{"id":9599,"date":"2023-12-21T07:57:44","date_gmt":"2023-12-20T23:57:44","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9599"},"modified":"2023-12-21T07:57:44","modified_gmt":"2023-12-20T23:57:44","slug":"meningkatkan-kemandirian-anak-balita-di-upt-pelayanan-sosial-anak-balita-dinas-sosial-medan-pemprovsu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/meningkatkan-kemandirian-anak-balita-di-upt-pelayanan-sosial-anak-balita-dinas-sosial-medan-pemprovsu\/9599\/","title":{"rendered":"MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK BALITA DI UPT PELAYANAN SOSIAL ANAK BALITA DINAS SOSIAL MEDAN PEMPROVSU"},"content":{"rendered":"<p><strong>Manik, Rina Ursulla<sup>1<\/sup><\/strong><br \/>\n<sup>1<\/sup>Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Sumatera Utara (penulis 1)<br \/>\nemail: rinaursullamanik10@gmail.com<\/p>\n<p><strong>I. PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nSebagai generasi penerus bangsa maka keberadaan anak Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari pemerintah, swasta dan masyarakat umum. Keluarga sebagai satuan terkecil dalam masyarakat juga memiliki andil yang cukup besar terhadap kehidupan tumbuh kembang seorang anak Anak yang mandiri bisa melakukan seluruh tugas yang dibebankan kepadanya secara sendirian tanpa dengan bantuan orang lain. Sifat inilah yang terkadang jarang terlihat pada anak usia dini. Kemandirian perlu diajarakan sejak dini karena akan memudahkan anak dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Kemandirian juga mengantarkan anak untuk memiliki kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi. Kemandirian bisa diidentifikasi oleh berbagai macam indikator salah satu kemandirian dapat dilatih dengan berbagai cara, salah satunya melalui bercerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran Pelayanan Sosial Anak Balita dalam Meningkatkan kemandirian anak Balita di Dinas Sosial Medan Pemprovsu. Balita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan disertai dengan perubahan yang memerlukan zat-zat gizi yang jumlahnya lebih banyak dengan kualitas yang tinggi. Akan tetapi, balita termasuk kelompok yang rawan gizi serta mudah menderita kelainan gizi karena kekurangan makanan yang dibutuhkan. Konsumsi makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak sehingga konsumsi makanan berpengaruh besar terhadap status gizi anak untuk mencapai pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun.<\/p>\n<p>Menurut Sediaotomo (2010), balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak pra sekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik, namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan pasa masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak pada periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang kembali, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan.<\/p>\n<p>Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2011) menjelaskan balita merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu berbeda-beda, bisa cepat maupun lambat tergantung dari beberapa faktor, yaitu nutrisi, lingkungan dan sosial ekonomi keluarga. Dari sinilah perlu adanya peran pemerintah untuk membantu pertumbuhan balita, seperti adanya pelayanan sosial anak balita.<\/p>\n<p>Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Penanaman kemandirian tersebut harus dilakukan sejak usia dini karena kemandirian akan dapat berkembang dengan baik apabila ditanamkan sejak dini. Untuk menjadi pribadi mandiri, seorang anak juga perlu mendapat kesempatan untuk berlatih secara konsisten mengerjakan sesuatu sendiri atau membiasakannya melakukan sendiri tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan usianya. Namun demikian peran orangtua atau lingkungan dan pendidik dalam mengawasi, membimbing, mengarahkan dan memberi contoh teladan tetap sangat diperlukan, agar anak tetap berada dalam kondisi atau situasi yang tidak membahayakan keselamatannya. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk membahas mengenai \u201cMeningkatkan Kemandirian Anak Balita Di UPT Pelayanan Sosial Anak Balita Dinas Sosial Medan Pemprovsu\u201d.<\/p>\n<p><strong>II. TINJAUAN PUSTAKA<\/strong><br \/>\nKementrian Kesehatan Republik Indonesia (2011) menjelaskan balita merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu berbeda-beda, bisa cepat maupun lambat tergantung dari beberapa faktor, yaitu nutrisi, lingkungan dan sosial ekonomi keluarga. Dari sinilah perlu adanya peran pemerintah untuk membantu pertumbuhan balita, seperti adanya pelayanan sosial anak balita.<\/p>\n<p>Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Penanaman kemandirian tersebut harus dilakukan sejak usia dini karena kemandirian akan dapat berkembang dengan baik apabila ditanamkan sejak dini. Untuk menjadi pribadi mandiri, seorang anak juga perlu mendapat kesempatan untuk berlatih secara konsisten mengerjakan sesuatu sendiri atau membiasakannya melakukan sendiri tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan usianya. Namun demikian peran orangtua atau lingkungan dan pendidik dalam mengawasi, membimbing, mengarahkan dan memberi contoh teladan tetap sangat diperlukan, agar anak tetap berada dalam kondisi atau situasi yang tidak membahayakan keselamatannya. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk membahas mengenai \u201cMeningkatkan Kemandirian Anak Balita Di UPT Pelayanan Sosial Anak Balita Dinas Sosial Medan Pemprovsu\u201d<\/p>\n<p><strong>III. METODE PENELITIAN<\/strong><br \/>\nPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan penelitian tanpa menggunakan angka statistik tetapi dengan pemaparan secara deskriptif yaitu berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi di saat sekarang. Teknik pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi literatur.<\/p>\n<p><strong>IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nUPT Pelayanan Sosial Anak Balita<br \/>\nPerlu diketahui bahwa bidang tugas Departemen Sosial pada saat terbit PP. No. 5 tahun 1958 adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>a. Research<br \/>\nb. Rehabilitasi Penyandang Cacat<br \/>\nc. Urusan Korban Perang<br \/>\nd. Urusan Perumahan<br \/>\ne. Urusan Transmigrasi<br \/>\nf. Urusan Bimbingan dan Perbaikan Sosial<\/p>\n<p>Dengan diterbitkannya PP Nomor : 5 Tahun 1958, urusan yang diserahkan adalah meliputi urusan bimbingan dan perbaikan sosial. Penyerahan tugas tersebut diserahkan berdasarkan \u201cAzas Desentralisasi atau Azas Tugas Pembantuan\u201d. Tugas yang diserahkan atas azas desentralisasi yang menjadi wewenang dan tanggungjawab daerah sepenuhnya (tugas otonom) adalah:<\/p>\n<p>a. Penyelenggaraan pusat-pusat penampungan bagi anak-anak terlantar (untuk observasi dan seleksi).<br \/>\nb. Penyelenggaraan panti asuhan bagi bayi terlantar.<br \/>\nc. Penyelenggaraan panti asuhan tingkat pertama bagi anak yatim piatu dan anak terlantar.<br \/>\nd. Penyelenggaraan panti asuhan tingkat lanjutan bagi anak yatim piatu yang terlantar.<br \/>\ne. Penyelenggaraan pusat penampungan bagi orang dewasa terlantar dan gelandangan (untuk observasi dan seleksi).<br \/>\nf. Penyelenggaraan panti karya tingkat pertama.<br \/>\ng. Penyelenggaraan panti karya tingkat lanjutan.<br \/>\nh. Penyelenggaraan rumah perawatan bagi orang jompo.<br \/>\ni. Memberi bantuan kepada korban bencana alam.<br \/>\nj. Penyelenggaraan usaha sosial ke arah pemberantasan kemiskinan.<br \/>\nk. Pengawasan\/bimbingan serta pemberian bantuan\/subsidi kepada organisasi masyarakat yang menyelenggarakan usaha tersebut di atas.<\/p>\n<p>Tugas yang diserahkan atas Azas Bantuan dalam bidang bimbingan dan perbaikan sosial tersebut adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>a. Penyelenggaraan penyuluhan sosial.<br \/>\nb. Penyelenggaraan bimbingan sosial tahap pemberian pengertian, kesadaran dan tuntutan teknis pengembangan swadaya masyarakat.<br \/>\nc. Penyelenggaraan pendidikan tenaga sosial, rehabilitasi berkas hukuman.<br \/>\nd. Pengawasan\/bimbingan kepada organisasi-organisasi masyarakat yang menyelenggarakan usaha tersebut di atas.