Anti Macet! Liburan ke Telaga Saat Puncak Bogor
Penulis: Zerlynda Ali
JurnalPost.com - Kala itu, kepala sudah terlalu banyak dipenuhi oleh hal-hal yang semakin menambah beban pikiran. Rasanya titik terang belum kunjung terlihat juga hilalnya. Sudah berapa kali diri ini memasang topeng kuat bak dinding penangkal ombak. Besok weekend, pertanda inilah waktunya untuk merehatkan badan dan pikiran. Perlukah ajak teman? renungku dalam batin. Terkadang, saya terlalu meromantisasi kesendirian ini hingga lupa akan keberadaan mereka yang selalu memasang badan. Yunita. Sepertinya dia yang pertama kali terbesit di otak untuk saya ajak pergi jalan-jalan. Saya teringat, Yunita pernah bilang kalau dirinya suka bepergian namun tidak banyak temannya yang bisa diajak. Mungkin ini bisa menjadi pendongkrak semangat saya untuk mengajaknya. Sempat berpikir sejenak untuk memilih tujuan kami, dan ya. Telaga Saat sepertinya tujuan yang tepat.
Pertama kali kata Telaga Saat terdengar yaitu dari salah satu kreator TikTok yang membagikan pengalamannya di sana. Saya berhasil ter-influence dirinya dalam hitungan detik. Terhitung besok adalah keempat kalinya saya pergi ke Telaga Saat. Rasanya saya ingin menunjukkan ke semua orang tentang keindahan telaga di Puncak Pass ini. Jam belum menunjukkan jam 4 sore, saya mengajak Yunita untuk pergi makan sekalian mempersiapkan bawaan kami esok hari. Kami sempat ke AEON Mall Sentul untuk membeli sushi dan melihat promo haircare. Malamnya, kami maskeran dan haircare-an untuk menyambut hari esok dengan senyum merekah dan penuh kebahagiaan.
Pagi itu tanggal 24 Februari 2024, tanggal yang cantik bukan? Jam menunjukkan pukul 9 dan saya mempersiapkan barang yang perlu dibawa untuk dimasukkan ke dalam mobil. Dalam satu totebag IKEA besar, saya masukkan 1 Liter Air Mineral, anggur hijau Muscat, sweater, puzzle Starry Night by Vincent Van Gogh, dan laptop. Sisanya, saya taruh kebutuhan lainnya di satu totebag besar Longchamp Le Pliage size L senada dengan tas IKEA yang sama-sama berwarna biru. Didalamnya terdapat bag organizer diisi dengan tisu kering, tisu basah, hand sanitizer, charger hp dan laptop, parfum, permen, snack bar, dompet, card holder, deodorant spray, lippies dan kacamata hitam. Banyak banget? Betul. Begitulah ciri khas wanita mamba rempong ini.
Mobil dipanaskan tidak sampai satu menit dan saya langsung menuju kos Yunita. Tidak sampai 5 menit, mobil hitam dan wanita dengan pakaian full hitam ini mendarat di depan gang kosnya. Teringat dengan perkataan pasangan kreator TikTok, “jemputnya kok depan gang?”. Kali ini saya akhirnya merasa relate. Tak lama kemudian, Yunita keluar dengan membawa handle bag dan tikar birunya. Ini temanya memang biru-biru gitu walaupun sebetulnya kami tidak janjian. Bunyi keroncongan sudah terdengar, pertanda perut sudah memberi sinyal ke otak untuk menyegerakan kami makan. Ketupat sayur pinggir jalan menjadi opsi tepat sambil nostalgia masakan nenek saat lebaran. Kami mengambil jalan tikus untuk menuju Puncak, yaitu menyusuri perbukitan Gunung Geulis dari Summarecon Bogor dan jalan tembusnya di Gadog. Perjalanan kami mulai dari sekarang. Pukul 09.57 WIB.
