{"id":9720,"date":"2023-12-22T16:50:40","date_gmt":"2023-12-22T08:50:40","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9720"},"modified":"2023-12-22T16:50:40","modified_gmt":"2023-12-22T08:50:40","slug":"solidaritas-di-selatan-menelusuri-sikap-negara-amerika-latin-terhadap-pendudukan-israel-atas-palestina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/solidaritas-di-selatan-menelusuri-sikap-negara-amerika-latin-terhadap-pendudukan-israel-atas-palestina\/9720\/","title":{"rendered":"Solidaritas di Selatan: Menelusuri Sikap Negara Amerika Latin terhadap Pendudukan Israel atas Palestina"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nPerang antara Israel dan militan Hamas yang menyerbu kota-kota Israel dan Kibbutz dari Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober merupakan yang teranyar dalam tujuh dekade sejarah perselisihan antara Israel dan Palestina. Israel merespons dengan memutus akses terhadap makanan, listrik, dan bahan bakar bagi lebih dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza serta menggempur wilayah tersebut dengan gempuran bom tanpa henti. <\/p>\n<p>Ditambah lagi, Israel juga melakukan serangan darat dengan mengerahkan tank-tank masuk ke Gaza. Menurut pihak berwenang Palestina, serangan udara tanpa henti tersebut telah meratakan seluruh pemukiman, membuat lebih dari 70 persen penduduk Gaza mengungsi, dan menewaskan 11.078 orang (Al-Jazeera, 2023). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa serangan Israel ke Gaza merupakan hukuman kolektif terhadap penduduk yang tidak memiliki banyak pilihan untuk mencari tempat berlindung yang aman, dan kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut semakin memprihatinkan. Serangan Hamas mengakibatkan sekitar 1.400 warga Israel terbunuh yang sebagian besar ialah warga sipil dan lebih dari 240 orang disandera di Jalur Gaza.<\/p>\n<p>Pendudukan Israel terhadap Jalur Gaza ini mempertemukan kepentingan Israel yang menginginkan keamanan di wilayah yang sudah lama dianggapnya sebagai Timur Tengah yang tidak bersahabat dengan aspirasi Palestina untuk mendirikan negara sendiri. Hamas tetap tegas dalam menolak solusi dua negara dan bertekad untuk menghancurkan Israel. Dalam sejarahnya, pada tahun 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui sebuah rencana untuk membagi Palestina menjadi negara-negara Arab dan Yahudi ditambah Ibukota Yerusalem dibawah pengawasan internasional. Para pemimpin Yahudi menerima rencana tersebut dengan memberikan mereka 56 persen tanah Palestina, tetapi Liga Arab menolak usulan tersebut.<\/p>\n<p>Kemudian, Bapak pendiri Israel, David Ben-Gurion, memproklamasikan negara modern Israel pada 14 Mei 1948 dengan mendirikan tempat yang aman bagi orang-orang Yahudi yang melarikan diri dari penganiayaan dan mencari suaka di tanah yang menurut mereka memiliki ikatan yang mendalam sejak zaman kuno. Namun, selang beberapa hari setelah Israel berdiri, kekerasan semakin meningkat antara kaum Yahudi dan Arab hingga membuat pasukan dari lima negara Arab menyerang Israel. Dalam perang yang terjadi setelahnya, sekitar 700.000 orang Palestina terpaksa melarikan diri atau terusir dari rumah mereka, dan berakhir di Yordania, Lebanon, Suriah, serta di Gaza. <\/p>\n<p>Orang-orang Palestina memperingati peristiwa ini sebagai &#8220;Nakba&#8221; atau malapetaka. Israel membantah pernyataan bahwa mereka memaksa Palestina keluar (Reuters, 2022). Banyak negara di dunia mengecam tindakan kedua belah pihak dan mendapatkan beragam macam respons salah satunya negara di Kawasan Amerika Latin. Oleh karena itu, artikel opini ini akan mengeksplorasi lebih lanjut respons yang dikeluarkan oleh berbagai negara di Amerika Latin dengan cara menelusuri kembali sejarah hubungannya dengan Palestina. Lalu, menjelaskan fenomena \u201cPink Tide\u201d sebagai bentuk solidaritas negara Amerika Latin terhadap perjuangan rakyat Palestina. <\/p>\n<p><strong>Sejarah Hubungan Negara Amerika Latin dan Palestina<\/strong><br \/>\nSejarah hubungan Palestina dengan Amerika Latin dimulai sejak akhir periode Ottoman, dengan gelombang pertama emigrasi Palestina ke wilayah Levant terjadi pada