{"id":9585,"date":"2023-12-20T20:58:26","date_gmt":"2023-12-20T12:58:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9585"},"modified":"2023-12-20T20:58:26","modified_gmt":"2023-12-20T12:58:26","slug":"membuat-keindahan-dari-sampah-dengan-memproduksi-paving-blok-dari-limbah-plastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/membuat-keindahan-dari-sampah-dengan-memproduksi-paving-blok-dari-limbah-plastik\/9585\/","title":{"rendered":"MEMBUAT KEINDAHAN DARI SAMPAH DENGAN MEMPRODUKSI PAVING BLOK DARI LIMBAH PLASTIK"},"content":{"rendered":"<p><strong>Fatchul Riski Pangestu, Havizh Wahyu Arianto, Rafly Hidayat, Suryana, Warsa Saputra<\/strong><\/p>\n<p>Mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pamulang<br \/>\nJl. Witana Harja No. 18b, Pamulang Barat, Kec. Pamulang. Kota Tangerang Selatan , Banten.<br \/>\n15417<\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><br \/>\nSampah plastik telah menjadi permasalahan utama pada dunia saat ini. Penggunaan yang sudah sangat banyak tapi minim solusi atau cara penguraian yang cepat dan aman, membuata plastic menjadi bahan pencemar nomor 1 di darat maupun juga di perairan. Kegiatan pengabdian ini kami menjadikan sampah plastik sebagai bahan untuk membuat paving blok sebagai solusi atau cara mengurangi sampah dan pencemaran, serta meningkatkan pemahaman dan pengetahuan pada masyarakat. Pembuatan paving blok ini dilakukan disalah satu rumah mahasiswa, dan sosialisasi untuk kegiatan pengabdian juga pembelajaran masyarakat dilakukan di Perum Sukatani Permai, tepatnya di Masjid Al-Barokah. Sampah plastik menjadi paving blok sangat efektif untuk mengurangi penumpukan dan pencemarannya dilingkungan, karena untuk membuat paving blok bentuk balok yang bervolume 1200 \ud835\udc50\ud835\udc5a3 atau 1.2 liter, habis menggukan 1 karung botol plastic dan kantong plastic atau seberat 3 kg. Hasil menunjukan bahwa kegiatan pengabdian ini menambah pengetahuan untuk pengolahan sampah plastik, dan masyarakat yang sangat antusias atas kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.<\/p>\n<p><strong>ABSTRACT<\/strong><br \/>\nPlastic waste has become a major problem in the world today. There is so much use but lack of solutions or methods for fast and safe decomposition, making plastic the number 1 pollutant on land and in waters. In this service activity, we use plastic waste as material to make paving blocks as a solution or way to reduce waste and pollution, as well as increase understanding and knowledge in the community. The paving block making was carried out in one of the students&#8217; homes, and outreach for community service activities and community learning was<\/p>\n<p>carried out at Perum Sukatani Permai, precisely at the Al-Barokah Mosque. Plastic waste turned into paving blocks is very effective in reducing accumulation and pollution in the environment, because to make block-shaped paving blocks with a volume of 1200 \ud835\udc50\ud835\udc5a3 or 1.2 liters, 1 sack of plastic bottles and plastic bags or weighing 3 kg are used. The results show that this community service activity increases knowledge about processing plastic waste, and the community is very enthusiastic about this community service activity.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nSampah digunakan secara luas sejak abad ke-20, plastik baru telah dikembangkan dan digunakan secara luas. Namun, dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, penggunaannya meningkat secara luar biasa hingga 150 juta ton per tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton per tahun pada tahun 2005. Plastik sangat populer karena beberapa sifat unik. Ini mudah dibentuk sesuai kebutuhan, bobotnya ringan, sehingga menghemat biaya transportasi, tahan lama, aman dari kontaminasi kimia, air, dan dampaknya, aman sebagai kemasan makanan, dan tahan terhadap cuaca dan suhu.