{"id":9714,"date":"2023-12-22T10:15:01","date_gmt":"2023-12-22T02:15:01","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9714"},"modified":"2023-12-22T10:15:01","modified_gmt":"2023-12-22T02:15:01","slug":"anak-anak-di-timur-tengah-korban-utama-perang-dan-tantangan-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/anak-anak-di-timur-tengah-korban-utama-perang-dan-tantangan-pendidikan\/9714\/","title":{"rendered":"Anak-Anak di Timur Tengah: Korban Utama Perang dan Tantangan Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Eskalasi konflik di Timur Tengah, sejatinya terus membawa dampak yang menghancurkan bagi masyarakat sipil seperti perempuan, anak-anak, dan lainnya. Sesuai dengan Hukum Humaniter Internasional, bahwa masyarakat sipil tidak boleh  dijadikan  objek  kekerasan  dan  harus  dilindungi  dari  segala  kaitannya  dengan  peperangan. Anak-anak sebagai generasi muda seringkali menjadi korban utama dalam konflik bersenjata, padahal seharusnya anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling dilindungi. Laporan UNICEF menegaskan bahwa setiap tahun jumlah pelanggaran terverifikasi untuk anak-anak yang terkena dampak perang terus meningkat. Begitu pun di Timur Tengah, di mana konflik yang berlangsung tidak hanya satu sehingga jumlah korban pun tidak hanya sedikit.<\/p>\n<p>Menurut data yang dilansir dari laman resmi CNBC Indonesia (Sorongan, 2023), jumlah anak-anak yang terbunuh di Jalur Gaza hanya dalam waktu tiga minggu pengeboman oleh Israel di Jalur Gaza sudah melampaui jumlah tahunan anak yang terbutuh dalam zona konflik global setiap tahunnya sejak tahun 2019. Data tersebut sesuai dengan yang dilaporkan oleh organisasi internasional Save the Children. Dalam waktu satu bulan, sekitar 4.104 anak terbunuh di Gaza dalam perang Israel-Palestina belakangan ini. Di Iraq, menurut laporan UNICEF sejak tahun 2008 sampai akhir tahun 2022 sekitar 3.119 anak terbunuh karena perang. Di Suriah, sejak tahun 2011 hingga tahun 2023 sekitar 12.000 anak terbunuh dan di Yaman sekitar 3.774 anak terbunuh sejak tahun 2015 karena perang. Sedangkan, dalam perang Rusia-Ukraina sekitar 510 anak yang terbunuh. Dari data data ini dapat dilihat bahwa di wilayah Timur Tengah jumlah anak yang terbunuh karena perang sangatlah tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain.<\/p>\n<p>Dampak perang yang menghancurkan bagi anak-anak bukan sekedar sebagai korban jiwa, namun juga perang menjadi suatu penyebab yang dapat menghancurkan masa depan mereka karena menghambat jalannya pendidikan. Bangunan-bangunan serta infrastruktur yang menunjang pendidikan hancur karena perang sehingga anak-anak tidak memiliki akses terhadap lingkungan belajar yang aman. Kegiatan pendidikan harus dihentikan dalam waktu yang tidak dapat dipastikan karena tenaga pendidik yang turut menjadi prajurit atau bahkan korban dari perang juga banyak anak-anak yang dilibatkan sebagai bagian dari tenaga perang. Bertahan di kondisi yang jauh dari kata stabil secara berkepanjangan juga menyulitkan pendidikan terhadap anak-anak tetap berjalan, mengingat bagaimana terganggunya psikis mereka yang menempatkan anak-anak dalam kondisi yang memprihatinkan bahkan ketika perang itu sendiri sedang tidak meletus. Akibatnya, empat hak dasar anak yang seharusnya didapatkan oleh anak, yaitu hak atas kelangsungan hidup, hak perlindungan, hak tumbuh kembang, dan hak keterbukaan untuk berpartisipasi, jelas sulit untuk dijaga dan diberikan di area konflik itu.<\/p>\n<p>Anak-anak merupakan generasi penerus suatu bangsa sehingga jika perang terus berlangsung dan terus mengorbankan anak-anak di dalamnya, baik secara langsung atau tidak, maka dikhawatirkan negara tersebut akan kehilangan generasi emasnya. Kehilangan dalam konteks anak-anak tersebut terbunuh dalam perang juga kehilangan dalam konteks anak-anak tersebut tidak memiliki akses terhadap pendidikan merupakan dua hal yang sama-sama buruk. Situasi anak-anak di Timur Tengah kini membutuhkan perhatian serta tindakan segera dari berbagai pihak, khususnya komunitas internasional mengingat beberapa konflik pun masih terus berlangsung, khususnya di Gaza yang meletus dengan dampak yang signifikan buruknya. Meski dalam pelaksanaannya kini pendidikan sulit dilakukan, setidaknya pendidikan diharapkan dapat berjalan pasca-konflik sebagai salah satu media untuk memulihkan kondisi anak-anak yang akan berdampak positif untuk perkembangan diri serta investasi jangka panjang.<\/p>\n<p>Menghadapi konflik kekerasan dan krisis kemanusiaan di Timur Tengah, seharusnya tidak boleh ada masyarakat sipil termasuk anak-anak yang terlupakan kondisinya sehingga kerap diabaikan. Lembaga internasional, negara-negara di dunia, serta seluruh masyarakat perlu membuka mata untuk memahami betapa pentingnya permasalahan ini dan perlu bersatu untuk berupaya memulihkan anak-anak serta mendukung agar anak-anak tersebut memiliki banyak akses untuk kehidupan dan pendidikan yang layak di masa depan. Dukungan finansial dan program rehabilitasi dapat menjadi opsi untuk memulai pemulihan terhadap anak-anak. Jika tindakan secara bersama ini tidak dilakukan, masa depan yang cerah dengan generasi muda yang penuh potensi hanya akan menjadi angan belaka yang dihancurkan oleh kenyataan konflik yang ada.<\/p>\n<p>Nama Penulis\u200b: Sabila Arfa Rizqia<br \/>\nAsal Instansi\u200b: Universitas Padjadjaran<br \/>\nReferensi<br \/>\nSorongan, T. P. (2023, November). Perang Gaza Paling Mematikan, Korban Anak Tembus Rekor! . Retrieved from CNBC Indonesia: https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20231108165554-4-487468\/perang-gaza-paling-mematikan-korban-anak-tembus-rekor<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Eskalasi konflik di Timur Tengah, sejatinya terus membawa dampak yang menghancurkan bagi masyarakat sipil seperti perempuan, anak-anak, dan lainnya. Sesuai dengan Hukum Humaniter Internasional, bahwa masyarakat sipil tidak boleh dijadikan objek kekerasan dan harus dilindungi dari segala kaitannya dengan peperangan. Anak-anak sebagai generasi muda seringkali menjadi korban utama dalam konflik bersenjata, padahal seharusnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9714","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9714\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}