Perjalanan tergolong ramai lancar karena kami mengambil jalan tikus dan naik ke Puncak sebelum jam buka tutup dioperasikan. Kami sempat mengira akan terjebak macet karena normalnya weekend di Puncak selalu macet parah. Namun ternyata, tidak seperti yang kami bayangkan. Ya, Alhamdulillah. Kami melihat kemacetan dari arah berlawanan di area Jembatan Riung Gunung, yang konon menjadi tempat persembunyian Villa milik presiden pertama Indonesia, yakni Ir. Soekarno. Kemacetan menjalar hingga persimpangan Rest Area Gunung Mas Puncak. Para pengendara mobil itu menunggu antrian jalur buka tutup sekitar di jam 1 siang. Jadi memang, kalau naik ke Puncak itu sebelum jam 11 harus sudah ada di Jalan Raya Puncak-Cianjur (Megamendung) karena di jam 12 dan setelahnya akan dibuat satu arah untuk menuju ke bawah (Jakarta). Playlist Spotify menjadi teman bepergian kami sambil chit chat ringan dan berujung carpool karaoke hingga tak sadar kami sudah berada di tikungan Puncak Pass. Penjaga tiket menyambut kami dengan memberi tiket masuk untuk dibayar sebesar Rp25.000/orang dan Rp10.000/mobil. Setelah membayar Rp60.000 kami dipersilahkan masuk dan mengikuti rute panah Telaga Saat.
Perjalanan yang kami lalui sangat terjal dikarenakan akses jalannya masih full bebatuan. Tubuh terguncang kanan kiri mengikuti ritme gas kendaraan melaju. “Kali ini kita hanya bisa berpegang teguh dengan keimanan dan ketakwaan. Oleng dikit pindah alam soalnya.” Celetukku saat itu kepada Yunita dan dia pun tertawa lepas. Apa yang saya katakan adalah benar. Definisi kanan tebing, kiri jurang. Saya sebagai driver dan Yunita sebagai co-driver sekaligus navigator pun ikut memunculkan kepalanya keluar jendela untuk memastikan agar ban tetap pada jalurnya dan mengantisipasi terjadinya ban terselip. Hidup memang penuh cobaan, dan hari itu kami betul-betul diberi contoh nyata seberapa besar guncangan itu menerpa. Setengah jam lamanya kami menyusuri perkebunan teh Cibulao, dan jika ditotal kami telah menghabiskan 2 jam perjalanan dari titik awal pintu masuk tol Kota Bogor.
Mobil terparkir sempurna, kami pun disambut dengan suguhan welcome drink berupa lemon tea yang dapat kami bawa masuk ke area telaga. Penjaga tiket berkata, nantinya kami akan dikenakan tarif Rp10.000/orang lagi untuk memasuki area telaga. Kami pun masuk dengan membawa dua mangkok bakso cuanki yang dibandrol Rp15.000 oleh abang bakso keliling. Pemandangan pertama begitu melewati pintu masuk, sontak membuat kami kagum atas lukisan ciptaan Allah ini. Wow, speechless. Yunita berkata serasa berada di surga. “Memang kamu sudah pernah ke surga, yun?” kami tertawa lepas. Tujuan pertama kami adalah mushola karena waktu sudah menunjukkan waktu zuhur. Setelah bergantian sholat, kami pun mencari tempat untuk kami menggelar tikar. Sambil berjalan menyusuri telaga, kami melihat dari kejauhan terdapat lahan paving block yang diberi tenda payung besar. Tempat yang pas untuk berteduh dari teriknya mentari di siang bolong. Meskipun daerah ketinggian ini memiliki hawa dingin dan hembusan anginnya yang kencang, namun terik matahari tetap menembus kulit berupa kehangatan. Meskipun demikian, Jakarta masih jauh lebih panas karena rasanya matahari hanya berada satu jengkal di atas kepala memberi sengatan hingga lapisan kulit terdalam.