<\/p>\n<p>Karena sampah memerlukan ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai kembali ke bumi, 57% sampah di pantai berasal dari plastik. Sebanyak 46.500 sampah mengapung di setiap mil persegi samudera, dan sampah di samudera pasifik mencapai kedalaman hampir 100 meter. Bahkan dilaporkan bahwa lebih dari satu juta burung dan seratus ribu binatang laut Setelah sebelumnya berada di peringkat kedua, sampah kertas sekarang berada di peringkat ketiga, dengan 3.6 juta ton per tahun atau 9 persen dari jumlah total produksi sampah di Indonesia. Menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, plastik sekarang menduduki peringkat kedua, sebesar 5.4 juta ton per tahun, atau 14 persen dari total produksi sampah.<\/p>\n<p>Sampah plastik adalah salah satu sumber polusi terbesar di dunia dan berpotensi merusak dan mencemari lingkungan. Sampah plastik dapat membahayakan ekosistem dan kelangsungan hidup di Bumi jika dibiarkan begitu saja. Sampah plastik, baik yang masih utuh atau yang telah dipecahkan menjadi partikel kecil, dapat menyebabkan pencemaran air. Hal ini dapat terjadi karena plastik mengangkut zat kimia seperti pestisida dan bifenil poliklorinasi. Zat-zat ini dapat mengontaminasi air dan meracuni dan merusak habitat makhluk hidup di sekitarnya. Racun yang dikonsumsi hewan laut juga dapat masuk ke dalam tubuh.<\/p>\n<p>Metode populer yang digunakan dalam penanggulangan sampah plastik sekali pakai ini adalah penekanan pada konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Reuse berarti menggunakan kembali, reduce adalah mengurangi pembelian atau penggunaan, dan recycle adalah mendaur ulang barang- barang yang terbuat dari plastik. Aturan terbaru untuk reduce dari pemerintah Indonesia adalah mewajibkan konsumen membayar untuk setiap kantongan plastik yang digunakan. Hal ini mungkin akan efektif untuk plastik berbentuk kantongan, namun tidak untuk plastik kemasan dari pabrik atau usaha rumah tangga. Beberapa penelitian yang terkait konsep recycle adalah konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dan bahan bangunan.<br \/>\nPada pengabdian ini kami mencoba mengurangi masalah pencemaran sampah plastik di lingkungan dengan mengubah plastik sekali pakai menjadi paving blok.<\/p>\n<p><strong>METODE PELAKSANAAN<\/strong><br \/>\nKegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini berlangsung dan dilakukan di Perum Sukatani Permai, Daerah dipilih karena masyarakat sudah memiliki bank sampah sendiri sehingga ketersediaan sampah plastik yang tinggi. System pengelolaan sampah yang sudah ad aini memungkinkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan sesuai<\/p>\n<p>Kelemahan yang kami temukan saat uji coba pembuatan paving blok ini adalah asap yang dihasilkan dari pencairan plastik kemungkinan berbahaya bagi kesehatan. Mengatasi masalah asap ini kami menggukan masker untuk mengurangi asap yang terhirup ke dalam tubuh kita .<br \/>\nPraktek pembuatan paving blok dari sampah plastik ini memiliki keunggulan kontekstual karena menggunakan sampah dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Paving blok yang dihasilkan pun dapat dimanfaatkan pada lingkungan sekitar peserta didik. Selain sebagai salah satu media ajar, kegiatan ini juga diharapkan dapat memicu kecakapan sifat peduli lingkungan pada seluruh komponen yang terlibat. Selain itu, dalam jangka panjang, konversi sampah plastik menjadi paving blok ini akan dapat meningkatkan nilai jual sampah plastik bekas pakai tersebut<\/p>\n<p>kebutuhan masyarakat dan perum itu sendiri.<br \/>\nPembuatan paving blok dari sampah plastik ini kita lakukan karena melihat video di media sosial dan membuat kita berfikir untuk melakukannya juga. Prosedur kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Tahapan Pembuatan<br \/>\nPada tahap ini pembuatan Paving Blok dari Sampah Plastik untuk bahan sosialisai pengabdian kepada masyarakat<\/p>\n<p>Perum Sukatani Permai. Alat utama yang digunakan dalam proses pembuatan paving blok ini adalah gas elpiji 3 kg, kompor 1 tungku, wadah untuk pelelehan, wadah berisi air untuk pendingin dan cetakan paving blok. Sedangkan bahan yang digunakan adalah 1,5 kg botol plastik dan 1,5 kg kantong plastik.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-9586\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-19.jpg\" alt=\"\" width=\"332\" height=\"301\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-19.jpg 332w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-19-300x272.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-19-150x136.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 332px) 100vw, 332px\" \/><br \/>\nWadah pelelehan diletakan diatas tungku kompor dan dilakukan pelehan dengan dimasukan sampah plastik yang yang sudah diptong kecil-kecil, ini dilakukan agar mempermudah proses pelelahan yang lumayan memakan waktu. Waktu yang dibutukan untuk mengisi penuh satu cetakan adalah 45 menit. Setelah semua plastik meleleh dan bertekstur bubur lelehan sudah siap dituang ke cetakan dan dipress selama 5 menit . Untuk mempermudah proses pelepasan paving blok dengan cetakan dilakukan didalam wadah berisi air.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-9587\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-20.jpg\" alt=\"\" width=\"275\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-20.jpg 275w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Capture-20-150x96.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 275px) 100vw, 275px\" \/><\/p>\n<p>2. Tahapan sosialisai dengan media<br \/>\nMetode pembuatan paving blok dari sampah plastik ini untuk dijadikan sebagai media sosialisasi untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang pengolahan dan pengurangan sampah plastik. Tahapan ini meliputi 3 proses, yaitu: 1). Penjelasan kepada masyarakat tentang sampah dan solusinya; 2). Penjelasan tentang cara pembuatan paving blok dari sampah plastik; 3). Penutup yang berisi tanya jawab.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nHasil uji ketahanan menunjukkan bahwa paving blok berbahan plastik memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda dibanding paving blok berbahan semen. Nilai kekuatan menahan beban pada paving blok semen memang lebih tinggi, namun saat nilai ini dibagi dengan berat paving blok untuk menghitung nilai kuat tekan, maka nilai kuat tekan paving blok berbahan semen menjadi jauh lebih kecil. Jika dilakukan standarisasi (konversi) berat antara paving blok berbahan semen dengan berbahan plastik, maka nilai keduanya menunjukkan angka yang tidak terlalu berbed<\/p>\n<p>Kemungkinan pemanfaatan paving blok berbahan plastik untuk komersialisasi di masyarakat kemungkinan masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Beberapa masalah yang ditemukan selama pelaksanaan adalah:<\/p>\n<p>1. Pengadukan manual yang membuat wadah harus terus terbukan dan membuat asap meyebar ke lingkungan menyebabkan pencemaran udara serta bisa mengganggu pernafasan;<br \/>\n2. Sampah yang digunakan harus benar- benar bersih dan kering agar tidak menggangu saat proses pelelehan, karena jika masih terdapat air pada sampah plastic yang digunakan akan menyebabkan gelembung yang bisa pecah dan menghasilkan percikan dari lelehan platik;<br \/>\n3. waktu yang dibutukan untuk membuat paving blok tersebut yang masih lumayan lama. Proses pelelehan dan pengeringan yang sangat memakan waktu.<br \/>\nBeberapa kelemahan lain pada paving blok ini adalah:<br \/>\n1. Gaya gesek yang kecil membuat produk ini bersifat licin;<br \/>\n2. belum diuji ketahanan yang memadai tentang ketahan diiklim yang ada didaerah tersebut;<br \/>\nMetode membuat paving blok dari sampah plastik ini sangat efektif dan efisien dalam pengurangan sampah plastik. Satu paving blok bervolume 1200 \ud835\udc50\ud835\udc5a3 atau 1.2 liter dapat menggunakan 3 kg sampah<\/p>\n<p>plastik sehingga tidak mencemari tanah, air, dan udara. Metode ini juga mengurangi kemungkinan penguraian lebih lanjut sampah plastik menjadi mikro- dan nanoplastik yang berakibat lebih berbahaya bagi lingkungan. Hasil konversi menjadi paving blok ini juga dapat digunakan sebagai struktur bahan bangunan sehingga memungkinkan untuk dilakukan secara berkelanjutan. Masalah asap dari proses pelelehan seharusnya dapat ditanggulangi dengan cerobong pendingin, sehingga asap yang berbentuk gas dapat terkonversi menjadi cair. Persoalan energi yang dibutuhkan untuk kegiatan pelelehan seharusnya dapat ditutupi dengan manfaat pengurangan limbah dan nilai jual produk yang dihasilkan.