Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Tingkatkan Produksi Pangan dengan Optimalisasi Lahan Rawa

Tingkatkan Produksi Pangan dengan Optimalisasi Lahan Rawa

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
29 November 2023, 18.08 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Tingkatkan Produksi Pangan dengan Optimalisasi Lahan Rawa
JurnalPost.com - Dalam upaya meningkatkan produksi pangan di tahun 2024, Kementerian Pertanian mempercepat penanaman padi dengan mengoptimalkan lahan rawa. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menargetkan optimalisasi lahan rawa di akhir tahun 2023 mencapai 1,5 juta hektar. Luasan lahan tersebut akan ditanam komoditas pangan khususnya beras dan jagung. Pada tahun 2024, produksi beras ditargetkan sebesar 34 juta ton. Swasembada beras juga diharapkan kembali dilakukan Indonesia dengan meningkatnya produksi sehingga impor akan beras menurun. Indonesia memiliki potensi lahan rawa yang bisa digarap menjadi lahan sawah. Menurut hasil kajian Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) tahun 2015, lahan rawa di Indonesia seluas 33,41 juta hektar. Lahan rawa di Indonesia terdiri dari rawa pasang surut dan rawa lebak. Lahan rawa tersebut terdiri dari rawa pasang surut seluas 8,92 juta hektar dan rawa lebak seluas 25,21 juta hektar. Lahan rawa paling luas berada di Provinsi Papua dengan luas sebesar 7,61 juta hektar. Disusul Riau seluas 4,91 juta hektar, Kalimantan Tengah seluas 4,11 juta hektar, dan Sumatera Selatan 3,36 juta hektar. Dari total luas lahan rawa di Indonesia, sekitar 14,18 hektar berpotensi untuk dijadikan pertanian sawah dan baru sekitar 6,77 juta hektar yang dimanfaatkan. Upaya pemanfaatan potensi lahan rawa untuk meningkatkan produksi pangan dilakukan melalui peningkatan intensitas pertanaman (IP). Berdasarkan hasil analisis oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang), Kementerian Pertanian menunjukkan jika IP ditingkatkan dari IP 100 menjadi IP 200 pada 1,15 juta hektar lahan rawa yang tersebar di 10 provinsi, dapat diperoleh peningkatan produksi gabah kering panen (GKP) sebanyak 3,5 juta ton per tahun.

Penerapan optimalisasi lahan rawa dalam peningkatan produksi

Menteri Pertanian memastikan untuk mendorong keberhasilan peningkatan produksi diperlukan infrastruktur hingga ketersediaan pupuk dan benih unggul serta memperkuat mekanisme pertanian agar produksi dan panen berjalan lebih cepat. Peningkatan produksi pangan dengan memanfaatkan lahan rawa memerlukan perbaikan infrastruktur yang mendukung seperti pengembangan infrastruktur jaringan air yang dilakukan dengan perbaikan saluran dan pembersihan lahan dari rerumputan agar tidak mengganggu jalur aliran air. Selain itu juga diperlukan pembangunan dan perbaikan jalan desa, jalan usaha tani, embung dan polder mini. Pemilihan varietas yang tepat juga sangat penting untuk meningkatkan hasil produksi pada lahan rawa. Inpara (inbrida padi rawa) merupakan salah satu varietas padi unggul yang cocok ditanam pada lahan rawa. Varietas Inpara toleran terhadap pengaruh lingkungan, toleran terhadap keracunan Fe dan Al, tahan rendaman, memiliki umur genjah, lebih tahan hama dan penyakit, hingga berpotensi hasil tinggi. Dilansir dari Kementerian Pertanian, mengenal salah satu varietas yang cocok dikembangkan pada lahan rawa yaitu Inpara 2. Varietas Inpara 2 berpotensi menghasilkan sekitar 6,08 ton/hektar gabah kering giling (GKG). Inpara 2 memiliki ketahan pangan terhadap hama wereng batang serta tahan terhadap penyakit hawar daun dan blas. Pemanfaatan lahan rawa tidak lepas dari penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang juga berperan dalam modernisasi pertanian. Upaya pemerintah dengan memberikan bantuan alsintan dioptimalkan dengan bantuan peran Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) sebagai akses pemenuhan kebutuhan alsintan bagi petani. Pemanfaatan alsintan dapat ditingkatkan melalui kegiatan pelatihan SDM operator dan pengelola alsintan. Pada dasarnya pertanian pangan pada lahan rawa menerapkan sifat pertanian organik, yakni menghindari penggunaan pupuk dan minim penggunaan obat-obatan. Pertanian lahan rawa menghasilkan biomassa atau bahan organik yang besar, termasuk dari budidaya padi. Sumber biomassa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan menggunakan teknologi kompos. Pertanian organik pada lahan rawa pasang surut sudah diterapkan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, dengan lahan rawa seluas 40 hektar dengan menggunakan varietas padi Inpara 2 di tahun 2016.

Keberhasilan pengembangan lahan rawa di Indonesia

Sebelumnya, optimalisasi lahan rawa merupakan strategi yang sudah pernah diupayakan oleh Kementerian Pertanian. Hingga saat ini pertanian di lahan rawa sudah banyak dilakukan di berbagai wilayah Indonesia walau belum sepenuhnya dioptimalkan. Keberhasilan penerapan pertanian lahan rawa dapat dilihat dari program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan pada tahun 2018. Mentan mengklaim ekspor meningkat 10 juta ton disertai naiknya produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian 3,7 persen dan penurunan inflasi rata-rata 1 persen. Pada lahan rawa lebak Polder Alabio di Desa Hambuku Raya, Hambuku Pasar, dan Hambuku Raya, Kecamatan Sungai Pandan, Kalimantan Selatan, seluas 80 hektar ditanami varietas unggul yakni Inpara dan Mekongga. Di tahun 2019, ketiga desa dapat menanam dan panen padi 2 kali setahun. Selain itu, di Kecamatan Muara Telang, Sumatera Selatan, pengelolaan lahan dan air serta budidaya padi diterapkan pada lahan rawa seluas 100 hektar. Hasil panen meningkat, yang sebelumnya hanya menghasilkan 4-5 ton per hektar menjadi 7-8 ton per hektar. Saat ini, optimalisasi lahan rawa mulai diterapkan salah satunya pada provinsi Sumatera Utara. Diperkirakan sekitar 20 ribu-30 ribu hektar lahan rawa di Sumatera Selatan dapat dimanfaatkan. Dengan program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan dan Indonesia dapat kembali swasembada beras. Penulis Nama: Dwi Melati Sukma Pekerjaan : Mahasiswa Institusi : Institut Pertanian Bogor

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/tingkatkan-produksi-pangan-dengan-optimalisasi-lahan-rawa/62083/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026, 15.50 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

82,4 Persen Guru Sangat Membutuhkan Flipbook Berbasis Pembelajaran Mendalam untuk Mendukung Kurikulum Merdeka

Dosen IPB "Pulang Kampung" ke Desa Sinarsari, Bawa Perempuan Pelaku UMKM Naik Kelas Lewat Digitalisasi

Universitas Negeri Malang Hadirkan ElectroRace Kit untuk Pembelajaran IPA di MTs Sunan Kalijogo

Kemenag Latih 1.207 PPPK Penghulu, Perkuat Kualitas Layanan Umat

Pilihan Editor

  1. 1 MBG dan Tanggung Jawab Negara: Keselamatan Anak Tidak Bisa Ditawar
  2. 2

    Tim Abdimas FH UPNVJ Edukasi Hukum Waris dan Perlindungan Lansia di GKPI Tangerang

  3. 3

    UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. 4

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  5. 5

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.