Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Antrean BBM Bersubsidi: Cerminan Kemiskinan Struktural dan Tekanan Biaya Hidup Masyarakat

Antrean BBM Bersubsidi: Cerminan Kemiskinan Struktural dan Tekanan Biaya Hidup Masyarakat

Penulis:
  • Huwaiza Hafshah

Afiliasi: Universitas Diponegoro

Editor: Danang Purnama
06 Oktober 2026, 14.42 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Antrean kendaraan
Antrean kendaraan mengular di SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Kondisi ini mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap energi yang terjangkau di tengah tekanan biaya hidup. Sumber: Dokumentasi Pribadi

JurnalPost.com - Pemandangan antrean panjang kendaraan roda dua yang mengular hingga memakan sebagian bahu jalan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi fenomena yang cukup mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

Pekerja harian, pengemudi transportasi daring, hingga masyarakat berpendapatan rendah rela menghabiskan waktu untuk mengantre demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, khususnya Pertalite.

IKLAN

Bagi sebagian masyarakat, keputusan untuk memilih BBM bersubsidi bukan sekadar persoalan kebiasaan berhemat. Di tengah tekanan biaya hidup, setiap selisih pengeluaran untuk kebutuhan transportasi dapat menentukan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan lain, mulai dari pangan, tempat tinggal, pendidikan, hingga dana darurat.

Karena itu, antrean BBM bersubsidi tidak semestinya dipandang hanya sebagai persoalan teknis distribusi energi. Fenomena tersebut juga dapat dibaca sebagai gambaran mengenai terbatasnya daya beli sebagian masyarakat serta tingginya ketergantungan terhadap energi dengan harga yang terjangkau.

BBM Bersubsidi dan Pilihan Ekonomi Masyarakat

Ketika dihadapkan pada pilihan antara BBM bersubsidi dan BBM non-subsidi, masyarakat berpenghasilan terbatas cenderung memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau.

Pilihan tersebut dapat dipahami sebagai keputusan ekonomi yang rasional. Bagi rumah tangga yang memiliki anggaran harian atau bulanan terbatas, pengeluaran bahan bakar merupakan salah satu komponen yang harus diperhitungkan dengan cermat.

Penghematan beberapa ribu rupiah per liter dapat terakumulasi menjadi jumlah yang cukup berarti dalam satu bulan, terutama bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari.

Bagi pengemudi transportasi daring, pedagang, pekerja lapangan, maupun pekerja informal lainnya, bahan bakar bukan sekadar kebutuhan konsumsi. BBM merupakan bagian dari biaya produksi untuk memperoleh pendapatan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan BBM bersubsidi berkaitan erat dengan kesejahteraan sosial, ketimpangan pendapatan, dan kemampuan daya beli masyarakat.

Kuncoro (2013) menjelaskan bahwa persoalan pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari distribusi pendapatan dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya. Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama, rumah tangga akan melakukan penyesuaian terhadap pola pengeluarannya.

Dalam situasi seperti ini, subsidi energi dapat menjadi salah satu instrumen yang membantu kelompok rentan mempertahankan kemampuan mobilitas dan aktivitas ekonominya (Bahagijo dkk., 2004).

Antrean BBM dan Kemiskinan Struktural

Fenomena tersebut juga dapat dianalisis melalui konsep kemiskinan struktural.

Kemiskinan struktural melihat kemiskinan bukan semata-mata sebagai akibat kurangnya usaha individu, tetapi juga sebagai kondisi yang dapat dipengaruhi struktur ekonomi dan sosial yang membatasi akses sebagian masyarakat terhadap sumber daya, kesempatan, serta perlindungan sosial (Nasikun, 2001; Soemardjan, 1980).

Dalam konteks BBM bersubsidi, masyarakat yang bersedia menghabiskan waktu cukup lama untuk memperoleh bahan bakar lebih murah menunjukkan adanya keterbatasan pilihan ekonomi.