<br \/>\ne. Penghimpunan bahan untuk dokumentasi dan statistik sosial. Dalam Pelaksanaan Tugas Bimbingan Sosial, selaras keputusan Menteri Dalam Negeri No. 363\/1977 tentang susunan organisasi dan Tata Kerja Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara.<\/p>\n<p><strong>Anak Balita<\/strong><br \/>\nBalita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan disertai dengan perubahan yang memerlukan zat-zat gizi yang jumlahnya lebih banyak dengan kualitas yang tinggi. Akan tetapi, balita termasuk kelompok yang rawan gizi serta mudah menderita kelainan gizi karena kekurangan makanan yang dibutuhkan. Konsumsi makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak sehingga konsumsi makanan berpengaruh besar terhadap status gizi anak untuk mencapai pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak (Ariani, 2017).<\/p>\n<p>Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun. Menurut Sediaotomo (2010), balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak pra sekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan.<\/p>\n<p>Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik, namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan pasa masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak pada periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang kembali, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2011) menjelaskan balita merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu berbeda-beda, bisa cepat maupun lambat tergantung dari beberapa faktor, yaitu nutrisi, lingkungan dan sosial ekonomi keluarga<\/p>\n<p><strong>Kemandirian Anak<\/strong><br \/>\nMenurut Susanto (2012) ciri-ciri kemandirian anak usia dini adalah sebagai berikut:<br \/>\na. Memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Anak yang memiliki rasa percaya diri memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu dan menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang dapat ditimbulkan kerena pilihannya. Memiliki motivasi intrinsik yang tinggi.<br \/>\nb. Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri untuk melakukan suatu perilaku maupun perbuatan. Motivasi intrinsik ini pada umumnya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walaupun kedua jenis motivasi tersebut bisa juga berkurang dan bertambah.<br \/>\nc. Mampu dan berani menentukan pilihannya sendiri. Anak yang berkarakter mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihannya sendiri. Kreatif dan inovatif.<br \/>\nd. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan salah satu ciri anak yang memiliki karakter mandiri, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak bergantung terhadap orang lain dalam melakukan sesuatu, menyukai dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya. Pada saat anak usia dini mengambil keputusan atau pilihan, tentu ada konsekuensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri akan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apa pun yang terjadi. Tentu saja bagi anak usia dini tanggung jawab tersebut dilakukan dalam taraf yang wajar.<br \/>\ne. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan kelompok bermain (KB) maupun TK merupakan lingkungan yang baru bagi anak usia dini. Sering sekali kita menemukan dengan mudah anak yang menangis ketika pertama kali masuk KB maupun TK. Bahkan, kebanyakan anak ditunggui oleh orangtuanya ketika sedang belajar di kelas. Bagi anak yang memiliki karakter mandiri, dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan dapat belajar walaupun tidak ditunggui orang tuanya.<br \/>\nf. Tidak bergantung pada orang lain. Anak yang memiliki karakter mandiri selalu ingin mencoba sendiri dalam melakukan segala sesuatu, tidak bergantung kepada orang lain dan dia tahu kapan waktunya bantuan orang lain.<\/p>\n<p>Indikator kemandirian anak usia 4-5 tahun yaitu sebagai berikut:<\/p>\n<p>a. Memasang kancing dan resleting sendiri;<br \/>\nb. Memasang dan membuka tali sepat sendiri;<br \/>\nc. Mampu makan sendiri;<br \/>\nd. Berani pergi dan pulang sekolah sendiri (bagi yang dekat dengan sekolah);<br \/>\ne. Mampu memilih benda untuk bermain;<br \/>\nf. Mampu mandi, BAK, BAB (toilet training) masih dengan bantuan;<br \/>\ng. Mampu mengerjakan tugas sendiri;<br \/>\nh. Bermain sesuai dengan jenis permainan yang dipilihnya;<br \/>\ni. Mengurus dirinya sendiri dengan bantuan, misalnya: berpakaian<\/p>\n<p><strong>Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak<\/strong><br \/>\nSalah satu upaya yang dilakukan Di UPT Pelayanan Sosial Anak Balita Dinas Sosial Medan Pemprovsu adalah dengan metode bercerita. Dalam pendidikan anak usia dini, cerita sangat diperlukan dan banyak membantu peserta didik dalam memahami materi. Hal ini disebabkan sebagian besar anak-anak menyukai cerita, kisah atau dongeng. Cerita adalah salah satu cara untuk menarik perhatian anak. Seorang anak akan cenderung lebih senang menyimak cerita dari pada mendengarkan ceramah dari bapak atau ibu gurunya. Oleh karenanya, sebagai seorang pendidik anak usia dini perlu kiranya sesekali menggunakan metode cerita dalam kegiatan pembelajaran. Itadz menjelaskan (2008) dalam penelitiannya beberapa alasan mengapa cerita sangat penting bagi dunia anak-anak.<\/p>\n<p>a. Bercerita merupakan alat pendidikan budi pekerti yang paling mudah dicerna anak, di samping teladan yang dilihat anak setiap hari.<br \/>\nb. Bercerita merupakan metode dan materi yang dapat diintegrasikan dengan dasar keterampilan lain, yaitu berbicara, membaca, menulis, dan menyimak, tidak terkecuali untuk anak Taman Kanak-Kanak<br \/>\nc. Bercerita memberikan ruang lingkup yang bebas mengembangkan pada anak untuk kemampuan bersimpati dan berempati terhadap peristiwa yang menimpa orang lain. Hal tersebut mandasari anak untuk memiliki kepekaan sosial.<br \/>\nd. Bercerita memberi contoh pada anak bagaimana menyikapi suatu permasalahan dengan baik, bagaimana melakukan pembicaraan yang baik, sekaligus memberikan pelajaran pada anak bagaimana cara mengendalikan keinginan-keinginan yang dinilai negatif oleh masyarakat.<br \/>\ne. Bercerita memberikan barometer sosial pada anak, nilai-nilai apa saja yang diterima oleh masyarakat sekitar, seperti patuh pada perintah orang tua, mengalah pada adik, dan selalu bersikap jujur.<br \/>\nf. Bercerita memberikan pelajaran budaya dan budi pekerti yang memiliki retensi lebih kuat dari pada pelajaran budi pekerti yang diberikan melalui penuturan dan perintah langsung.<br \/>\ng. Bercerita memberikan ruang gerak pada anak, kapan sesuatu nilai yang berhasil ditangkap akan diaplikasikan.<br \/>\nh. Bercerita memberikan efek psikologis yang positif bagi anak dan guru sebagai pencerita, seperti kedekatan emosional sebagai pengganti figure lekat orang tua.<br \/>\ni. Bercerita memberikan rasa tahu anak akan peristiwa atau cerita, alur, dan yang demikian itu menumbuhkan kemampuan merangkai hubungn sebab akibat dari suatu peristiwa dan memberikan peluang bagi anak untuk belajar menelaah kejadian-kejadian di sekelilingnya.<br \/>\nj. Bercerita memberikan daya tarik bersekolah bagi anak karena di dalam bercerita ada efek rekreatif dan imajinatif yang dibutuhkan anak usia dini (TK).<br \/>\nk. Bercerita mendorong anak memberikan makna bagi proses belajar terutama mengenai empati sehingga anak dapat mengkongkretkan rabaan psikologis mereka bagaimana seharusnya memandang sesuatu masalah dari sudut pandang orang lain.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9601\" aria-describedby=\"caption-attachment-9601\" style=\"width: 609px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9601\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-186.jpg\" alt=\"\" width=\"609\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-186.jpg 609w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-186-300x222.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-186-150x111.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 609px) 100vw, 609px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9601\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Bercerita Dengan Anak UPT<\/figcaption><\/figure>\n<p>Bercerita dapat dilakukan tanpa alat peraga maupun dengan menggunakan alat peraga. Bercerita dengan alat peraga adalah bentuk bercerita yang mempergunakan alat peraga bantu untuk menghidupkan cerita. Fungsi alat peraga ini untuk menghidupkan fantasi dan imajinasi anak sehingga terarah sesuai dengan yang diharapkan pencerita.<\/p>\n<p><strong>Metode Pekerjaan Sosial<\/strong><br \/>\nPada program ini metode yang diterapkan oleh penulis adalah metode pendekatan groupwork yang memiliki tahapan-tahapan seperti berikut:<\/p>\n<p><strong>A. Intake dan contract<\/strong><br \/>\nTahap ini adalah tahap kontrak atau perjanjian dengan pihak yang terlibat. Pada tahapan ini penulis menyerahkan surat perintah tugas kepada pihak instansi dan menjumpai kepala seksi pengasuhan dan sebagai supervisor lapangan mahasiswa selama di instansi. Penulis melakukan pendekatan dengan siswa dengan cara menjadi pendamping mereka di kelas.<\/p>\n<p><strong>B. Assessment<\/strong><br \/>\nTahapan ini menjadi tahap yang cukup penting. Selama kegiatan pengasuhan, mahasiswa sebagai pendamping mengobservasi masalah yang dimiliki oleh penerima manfaat. Untuk masalah kemandirian, penulis melihat cara mereka melakukan suatu aktivitas. Sayangnya, hampir seluruh penerima manfaat yang dikategorikan berusia 5-6 tahun di kelas C tidak memahami dan tidak terbiasa untuk melakukan sesuatu dengan sendirinya. Hal ini, dikarenakan sebelumnya mereka saat usia 4-5 tahun dikelas B, para pengampun dan pengasuh masih turun tangan membantu setiap aktivitasnya sedangkan untuk dikelas c mereka harus bisa mandiri yang bertujuan untuk mampu berdiri dikakinya sendiri sejak menduduk dibangku sekolah dasar nantinya. Pada masalah kemandirian terlihat bahwa penerima manfaat banyak menjadi pemalas sehingga selalu berharap dimanja atau dibantu apa yg sedang dilakukan kepada pengampun pengasuh dan penulis sebagai guru pendamping. Misalnya pada tugas menggambar dan mewarnai bebas, mereka sering tidak dapat berimajinasi tentang bentuk untuk gambar yang akan mereka gambarkan dan sering kebinggungan untuk memilih warna pada gambarnya.<\/p>\n<p><strong>C. Planning<\/strong><br \/>\nTahap ini adalah tahap perencanaan berdasarkan hasil observasi atau asesmen yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil observasi pada penerima manfaat, pada tahapan ini penulis mulai menentukan cara atau strategi untuk mengatasi permasalahan yang ada. Penulis berperan sebagai fasiliator yang memberikan penerima manfaat pengajaran dan arahan, seperti alasan mengapa pentingnya memiliki kemandirian dan manfaatnya.<\/p>\n<p><strong>D. Intervensi program<\/strong><br \/>\nTahap ini adalah tahap penerapan program yang telah dirancang untuk klien. Program yang dirancang tentunya sesuai dengan kebutuhan klien. Pada tahapan ini, penulis mengimplementasikan program-program yang telah dirancang untuk meningkatkan kemandirian anak.<br \/>\nProgram yang telah dirancang dan diterapkan adalah:<\/p>\n<p>1. Untuk permasalahan pemahaman terkait kemandirian, mahasiswa selaku pendamping akan memberikan pemahaman kepada penerima manfaat mengenai beberapa poin kemandirian yang terdiri atas : cuci tangan, makan bersama, belajar bersama, membereskan mainan, olahraga, dan tidur siang. Poin-poin tersebut dituangkan dalam bentuk poster dengan judul \u201cAku Anak Mandiri\u201d, pendamping akan menyampaikan poin-poin kemandirian dengan bahasa yang ringkas agar mudah dipahami oleh penerima manfaat.<\/p>\n<p>2. Setelah pendamping sudah memberikan pemahaman mengenai kemandirian anak, penerima manfaat diharapkan dapatkan melaksanakan poin-poin kemandirian anak. Dalam implementasi kemandirian anak, pendamping akan memulai poin aktivitas kemandirian anak dari yang ringan hingga berat untuk anak tersebut dapat mampu dan bisa konsisten dalam tindakannya. Hal ini dibuktikan ketika bermain, anak sudah membereskan mainannya sendiri tanpa adanya perintah atau pendamping, begitu juga dengan permasalahan lainnya yang tertulis pada poin no.1.<\/p>\n<p><strong>E. Evaluasi<\/strong><br \/>\nTahap ini adalah tahap terakhir sebelum pemutusan hubungan dengan klien. Pada tahap ini penulis mengkaji apakah program yang telah dirancang sesuai dengan permasalahan para siswa sebagai klien. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan terlihat progres pada siswa. Penerima manfaat lebih bertanggung jawab dan displin atas setiap tindakan serta meningkatkan kepercayaan diri anak.<\/p>\n<p><strong>F. Terminas<\/strong>i<br \/>\nTahap ini menjadi tahap pemutusan hubungan dengan klien. Pada tahap ini penulis memutuskan hubungan atau kontrak kepada para penerima manfaat sebagai klien penulis. Hal ini juga didukung oleh tujuan program yang dibuat telah terlaksana dengan baik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_9600\" aria-describedby=\"caption-attachment-9600\" style=\"width: 702px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9600\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-71.jpg\" alt=\"\" width=\"702\" height=\"386\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-71.jpg 702w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-71-300x165.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-71-150x82.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-71-696x383.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 702px) 100vw, 702px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9600\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Proses Asesmen Program<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>V. KESIMPULAN DAN SARAN<\/strong><br \/>\nKemandirian oleh balita perlu diajarakan sejak dini karena akan memudahkan anak dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Kemandirian juga mengantarkan anak untuk memiliki kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi dari situ perlu adanya perhatian khusus oleh pemerintah di aspek pengembangan diri Balita. Salah satu upaya yang efektif menumbuhkan kemandirian dari dalam diri Balita ialah dengan cara bercerita. . Bercerita memberi contoh pada anak bagaimana menyikapi suatu permasalahan dengan baik, bagaimana melakukan pembicaraan yang baik, sekaligus memberikan pelajaran pada anak bagaimana cara mengendalikan keinginan-keinginan yang dinilai negatif oleh masyarakat. Pentingnya meningkatkan kemandirian pada anak Balita, agar mengantarkan anak untuk memiliki kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi sehingga perlu adanya perhatian khusus oleh pemerintah di aspek pengembangan diri Balita.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nArsyad. (2002). \u201cKarakteristik Media Pembelajaran\u201d. Jakarta: PT. raja Garindo Persada.<br \/>\nBachir, B. S. (2005). Pengembangan Kegiatan Bercerita di Taman Kanak-kanak, Teknik dan Prosedurnya. Jakarta: Depdiknas.<br \/>\nItadz. (2008). Menyusun dan Menyajikan Cerita Untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana.<br \/>\nRitonga, Fajar Utama &amp; Dilena, Helga. (2022). Penerapan Metode Belajar Sambil Bermain Guna Memenuhi Kebutuhan Pengembangan Diri Anak. Abdisoshum Vol. 1, No. 1.<br \/>\nSit, M. (2015). Psikologi Perkembangan Anak Jilid 1. Perdana Publishing.<br \/>\nSuyanto, S. (2005). Konsep Dasar Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.<br \/>\nWinda Gunarti, Lilis Sryani Dan Azizah Muis, (2014). Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manik, Rina Ursulla1 1Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Sumatera Utara (penulis 1) email: rinaursullamanik10@gmail.com I. PENDAHULUAN Sebagai generasi penerus bangsa maka keberadaan anak Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari pemerintah, swasta dan masyarakat umum. Keluarga sebagai satuan terkecil dalam masyarakat juga memiliki andil yang cukup besar terhadap kehidupan tumbuh kembang seorang anak Anak yang mandiri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-9599","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9599"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9599\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}