Sutan Alam Bagagarsyah, Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar.
Istana Basa Pagaruyung (Wikimedia Commons)
Dahulunya istana ini merupakan pusat kerajaan Pagaruyung dan tempat berdiamnya para raja-raja Minangkabau. Kerajaan ini diyakini berdiri pada tahun 1347 dengan raja pertamanya beranama Adityawarman. Hingga saat ini Istana Basa Pagaruyung melahirkan sejarah hebat bagi masyarakat Minangkabau, dimana dari pusat kerajaan ini berkembanglah budaya, hukum adat, dan sebagainya. Istana Basa Pagaruyung saat ini merupakan replika dari istana yang dulunya mengalami beberapa kebakaran, yakni pada tahun 1804, 1966, dan 2007. Istana Basa Pagaruyung juga telah beralih fungsi menjadi museum, pusat acara adat, dan pusat atraksi wisata di Batusangkar.
2. Pacu Jawi Pacu Jawi merupakan tradisi balapan sapi khas Minangkabau. Biasanya waktu pelaksanaan pacu jawi setelah panen, dan diadakan sebagai bentuk rasa syukur atas panen padi yang melimpah. Atraksi ini cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga mancanegara.
Pacu Jawi (Dinas Pariwisata)
Pacu Jawi hanya dilakukan di empat kecamatan ini, yakni Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Limo Kaum, dan Kecamatan Sungai Tarab. Filosofi dari pacu jawi sendiri adalah menggambarkan antara rakyat dengan pemimpin yang berjalan bersama.
Kegiatan pacu jawi selalu ditunggu oleh masyarakat setempat, sehingga ketika acaranya selalu diadakan dengan meriah. Tradisi pacu jawi dipadukan dengan tradisi arak-arakan pembawa dulang atau jamba yang berisi makanan. Jawi (sapi) yang akan bertanding juga didandani seperti diberikan pakaian, suntiang, dan sebagainya. Selain itu, tetua adat juga memainkan alat musik tradisional minangkabau, yaitu talempong untuk turut memeriahkan acara.
3. Balairung Sari
Balairung Sari (Kemendikbud)
Balairung Sari merupakan salah satu tempat yang masuk dalam daftar cagar budaya di Sumatera Barat. Balairung Sari adalah balai adat yang terbuat dari kayu dengan atap dari ijuk dengan enam gonjong dan lantai panggung. Sebagai balai adat, Balairung Sari didesain mempunyai atap tanpa dinding atau pun jendela tempat untuk melangsungkan pertemuan untuk berunding atau menyelesaikan suatu perkara dan lainnya.
4. Banyaknya Festival Budaya Pemerintah Kabupaten Tanah Datar sangat memandang bahwa budaya yang ada di Batusangkar ini memang memiliki nilai bagi masyarakat banyak, sehingga dapat menjadi peluang wisata. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, diadakan berbagai macam acara yang mengangkat budaya anak negeri. Pada tahun 2022 diadakan “Satu Nagari Satu Event”. Dimana dalam acara ini setiap Nagari yang ada di Kabupaten Tanah Datar akan menampilkan acara kebudayaan dengan meriah.
Calendar Event Tanah Datar (Instagram : @pesona.tanahdatar)
Di tahun 2023, Kabupaten Tanah Datar juga membuat kalender event yang setiap bulannya ada festival atau acara adat. Contohnya Pacu Jawi Sungai Tarab, Talago Kamba Festival, Pesona 1000 Baju Milik Nagari Padang Magek, Festival Sumoah Sati Bukit Marapalam, dan event-event lainnya. Dengan adanya festival ini maka tidak hanya budaya Minangkabau yang di naikkan, tetapi ekonomi dan pariwisata juga meningkat.
Oleh: Redho Prima Nanda
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda