{"id":9222,"date":"2023-12-18T18:58:56","date_gmt":"2023-12-18T10:58:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=9222"},"modified":"2023-12-18T18:58:56","modified_gmt":"2023-12-18T10:58:56","slug":"mengenal-penerapan-pembelajaran-dan-hambatan-kurikulum-merdeka-belajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengenal-penerapan-pembelajaran-dan-hambatan-kurikulum-merdeka-belajar\/9222\/","title":{"rendered":"Mengenal Penerapan Pembelajaran dan Hambatan kurikulum Merdeka Belajar"},"content":{"rendered":"<p>Oleh\u200b\u200b\u200b: <strong>Intan Anggraheni Zahrin Prasetyo<br \/>\nUniversitas Negeri Surabaya<\/p>\n<p>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pendidikan merupakan suatu upaya untuk membantu jiwa peserta didik secara lahir dan batin, dari sifat kodratnya menuju sifat yang leboh baik lagi kedepannya. Pendidikan juga merupakan suatu proses yang terus berlanjut dan tak pernah berakhir sampai kapanpun atau bisa disebut dengan (never ending process), sehingga menghasilkan kualitas yang berkesinabungan sampai masa yang akan datang yang bertanamkan pada nilai-nilai budaya bangsa dan pancasila (Sujana, 2019).<br \/>\nKurikulum merupakan rancangan pelajaran, bahan ajar, pengalaman belajar yang sudah diprogramkan terlebih dahulu. Kurikulum menjadi acuan setiap pendidik dalam menerapkan proses belajar mengajar. <\/p>\n<p>Perubahan kurikulum tidak terlepas dari perkembangan zaman yang sudah serba digital. Era digitalisasi saat ini menjadi salah satu tolak ukur kemunculan kurikulum merdeka belajar. Selain itu, penerapan konsep pendidikan di Indonesia selama ini sering sekali tidak sesuai dengan keadaan siswa maupun guru. Sehingga, konsep Kurikulum merdeka belajar yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Indonesia Nadiem Makarim menjadi solusi dalam menjawab permasalahan dalam pendidikan Indonesia saat ini.<\/p>\n<p>Kehadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim mencetuskan satu gagasan terhadap adanya perubahan kurikulum yaitu kurikulum merdeka belajar. Kurikulum merdeka belajar merupakan salah satu konsep kurikulum yang menuntut kemandirian bagi peserta didik. Kemandirian dalam artian bahwa setiap peserta didik diberikan kebebasan dalam mengakses ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal maupun non formal. Dalam kurikulum ini tidak membatasi konsep pembelajaran yang berlangsug disekolah maupun diluar sekolah dan juga menuntut kekreatifan terhadan guru maupun peserta didik.Pembelajaran yang monoton\/satu arah menjadi penghalang bagi peserta didik dalam mengekspresikan kemampuannya (Yusrizal et al., 2017). <\/p>\n<p>Kurikulum merdeka belajar menunjang tersebarluasnya pendidikan di Indonesia secara merata dengan kebijakan afirmasi yang dibuat oleh pemerintah terhadap peserta didik yang berada didaerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Tidak hanya itu saja kurikulum merdeka belajar juga akan mengubah metode belajar yang awalnya dilaksanakan di ruang kelas dan diubah menjadi pembelajaran di luar kelas. <\/p>\n<p>Pembelajaran di luar kelas akan memberikan peluang yang lebih besar bagi peserta didik untuk berdiskusi dengan guru. Pembelajaran di luar kelas akan membentuk karakter peserta didik baik dalam keberanian mengutarakan pendapat saat diskusi, kemampuan bergaul secara baik, menjadi peserta didik yang berkompetensi sehingga dengan sendirinya karakter peserta didik semakin terbentuk. Kurikulum merdeka belajar juga tidak mematokkan kemampuan dan pengetahuan siswa hanya dari nilai saja tetapi juga melihat bagaimana kesantunan dan keterampilan siswa dalam bidang ilmu tertentu. Peserta didik diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat yang ia punya.