{"id":9475,"date":"2023-12-20T09:04:28","date_gmt":"2023-12-20T01:04:28","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9475"},"modified":"2023-12-20T09:04:28","modified_gmt":"2023-12-20T01:04:28","slug":"belajar-mengenal-warna-dan-bentuk-benda-pada-anak-berkebutuhan-khusus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/belajar-mengenal-warna-dan-bentuk-benda-pada-anak-berkebutuhan-khusus\/9475\/","title":{"rendered":"Belajar Mengenal Warna Dan Bentuk Benda Pada Anak Berkebutuhan Khusus"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-169.jpg\" alt=\"\" width=\"970\" height=\"553\" class=\"aligncenter size-full wp-image-9476\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-169.jpg 970w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-169-300x171.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-169-768x438.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-169-150x86.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-169-696x397.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 970px) 100vw, 970px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Disaat ini banyak anak yang diakibatkan karena bermacam aspek berkembang serta tumbuh jadi anak yang berbeda dengan anak lain seusianya karena mengalami kendala serta membutuhkan atensi khusus. Kendala yang terjadi pada anak-anak mempunyai banyak alterasi, misalnya kendala perkembangan (gangguan spektrum autis serta gangguan perkembangan intelektual), kendala emosi (gangguan mood serta kecemasan) dan gangguan tingkah laku. Anak-anak yang mengalami kendala tersebut dikenal dengan sebutan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).<\/p>\n<p>Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memerlukan penanganan khusus karena adanya gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak. Berkaitan dengan istilah disability, maka anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keterbatasan di salah satu atau beberapa kemampuan baik itu bersifat fisik seperti tunanetra dan tunarungu, maupun bersifat psikologis seperti autism dan ADHD. <\/p>\n<p>Pengertian lainnya bersinggungan dengan istilah tumbuh-kembang normal dan abnormal, pada anak berkebutuhan khususbersifat abnormal, yaitu terdapat penundaan tumbuh kembang yang biasanya tampak di usia balita seperti baru bisa berjalan di usia 3 tahun. Hal lain yang menjadi dasar anak tergolong berkebutuhan khusus yaitu ciri-ciri tumbuh-kembang anak yang tidak muncul (absent) sesuai usia perkembangannya seperti belum mampu mengucapkan satu katapun di usia 3 tahun, atau terdapat penyimpangan tumbuh-kembang seperti perilaku echolalia atau membeo pada anak autis. <\/p>\n<p>Pemahaman anak berkebutuhan khusus terhadap konteks, ada yang bersifat biologis, psikologis, sosio-kultural. Dasar biologis anak berkebutuhan khusus bisa dikaitkan dengan kelainan genetik dan menjelaskan secara biologis penggolongan anak berkebutuhan khusus, seperti brain injury yang bisa mengakibatkan kecacatan tunaganda. Dalam konteks psikologis, anak berkebutuhan khusus lebih mudah dikenali dari sikap dan perilaku, seperti gangguan pada kemampuan belajar pada anak slow learner, gangguan kemampuan emosional dan berinteraksi pada anak autis, gangguan kemampuan berbicara pada anak autis dan ADHD. Konsep sosio-kultural mengenal anak berkebutuhan khusus sebagai anak dengan kemampuan dan perilaku yang tidak pada umumnya, sehingga memerlukan penanganan khusus.<\/p>\n<p>Berdasarkan American Psychological Association, gangguan perkembangan intelektual (intellectual developmental disorder) merupakan fungsi intelektual keseluruhan yang secara bermakna di bawah rata-rata, yang menyebabkan atau berhubungan dengan gangguan perilaku adaptif dan bermanifestasi selama periode perkembangan yaitu sebelum usia 18 tahun, terlepas dari apakah pasien memiliki gangguan fisik yang menyertai atau gangguan mental yang lain. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa anak yang mengalami gangguan perkembangan intelektual memiliki kesulitan dalam mengoptimalkan fungsi kognitif dan adaptifnya. Anak dengan gangguan perkembangan intelektual akan kesulitan dalam melakukan aktivitas bantu diri dan juga dalam mengerjakan tugas yang membutuhkan kemampuan berpikir atau daya nalar. <\/p>\n<p>Salah satu kemampuan kognitif yang perlu diasah oleh anak dengan gangguan perkembangan intelektual adalah kemampuan identifikasi warna. Kemampuan identifikasi warna merupakan salah satu materi pra-akademik yang harus dikuasai oleh anak. Bagi anak gangguan perkembangan intelektual mengenal warna dapat membantu anak dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk pengenalan atau identifikasi uang, baju, dsb. Kemampuan mengenal warna merupakan kemampuan awal untuk melatih visual anak. Dengan adanya warna anak dapat membedakan suatu benda dan sifat dari benda tersebut. Warna yang kita lihat merupakan kesan yang ditimbulkan oleh pantulan cahaya<\/p>\n<p>Kesan yang pertama kali dilihat dari suatu benda adalah warna benda tersebut, dengan melihat warna dari suatu benda, seseorang dapat membedakan bentuknya. Kemampuan ini tidak bisa dinikmati oleh semua manusia karena keterbatasan yang dimiliki oleh beberapa orang, maka daripada itu, kemampuan ini harus disyukuri bagi seseorang yang mampu melihat warna dengan jelas. Pengetahuan dalam mengenal warna sangat diperlukan anak agar bisa melatih kemampuan awal visual dari seorang anak. Warna yang dapat dilihat adalah hasil pantulan cahaya ke retina mata seperti: warna merah, kuning, hijau dan biru.<\/p>\n<p>Kemampuan mengenal warna sangat penting bagi seorang anak dalam kehidupannya, hal ini juga diperlukan oleh anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus ialah anak yang mengalami hambatan, gangguan atau kelainan baik dari segi fisik, intelektual, mental maupun sosial, sehingga anak tersebut memerlukan pelayanan khusus agar bisa mengembangkan kemampuannya seperti kemampuan fisik motorik, kemampuan kognitif, dan kemampuan sosial.<\/p>\n<p>Pekerjaan sosial sebagai suatu profesi yang berorientasi untuk membantu mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat, termasuk kesejahteraan anak, Pekerjaan Sosial juga ditujukan untuk membantu meningkatkan atau memperbaiki keberfungsian sosial seseorang. Keberfungsian merupakan cara yang digunakan orang dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, memecahkan permasalahan dalam memenuhi kebutuhannya serta untuk mencapai kesejahteraan sosialnya. <\/p>\n<p>Kesejahteraan anak adalah merupakan bagian dari kesejahteraan sosial yang menyangkut berbagai usaha yang ditujukan untuk memungkinkan anak hidup bahagia serta tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Menurut Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesejahteraan anak adalah \u201c suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara jasmani, rohani, maupun sosialnya.<\/p>\n<p>Untuk dipahami bahwasanya peran sebagai orang tua sangatlah penting untuk anak-anak nya, kasih sayang orang tua sangat diperlukan oleh seorang anak dan tentu saja perhatian dari kedua orang tua nya jikalau sampai orang tua lalai akan hal itu maka nasib anak ditanggung oleh orang tua nya kedepan nya, dan pastinya itu sangat berdampak buruk bagi anak-anaknya. <\/p>\n<p>Metode Pelaksanaan<br \/>\nPraktik Kerja Lapangan (PKL) adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan yang diikuti oleh siswa dengan bekerja secara langsung di dunia usaha atau dunia industri secara sistematik dan terarah dengan supervisi yang kompeten di bidangnya dengan tujuan memperoleh pengalaman dan kecakapan penguasaan keahlian di suatu bidang hingga mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. <\/p>\n<p>Praktik kerja lapangan bertujuan agar lulusan memiliki pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, meningkatkan disiplin kerja dan memberikan penghargaan terhadap pengalaman kerja. Praktik ini dilakoni oleh Asri Adilah selaku mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU. Kegiatan praktik ini dilakukan dibawah bimbingan Bapak Fajar Utama Ritonga S. Sos, M. Kessos, selaku supervisor sekolah. Dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) kali ini, mahasiswa diharapkan menghasilkan output dari kegiatan selama PKL di intansi tempat mahasiswa melaksanakan PKL.<\/p>\n<p>Pada PKL kali ini, adalah sebuah program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar kelas selama 1 (satu) semester dengan menjadi pekerja sosial untuk berinovasi dalam pengembangan strategi dan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif di satuan pendidikan sasaran, dengan fokus pada peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa di sekolah sasaran. <\/p>\n<p>Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini dilakukan di PKBM Nahdlah Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Morawa. Pada Praktikum kali ini, mahasiswa membuat serta melakukan Mini Project yaitu menerapkan Metode Intervensi Level Makro (Group Work) dalam membantu menyelesaikan masalah klien.