tahun 1870. Migrasi ini sebagian besar terdiri dari imigran Kristen dari berbagai wilayah di Palestina, seperti Betlehem, Yerusalem, Taybeh, dan Ramallah. Para imigran ini memainkan peran penting dalam perdagangan pariwisata Tanah Suci di Eropa, yang mengarah pada munculnya kelas pedagang baru, terutama di dalam dan sekitar Betlehem (Aljamal &#038; Amour, 2020). <\/p>\n<p>Diaspora Arab di Amerika Latin memiliki asal-usul yang lebih awal, tetapi juga mencapai puncaknya pada akhir abad kesembilan belas ketika para migran tiba dari wilayah yang sekarang dikenal sebagai Lebanon, Palestina, dan Suriah. Sebagian besar dari para migran ini adalah orang Kristen Arab, sedangkan Muslim hanya menjadi mayoritas pada gelombang migrasi yang terbaru. Mereka menjadi komunitas yang berpengaruh secara ekonomi, terutama di Chili dan Brasil di mana mereka berpindah dari industri kapas ke industri telekomunikasi dan konstruksi. <\/p>\n<p>Ada sekitar 20-30 juta orang keturunan Arab yang tinggal di Amerika Latin, termasuk, 7 juta orang Brasil keturunan Lebanon. Selain itu, Chili merupakan rumah bagi lebih dari setengah juta orang Palestina yang menjadikannya komunitas terbesar di luar Palestina. Sejarah hubungan Palestina dengan Amerika Latin selanjutnya dibentuk oleh peristiwa-peristiwa politik penting, seperti pengakuan PLO (Palestine Liberation Organisation) sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1974. Hal ini membuat PLO membuka kantor informasi di seluruh Amerika Latin dan mengembangkan jaringan perwakilan, mempolitisasi kembali diaspora, dan meminta dana dari pengusaha kaya (Aljamal &#038; Amour, 2020). <\/p>\n<p><strong>Fenomena \u201cPink Tide\u201d Sebagai Bentuk Solidaritas Negara Amerika Latin Terhadap Palestina<\/strong><br \/>\nSeiring dengan masifnya pengeboman permukiman di Gaza yang memasuki bulan kedua, para pemimpin dunia semakin menyuarakan keprihatinan mereka atas meningkatnya jumlah korban jiwa dan berbagai dugaan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Palestina. Kendati demikian, di Barat, hanya sedikit pemimpin negara yang vokal mengkritik Israel. Akan tetapi, para pemimpin sayap kiri di Amerika Latin bersikap lain daripada AS beserta sekutunya. Mereka berkuasa dalam periode gelombang progresif yang dikenal dengan sebutan \u201cPink Tide\u201d atau \u201cgelombang merah jambu\u201d. <\/p>\n<p>Istilah gelombang merah jambu pertama kali dikeluarkan oleh seorang wartawan The New York Times asal AS bernama Larry Rohter. Ia menyatakan bahwa fenomena unik di Amerika Latin ini dimulai saat Mantan Presiden Uruguay, yaitu Tabare Vazquez memenangkan pemilihan umum dan memiliki ideologi sayap kiri. Setelahnya, tiga perempat total populasi Amerika Latin diperintah oleh ideologi kiri sejak tahun 1998. Penggunaan warna merah jambu melambangkan ide-ide sosialis moderat berbeda dengan komunisme yang identik dengan warna merah (Marten, 2016).<\/p>\n<p>Apa yang disebut sebagai gelombang merah muda di Amerika Latin dimulai sekitar peristiwa Intifada Kedua pada tahun 2000. Perlawanan Palestina menemukan gaungnya di Amerika Latin, baik di tingkat resmi maupun di tingkat akar rumput masyarakat. Gelombang ini mulai berbalik pada saat yang sama ketika Israel menginvasi Jalur Gaza, dengan dampak yang dramatis, pada tahun 2015. Padahal di masa lalu, seperti yang kita lihat di atas, ada tingkat kebajikan tertentu terhadap proyek Zionis. <\/p>\n<p>Dengan berakhirnya Perang Dingin, hubungan intelijen-militer antara kediktatoran Amerika Latin dan Israel mulai berkurang. Sementara keseimbangan mulai muncul, pada akhir 1991 semua negara Amerika Latin kecuali Kuba memilih untuk menarik kembali Resolusi PBB 3379 tentang bentuk rasisme terhadap Zionisme. <\/p>\n<p>Pergeseran yang dimulai pada tahun 2000 dikonsolidasikan antara tahun 2008 dan 2013, ketika semua pemerintah Amerika Latin kecuali pemerintah Meksiko, Kolombia, dan Panama secara resmi mengakui negara Palestina. Konsensus yang luas untuk mengakui Palestina ini juga diterjemahkan ke dalam respons negara Amerika Latin yang unik dan beragam terhadap serangan Hamas ke wilayah Israel di bagian selatan.