Mereka bukan semata-mata memilih mengantre karena tidak menghargai waktu. Bagi sebagian orang, manfaat ekonomi yang diperoleh dari penghematan bahan bakar dinilai lebih besar dibandingkan biaya waktu yang harus dikorbankan.

Persoalannya, waktu tersebut sebenarnya memiliki nilai ekonomi.

Waktu yang digunakan untuk mengantre seharusnya dapat dimanfaatkan untuk bekerja, menerima pesanan, menjalankan usaha, beristirahat, atau melakukan aktivitas produktif lainnya.

Jika kondisi seperti ini terjadi berulang kali, masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi dua beban sekaligus: keterbatasan pendapatan dan hilangnya waktu produktif.

Di sinilah lingkaran persoalan dapat muncul. Rendahnya daya beli membuat masyarakat harus mencari berbagai cara untuk menghemat biaya. Namun, strategi penghematan tersebut terkadang mengharuskan mereka mengorbankan waktu yang sebenarnya dapat digunakan untuk memperoleh tambahan pendapatan.

Ketika Penghasilan Habis untuk Kebutuhan Dasar

Struktur pengeluaran rumah tangga juga menjadi faktor penting dalam membaca fenomena ini.

Data pengeluaran konsumsi masyarakat yang diterbitkan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kebutuhan dasar masih mengambil porsi besar dalam pengeluaran rumah tangga, khususnya pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih rendah.

Ketika sebagian besar pendapatan dialokasikan untuk makanan, transportasi, energi, dan kebutuhan dasar lainnya, ruang untuk tabungan maupun investasi masa depan menjadi semakin terbatas.

Akibatnya, kebutuhan seperti dana kesehatan, pendidikan, modal usaha, peningkatan keterampilan, hingga dana darurat keluarga dapat menjadi prioritas berikutnya setelah kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Dalam jangka panjang, keadaan tersebut berpotensi menghambat mobilitas sosial masyarakat.

Seseorang mungkin bekerja setiap hari dan memperoleh pendapatan, tetapi apabila hampir seluruh pendapatan tersebut habis untuk kebutuhan dasar, kemampuan mengakumulasi modal untuk memperbaiki kondisi ekonomi menjadi sangat terbatas.

Persoalan ini semakin terasa bagi pekerja informal yang pendapatannya tidak selalu tetap.

Bagi pekerja harian atau pengemudi transportasi daring, misalnya, penghematan pengeluaran bahan bakar dapat berpengaruh langsung terhadap pendapatan bersih yang dibawa pulang kepada keluarga.

Dalam kondisi semacam itu, BBM dengan harga terjangkau memiliki fungsi ekonomi yang lebih luas daripada sekadar menggerakkan kendaraan.

Dilema Penataan Subsidi Energi

Di sisi lain, kebijakan subsidi energi memang menghadapi dilema.

IKLAN

Pemerintah perlu menjaga kemampuan fiskal negara sekaligus memastikan subsidi diterima kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Penataan subsidi juga diperlukan agar anggaran negara dapat digunakan secara efektif untuk berbagai program pembangunan dan perlindungan sosial.

Selain persoalan anggaran, kebijakan energi juga berkaitan dengan aspek lingkungan, efisiensi penggunaan bahan bakar, dan upaya mendorong penggunaan energi yang lebih bersih.

Namun, setiap perubahan kebijakan subsidi perlu mempertimbangkan kondisi riil masyarakat.

Pengetatan akses terhadap BBM bersubsidi tanpa diikuti peningkatan daya beli, transportasi publik yang memadai, maupun skema perlindungan sosial yang efektif berpotensi menambah tekanan ekonomi bagi kelompok rentan.

Apalagi bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan sebagai alat utama untuk memperoleh penghasilan.

Persoalan lainnya adalah distribusi.

Subsidi yang dirancang untuk membantu masyarakat akan kehilangan efektivitas apabila pasokan tidak merata, distribusi tidak efisien, atau penerimanya tidak tepat sasaran.