<\/p>\n<p>Sebelum melakukan mini project, praktikan melakukan observasi lapangan terlebih dahulu. Dimulai dari observasi tempat yaitu intansi PKBM, kemudian juga melakukan observasi kepada para relawan atau guru yang mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di tempat tersebut. Setelah itu barulah praktikan observasi anak-anak yang ada di PKBM Nahdlah. <\/p>\n<p>Di masa pendekatan dan pengenalan, praktikan mulai dengan cara mendekatkan diri dengan orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus. Dimana praktikan berbincang-bincang dengan para orang tua mengenai anak-anaknya seperti apa dirumah. Di PKBM Nahdlah sendiri terdapat 23 siswa yang diajarkan oleh PKBM Nahdlah. Ada beberapa klasifikasi anak berkebutuhan khusus di tempat tersebut. Setelah melakukan pendekatan dan pengenalan dengan para orang tua, praktikan kemudian turun langsung untuk mengajar anak-anak yang ada di yayasan tersebut. Penanganan anak-anak dengan kebutuhan khusus justru sangat berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Ada banyak pelaksanaan pembelajaran kepada anak-anak dengan kebutuhan khusus.<\/p>\n<p>Setelah tahap pengenalan dilakukan, maka tahap selanjutnya ialah membuat mini project. Mini project yang praktikan buat ialah dengan mengenalkan warna serta bentuk kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Banyak anak dengan kebutuhan khusus yang susah untuk menangkap pembelajaran. Maka dari itu, praktikan memulai mini project dengan cara mengenalkan warna dan bentuk benda kepada anak-anak berkebutuhan khusus.<\/p>\n<p>Dalam merealisasikan program ini saya mengkolaborasikannya dengan metode penyelesaian masalah yang sesuai dengan metode-metode pekerjaan sosial dengan menggunakan metode Group Work dengan berbagai tahap antara lain :<\/p>\n<p>1. Tahap Assessment<br \/>\nTahapan ini merupakan tahapan penyelesaian masalah dengan cara mengetahui penyebab dan potensi yang bisa dilakukan dalam penyelesaian permasalahan. Cara yang praktikan gunakan dengan melakukan pengenalan klien serta wawancara terhadap orang tua klien beserta klien untuk mengetahui permasalahannya.<\/p>\n<p>2. Tahap Planning<br \/>\nTahapan ini merupakan tahapan dimana praktikan dan klien menyepakati perencanaan yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan klien. Dalam perencanaan ini praktikan berupaya membantu klien meningkatkan kemampuan sensorik dan motorik dari sisi mengenal warna dan bentuk benda.<\/p>\n<p>3. Tahap Intervensi<br \/>\nTahap ini merupakan tahapan pelaksanaan rencana penyelesaian masalah yang telah disepakati sebelumnya. Pada tahapan ini, praktikan menggunakan metode belajar yang praktikan buat yaitu mengenalkan warna dan bentuk benda pada para klien.  Hal ini praktikan buat karena praktikan harus tahu kondisi anak-anak yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya, dan dengan kondisi mereka ini, mereka bisa saja masih mengalami tantrum dalam pembelajaran, jadi masih belum bisa mengontrol dirinya. Yang praktikan lakukan dalam hal pembelajaran adalah dengan menunjukkan mainan yang berwarna dan beragam bentuk kepada para klien.<\/p>\n<p>4. Tahap Evaluasi<br \/>\nTahap ini merupakan tahap monitoring dan control yang praktikan lakukan bersama klien, sebagai bentuk upaya evaluasi program yang digunakan apakah berhasil dilaksanakan sesuai target yang diharapkan dan ternyata dengan melihat progres klien, praktikan menilai bahwa program yang dijalankan ini dapat dikatakan berhasil. Mereka sudah mulai paham dengan kontrol dirinya sendiri, sudah mulai dapat mengendalikan keadaan emosionalnya, serta sudah mulai mengenal warna dan bentuk pada benda atau mainan yang praktikan tunjukkan dalam media belajar.<\/p>\n<p>5. Tahap Terminasi<br \/>\nTahap ini merupakan tahapan berakhirnya kontrak antara pekerja sosial dengan klien yang didukung juga dengan kondisi klien yang saat ini sudah dapat dikatakan berhasil mengenal warna dan bentuk benda maka dengan hal itu dapat dikatakan tujuan dari program yang praktikan buat sudah mencapai tujuannya. Oleh karena itu praktikan  memutuskan kontrak kerja sama dengan klien.<\/p>\n<p>Melalui tahapan tersebut, disebutkan bahwa para klien telah mengikuti serangkaian tahapan dari metode Group Work yang dijalankan oleh praktikan di PKBM Nahdlah. Dalam pengaplikasiannya, praktikan juga telah membuat program untuk mendorong pemecahan permasalahan klien. Program tersebut juga sangat membantu praktikan untuk menjalankan tahapan-tahapan metode Group work dalam ruang lingkup makro.<\/p>\n<p>Hasil dan Pembahasan<br \/>\nSetelah melakukan Mini Project dan melewati berbagai macam proses, diperoleh hasil perubahan yang signifikan dari klien. Melalui proses tersebut, para klien terlihat sudah dapat mengontrol emosi dirinya, sudah mengenal warna dan bentuk benda dan berpartisipasi dalam pembelajaran. Dengan dilakukan beberapa tahapan untuk membantu para klien menyelesaikan permasalahannya, ini sangat membantu praktikan dan para klien mencapai tujuan dari kegiatan ini. Seluruh proses penanganan masalah ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Mulai dari tahap perkenalan saya bersama klien. Lalu dilanjutkan dengan tahap assesment, tahap perencanaan, tahap intervensi, tahap evaluasi, dan akhirnya tercapailah tahap terminasi dimana tahap ini dilakukan karena dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh proses kegiatan ini sudah mencapai tujuan dan target sesuai dengan yang diharapkan. Para klien sudah menjadi anak yang sedikit demi sedikit mau belajar dengan baik dan sudah percaya diri dengan lingkungan sekitar, sehingga dapat dikatakan bahwa para klien sudah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan lebih berkembang dari sebelumnya. Dengan dukungan oleh orang sekitarnya akan membuat pengembangan diri para klien berjalan lebih baik lagi. Para klien juga memiliki minat yang tinggi untuk merubah dirinya lebih baik lagi yaitu mau belajar dengan lebih giat lagi.<\/p>\n<p>Kesimpulan<br \/>\nAnak dengan kondisi kebutuhan khusus harus tetap mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak yang normal lainnya. Seperti di PKBM Nahdlah Desa Tanjung Mulia Kecamatan Tanjung Morawa. Di yayasan tersebut, banyak mendidik anak-anak dengan kondisi kebutuhan khusus. Banyak terjadi perkembangan terhadap anak-anak yang belajar di yayasan tersebut. Mulai dari pengendalian emosinya, sensorik dan motoriknya, serta belajar mengenal warna bentuk benda, dan diajarkan juga pelajaran untuk mengenal huruf dan angka dengan tujuan agar anak-anak dengan kondisi kebutuhan khusus, mereka menjadi anak yang lebih mandiri dan bisa mengurus dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Saran<br \/>\nPemerintah harus lebih tanggap lagi dalam menangani kasus anak berkebutuhan khususdi negara kita ini. Masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan apalagi dengan anak-anak dengan kondisi berkebutuhan khusus. Orang tua juga harus menjadi patokan dasar untuk anak-anak dirumah. Harus lebih mengerti tentang anak-anak yang kondisinya tidak seperti anak normal lainnya. <\/p>\n<p>Daftar Pustaka<br \/>\nAdi, I. R. (2013). Kesejahteraan Sosial (Pekerjaan Sosial, Pembangunan Sosial dan Kajian Pembangunan). Jakarta: Rajawali Pers.<br \/>\nRitonga, F. U., &#038; M. V. (2023). Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Menggunakan Metode Look and Do. Jurnal Abdisoshum Vol. 2No. 1(Maret2023) 1-8<br \/>\nKhairani, H. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Warna melalui Media Pasir Berwarna bagi Anak Tunagrahita Ringan. 2013.<br \/>\nMujib, F., dan Rahmawati, N. Metode Permainan-permainan Edukatif dalam Belajar Bahasa Arab. Yogyakarta: DIVA Press, 2011.<br \/>\nOktasesa, D., Sopandi, A. A., dan Damri. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Warna Dasar bagi Anak Tunagrahita Ringan X melalui Permainan Kolase di SLB Perwari Padang. 02 September, 2013.<br \/>\nPurwanto, N. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2013.<br \/>\nRahayu, R. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Warna Primer melalui Permainan Lego. 2014.<br \/>\nSugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&#038;D. Bandung: Alfabeta, 2014.<\/p>\n<p><strong>Penulis :<br \/>\nNama : Asri Adilah<br \/>\nNim : 200902017<br \/>\nProdi : Kesejahteraan Sosial<br \/>\nIntansi : Universitas Sumatera Utara<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Disaat ini banyak anak yang diakibatkan karena bermacam aspek berkembang serta tumbuh jadi anak yang berbeda dengan anak lain seusianya karena mengalami kendala serta membutuhkan atensi khusus. Kendala yang terjadi pada anak-anak mempunyai banyak alterasi, misalnya kendala perkembangan (gangguan spektrum autis serta gangguan perkembangan intelektual), kendala emosi (gangguan mood serta kecemasan) dan gangguan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9475","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9475"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9475\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}