<\/p>\n<p>Beragamnya Respons Negara Amerika Latin dalam operasi \u201cBadai Al-Aqsa\u201d<br \/>\nSeusai Hamas melancarkan operasi \u201cBadai Al-Aqsa\u201d pada tanggal 7 Oktober 2023, dunia internasional sangat terguncang dengan kejadian ini, tak terkecuali negara-negara di Kawasan Amerika Latin. Dalam beberapa minggu terakhir, empat negara Amerika Latin menarik kedutaan besar mereka dari Israel atas tindakan negara itu dalam perang dengan Hamas di Gaza. Sementara itu, Chili, Kolombia, dan Honduras baru saja menarik para diplomatnya dari Tel Aviv, bahkan Bolivia melangkah lebih jauh lagi dengan memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Israel, yang menandai kedua kalinya negara itu melakukannya. <\/p>\n<p>Setelah pengeboman di Kamp Jabalia yang merupakan kamp pengungsi terbesar di Palestina, lebih banyak lagi pemimpin berhaluan kiri dari Amerika Latin yang berbicara menentang kekerasan Israel (Harrison, 2023). Pada tahun 2023, terdapat 17 negara Amerika Latin yang telah mengakui negara Palestina. Sebagian besar dari negara-negara tersebut memberikan pengakuan antara tahun 2009 hingga 2011. <\/p>\n<p>Pada tahun-tahun tersebut, Presiden Fatah, Mahmoud Abbas berusaha untuk menjangkau presiden-presiden Amerika Latin setelah negosiasi sebelumnya dengan Israel gagal. Negara terbaru di kawasan ini yang mengakui Palestina adalah Kolombia yang melakukannya pada tahun 2018. <\/p>\n<p>Dua negara, Meksiko dan Panama tetap tidak mengakui negara Palestina. Meskipun begitu, tiga negara di kawasan ini memberikan bantuan keuangan kepada Palestina melalui UN Relief and Works Agency for Palestine Refugees. Pada tahun 2023, Meksiko memberikan bantuan sebesar $750.000 USD, sementara Brasil memberikan $75.000 USD dan Chili memberikan $12.500 USD (Harrison, 2023). <\/p>\n<p>Beberapa negara terbesar di Amerika Latin juga mengutuk serangan Israel ke sebuah kamp pengungsi yang padat di Jalur Gaza yang menyebabkan keretakan diplomatik dengan Israel. Salah satunya adalah Argentina, rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Amerika Latin, kemudian Peru dan Meksiko yang mengutuk serangan Israel, yang menurut Hamas telah menewaskan hampir 200 orang (Reuters, 2023). <\/p>\n<p>Pemukiman Israel di wilayah Palestina juga telah menumbuhkan rasa solidaritas di antara para pemimpin Amerika Latin. Ratusan ribu orang Palestina menghadapi pengungsian selama pendirian negara Israel pada tahun 1948 setelah periode panjang keterlibatan Barat yang berlarut-larut di wilayah tersebut. PBB terus mengecam perluasan pemukiman Israel di wilayah Palestina seperti Tepi Barat sebagai tindakan yang ilegal. Sejarah tersebut juga beresonansi di Amerika Latin, di mana sekitar 42 juta orang mengaku sebagai penduduk asli. Mereka juga terus bergulat dengan warisan perampasan dari tanah leluhur mereka dan diskriminasi rasial, sebagai bagian dari penjajahan Eropa (Al-Jazeera, 2023).<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nNegara-negara Amerika Latin telah menunjukkan respon yang beragam dan berprinsip terhadap pendudukan Israel atas Palestina. Negara-negara di kawasan ini, didorong oleh empati historis dan berkomitmen dalam mengambil sikap diplomatik yang berbeda-beda dalam menavigasi kompleksitas krisis Israel-Palestina. Sementara beberapa negara telah secara resmi mengakui Palestina, negara lain tetap memilih pendekatan yang lebih berhati-hati, menekankan pentingnya solusi dua negara yang terus dinegosiasikan. <\/p>\n<p>Respons Amerika Latin mencerminkan komitmennya terhadap hukum internasional, hak asasi manusia, dan promosi perdamaian. Kawasan ini secara konsisten mengadvokasi resolusi yang adil yang menghormati hak-hak dan aspirasi warga Israel dan Palestina. Solidaritas yang ditunjukkan oleh berbagai negara Amerika Latin akibat fenomena \u201cPink Tide\u201d menggarisbawahi signifikansi global dari krisis Israel-Palestina dan menekankan pentingnya upaya kolektif untuk mengatasi konflik yang telah berlangsung lama ini. <\/p>\n<p>Penulis: <strong>Vieri Abdurrafi &#8211; Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran<\/strong><\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nAljamal, Y. M., &#038; Amour, P. O. (2020). Palestinian Diaspora Communities in Latin America and Palestinian Statehood. Journal of Holy Land and Palestine Studies, 19(1), 101-120.