{"id":9647,"date":"2023-12-21T21:12:04","date_gmt":"2023-12-21T13:12:04","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9647"},"modified":"2023-12-21T21:12:04","modified_gmt":"2023-12-21T13:12:04","slug":"pudarnya-pan-arabisme-refleksi-hi-bagi-negara-negara-arab-pendukung-palestina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pudarnya-pan-arabisme-refleksi-hi-bagi-negara-negara-arab-pendukung-palestina\/9647\/","title":{"rendered":"Pudarnya Pan-Arabisme: Refleksi HI bagi Negara-Negara Arab Pendukung Palestina"},"content":{"rendered":"<p><strong>Ammar Bianda Katon \u2013 Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nKonflik Israel dan Palestina telah berjalan sejak Perang Dunia I, yaitu pasca kekalahan kesultanan Utsmaniyah oleh Inggris. Dengan Inggris yang mengambil alih kekuasaan di Palestina, Palestina dijadikan wilayah emansipasi kaum Yahudi internasional dengan gagasan \u201ctanah air untuk orang-orang Yahudi\u201d yang mereferensikan zionisme dengan imigrasi besar-besaran mereka (Weider, 1997). Pasca pembubaran mandat Inggris dan negara-negara pemenang Perang Dunia I lainnya atas wilayah-wilayah di Arab pada 1948, muncul sentimen nasionalisme serta pan-arabisme di bangsa-bangsa Arab yang berujung pada kemerdekaan negara-negara Arab (Doran, 1999). <\/p>\n<p>Walaupun Israel, sebagai negara Yahudi-zionis, langsung mampu mendeklarasikan kedaulatannya pada 1948; kedaulatan Palestina justru belum diakui sampai 1988: itu pun dengan berbagai penentangan hingga saat ini (Ismael &#038; Perry, 2014, p. 4). Penentangan utama berangkat dari Israel yang bersikukuh bahwa Palestina merupakan wilayahnya, ditambah kepentingan geopolitik negara-negara pro-Israel. Di sisi lain, pan-arabisme yang memunculkan solidaritas negara-negara Arab menyatakan dukungan bahwa Palestina adalah negara terpisah. Namun, terdapat beberapa negara Arab yang saat ini berubah menunjukkan penurunan dukungan.<\/p>\n<p><strong>Pan-Arabisme dan Arab<\/strong><br \/>\nPan-arabisme adalah ide bahwa seluruh kawasan membentang dari Samudra Atlantik sampai Laut Arab adalah satu kesatuan, sambil menyiratkan penolakan imperialisme\/kolonialisme. Arab merujuk pada negara-negara berbahasa arab, termasuk etnik-etnik minoritas Arab. Konsepsi pan-arabisme selalu berkontestasi dengan identitas dan\/atau agama, serta sosial-budaya Arab. Tren pan-arabisme muncul pada 1950-an ketika Mantan Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser, terkenal karismatik atas kemampuannya dalam menyadarkan dan menjauhkan gagasan balkanisasi serta perbudakan oleh kolonialis maupun rezim eksploitatif. Retorika ini menghasilkan kuatnya gerakan memandang rendah pemerintah Arab yang tidak setia terhadap kesatuan Arab dan solidaritas isu Palestina (Ismael &#038; Perry, 2014, p. 4). Atas aspirasi pan-arabisme, Arab League berhasil dibangun dan menyatukan visi-visi semua negara Arab, di antaranya tidak mengakui negara Israel (tidak mengadakan hubungan diplomatik) serta menjunjung pembebasan Palestina (Dawisha, 2003) (Smith, 2013).<\/p>\n<p>Walaupun berada dalam satu cakupan klaim geografis Arab, Israel tidak masuk sebagai negara Arab karena beberapa dasar. Secara sosial-budaya dan agama, Israel mengidentifikasi diri sebagai negara Yahudi. Secara geopolitik, Israel berhubungan dengan tunggangan imperialisme-kolonialisme Barat. Secara sejarah, imigrasi besar kaum Yahudi ke wilayah Palestina menyebabkan rentetan perang Arab-Israel 1948-2006 dengan pelabelan kelompok \u201cIsrael\u201d dan persatuan \u201cArab\u201d. Norma-norma pan-arabisme mendorong negara-negara Arab untuk menjaga keharmonisan-integrasi kawasan Arab sehingga melihat konflik Israel-Palestina sebagai ancaman karena Israel merupakan non-Arab, pun dengan keterlibatan negara-negara non-Arab (Jenkins, 2003). Bahkan, pernah didapati \u201ckompetisi\u201d untuk kepemimpinan pan-Arab di antara mereka dalam menunjukkan kesetiaan: bahwa partisipasi bersama non-Arab dalam melawan Arab dianggap tabu (Hinnebusch, 2003, p. 5) (Ismael &#038; Perry, 2014, p. 4).