Tikar digelar, buah anggur disuguhkan, puzzle kami buka. Sungguh suasana yang sangat menentramkan jiwa raga dari segala hiruk pikuk kota. Kesampingkan tugas, dan saatnya kami eksekusi puzzle seribu keping ini. Puzzle ini nantinya akan menjadi lukisan Vincent Van Gogh, dengan judul karyanya yang terkenal yaitu Starry Night. Lukisan beliau ini memiliki makna yang sangat dalam. Beliau melukisnya ketika dirawat di rumah sakit jiwa setelah memiliki gangguan dengan gejala memotong telinganya sendiri. Melalui lukisan ini, Van Gogh mengatakan malam lebih berwarna daripada siang dan bintang-bintang lebih dari sekedar titik-titik putih di atas hitam. Van Gogh mungkin telah membuat lebih banyak pernyataan penuh harapan daripada yang dipuji banyak orang. Sama seperti kita, terkadang kita terlalu menekan dan menzalimi diri sendiri sampai lupa bahwa diri ini juga manusia. Kita terlalu sering hidup di atas standarisasi manusia. Padahal, tidak ada salahnya untuk berjalan pelan-pelan, menikmati semua prosesnya. Baru-baru ini saya mendapatkan guyon dari netizen TikTok. “Tidak usah terburu-buru, apa sih yang dikejar? kalau mau cepat sampai tujuan, kenapa ngga berangkat dari kemarin?” Begitulah kira-kira.
Puzzle tidak kami selesaikan, kami baru memenuhi bingkai pinggiran lukisan karena rasa kantuk terlalu mendominasi dan kami pun tertidur sekitar 15 menit masih di posisi yang sama. Setelah terbangun, kami beranjak merapikan barang bawaan dan menuju mushola kembali untuk menunaikan sholat ashar. Air terasa semakin dingin, karena kabut sudah mulai turun. Dengan kondisi segar setelah sholat, kami bergegas menuju penyewaan perahu sebelum hujan turun. Harga sewa Rp100.000/perahu dan dibatasi durasi 30 menit. “Wah, sangat kaya ya orang-orang ini.” bisik saya kepada Yunita. “Tapi nggapapa deh, sekalian menaikkan ekonomi Cibulao dan kearifan lokal wisata Puncak.” Lanjut saya.
Perahu kami dayung kanan kiri untuk meraih tengah-tengah telaga. Terbesit di otak untuk menyetel lagu My Heart by Acha Septriasa. Gemercik air telaga mengikuti tempo dayung dan alunan lagu. If you love somebody, could we be this strong? I will fight to win, our love will conquer all. Sambil berfoto-foto dan membuat short video untuk Instagram Story, kami lanjutkan lagu masih dengan penyanyi yang sama, berjudul Sampai Menutup Mata. Embun di pagi buta, menebarkan bau basah. Detik demi detik ku hitung, inikah saatku pergi. Oh, tuhan ku cinta dia, berikanlah saya hidup. Seolah-olah di ujung kematian, dan meskipun matahari sudah tak menebarkan pesona mentarinya lagi, nyanyian tetap kami lanjutkan. Jujur, vibes Telaga Saat serasa masuk ke film My Heart. Sepoi angin yang menyibak abaya dan pashmina yang kukenakan, ketenangan yang dibalut di setiap spot tempat untuk kenangan. Manusia-manusia di sana memancarkan keteduhan, seperti melepas beban hariannya di kota. Tidak ada kegaduhan, hanya ada kedamaian.
Seusai 30 menit menjadi manusia air yang mengapung di atas titik nol kilometer Sungai Ciliwung ini, kami beranjak ke ayunan dan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Entah kenapa ada perasaan takut tali ayunan putus. Bukan karena merasa sudah mau memasuki usia kepala dua, bukan. Lebih kepada melihat untaian tali yang terikat di batang pohon tua yang kita tak tahu kapan rapuhnya. Tubuh ini terpontang panting dan melayang persis di atas telaga. Rasanya tidak rela jika tiba-tiba sandal ini jatuh atau tubuh ini tenggelam di air telaga yang bahkan kita tidak tahu seberapa dalam dan ada hewan apa saja yang terdapat didalamnya.
Hari semakin sore, kabut semakin turun, cuaca pun semakin dingin. Perlahan rintik hujan membasahi bumi memberi sinyal untuk mengusir kami pulang sebelum jalanan terjal tadi diselimuti kabut dan membutakan jangkauan penglihatan mata. Gerimis kecil beralih menjadi deras memberi kesan perjalanan menyusuri kebun teh semakin ekstrim. Dengan berhati-hati, kami lalui perbukitan ini dengan tempo pelan, batu demi batu, agar ban ini tidak terpeleset dan batu-batu besar itu tidak mengenai bemper. Kami beranjak pulang sekitar pukul 5 sore dan akan melewati jalan tikus Cikopo Selatan, masuk gang sebelum pasar Cisarua dan patokannya adalah setelah Richeese Factory di sebelah kiri. Zaman sudah canggih, untuk rute nya nanti tinggal buka Google Maps saja dan tembusan keluarnya adalah Alfamart sebelah Vimala Hills alias Starbucks Puncak Pullman Hotel. Referensi jalan tikus ini juga bisa menjadi opsi ketika jalur satu arah kebawah sudah mulai dioperasikan. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju Puncak. Namun memang jalannya cukup terjal, tanjakannya cukup ekstrim, dan hanya cukup untuk dua mobil. Sepertinya kurang cocok jika dinamakan jalan tikus, lebih pas dibilang jalan curut.