<br \/>\nAl-Jazeera. (2023, November 10). Israel revises down toll from October 7 attack to &#8216;around 1200&#8217;. Al Jazeera. Retrieved December 5, 2023, from https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2023\/11\/10\/israel-revises-death-toll-from-october-7-hamas-attack-to-1200-people<br \/>\nBaeza, C. (2014). Palestinians in Latin America: Between assimilation and long-distance nationalism. Journal of Palestine Studies, 43(2), 59-72.<br \/>\nCreswell, J. W. (2013). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. SAGE Publication.<br \/>\nDenzin, N. K., &#038; Lincoln, Y. S. (2018). The handbook on Qualitative Research. In Sage Publications (Vol. 5). SAGE Publication.<br \/>\nEchols, C. (2023, November 20). Why is Latin America so pro-Palestine? Responsible Statecraft. https:\/\/responsiblestatecraft.org\/latin-america-israel-gaza\/<br \/>\nHarrison, C. (2023, November 16). Explainer: Latin America&#8217;s Relationship with Israel and Palestine. AS\/COA. Retrieved December 5, 2023, from https:\/\/www.as-coa.org\/articles\/explainer-latin-americas-relationship-israel-and-palestine<br \/>\nJohn, Y. (2022, September 22). Pink Tide 2.0? The Same Trap Awaits. Global Americans. Retrieved December 5, 2023, from https:\/\/theglobalamericans.org\/2022\/09\/pink-tide-2-0-the-same-trap-awaits\/<br \/>\nLamont, C. (2015). Research Methods in Politics and International Relations. SAGE Publication.<br \/>\nMarten, M. (2016). Pink Tide: Gelombang Kemenangan Presiden Kiri pada Pemilihan Umum di Amerika Latin. In Forum (Vol. 41, No. 1, pp. 13-22). Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University.<br \/>\nMunck, R., &#038; Pozzi, P. (2019). Israel, Palestine, and Latin America: Conflictual Relationships. Latin American Perspectives, 46(3), 4-12.<br \/>\nNoriega, C. (2023, November 9). Why Latin America&#8217;s &#8216;pink tide&#8217; is taking a stand against Israel. Al Jazeera. Retrieved December 5, 2023, from https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2023\/11\/9\/why-latin-americas-pink-tide-is-taking-a-stand-against-israel<br \/>\nO&#8217;Boyle, B., Madry, K., &#038; Perry, M. (2023, November 1). Latin America ramps up condemnations of Israel&#8217;s attack on Gaza. Reuters. Retrieved December 5, 2023, from https:\/\/www.reuters.com\/world\/latin-america-ramps-up-condemnations-israels-attack-gaza-2023-11-02\/<br \/>\nReuters. (2022, November 6). What&#8217;s the Israel-Palestinian conflict about and how did it start? Reuters. Retrieved December 5, 2023, from https:\/\/www.reuters.com\/world\/middle-east\/whats-israel-palestinian-conflict-about-how-did-it-start-2023-10-30\/<br \/>\nRobinson, W. I. (2019). Israel, Palestine, and Latin America: The contemporary moment. Latin American Perspectives, 46(3), 164-167.<br \/>\nSuluh Perempuan. (2022, December 15). Pink Tide: Gelombang Pemerintahan Kiri di Amerika Latin &#8211; SULUH PEREMPUAN. SULUH PEREMPUAN. https:\/\/suluhperempuan.org\/2022\/12\/15\/pink-tide-gelombang-pemerintahan-kiri-di-amerika-latin.html<br \/>\nSprinz, D. F., &#038; Wolinsky-Nahmias, Y. (2002). Cases , Numbers , Models\u202f: International Relations Research Methods. In University of Michigan Press. University of Michigan Press. http:\/\/www.amazon.com\/dp\/0472098616  <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Perang antara Israel dan militan Hamas yang menyerbu kota-kota Israel dan Kibbutz dari Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober merupakan yang teranyar dalam tujuh dekade sejarah perselisihan antara Israel dan Palestina. Israel merespons dengan memutus akses terhadap makanan, listrik, dan bahan bakar bagi lebih dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza serta menggempur wilayah tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-9720","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9720"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9720\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}