<\/p>\n<p><strong>Pudarnya Pan-Arabisme<\/strong><br \/>\nNamun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pan-arabisme masih bertahan dan relevan. Mulai tahun 1960-an, pokok-pokok sistem arabisme memudar ditandai dengan tidak adanya penerus Nasser karena kemampuannya untuk memimpin Arab yang kohesif melemah. Berangkat dari bubarnya United Arab Republic pada 1961; kegagalan Iraq bergabung dengan entitas baru pan-Arab setelah revolusinya pada 1958; hingga kekalahan Arab oleh Israel pada perang Arab-Israel 1967 (European Commision, 2021). Ditambah lagi, Iran dan Turki sebagai negara non-Arab Muslim menjadi terintegrasi dalam politik kawasan Arab. Bahkan, kerja sama atau perdamaian dengan Israel; dan aliansi dengan non-Arab melawan sesama Arab mulai tidak dianggap tabu. Kerja sama operasi militer beberapa negara Arab bersama Eropa dan Amerika Sertikat juga mulai terjadi seperti saat penjatuhan rezim Muammar Khadafi di Libya serta intervensi perang sipil Suriah 2012 (Ismael &#038; Perry, 2014, p. 5). Imperialisme Barat semakin marak dengan menyokong pihak-pihak tertentu untuk melawan pihak-pihak lain sesuai kepentingannya (European Commision, 2021, p. 1). <\/p>\n<p>Hingga sekarang, terdapat enam negara Arab yang secara eksplisit normalisasi hubungan dengan Israel membuat dukungan mereka kepada Palestina dipertanyakan. Mesir mengawali penerimaan diplomatik ini pada 1979 yang juga menjadi alasannya diberhentikan di Arab League tahun 1979-1989. Yordania juga menormalisasi hubungan pada 1994, disusul oleh Uni Emirate Arab dan Bahrain pada 2020 dengan menyetujui Abraham Accords terutama dalam perdagangan; pariwisata; bahkan keamanan. Dalam hitungan minggu, Sudan dan Maroko sendiri dengan rencana peningkatan militernya turut mengakui pula (Middle East Monitor, 2021). Walaupun tidak melalui pengakuan diplomatik Israel, beberapa negara Arab juga secara implisit mulai mengurungkan dukungan kepada Palestina dalam pemenangannya pada konflik Israel-Palestina. Hal ini dicerminkan dari arah kebijakan luar negeri Arab yang berubah secara pragmatis seperti Iraq dan negara-negara Magrib yang berhubungan netral; serta Arab Saudi dengan intrinsik Saudi Vision 2030 yang mulai menjalani hubungan undercover\/diam-diam untuk berbagi kepentingan strategis (Fakhriansyah, 2023). <\/p>\n<p>Selain itu, terdapat beberapa wacana tingkat elit yang mempertimbangkan hubungan dengan Israel. Contohnya, calon potensial pemimpin Libya, Khalifa Haftar diduga mempertimbangkan pengakuan Israel untuk pemenangan pemilu; dan Arab Saudi yang akan menormalisasi hubungan jika Amerika Serikat memberikan program militer kepadanya (Spencer, 2021) (Magib, 2023). Pada Konferensi Tingkat Tinggi Organization of Islamic Cooperation 2023, semua negara yang telah menormalisasi hubungan tersebut ditambah Arab Saudi; Mauritania; dan Djibouti juga menolak usulan sanksi embargo minyak kepada Israel (Ningsih, 2023). Dalam segala skala, semua negara yang akhirnya membangun hubungan secara administratif tersebut tidak menghilangkan fakta bahwa hampir seluruh masyarakatnya masih menjatuhkan sentimen buruk kepada Israel (Shargal, 2018) (Ismael &#038; Perry, 2014, p. 5). Dengan kata lain, kepentingan strategis negara yang dipegang serta ditentukan elit\/pemerintah mengalami diferensiasi sehingga bertentangan dengan sikap sentimen masyarakat tersebut, dan memiliki arti bahwa hubungan dengan Israel tidak ada hubungannya Palestina.<\/p>\n<p>Di sisi lain bersama negara-negara Arab lainnya, terdapat empat negara Arab yang secara mencolok dan konsisten menentang Israel, baik pemerintah maupun warganya, untuk membela Palestina. Wilayah Lebanon yang beberapa kali dimasuki operasi militer Israel yang mengusir Palestine Liberation Organization atas hubungan baik Palestina-Lebanon, kemudian memicu kemunculan subnegara Hizbullah dan Hamas, menjadikan Lebanon garda terdepan melawan Israel (Ningsih, 2023). Kemudian, Suriah senantiasa berupaya meningkatkan militer, negosiasi, dan konfrontasi perang tidak langsung di Lebanon (Suwarno &#038; Abdullah, 2013). Masyarakat Libya menggelar unjuk rasa sejalan dengan pemerintahnya yang menolak tawaran normalisasi dan mengancam Israel akan memotong pasokan energi (France-Presse, 2023). Di sisi yang sama, Qatar memberikan dukungan kepada Palestina dengan menjadi tuan rumah kantor politik Hamas dan menekankan narasi humanitarianisme yang menyalahkan Israel (Miranti, 2023).<\/p>\n<p><strong>Pandangan Disiplin Hubungan Internasional<\/strong><br \/>\nDinamika kebijakan luar negeri negara-negara Arab menyangkut Israel dan hubungannya dengan Palestina dapat dikaji melalui disiplin Hubungan Internasional. Pertama, pan-arabisme cenderung menggunakan narasi teori idealisme karena mengusung struktur institusi internasional dengan prinsip collective security dan harmony of interest dari nilai-nilai ideasional terutama solidaritas etnosentis berdasarkan kesamaan identitas dan\/atau sosial-budaya, agama, serta ideologi kawasan (Wilson, 1918). Kedua, pan-arabisme tumbuh sebagai penolakan imperialisme yang mampu menghasilkan gerakan-gerakan politik melewati batas negara serta kebingungan dalam membatasi antara dengan dasar wilayah atau identitas sehingga nasionalisme diperebutkan oleh identitas-identitas subnegara dan supranegara (Hinnebusch, 2003, p. 5). Ketiga, perspektif konstruktivis menunjukan norma-norma pan-Arab yang didasari identitas supranegara menjadi penting dalam membentuk perilaku\/behavior negara di dalam distribusi kekuatan\/power menurut realisme sehingga konstruktivisme menjadi jembatan antara idealisme dan realisme. Pertanyaan akan teori apa yang lebih relevan ini telah lama mengalami perdebatan dunia, yaitu antara idealisme dengan realisme yang merupakan perdebatan hebat pertama dalam disiplin Hubungan Internasional. <\/p>\n<p>Keempat, realisme mengantarkan negara sebagai aktor utama-absolut berperilaku self-help untuk mengejar kepentingannya. Buktinya, terjadi perubahan pragmatis-strategis negara-negara Arab yang membangun hubungan dengan Israel erat akan geopolitik realis, bahwa masing-masingnya meningkatkan kekuatan militernya; memposisikan netral; atau menjalin aliansi bagi kepentingan keamanannya (Suwarno &#038; Abdullah, 2013). Kelima, dalam sistem internasional realis yang anarkis serta bipolar atau unipolar, balance of power mendeskripsikan bahwa stabilitas\/keseimbangan kawasan akan tercapai jika terdapat suatu entitas untuk mencegah entitas lain dari menjadi terlalu kuat (hegemoni). Di Arab, terdapat dua kekuatan kolektif yang terdiri dari 1) aliansi atau sokongan Iran; Turki; Rusia; dan negara-negara Arab yang secara langsung membantu\/mendukung Palestina, melawan atau setidaknya bersaing dengan 2) aliansi Amerika Serikat; Eropa; dan negara-negara Arab yang mempertimbangkan hubungan dengan Israel (Ningsih, 2023) (Fakhriansyah, 2023). Diduga karena motif balance of power inilah, negara-negara Arab penghasil minyak menolak usulan pemberlakuan sanksi embargo minyak kepada Israel pada Konferensi Tingkat Tinggi Organization of Islamic Cooperation 2023.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nDawisha, A. (2003). Requim for Arab Nationalism. Middle East Quarterly, 10(1), 25-41. Retrieved from https:\/\/www.meforum.org\/518\/requiem-for-arab-nationalism<br \/>\nDoran, M. S. (1999). Pan-Arabism Before Nasser: Egyptian Power Politics and the Palestine Question. New York: Oxford University Press.