{"id":928,"date":"2023-06-19T10:22:36","date_gmt":"2023-06-19T02:22:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=928"},"modified":"2023-06-19T22:23:12","modified_gmt":"2023-06-19T14:23:12","slug":"filsafat-dan-atheis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/filsafat-dan-atheis\/928\/","title":{"rendered":"FILSAFAT DAN ATHEIS"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Anggita dwi Anugrah<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di modern ini dimana segala sesuatu sudah semakin mudah ternyata bukan hanya teknologi yang berkembang maju, namun juga diikuti dengan kemajuan cara berpikir manusia. Manusia di era modern ini tumbuh menjadi manusia yang berpikir kritis dan detail, suka mencari tahu, mendebat hal-hal yang menurut mereka salah. Demikian adalah modern bila dilihat dari sisi positifnya. Lantas apakah ada negative dari sebuah kata modern? Segala sesuatu yang diciptakan bukankah harus seimbang? Seperti malam yang selau diikuti siang, kemudian gelap yang dibayangi terang, ada hitam dan putih, ada tinggi dan rendah. Begitupun dengan sebuah kata modern, dibalik tawaran kemajuan yang begitu menggiurkan hingga kita terlena kemudian lalai tidak menyiapkan penawar terlebih dahulu sebelum terkena racun dari modern itu sendiri.<\/p>\n<p>Bukti nyata adanya kesalahan dari sebuah modern ialah pemikiran pemikiran kritis dan logis bagi mereka yang mengedepankan teori dibandingkan dengan Nurani dan keimanan. Mereka para pencari kebenaran Tuhan karena merasa adanya imbas ketidakadilan ataupun keheranan tentang penciptaan alam semesta yang sampai kini masih menjadi issue yang diperdebatkan oleh berbagai kalangan. Hasil pemikiran tersebut kemudian digoreng lagi menjadi sebuah keraguan dan yang kelewatan adalah sampai menimbulkan perasaan dibohongi oleh anugrah yang selama hidup telah mengikutinya sejak lahir. Benar, keraguan pada adanya Tuhan merupakan salah satu bentuk pembuktian ketidaklayakan seorang individu untuk menerima kebesaran anugerah yang telah disematkan dala setiap tetes darahnya. Sebuah keimanan merupakan suatu keindahan yang dengan keindahan dalam seribu bahasa pun tidak akan bisa mewakili betapa indahnya peng anugerahan dari sebuah keimanan. <\/p>\n<p>Filsafat yang di gadang gadang sebagai ilmu untuk mencapai sebuah kebenaran, menciptakan suatu perenungan lalu mengalir pada pemikiran hingga mencapai suatu kebenaran nyatanya banyak mengambil umat dari Tuhannya. Dalam pendalaman ilmu filsafat yang tidak berlandaskan dengan kuatnya iman menjadikan begitu banyak cendekiawan yang tersesat kemudian terombang ambing dalam nestapa keraguan hanya karena membaca dari satu perspektif saja tanpa menelaah kevalidannya. Kemudian bagaimana filsafat dapat mempertanggung jawaban ketajaman dan kekritisan pemikiran para cendekiawan tersebut yang justru berbalik arah menjadikan beberapa dari mereka melabeli insan yang tak bertuhan. <\/p>\n<p>Terbentuknya seorang yang tidak bertuhan atau sering kita sebut sebagai \u201cateis\u201d sering disangkut pautkan dengan filsafat. Krisis kepercayan seperti adanya ateis merupakan hal yang wajar dialami oleh indivudu yang masih berproses dalam belajar ilmu filsafat. Perjalanan belajar filsafat sangatlah panjang. Di awal perjalanannya, tidak sedikit orang yang tersesat. Tersesat di awal perjalanan bisa membawa seseorang ke tujuan yang salah. Analogi ini cukup untuk menggambarkan bagaimana seseorang yang mempelajari filsafat secara tidak benar dapat Masalah antara agama dan filsafat bersumber dari ketidakseimbangan antara keduanya. Mempelajari filsafat adalah kesempatan pertama bagi seseorang untuk menyelami lebih dalam dan memahami keyakinannya sendiri. Kemungkinan lain adalah seseorang menemukan alasan untuk menyimpang dari keyakinannya. Selain memperdalam agama, kesempatan yang didapat adalah lebih bijak dan taat pada keyakinannya, jika tidak keyakinan itu bisa tetap buta, yang menciptakan fanatismesampai pada kesimpulan yang salah, seperti filsafat yang menyebabkan iman goyah atau filsafat yang menyebabkan seseorang menjadi ateis..<\/p>\n<p> Agama dan filsafat dapat diibaratkan sebagai saudara dan saudari yang hidup rukun dan saling membantu. Klaim bahwa filsafat membuat seseorang menjadi ateis mungkin benar atau salah. Krisis identitas atau krisis iman, seperti menjadi seorang ateis, adalah hal yang wajar ketika seseorang mempelajari filsafat. Tetapi seiring waktu siswa menemukan kebenaran. Berpikir adalah salah satu anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada manusia, dan dengan berfilsafat manusia dapat menggunakan daya pikirnya untuk mengungkapkan kebenaran.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Anggita dwi Anugrah JurnalPost.com &#8211; Di modern ini dimana segala sesuatu sudah semakin mudah ternyata bukan hanya teknologi yang berkembang maju, namun juga diikuti dengan kemajuan cara berpikir manusia. Manusia di era modern ini tumbuh menjadi manusia yang berpikir kritis dan detail, suka mencari tahu, mendebat hal-hal yang menurut mereka salah. Demikian adalah modern [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-928","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/928","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=928"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/928\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=928"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=928"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=928"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}