
Ditulis oleh: Valen Christy Adetama – Mahasiswa KKN Tim II IDBU-38 Dusun Sironjang
Universitas Diponegoro 2026
SIRONJANG, SEMARANG 14 AGUSTUS 2026, JurnalPost.com – Menghadapi tantangan ketersediaan air saat musim kemarau serta mendukung produktivitas pertanian perkotaan (urban farming), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan terobosan teknologi tepat guna. Melalui program kerja monodisiplin bertajuk “Tangkap Hujan, Siram Kebun”, Valen Christy Adetama, mahasiswa semester 7 Program Studi Teknik Arsitektur, merancang dan mensosialisasikan sistem pemanenan air hujan (Rainwater Harvesting) tipikal bagi masyarakat Kampung Sironjang, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Kampung Sironjang yang tengah aktif mengembangkan program urban farming berbasis kearifan lokal kerap dihadapkan pada keterbatasan pasokan air ketika musim kering tiba dan debit air yang kecil. Padahal, kawasan ini memiliki potensi tangkapan air hujan yang sangat melimpah melalui bidang atap bangunan, baik di balai pertemuan komunal, area greenhouse, maupun hunian warga.
Melihat potensi tersebut, Valen menginisiasi sistem utilitas bangunan sederhana tanpa listrik yang memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengalirkan, menyaring, dan menampung limpasan air hujan (roof runoff).
“Air hujan memiliki kualitas alami yang sangat baik untuk vegetasi kebun dan tanaman Toga karena bebas kaporit serta kaya unsur hara. Melalui perancangan sistem talang presisi dan penyaringan mandiri, warga dapat menabung air hujan saat musim basah untuk menjamin suplai penyiraman kebun bedengan tanpa khawatir tanah mengeras atau mengalami kekeringan,” jelas Valen saat memaparkan programnya kepada warga.
Rancang Sistem Praktis dan Filtrasi Mandiri
Dalam penerapannya, rancangan sistem pemanenan air hujan ini mengedepankan efisiensi material lokal yang terjangkau dan mudah dirakit mandiri oleh masyarakat. Alur kerja sistem dirancang melalui empat tahapan utama: Tangkap (melalui atap bangunan), Arahkan (lewat talang air miring presisi 0.5 – 1 cm per 3 meter), Saring (memisahkan debu dan kotoran makro), serta Simpan dan Gunakan (ditampung ke dalam toren tertutup).
Inovasi yang diunggulkan dalam proker ini adalah pembuatan tabung filter air hujan modifikasi bertingkat dari pipa PVC yang dilengkapi kasa nilon penahan sampah daun dan busa penyaring sedimen halus. Sistem ini dirancang tertutup rapat dengan penutup kasa anti-nyamuk pada pipa pelimpah (overflow), sehingga menjawab kekhawatiran warga terkait risiko perkembangbiakan jentik nyamuk.
Dari hasil perhitungan teknis sederhana, potensi air yang dapat dipanen sangat signifikan. Sebagai gambaran, satu bidang atap berukuran 25 m^2 dengan koefisien limpasan seng/spandek Cr = 0.90 pada intensitas hujan sedang 20 mm mampu menghasilkan sekitar 450 liter air bersih dalam satu kali peristiwa hujan. Jumlah tersebut setara dengan pengisian penuh dua drum kapasitas 200 L yang cukup untuk menyuplai irigasi kebun selama berhari-hari.
Fleksibel Diterapkan di Berbagai Skala
Program ini menawarkan tiga modul penerapan fleksibel (modular design), yaitu:
- Skala Komunal (Balai Pertemuan): Menangkap air dari atap balai pertemuan yang luas menuju toren 1000 L untuk menyiram bedengan kebun dan Toga bersama.
- Skala Pertanian (Greenhouse): Memanfaatkan rangka besi greenhouse untuk menopang talang air menuju drum 200 L yang dihubungkan ke sistem irigasi tetes (drip irrigation).
- Skala Mandiri (Rumah Warga): Skala scale-down menggunakan drum 150-200 L di bawah lisplang hunian untuk kebutuhan domestik non-konsumsi.
Inisiatif ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dalam mendukung ketahanan pangan lokal serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penyediaan infrastruktur ramah lingkungan di tingkat rukun warga. Diharapkan, Kampung Sironjang dapat menjadi percontohan kampung mandiri air dan tangguh iklim di Kota Semarang.