Pada saat pertama kali ke Telaga Saat, saya menggunakan mobil Honda Brio dan merasa leluasa ketika melewati gang sempit bagai curut yang menyusuri gorong-gorong. Namun, tipe mobil city car kurang cocok digunakan di jalan bebatuan Telaga Saat dan sangat riskan dipakai di tanjakan ekstrim. Akhirnya, kali ini saya coba untuk menggunakan mobil Nissan Xtrail karena tipe SUV nya yang layak untuk dipakai bepergian jauh dengan kondisi jalan terjal dan jarak body-nya yang terbilang tinggi dari jalanan aspal. Awalnya sempat kesulitan ketika masuk ke gang sempit dan terjebak di perkampungan warga karena Xtrail ini memiliki body yang lebih besar dan panjang ketimbang Brio. Namun, terima kasih kepada ibu co-driver, saya merasa terbantu dengan hadirnya kepala Yunita yang sigap melihat blind spot ketika kiri terdapat selokan.
Perjalanan pulang diisi dengan carpool karaoke, lagi. Kali ini sedikit brutal karena cuaca di luar yang hujan deras dan genre lagu galau yang dipilih untuk mendukung suasana. Langit dan laut saling membantu, mencipta awan hujan pun turun. Ketika dunia saling membantu, lihat cinta mana yang tak jadi satu?. Dari Nadin Amizah hingga Nadhif Basalamah. Kan ku arungi tujuh laut samudra, kan kudaki Pegunungan Himalaya. Atmosfer nya udah cocok banget pokoknya, bahkan langit pun mendukung dengan awetnya hujan. Kota Bogor akhirnya kami pijaki setelah satu setengah jam perjalanan. Mampir makan di pecel lele langganan yang satu porsinya Rp25.000 sudah beserta es teh manis, dan setelahnya kami pun pulang.
Menurut saya, hari itu memiliki kesan dan kenangan yang tak terlupakan. Sebagai orang yang memiliki love language Quality Time, saya sangat menikmati hari itu. Bahkan ketika kami tidak melakukan apa-apa. Tidak perlu melakukan kegiatan yang neko-neko, dengan duduk bersama memandangi indahnya pemandangan Telaga Saat saja, rasanya jiwa ini telah kembali ke porosnya. Tak tahu apakah ini faktor jomblo kami yang mendarah daging atau faktor penyembuhan jiwa yang kerap tersedot energinya, yang jelas hari itu kami bahagia. Tanpa alasan dan tanpa kecuali.
Sebagai orang yang sudah empat kali ke Telaga Saat, jika dimintai tips rekomendasi barang yang dibawa mungkin pertama saya akan bilang, tikar. Sekedar untuk duduk santai memandang manusia yang lalu lalang atau berbincang bersama partner mengenai hal apa yang terjadi seminggu ke belakang. Setelahnya, siapkan uang cash minimal Rp100.000 per orang berupa pecahan kecil. Kemudian, snack atau camilan ringan dan juga air mineral. Selebihnya, bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas yang akan dilakukan. Pengunjung diperkenankan membawa tripod jika ingin mengambil momen bersama orang tersayang atau sekedar mengabadikan pemandangan Telaga Saat yang hanya di-keep di galeri penyimpanan. Akhir dari perjalanan ini memberi makna tersirat bagi diri yang sempat mencari bunga di ujung jurang. Waktu memang berharga dan sulit untuk mengharap pengulangan waktunya. Namun duduklah sebentar, tidak apa-apa untuk rehat terlebih dahulu. Besok kita usahakan lagi, ya?
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda