{"id":8964,"date":"2023-12-16T16:19:33","date_gmt":"2023-12-16T08:19:33","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8964"},"modified":"2023-12-16T16:19:33","modified_gmt":"2023-12-16T08:19:33","slug":"tantangan-dalam-mengatasi-kesalahan-umum-dalam-penggunaan-bahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/tantangan-dalam-mengatasi-kesalahan-umum-dalam-penggunaan-bahasa-indonesia\/8964\/","title":{"rendered":"Tantangan dalam Mengatasi Kesalahan Umum dalam Penggunaan Bahasa Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Tolak ukur penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik terlihat dari penggunaan bahasa pada papan-papan nama yang dipasang di gedung perkantoran, permukimam, lembaga usaha, dll. Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia di media massa mencakup beberapa hal, yaitu ejaan, bentuk dan pilihan kata, serta struktur kalimat.<\/p>\n<p>Ejaan berkaitan dengan tata tulis yang meliputi pemakaian huruf, penulisan kata, termasuk penulisan kata dan pemakaian tanda baca. Ejaan mengatur penggunaan kaidah dalam bahasa tulis. Wujud kesalahan ejaan meliputi huruf kapital, huruf miring, singkatan dan akronim, kata depan, gabungan kata, penulisan angka dan bilangan, penggunaan tanda titik, tanda koma, tanda pisah, tanda titik dua, dan tanda titik koma.<\/p>\n<p>Kasus ejaan lain terdapat pada penggunaan huruf miring. Huruf miring dipakai untuk istilah asing yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Namun, jika istilah itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, sebaiknya digunakan istilah yang dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Kasus ejaan yang juga sering muncul adalah penulisan singkatan dan akronim. Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.  Penulisan singkatan yang sering salah adalah singkatan nama dan gelar. Singkatan gelar diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu. Penulisan kata depan juga masih menjadi kendala karena masih banyak kesalahan yang muncul. Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia kata depan di ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. <\/p>\n<p>Kesalahan penulisan tanda baca dapat dikategorikan sebagai salah satu kesalahan berbahasa dikarenakan telah menjadi penyimpangan kaidah bahasa yang telah diatur dalam ejaan yang Disempurnakan (EYD). Menurut Wijayanti (2014) \u201cTanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan (seperti titik, koma, titik dua, dan sebagainya).<\/p>\n<p>Kesalahan dalam bidang ejaan yang meliputi kesalahan pemakaian huruf kapital, Penulisan huruf kapital tampak sepele, tetapi justru menyebabkan terjadi banyak kesalahan. Kesalahan pemakaian huruf kapital terbanyak yaitu pemakaian huruf kapital di tengah kalimat.<\/p>\n<p>Ungkapan adalah apa-apa yang diungkapkan. Selain itu, ungkapan juga bisa diartikan sebagai kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus (makna unsur- unsurnya sering kali menjadi kabur.)<\/p>\n<p>Dalam penulisan bentuk kata, kesalahan ditemukan pada penulisan kata berimbuhan atau afiksasi. Kesalahan dalam penulisan gabungan kata, dan kesalahan dalam penulisan kata ulang atau reduplikasi. <\/p>\n<p>Meskipun perubahan dalam penggunaan Bahasa Indonesia oleh anak muda membawa keunikan dan kekhasan, tantangan juga muncul. Salah satunya adalah hilangnya pemahaman terhadap tata bahasa formal dan keterampilan menulis yang baik. Anak muda perlu memahami pemahaman yang baik mengenai pentingnya Bahasa Indonesia yang benar, terutama dalam konteks pendidikan dan profesional. Penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan anak muda mengalami perubahan yang signifikan. Gaya bahasa yang santai, pengaruh media sosial, dan adaptasi kata-kata baru adalah fenomena yang umum ditemui. Namun, penting bagi anak muda untuk tetap memperhatikan penggunaan Bahasa Indonesia yang benar dan memperoleh pemahaman yang baik tentang tata bahasa formal.<\/p>\n<p>Penguasaan kosakata adalah kemampuan mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan menggunakan kata-kata yang terdapat dalam suatu bahasa dengan tepat. Penguasaan kosakata bukan keterampilan yang sederhana. <\/p>\n<p>Mempelajari dan meningkatkan kosakata baru memungkinkan seseorang meningkatkan daya ingat mereka dan bisa berkomunikasi dengan lebih efektif. Mempelajari dan meningkatkan kosakata baru sangat membantu otak Anda menciptakan lebih banyak cara untuk mempertahankan informasi. <\/p>\n<p>Usia bahasa Indonesia yang di bawah satu abad masih termasuk belia, dan apalagi bahasa ini bukan termasuk bahasa yang digunakan banyak orang di kepulauan ini kala itu. Oleh karena itu, wajar jika berbagai kelemahan dan tantangan masih dihadapi bahasa ini saat sekarang. <\/p>\n<p>Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berbicara kini semakin jarang digunakan, hal ini disebabkan oleh adanya globalisasi dan westernisasi. Banyaknya masyarakat Indonesia terutama generasi milenial yang tidak paham akan bahasa baku menyebabkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi semakin tergeser. Masuknya budaya asing yang menyebabkan terjadinya akulturasi dengan bahasa lokal membuat bahasa baku semakin tergeser.<\/p>\n<p>Sejak kebudayaan asing masuk ke Indonesia mulai dari bahasa, musik, maupun cara berpakaian, hal itu membuat ketertarikan masyarakat Indonesia dalam memperdalam bahasa serta budaya Indonesia menjadi berkurang. Mereka lebih tertarik untuk mempelajari bahasa serta budaya asing tersebut dibanding dengan bahasa dan budayanya sendiri. <\/p>\n<p>Oleh: <strong>Anisa Salma Balqis<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Tolak ukur penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik terlihat dari penggunaan bahasa pada papan-papan nama yang dipasang di gedung perkantoran, permukimam, lembaga usaha, dll. Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia di media massa mencakup beberapa hal, yaitu ejaan, bentuk dan pilihan kata, serta struktur kalimat. Ejaan berkaitan dengan tata tulis yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-8964","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8964","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8964"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8964\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8964"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8964"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8964"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}