{"id":926,"date":"2023-06-19T10:16:31","date_gmt":"2023-06-19T02:16:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=926"},"modified":"2023-06-19T22:20:16","modified_gmt":"2023-06-19T14:20:16","slug":"kehidupan-sesudah-mati-dalam-perspektif-filsafat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kehidupan-sesudah-mati-dalam-perspektif-filsafat\/926\/","title":{"rendered":"Kehidupan Sesudah Mati Dalam Perspektif Filsafat"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Wiwit Nopriani<\/strong> (<strong>Studi Agama-Agama<\/strong>)<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kehidupan setelah kematian (terkadang disebut juga akhirat atau alam baka) adalah konsep tentang suatu alam, atau alam itu sendiri (baik bersifat fisik maupun transendental), yang di dalamnya suatu bagian esensial dari kesadaran atau identitas seorang individu berlanjut keberadaannya setelah kematian tubuhnya. Menurut berbagai gagasan tentang kehidupan setelah kematian, aspek penting dari seorang individu yang hidup setelah kematian jasmani kemungkinan adalah beberapa elemen parsial, ataupun keseluruhan jiwa atau roh, dari individu tersebut, yang dibawanya dan memberikan identitas diri. Keyakinan pada kehidupan setelah kematian, yang mungkin bersifat naturalis atau supranatural, kontras dengan keyakinan pada ketiadaan atau keterlupaan kekal.<\/p>\n<p>1. <strong>Pengertian Kehidupan sesudah mati perspektif filsafat<\/strong><br \/>\nkata meninggal atau mati, sebagai kata yang dianggap maknanya sama dengan meregang nyawa itu, sangat jelas artinya dalam KBBI. Kamus Besar memaknai kata meninggal atau mati itu, antara lain, sebagai \u2019sudah hilang nyawanya\u2019, \u2019tidak bernyawa\u2019, \u2019tidak hidup lagi\u2019. Sungguh jauh artinya jika dibandingkan dengan meregang nyawa.<br \/>\nDi beberapa media massa arus utama, frasa meregang nyawa kerap dihindari penggunaannya karena dianggap bisa menimbulkan perasaan ngeri kepada pembacanya. Ada juga kesan bahwa kita tidak berempati kepada orang yang sedang dalam kondisi akan meninggal itu.<\/p>\n<p>Dalam beberapa pandangan populer, keberadaan yang berlanjut ini sering kali terjadi dalam alam rohani, dan dalam pandangan populer lainnya, seorang individu kemungkinan dilahirkan kembali ke dalam dunia ini serta memulai kembali siklus hidup yang lain, mungkin tanpa ingatan akan apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Menurut pandangan yang terakhir disebutkan itu, kematian dan kelahiran kembali tersebut dapat terjadi berulang-ulang secara terus menerus sampai sang individu diperkenankan masuk ke suatu Dunia lain atau alam rohani. Pandangan-pandangan utama mengenai kehidupan setelah kematian berasal dari agama, esoterisme, dan metafisika.<\/p>\n<p>Sejumlah sistem kepercayaan, seperti yang terdapat dalam tradisi Abrahamik, berpegang pada pandangan bahwa orang yang telah meninggal dunia pergi menuju suatu alam keberadaan tertentu setelah kematian jasmaninya, sebagaimana ditentukan oleh Tuhan, suatu dewa\/dewi, atau penghakiman ilahi lainnya, berdasarkan keyakinan atau tindakan mereka selama hidupnya di dunia ini. Sebaliknya, dalam sistem reinkarnasi, seperti yang terdapat dalam agama-agama India, hakikat dari keberadaan lanjutan tersebut ditentukan langsung oleh tindakan-tindakan sang individu dalam kehidupannya yang terakhir, bukan ditentukan oleh keputusan dari kodrat atau makhluk lainnya.