<br \/>\nLebih lanjut, pelelehan sampah plastik akan mengurangi aktivitas pembakaran sampah plastik di udara terbuka. Pembakaran plastik menghasilkan gas yang lebih berbahaya disbanding metode pelelehan plastik (Ragaert et al., 2017). Bagi dunia pendidikan, kegiatan konversi sampah plastik menjadi paving blok ini mampu meningkatkan pemahaman dan sifat peduli peserta didik akan permasalahn sampah plastik di lingkungan sekitar<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nBerdasarkan kegiatan pengabdian yang telah dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:<br \/>\n1. Penggunaan sampah plastik yang dapat mengurangi pencemaran sangat efektif<br \/>\n2. Kegiatan sosialisasi pembuatan paving blok berbahan sampah plastik ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pengelolaan sampah plastik<br \/>\n3. Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat terlibat menyatakan paham tentang permasalahan sampah plastik di lingkungan<\/p>\n<p><strong>UCAPAN TERIMA KASIH<\/strong><br \/>\nPenulis menyampaikan Terima Kasih kepada Pimpinan Universitas Pamulang, Bapak ketua RT Bapak Saefulloh, Masyarakat Perum Sukatani Permai, serta Teman-teman kelas atas kesempatan yang diberikan untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat tahaun 2023. Terima kasih juga disampaikan kepada Lembaga Pendidikan Mahasiswa (LPM) Universitas Pamulang.<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><br \/>\nAriyadi. (2019) Uji Pembuatan Paving Block Menggunakan Campuran Limbah Plastik Jenis PET (Poly Ethylene Terephthalate) Pada Skala<br \/>\nLaboratorium, Universitas Negeri Raden Intan.<br \/>\nBasuki, B. &amp; Darmanijati, M. (2018) Pemanfaatan Limbah Plastik Bekas Untuk Bahan Utama Pembuatan Paving Block. Jurnal Rekayasa Lingkungan 18, 1\u20137.<br \/>\nBlair, R. M., Waldron, S., Phoenix, V. &amp; Gauchotte-Lindsay, C. (2017) Micro and Nanoplastic Pollution of Freshwater and Wastewater Treatment Systems. Springer Science Reviews 5, 19\u201330.<br \/>\nBorrelle, S. B., Ringma, J., Lavender Law, K., Monnahan, C. C., Lebreton, L., McGivern, A., Murphy, E., Jambeck, J., Leonard, G. H., Hilleary, M. A., et al. (2020) Predicted Growth in Plastic Waste Exceeds Efforts to Mitigate Plastic Pollution.<br \/>\nGeyer, R., Jambeck, J. R. &amp; Law, K. L. (2017) Production, Use, and Fate of All Plastics Ever Made. Science Advances.<br \/>\nIndrawijaya, B. (2019) Pemanfaatan Limbah Plastik Ldpe Sebagai Pengganti Agregat Untuk Pembuatan Paving Blok Beton. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia 3, 1\u20137.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fatchul Riski Pangestu, Havizh Wahyu Arianto, Rafly Hidayat, Suryana, Warsa Saputra Mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pamulang Jl. Witana Harja No. 18b, Pamulang Barat, Kec. Pamulang. Kota Tangerang Selatan , Banten. 15417 ABSTRAK Sampah plastik telah menjadi permasalahan utama pada dunia saat ini. Penggunaan yang sudah sangat banyak tapi minim solusi atau cara penguraian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-9585","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9585","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9585"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9585\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9585"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9585"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9585"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}