Antrean yang terlalu panjang juga menimbulkan biaya sosial karena masyarakat harus mengorbankan waktu produktif hanya untuk memperoleh energi dengan harga yang terjangkau.

Karena itu, tantangan kebijakan bukan hanya menentukan berapa besar subsidi yang diberikan, melainkan memastikan siapa yang menerima, bagaimana mekanisme distribusinya, serta bagaimana masyarakat dapat mengaksesnya secara mudah dan adil.

Perlu Tata Kelola Subsidi yang Lebih Tepat

Penanganan persoalan keterjangkauan energi tidak dapat dilakukan hanya melalui imbauan agar masyarakat menggunakan BBM non-subsidi.

Pemerintah perlu membangun tata kelola subsidi yang mampu mempertemukan kepentingan fiskal negara dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satunya melalui perbaikan sistem distribusi BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran, transparan, dan efisien.

Pemanfaatan teknologi digital dapat membantu proses verifikasi penerima subsidi. Namun, penerapannya juga harus mempertimbangkan kemudahan akses masyarakat, kesiapan infrastruktur digital, perlindungan data, serta kondisi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam menggunakan teknologi.

Teknologi seharusnya menyederhanakan akses terhadap subsidi, bukan justru menciptakan hambatan baru.

Selain itu, kelancaran pasokan perlu menjadi perhatian agar masyarakat tidak harus mengorbankan waktu produktif dalam antrean panjang.

Kebijakan energi juga perlu berjalan beriringan dengan kebijakan lain, seperti penguatan transportasi publik, perlindungan pekerja informal, pengendalian harga kebutuhan pokok, dan peningkatan kesempatan memperoleh pendapatan yang layak.

Antrean sebagai Alarm Kesejahteraan

Pada akhirnya, antrean BBM bersubsidi yang terlihat di berbagai SPBU tidak hanya berbicara mengenai kendaraan yang menunggu giliran mengisi bahan bakar.

Di balik antrean tersebut terdapat persoalan mengenai daya beli, penghasilan, biaya hidup, waktu produktif, dan kemampuan keluarga mempertahankan kehidupan sehari-hari.

Fenomena itu seharusnya menjadi salah satu bahan evaluasi dalam melihat keberhasilan pembangunan ekonomi.

Pembangunan tidak hanya dapat diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur fisik. Kualitas pembangunan juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, memperoleh kesempatan ekonomi, dan mempertahankan standar hidup yang layak.

Ketika masyarakat harus mengorbankan banyak waktu hanya untuk mendapatkan energi yang mampu mereka beli, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan keterjangkauan masih perlu mendapatkan perhatian.

Subsidi energi memang bukan satu-satunya jawaban terhadap kemiskinan dan ketimpangan. Namun, selama sebagian masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan untuk bekerja dan memperoleh pendapatan, keterjangkauan energi tetap menjadi bagian penting dari perlindungan daya beli masyarakat.

Tantangannya adalah memastikan subsidi tidak hanya besar secara anggaran, tetapi juga tepat sasaran, mudah diakses, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dengan tata kelola yang lebih baik, kebijakan energi dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga produktivitas sekaligus membantu masyarakat keluar dari tekanan ekonomi struktural.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2024). Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia berdasarkan Kelompok Barang. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Bahagijo, S., dkk. (2004). Kemiskinan dan Kebijakan Publik di Indonesia. Jakarta: Perkumpulan PRAKARSA.

Kuncoro, M. (2013). Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah, dan Kebijakan. Jakarta: UPP STIM YKPN/Erlangga.

Nasikun. (2001). Mencari Bentuk Ekonomi Kerakyatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soemardjan, S. (1980). Kemiskinan Struktural: Suatu Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/antrean-bbm-bersubsidi-cerminan-kemiskinan-struktural-dan-tekanan-biaya-hidup-masyarakat/98027/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.16 WITA

  • #BBM bersubsidi
  • #Ekonomi Kerakyatan
  • #biaya hidup
  • #daya beli masyarakat
  • #kebijakan energi
  • #kemiskinan struktural
  • #subsidi energi

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.