<\/p>\n<p>2. <strong>Dalam model-model metafisik yang berbeda<\/strong><br \/>\nDalam model-model metafisik, penganut teisme umumnya meyakini beberapa jenis kehidupan setelah kematian yang menanti orang-orang setelah mereka meninggal dunia. Penganut beberapa agama yang umumnya non-teistik, cenderung meyakini adanya suatu kehidupan setelah kematian, tetapi tanpa merujuk pada suatu dewa\/dewi atau Tuhan. Kaum Saduki merupakan salah satu sekte Yahudi kuno yang pada dasarnya percaya bahwa Allah itu ada, tetapi mereka tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian.<\/p>\n<p>Banyak agama, entah meyakini keberadaan jiwa dalam dunia lain seperti Kekristenan, Islam, dan banyak sistem keyakinan pagan, atau reinkarnasi seperti banyak rupa agama Hindu dan Buddha, percaya bahwa status seseorang dalam kehidupan setelah kematian merupakan suatu ganjaran (balas jasa ataupun hukuman) atas perilaku mereka selama hidupnya di dunia ini.<\/p>\n<p>3. <strong>Kehidupan sesudah mati menurut para ahli filsafat<\/strong><br \/>\nSejarawan Will Durant 8 (1885-1981) menegaskan bahwa keistimewaan agama di Mesir Kuno adalah pemikiran keabadian. Mesir Kuno membayangkan Tuhan menciptakan manusia dari dua bagian: Pertama, \u201amaterial\u201b yaitu raga yang di dalamnya terkandung karakteristik kemusnahan dan kehancuran. Kedua, \u201ajiwa\u201b yang merupakan esensi kehidupan yang mempunyai karakteristik keabadian, dan langit adalah kediamannya setelah mati. Mesir kuno menyimpulkan pemahaman ini di dinding piramid menyatakan: \u201aJiwa (kediamannya) langit, raga (kediamannya) bumi\u201b Meskipun jiwa berpisah dengan raga, keduanya tetap mempunyai hubungan. Jiwa akan turut hancur apabila raga binasa. Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk menjaga raga agar tidak terurai. Mesir kuno membangun kuburan jauh di tengah gurun pasir.<\/p>\n<p>Semua agama mengajarkan manifestasi kehidupan dunia di akhirat. Walaupun dengan beragam perbedaan situasi kondisi dan sifatnya.Ajaran pembalasan amal perbuatan merupakan salah satu pokok ajaran Yahudi. Sekalipun gambaran kehidupan akhirat cukup rumit dalam ajaran Yahudi, filosof Yahudi Ibn Kamnah30 (1215-1285M) memastikan bahwa Yahudi meyakini kehidupan akhirat.<\/p>\n<p>Kehidupan setelah mati dalam ajaran Kristen juga merupakan manifestasi kehidupan dunia. Surga dikenal dengan istilah kerajaan Allah. Alkitab menjelaskan bahwa Allah akan menciptakan \u201alangit yang baru dan bumi yang baru\u201b. Dia akan menciptakan \u201akota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi\u201b (Ibrani 12:22) dan meletakkannya di atas bumi yang baru sebagai \u201aYerusalem Baru\u201b. Di dalam kota itu digambarkan terdapat banyak jalan, tembok, pintu gerbang, bahkan ada juga sebuah sungai dan pepohonan. Kehidupan di kota itu kelak akan menyenangkan. Disana tidak akan ada lagi kematian, kesedihan, duka cita, dan penderitaan. Karena Allah akan membuat \u201asemuanya menjadi baru\u201b. Namun lebih daripada itu, Allah sendiri akan datang untuk tinggal di tengah-tengah manusia hingga dapat menjalin hubungan yang akrab bersama-Nya (Wahyu 22:1-5).