Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Yoga sebagai Intervensi Terapi dalam Fisioterapi untuk Kesehatan Mental

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 3 Januari 2026

Oleh: Hanaabrar Robert Ash

JurnalPost.com – Yoga tidak hanya dipandang sebagai aktivitas fisik umum, tetapi sebagai sebuah intervensi terapi yang terstruktur dan memiliki tujuan klinis. Yoga dapat digunakan sebagai intervensi terapi dalam fisioterapi untuk kesehatan mental karena menggabungkan gerakan fisik, pernapasan, dan meditasi untuk mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan suasana hati, serta mengubah struktur dan fungsi otak. Manfaat ini dicapai melalui penurunan hormon stres (kortisol), peningkatan hormon kebahagiaan (serotonin), serta memengaruhi area otak yang terlibat dalam pengaturan emosi.

Ada beberapa kasus dalam hall tersebut antara lain ada Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder), penyakit ini menjelaskan Beberapa studi kasus dan penelitian telah mengevaluasi penerapan senam yoga untuk menurunkan tingkat kecemasan pada berbagai populasi, termasuk remaja, penderita hipertensi, dan ibu hamil. Selanjutnya ada Depresi Yoga telah terbukti efektif, baik sebagai terapi tunggal maupun tambahan, dalam mengurangi gejala depresi. Stres dan Kesejahteraan Umum: Intervensi yoga di tempat kerja atau di kalangan mahasiswa kedokteran dalam jangka waktu tertentu (misalnya, 10 minggu) menunjukkan peningkatan energi mental, kewaspadaan, dan penurunan perasaan negatif, yang secara keseluruhan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Dan masih banyak lagi kasus-kasus dalam hall yoga sebagai intervensi terapi dalam fisioterapi untuk kesehatan mental ada juga kasus yang dimana Pasien mengalami Skizofrenia: Tinjauan literatur dan studi mengidentifikasi manfaat terapeutik yoga bagi pasien skizofrenia, khususnya dalam mengelola gejala depresi dan halusinasi, serta meningkatkan kondisi psikososial mereka.

Disini saya akan mengkaji salah satu kasus diatas yaitu pasien skizofreinia, pasien skizofrenia menunjukkan bahwa kondisi ini adalah gangguan jiwa berat yang memengaruhi cara berpikir, merasa, dan berperilaku, serta berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari dan fungsi sosial pasien. Penelitian mencakup berbagai aspek, mulai dari faktor penyebab hingga pendekatan pengobatan yang efektif. Ada beberapa penyebab kenapa pasien mengalami skizofrenia, salah satu faktornya adalah faktor lingkungan, dilingkungan mungkin saja terjadi Paparan stres berat, seperti kehilangan orang terdekat atau pengalaman traumatis, dapat memicu gejala skizofrenia pada individu yang rentan., serta Penggunaan zat psikoaktif, terutama ganja di usia muda, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko skizofrenia. (Accessed December 31, 2024.)

Gejala penyakit skizofrenia ada tiga yaitu positif, negatif, dan kognitif. Gejala positif: Gejala positif adalah manifestasi yang menambah perilaku atau pengalaman yang tidak biasa, meliputi:halusinasi, delusi, pikiran yang berbicara tidak beraturan. Selanjutnya ada gejala negatif: Gejala negatif mencerminkan penurunan atau hilangnya fungsi normal, termasuk: afek datar, anhedonia, dan avolisi. dan yang ketiga adalag gejala kognitif: gejala kognitif adalah berkaitan dengan fungsi berpikir dan pemahaman, seperti: gangguan memori, kesulitan memusatkan suatu perhatian, dan masalah dalam pengambilan keputusan (Accessed December 31, 2024.)