<br \/>\nEuropean Commision. (2021). A New Response to a Changing Neighbourhood: A Review of European Neighbourhood Policy. Joint Communication by the High Representative of the Union for Foreign Affairs and Security Policy and the European Commisions. Brussels: European Union. Retrieved December 8, 2023, from http:\/\/www.europa.eu\/world\/enp\/pdf\/com_11_303_en.pdf<br \/>\nFakhriansyah, M. (2023, January 26). Diam-Diam Arab Saudi Kerja Sama dengan Israel, Ini Buktinya. Retrieved December 8, 2023, from CNBC Indonesia: https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20230126094118-4-408351\/diam-diam-arab-saudi-kerja-sama-dengan-israel-ini-buktinya<br \/>\nFrance-Presse, A. (2023, October 25). Libya Parliament Orders Out Diplomats of Countries Supporting Israel. Retrieved December 8, 2023, from VOA Africa: https:\/\/www.voaafrica.com\/a\/libya-parliament-orders-out-diplomats-from-countries-supporting-israel-\/7326552.html<br \/>\nHinnebusch, R. (2003). The International Politics of the Middle East. Manchester: Manchester University Press.<br \/>\nIsmael, T. Y., &#038; Perry, G. E. (2014). The International Relations of the Contemporary Middle East: Subordination and Beyond. Abingdon: Routledge.<br \/>\nJenkins, G. (2003). Muslim Democrats in Turkey? Global Politics and Strategy, 45(1), 45-66. Retrieved from https:\/\/doi.org\/10.1093\/survival\/45.1.45<br \/>\nMagib, J. (2023, March 9). To Normalize with Israel, Saudis Want US Okay for Civil Nuclear Program &#8211; Diplomat. Retrieved December 8, 2023, from The Times of Israel: https:\/\/www.timesofisrael.com\/to-normalize-with-israel-saudis-want-us-okay-for-civil-nuclear-program-diplomat\/<br \/>\nMiddle East Monitor. (2021, December 17). Morocco, Israel to Build 2 Drone Factories. Retrieved December 8, 2023, from Middle East Monitor: https:\/\/www.middleeastmonitor.com\/20211217-morocco-israel-to-build-2-drone-factories\/<br \/>\nMiranti, B. (2023, October 12). Daftar 10 Negara Pendukung Palesina. Retrieved December 2023, 2023, from Liputan 6: https:\/\/www.liputan6.com\/global\/read\/5421373\/daftar-10-negara-pendukung-palestina-dan-israel?page=4#google_vignette<br \/>\nNingsih, W. L. (2023, November 18). Kenapa Negara-Negara Arab Tidak Membantu Palestina. Retrieved December 8, 2023, from Kompas: https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2023\/11\/18\/150000879\/kenapa-negara-negara-arab-tidak-membantu-palestina?page=all<br \/>\nShargal, Y. (2018). Is There any Arab Country That is in Good Relations with Israel. Retrieved from https:\/\/www.quora.com\/Is-there-any-Arab-country-that-is-in-good-relations-with-Israel<br \/>\nSmith, C. D. (2013). Palestine and the Arab-Israeli Conflict (8th ed.). Boston: Bedford\/St. Martins.<br \/>\nSpencer, R. (2021, November 8). Libyan Warlord Khalifa Haftar May Recognise Israel for Election Support. Retrieved December 8, 2023, from The Times UK: https:\/\/www.thetimes.co.uk\/article\/libyan-warlord-khalifa-haftar-may-recognise-israel-for-election-support-nl6d69mrt<br \/>\nSuwarno, W., &#038; Abdullah, I. (2013). Strategi Suriah dalam Menghadapi Konflik dengan Israel 1991-2013. Disertasi Sastra\/Kajian Timur Tengah Universitas Gadjah Mada. Retrieved from https:\/\/etd.repository.ugm.ac.id\/home\/detail_pencarian\/66769<br \/>\nWeider, B. (1997). Napoleon and the Jews. International Congress of the International Napoleonic Society. Allessandria: The International Napoleonic Society.<br \/>\nWilson, W. (1918). President Woodrow Wilson&#8217;s 14 Points [Recorded by W. Wilson]. New York, New York, United States of America.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ammar Bianda Katon \u2013 Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Pendahuluan Konflik Israel dan Palestina telah berjalan sejak Perang Dunia I, yaitu pasca kekalahan kesultanan Utsmaniyah oleh Inggris. Dengan Inggris yang mengambil alih kekuasaan di Palestina, Palestina dijadikan wilayah emansipasi kaum Yahudi internasional dengan gagasan \u201ctanah air untuk orang-orang Yahudi\u201d yang mereferensikan zionisme dengan imigrasi besar-besaran mereka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9647","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9647"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9647\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}