<\/p>\n<p>Islam memberikan gambaran hidup setelah mati dengan sangat rinci. Kehidupan akhirat dalam al-Quran dideskripsikan sebagai manifestasi kehidupan dunia, yang menyediakan segala kebutuhan manusia. Al-Quran mengambarkan makanan yang dimakan, minuman yang diminum berupa: buah- buahan, susu, madu semuanya seperti yang ada di dunia. Sebagaimana dunia menyediakan segala kebutuhan biologis manusia, begitu pula akhirat menyediakan segala kebutuhan manusia, termasuk pasangan.<\/p>\n<p>Dalam ajaran Islam, bukan hanya manusia yang dibangkitkan, tapi juga binatang. Islam mengajarkan setiap amal perbuatan ada balasannya. Binatang turut dibangkitkan di hari kiamat, kemudian yang memangsa akan dimangsa, yang menanduk akan ditanduk dan seterusnya. Perbedaanya, binatang setelah melakukan proses pembalasan, mereka akan kembali melebur menjadi tanah. Sedangkan manusia menjalani proses pembalasan yang berkali-kali lipat, baik sangat menyenangkan bagi penghuni surga maupun sangat menyengsarakan bagi penghuni neraka. Karena manusia dianugrahi akal (pilihan) dan menerima beban syariat (Mukallaf). Pada waktu itu, orang kafir akan berandai: \u201aAlangkah baiknya jika aku turut menjadi tanah\u201b (QS. Al-Naba\u2019: 40) seperti binatang agar terhindar dari siksa neraka.<\/p>\n<p>Pada dasarnya, kehidupan akhirat adalah ajaran para nabi. Dalam perjalanannya terjadi penyelewengan, bermetamorfosa dan berevolusi menjadi legenda yang disucikan.<br \/>\nIbn Rushd40 (520-595 H.) mengklaim bahwa kepercayaan adanya kehidupan akhirat telah tersebar ribuan tahun lalu dalam agama-agama terdahulu yang belum masuk dalam hitungan sejarah. 41 Para nabilah yang tak terhitung jumlahnya membawa ajaran akhirat.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nAbd al-Aziz Muhammad al-Zaki. Qissah Buza. Cairo: Muassasah al- Matbuat al-Hadithah, tt.<br \/>\n\u2018Abd al-Jabbar, Al-Qadi Abi al-Hasan al-Asad al-Abadi. Al-Mugni fi Abwab al-Tauhid wa al-Adl. Ed. Ibrahim Madkur. tt: Abu Muslim al-Mu\u2019tazili, 1958. Vol. XI.<br \/>\n\u2018Abd Allah, Muhammad Fathi. Mutarjimu wa Sharrah} Arist}u \u2018Ibra al- \u2018Us}ur. Alexandria: Dar al-Delta, 1994.<br \/>\nAl-Mutawalli, Ahmad Mustafa Riyad al-Nadirah fi Sahih Dar al- Akhirah. Cairo: Dar Ibn al-Jauzi, 2005.<br \/>\nNajati, Muhammad \u2018Ustman. Al-Dirasat al-Nafsaniyah \u2018Inda al-Ulama\u2019 al- Muslimin. Cairo: Dar al-Shuruq, 1993, Cet. I.<br \/>\nAl-Nasai, Al-Imam Abi \u2018Abd al-Rahman Ahmad ibn Shu\u2018aib. Kitab al- Sunan al-Kubra. Ed. Hasan \u2018Abd al-Mun\u2018im al-Shalabi. Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, Cet I.<br \/>\nAl-Nawawi, Muhy al-Din. Sahih Muslim bi Sharh al-Nawaw. Cairo: al-Matba\u2018ah al-Masriyah bi al-Azhar, 1929.<br \/>\nAl-Nashshar \u2018Ali Sami. Manahij al-Bahth inda al-Mufakkiri al-Islam. Cairo: Dar al-Salam, 2007.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Wiwit Nopriani (Studi Agama-Agama) JurnalPost.com &#8211; Kehidupan setelah kematian (terkadang disebut juga akhirat atau alam baka) adalah konsep tentang suatu alam, atau alam itu sendiri (baik bersifat fisik maupun transendental), yang di dalamnya suatu bagian esensial dari kesadaran atau identitas seorang individu berlanjut keberadaannya setelah kematian tubuhnya. Menurut berbagai gagasan tentang kehidupan setelah kematian, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-926","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=926"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/926\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}