<\/p>\n<p> Hal ini menunjang kekereatifan siswa dan akan terwujud dengan sendirinya melalui bimbingan guru. Tuntutan bagi guru harus mampu mengembangkan konsep pembelajaran yang inovatif bagi peserta didik juga akan terwujud. Dalam konsep kurikulum merdeka belajar guru dan siswa secara bersama-sama akan menciptakan konsep pembelajaran yang lebih aktif dan produktif bagi guru maupun peserta didik<\/p>\n<p>Adanya batasan-batasan pada konsep kurikulum yang diterapkan selama ini menjadi pemicu terbelunggunya kekreatifan yang terdapat dalam diri guru maupun peserta didik. Kurikulum yang diterapkan selama ini mengindikasikan siswa untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya pada setiap pelajaran yang diajarkan disekolah. Sementara kita ketahui bahwa setiap peserta didik mempunyai keahlian dibidangnya masing-masing (Selian &#038; Irwansyah, 2018). Hal ini juga menjadi salah-satu faktor siswa menjadi tidak kreatif dalam mengimplementasikan kemampuannya. Adapun hambatan kurikulum merdeka belajar yaitu :<\/p>\n<p>1. Pemahaman cara menurunkan\/ menerjemahkan Capaian Pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran. Guru belum memahami cara menurunkan\/ menerjemahkan Capaian Pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran, sehingga materi yang diberikan belum mengacu pada materi esensial, melainkan masih mengacu pada kurikulum sebelumnya.<\/p>\n<p>2. Guru masih memiliki pengalaman dengan kemerdekaan belajar yang rendah, keterbatasan referensi, akses yang dimiliki dalam pembelajaran belum merata, manajemen waktu dan sebagainya.<\/p>\n<p>3. Guru membutuhkan bahan yang banyak untuk menciptakan inovasi baru dalam pembelajaran, namun semua itu dibutuhkan waktu yang banyak. Karena harus membaca kemampuan setiap siswa, sebab tidak semua siswa memiliki kecerdasan paripurna (kognitif, afektif dan psikomotorik.<\/p>\n<p>4. waktu yang tidak sesuai dengan capaian pembelajaran, kadang-kadang guru mengalami ketertinggalan materi hanya untuk fokus pada kemampuan siswa.<\/p>\n<p>5. siswa masih sering meminta pengulangan materi ketika saya menjelaskan menggunakan power point atau media audiovisual (video).<\/p>\n<p>6. Guru membutuhkan adanya pelatihan teknologi yang mempermudah mengajar, semisal cara membuat ebook dan media berbasis teknologi.<\/p>\n<p>7. Keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah khususnya, perangkat keras seperti computer\/PC sehinga guru-guru masih bingung mencari referensi untuk mengembangkan bakat dan karakter siswa sehingga membutuhkan waktu yang banyak<br \/>\nPihak sekolah sebaiknya dalam melaksanakan kurikulum merdeka harus mendapatkan pelatihan dan penyuluhan yang telah di sediakan oleh pemerintah, untuk meningkatkan soft skill guru dalam pembelajaran selain itu juga harus dibarengi dengan kerjasama semua warga sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah, dapat mengkoordinir jajarannya untuk meminimalisir hambatan atau kendala yang dihadapi demi keberhasilan pelaksanaan kurikulum merdeka. Pemerintah sebaiknya juga menyelenggarakan pelatihan dan penyuluhan terkait informasi dan pelaksanaan kurikulum merdeka supaya guru dapat mengikuti perkembangan kurikulum. Orang tua juga diharapkan mampu untuk mendampingi siswa belajar dirumah dan selalu memberikan pengawasan terhadap siswa sehingga dapat mengetahui perkembangan anak dalam belajar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh\u200b\u200b\u200b: Intan Anggraheni Zahrin Prasetyo Universitas Negeri Surabaya JurnalPost.com &#8211; Pendidikan merupakan suatu upaya untuk membantu jiwa peserta didik secara lahir dan batin, dari sifat kodratnya menuju sifat yang leboh baik lagi kedepannya. Pendidikan juga merupakan suatu proses yang terus berlanjut dan tak pernah berakhir sampai kapanpun atau bisa disebut dengan (never ending process), sehingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9222","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9222"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9222\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}