Gambaran seseorang dengan skizofrenia adalah gangguan serius pada otak yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berperilaku, seringkali dengan gejala seperti delusi (keyakinan yang tidak sesuai kenyataan) dan halusinasi (melihat atau mendengar hal yang tidak ada) https://share.google/c2BdkHW5AsbYkQiyz

Skizofrenia sendiri memiliki beberapa dampak yaitu kesehatan mental dan fisik, fungsi ekonomi dan sosial, kualitas hidup, risiko keselamatan, dampak pada keluarga, dan berikut adalah cara kita mendiagnosis skizofrenia: Wawancara Klinis dan Riwayat Medis: Dokter akan mengumpulkan informasi mengenai gejala yang dialami pasien, menyingkirkan kemungkinan bahwa gejala disebabkan oleh kondisi medis lain. Tes Laboratorium: Termasuk tes darah dan urin untuk memastikan bahwa gejala bukan akibat penyalahgunaan zat atau kondisi medis lainnya. Pemeriksaan Penunjang: Pencitraan otak seperti MRI atau CT scan dapat dilakukan untuk menyingkirkan gangguan otak lain yang mungkin menyebabkan gejala serupa. Evaluasi Psikiatri: Penilaian mendalam mengenai pikiran, perasaan, dan perilaku pasien untuk mengidentifikasi gejala khas skizofrenia, seperti delusi, halusinasi, bicara tidak teratur, perilaku kacau, dan gejala negatif. (Accessed December 31, 2024.)

Berikut adalah contoh pasien yang mengalami skizofrenia:

Kate Fenner,(mengalami skizofrenia disaat berusia 18 tahun) dan beberapa lukisannya

Mungkin tidak mudah untuk menyembuhkan pasien yang mengalami skizofrenia akan tetapi bisa diobat Pengobatan skizofrenia umumnya melibatkan kombinasi antara terapi farmakologis dan intervensi psikososial. Berikut adalah rincian metode pengobatan yang sering digunakan: terapi farmakologis Antipsikotik: Obat antipsikotik merupakan komponen utama dalam pengobatan skizofrenia. Mereka bekerja dengan mempengaruhi reseptor neurotransmiter di otak, terutama dopamin dan serotonin, untuk mengendalikan gejala seperti delusi dan halusinasi. Dan juga ada Clozapine: Direkomendasikan untuk pasien dengan skizofrenia yang resistan terhadap pengobatan lain atau memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.

Setelah melalui beberapa tahapan pengobatan dalam diri ada juga pengobatan eksternal atau lingkungan serta memerlukan dukungan sosial dan rehabilitas: Pelatihan Keterampilan Sosial: Membantu pasien meningkatkan interaksi sosial dan kemampuan komunikasi. Rehabilitasi Vokasional: Mendukung pasien dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan, yang penting untuk pemulihan jangka panjang. (Mayo Clinic. Schizophrenia Symptoms and Causes. Mayo Clinic. Available fro: (Accessed December 31, 2024.))

Dari hasil studi ini memberikan kita sebuah gambaran seseorang yang mengalami gangguan skizofrenia tidak lah sepele harus dilakukan secara terapi, melakukan pengobatan  dari dalam dan dari luar itu sendiri

Daftar pustaka:
National Institute of Mental Health. Schizophrenia. National Institute of Mental Health. Available from: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/schizophrenia. Accessed December 31, 2024.

Mayo Clinic. Schizophrenia Symptoms and Causes. Mayo Clinic. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443. Accessed December 31, 2024.

American Psychiatric Association. What is Schizophrenia? Psychiatry.org. Available from: https://www.psychiatry.org/patients-families/schizophrenia/what-is-schizophrenia. Accessed December 31, 2024.

NHS. Schizophrenia – Symptoms. NHS. Available from: https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/schizophrenia/symptoms/. Accessed December 31, 2024.

Health.com. What Are the Different Types of Schizophrenia? Health.com. Available from: https://www.health.com/types-of-schizophrenia-8639394. Accessed December 31, 2024.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/yoga-sebagai-intervensi-terapi-dalam-fisioterapi-untuk-kesehatan-mental/22524/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 09:24.