JURNALPOST - Sering sekali kita mendengar istilah self-harming atau self-harm. Anggapan beberapa orang bahwa self-harm itu hanya tindakan mencari perhatian atau bahkan tanda seseorang itu tidak baik yang jauh dari Tuhan dan Agama. Sebenarnya apakah arti self-harm itu sendiri? dan mengapa seseorang dapat melakukan self-harm?
Self-harm atau self-harming adalah perilaku melukai atau menyakiti diri sendiri secara sadar dengan tujuan menjadikannya sebagai pelarian dari rasa sakit tak terwujud. Tindakan ini bisa berupa sayatan pada bagian tubuh, luka bakar yang disengaja, ataupun memukul diri sendiri dengan sengaja. Self-harm sendiri digolongkan kepada self-injury dan self-poisoning.
Tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa tindakan self-harm itu berarti ia tidak sayang kepada dirinya sendiri, atau bahkan mereka yang melakukan self-harm itu adalah orang yang tidak baik, hanya mencari perhatian, dan seseorang yang jauh dari Tuhan. Dari sekian banyaknya perspektif masyarakat di luar sana mengenai self-harm, dapatkah kita memahami alasan apa sebenarnya dibalik tindakan yang dilakukan korban?
Beberapa penelitian yang dilakukan pada remaja dengan rentang usia 15-19 tahun yang rentan melakukan self-harm, ditemukan sejumlah alasan remaja tersebut melakukan self-harm. Berikut alasan utama kebanyakan dari mereka melakukan self-harm:
1. Adanya perasaan negatif yang membuat mereka cenderung menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan perasaan positif.
Perasaan negatif ini bisa saja ditimbulkan dari berbagai hal, seperti kehilangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, dirundung oleh teman di sekolah, atau bahkan menjadi korban kekerasan baik secara fisik, psikologis, maupun seksual. Untuk menimpali perasaan perasaan sulit inilah akhirnya mereka memilih menyakiti diri sendiri.
2. Ketergantungan mental dan fisik terhadap menyakiti diri sendiri.
Seseorang yang pernah melakukan self-harm dapat menjadi adiktif sehingga menyakiti diri sendiri menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Berdasarkan alasan tersebut, kita melihat bahwa betapa sulitnya mereka yang cenderung menyakiti diri sendiri berusaha berjuang untuk bertahan dari apa yang mereka rasakan. Mereka merasa tidak berdaya, merasa bersalah, sehingga berfikir untuk menyakiti diri sendiri padahal yang mereka butuhkan adalah bantuan dari orang lain. Kita sebagai sesama manusia, sudah seharusnya membantu mereka.
Beberapa hal positif sederhana yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka adalah: menjadi pendengar yang aktif, dorong mereka untuk bercerita dan mulailah dengan pertanyaan yang penuh empati seperti “saya melihat ada luka di pergelangan tanganmu, apakah ada yang ingin kamu ceritakan? Saya sangat ingin memahami apa yang terjadi”. Hindarilah pernyataan yang bersifat menghakimi, menggurui, atau bahkan menyalahkan. Tawarkanlah bantuan, bukan hal yang dapat mengintimidasi mereka. Berikan mereka semangat dan tunjukkan keterbukaan serta kepedulian kita terhadap perasaan dan situasi mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda